NovelToon NovelToon
Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.

‎Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.

Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.

‎"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

‎Pintu mobil tertutup rapat dengan bunyi yang cukup keras, menandakan kemarahan yang sudah tertahan sejak tadi. Begitu mobil melaju meninggalkan halaman restoran, suasana di dalam mobil terasa begitu menyesakkan dan panas. Rafael menyetir dengan tangan yang mencengkeram setir begitu erat, rahangnya mengeras, dan napasnya terdengar berat dan kasar.

‎‎Aruna duduk di kursi penumpang, bersandar santai dengan pandangan menatap lurus ke depan, wajahnya kembali tenang dan datar, seolah kejadian tadi hanyalah angin lalu yang tak berarti apa-apa baginya. Sikap tenang Aruna ini justru membuat amarah Rafael semakin memuncak, membuat egonya yang besar terasa terinjak-injak.

‎‎"Kamu gila ya?!" seru Rafael tiba-tiba, suaranya meninggi memecah keheningan, matanya melirik tajam ke arah Aruna sekilas sebelum kembali fokus ke jalan raya. "Kamu pikir kamu tadi melakukan apa, hah? Menarik-narik jas orang, memeluk-meluk dia, merajuk minta diantar pulang... di depan mataku sendiri?! Kamu tidak punya rasa malu apa, Aruna?!"

‎‎Rafael menghentakkan kakinya sedikit pada pedal gas, membuat mobil itu melaju lebih cepat dari sebelumnya. Dia menelan ludah dengan kasar, rasa cemburu dan marah bercampur aduk menjadi satu dalam rasa benci yang mendalam, meski dia berusaha menyembunyikannya di balik dalih rasa memiliki.

‎‎"Kamu itu pacarku. Pasanganku! Wanita yang sudah kuanggap sebagai masa depanku! Tapi apa yang kamu lakukan tadi? Kamu bersikap mesra, manja, dan minta perlindungan pada pria lain! Kamu benar-benar mempermalukanku di depan orang banyak! Kamu pikir aku ini patung yang tidak punya harga diri, hah?!"

‎‎Aruna masih diam saja. Dia hanya mengangkat bahunya pelan, lalu membetulkan posisi duduknya, seolah omelan panjang lebar itu tidak ada bedanya dengan suara nyamuk yang berdengung di telinganya. Sikap acuh tak acuh itu semakin membuat Rafael mendidih. Dia mengerem mendadak saat lampu lalu lintas berubah merah, lalu berbalik badan sepenuhnya menghadap Aruna, matanya melotot penuh ancaman.

‎‎"Jangan diam saja! Jawab aku! Apa maksud semua itu? Kamu sengaja ingin membuatku marah? Kamu sengaja ingin menunjukkan kalau kamu dekat dengan Tuan Mahesa itu hanya untuk membandingkan dan merendahkanku? Katakan, Aruna! Apa hubunganmu sebenarnya dengan dia?! Dia pria yang waktu itu kamu tolak lamarannya, bukan? Lalu kenapa sekarang kamu bersikap semanis itu padanya, hah?!"

‎‎Aruna akhirnya memalingkan wajahnya, menatap Rafael dengan tatapan yang terlihat polos namun dingin menusuk. Dia mendengus pelan, "Tadi di depan dia, kamu sendiri yang bilang kalau aku sedang mabuk kan? Terus kenapa sekarang kamu marah-marah? Kalau aku memang sedang mabuk dan tidak sadar, berarti apa yang aku lakukan tadi tidak ada artinya, kan? Hanya khayalan orang yang sedang tidak waras."

‎‎Aruna tersenyum miring saat melihat wajah Rafael memerah padam karena kehabisan kata-kata untuk membalas.

‎‎"Dua bulan lalu aku memang menolak dan bahkan mempermalukannya didepan umum. Tapi sekarang kalau dipikir-pikir dan dilihat-lihat, dia tampan dan punya kedudukan yang jauh diatas kamu. Hanya wanita bodoh yang akan menolak pesona pria seperti itu,"

‎‎Kalimat terakhir itu terucap begitu santai, namun seolah menjadi tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Rafael. Urat di pelipisnya berdenyut keras, tangannya mengepal erat di atas paha, menahan dorongan kuat untuk membentak atau bahkan menyakiti wanita di sampingnya itu.

‎‎"Kamu... kamu bicara apa barusan?!" suaranya bergetar, rendah namun penuh tekanan, matanya melotot tak percaya. "Kamu bilang dia tampan? Kamu bilang dia lebih punya kedudukan? Kamu... kamu menganggap aku ini apa, hah? Sampai-sampai kamu memuji pria lain di depanku?!"

‎‎Rafael merasa egonya diinjak-injak habis-habisan. Di satu sisi, dia merasa marah karena Aruna berani membandingkannya dengan Zeffrano, pria yang dia tahu jauh lebih hebat darinya dalam segala hal. Tapi di sisi lain akal sehatnya mengingatkannya pada tujuan utamanya. Dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia belum menguasai sepenuhnya kekayaan keluarga Dirgantara. Kalau dia bertindak kasar atau memperpanjang pertengkaran ini, dia takut Aruna benar-benar marah besar dan menutup aksesnya selamanya.

‎‎Dia ingat kejadian kemarin, saat Aruna menolak memberikannya uang dengan alasan sudah disumbangkan. Dia tahu wanita ini berubah, dia tahu Aruna tidak lagi semudah dulu diatur-atur. Kalau dia memaksa atau bertindak terlalu keras sekarang, dia bisa kehilangan segalanya.

‎‎Rafael menarik napas panjang, sangat panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar.

‎‎"Sudah... cukup," ucapnya ketus, lalu nadanya melembut sedikit, dipaksakan. "Aku tidak mau memperpanjang omongan bodoh ini. Aku tahu kamu masih marah padaku karena urusan uang kemarin. Kamu sengaja bicara begini untuk membuatku cemburu, kamu sengaja melakukannya supaya aku menurutimu, kan? Kamu mau balas dendam karena aku sedikit kasar kemarin. Aku mengerti."

‎‎Rafael kembali memutar setir saat lampu berubah hijau, mobil kembali melaju dengan kecepatan yang stabil, namun suasananya masih tetap kaku dan dingin. Sisa perjalanan ditemani keheningan yang tebal. Tidak ada lagi kata-kata manis, tidak ada lagi obrolan romantis seperti awal malam tadi. Rafael menyetir dengan wajah masam, sesekali mendengus kesal sendiri, sementara Aruna menikmati keheningan itu dengan tenang, menyusun rencana selanjutnya di dalam benaknya.

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Begitu turun dari mobil, Zeffrano melangkah masuk ke dalam kediamannya yang luas dan sunyi. Langkah kakinya terhenti di tengah ruang tamu yang berkilauan dengan pencahayaan lembut, dia melepaskan jas hitam yang masih melekat di tubuhnya, melemparkannya sembarangan ke atas sofa kulit berwarna gelap.

‎‎"Apa kamu tega dan akan membiarkan wanita yang kamu cintai ini diperlakukan kasar seperti ini?"

‎‎Kalimat itu kembali bergema di telinganya, membuat rahang Zeffrano mengeras tanpa sadar. Dia ingat dia hampir saja kehilangan kendali saat melihat Rafael mencengkeram lengan Aruna dengan kasar.

‎‎Dia berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, tatapannya kosong menembus kaca.

‎‎"Permainan apa yang sebenarnya sedang kamu mainkan, Aruna?" bisiknya pelan, suaranya berat dan penuh keraguan, sementara bayangan wanita itu masih tertanam kuat di pikirannya.

-

-

-

‎‎Aruna berdiri diam di depan meja rias di kamarnya, matanya lekat menatap sebuah bingkai foto berukuran besar yang dipegangnya erat di kedua tangan. Di dalam foto itu, terlihat dirinya yang masih remaja, berdiri di tengah-tengah kedua orang tuanya.

‎‎Jemarinya yang halus mengusap perlahan permukaan kaca bingkai itu, menelusuri wajah ayahnya yang tampak tegas namun lembut, serta senyum ibunya yang selalu hangat dan menenangkan. Ada rasa rindu yang begitu dalam menggelora di dada, rasa sakit yang belum sepenuhnya hilang meski waktu terus berlalu.

‎‎"Kenapa aku tidak kembali ke masa sebelum kecelakaan itu terjadi? Kenapa harus masa sekarang?" bisik Aruna pelan, suaranya bergetar namun penuh ketegasan, memecah keheningan malam itu. Matanya yang indah berkilat basah, namun tak ada satu pun air mata yang jatuh membasahi pipinya. "Maafkan Aruna Pa... seandainya saja aku mendengar kata-kata Papa untuk tidak menjalin hubungan dengan Rafael, mungkin hidupku tidak akan berakhir tragis."

‎‎Dia menghela napas panjang, menghembuskan segala rasa sesak yang sempat mengikat dadanya.

‎‎"Tapi sekarang aku sudah sadar," lanjutnya lagi, matanya menatap lekat wajah orang tuanya di dalam foto itu seolah mereka bisa mendengar dan mengerti setiap kata hatinya. "Aku sudah tahu siapa kawan dan siapa lawan. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh milik kalian, termasuk Rafael."

‎‎Aruna meletakkan kembali bingkai foto itu di atas meja, lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi asisten Alvin.

‎‎"Asisten Alvin, cepat berikan aku nomor pribadi tuanmu itu."

-

-

-

Bersambung...

1
W I 2 K
idihhhhhh nyebelin banget kamu tania... celamitan.... sok²an mau ngelakuin apa aja....
🔥Violetta🔥: Kangen belaian plus belalai dia kak ,🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
W I 2 K
mimpi terindah... khayalan belaka....
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Perlu diceburkan ke comberan sepertinya dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
secangkir kopi sm Sajen bunga sekebon meluncur.. biar authornya tambah cemangat....... 💃
🔥Violetta🔥: Wah... terimakasih banyak kakak /Grin//Pray/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
langsung ciut🤣
〈⎳ FT. Zira
siap siap bangun dari mimpi dengan seember air yak🤣
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
〈⎳ FT. Zira
Faunai siapa??? apa itu panggilan?
〈⎳ FT. Zira
bicaramu sungguh manis bang/Hammer//Hammer//Hammer/
〈⎳ FT. Zira
tinggikan saja percaya dirimu.. semakin tinggi semakin sakit saat jatuh🤧
W I 2 K
slow Rafael.... baru juga disedot dasar bumi.... belum sedot dasar neraka kan... aman.. aman... aman..
🔥Violetta🔥: astaga 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
dateng zeff... siapa tau kejutannya bikin terkejot.. kejott.... 🤣
🔥Violetta🔥: Zeff langsung guling-guling di ranjang... ehhh 🤭🤭🤭
total 3 replies
W I 2 K
astaga drama apa lagi Rafael... mimpi mana lg yg km mau gapai... nanti jatuh sejatuhnya sakit loh🤭
🔥Violetta🔥: EEEE.... AAAAA 💃💃💃💃🕺🕺🕺🕺
total 7 replies
〈⎳ FT. Zira
Luar biasa..
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍
🔥Violetta🔥: Wah, terimakasih banyak kakak /Pray//Grin/ Semangat juga untuk kakak /Good/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mimpi Rafael ternyata belum berakhir🤧🤧
🔥Violetta🔥: Berakhirnya kalau sudah mau end 🤣🤣🤣
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mokondonya kental dong ya Rafael ini🤧
〈⎳ FT. Zira: rujak biar asem, enak di makan. lah rafael di mana bagian enaknya../Silent//Silent/
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
nikah aja dah.. mending mereka nikah biar gak jadi masalah setelahnya
〈⎳ FT. Zira
puas puasin dah mau ngapain aja gak ada yg larang
〈⎳ FT. Zira
nampar doang mah napa gak berani
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan🤧🤧
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
makin berani aruna🤣
🔥Violetta🔥: Biar Zeff meleleh' 😂😂😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
percaya saja pada kemampanmu, ada Zef yg siap berdiri di garda depan ini
W I 2 K
sok suci banget Rafael... lah km aja peluk sana peluk sini sm cewek lain loh...
W I 2 K: du du du.... ngalamat viral nanti lipen gosong.... 🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!