Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Piknik Dadakan di kampung
Keheningan malam kampung perlahan digantikan oleh kokok ayam jago yang saling bersahutan sejak pukul lima pagi. Udara pedesaan yang bersih, bebas dari polusi knalpot Jakarta, berembus masuk melalui celah ventilasi kayu rumah Ibu Widya.
Gibran terbangun dengan posisi tubuh yang agak kaku. Maklum, sang pewaris tunggal Mahardika Group yang biasa tidur di atas kasur king-size dengan pelapis bulu angsa impor, semalam harus rela tidur di atas kasur busa tipis di lantai ruang tamu, beralaskan tikar pandan.
Namun anehnya, tidak ada guratan kesal di wajahnya. Pria itu justru meregangkan otot-otot tubuhnya sambil menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan kayu bakar yang terbakar dari arah dapur.
"Mas Gibran sudah bangun?"
Nayla muncul dari balik tirai pembatas dapur, membawa sebuah nampan berisi dua cangkir kopi hitam pekat yang masih mengepulkan asap, lengkap dengan sepiring pisang goreng kipas yang masih panas.
Penampilan Nayla sangat sederhana pagi ini; ia hanya mengenakan daster batik lengan panjang milik ibunya yang sedikit kelonggaran dan rambut yang digulung asal menggunakan jepitan badai.
Gibran duduk bersandar pada dinding batako. Mata elangnya memperhatikan penampilan istrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu sebuah senyuman tipis yang menyebalkan terbit di bibirnya.
"Gue baru tahu kalau Pihak Kedua kalau pakai daster longgar begini kelihatan seperti ... bungkusan lemper hangat."
Nayla meletakkan nampan di atas lantai semen dengan hentakan pelan. "Mas Gibran! Pagi-pagi mulutnya sudah minta disumpal pisang goreng ya! Ini daster legendaris Ibu tahu, adem banget. Lagipula, daripada Mas, bangun tidur rambutnya acak-acakan begitu kayak sarang burung emprit."
Gibran terkekeh, meraih secangkir kopi hitam dan meneguknya perlahan. Matanya sedikit melebar merasakan kepekatan rasa kopi tubruk asli kampung tersebut. "Enak. Ini jauh lebih baik daripada kopi seratus ribu di kafe Sudirman kemarin."
"Iya dong, itu kopi ditanam dan ditumbuk sendiri oleh tetangga sebelah," ujar Nayla bangga, mengambil posisi duduk bersimpuh di dekat Gibran. "Oh iya, Mas. Hari ini jadwal kerjaanmu di Jakarta bagaimana? Gunawan dan para pengawal berbadan besar itu semalam menginap di balai desa, kasihan kalau kelamaan nungguin kamu di sini."
Gibran meletakkan cangkirnya, lalu menatap Nayla dengan tatapan menantang. "Gue sudah serahkan semua urusan kantor hari ini ke Rendi dan tim direksi. Hari ini, gue mau libur. Gue mau ngerasain apa yang biasa lu lakukan di kampung ini waktu kecil."
Nayla menaikkan sebelah alisnya, merasa tertantang oleh arogansi sang CEO kota.
"Oh, mau tahu kehidupan masa kecilku? Serius? Mas Gibran kan anak kota yang manja, yang kalau menyentuh tanah dikit langsung pakai cairan antiseptik. Yakin kuat?"
"Jangan meremehkan ketahanan fisik seorang Mahardika, Nay. Bilang saja, apa tantangan lu hari ini?" tanya Gibran angkuh, menegakkan tubuh tegapnya.
Nayla tersenyum misterius, senyuman yang membuat Gibran mendadak memiliki firasat bahwa ia baru saja menggali lubang kuburnya sendiri. "Oke. Kalau begitu, habis sarapan kita pergi ke empang belakang rumah Mang Udin. Kita memancing ikan untuk menu makan siang Ibu!"
Dua jam kemudian, kesombongan Gibran Mahardika diuji oleh realitas alam yang kejam.
Sang CEO tampan yang biasanya mengenakan pakaian rancangan desainer Italia, kini terpaksa meminjam pakaian milik Adi: sepotong kaus oblong putih polos yang agak kekecilan hingga mencetak jelas bentuk dada bidang dan otot perutnya, dipadukan dengan celana kolor kain motif garis-garis yang panjangnya menggantung di atas lutut jenjangnya.
"Nay ... lu yakin gue harus pakai caping bambu ini?" tanya Gibran, menatap sebuah topi pak tani anyaman bambu lebar yang disodorkan Nayla dengan tatapan super ragu.
"Wajib, Mas! Di luar panas banget, nanti kulit mulusmu yang seharga saham itu bisa gosong ditelan matahari kampung," ledek Nayla sambil memakaikan topi caping itu ke kepala Gibran, lalu mengikat tali talinya di bawah dagu kokoh pria itu.
Nayla menahan tawa sekuat tenaga melihat perpaduan wajah super tampan khas blasteran-metropolitan milik Gibran dengan kostum petani lokal.
"Adi, bawa jorannya," perintah Nayla pada adiknya yang berjalan di belakang mereka sambil membawa dua bilah bambu panjang yang sudah dipasangi benang nilon dan mata kail sederhana, lengkap dengan sebuah kaleng biskuit bekas berisi cacing tanah sebagai umpan.
Empang milik Mang Udin terletak di balik kebun pisang, berupa kolam air tawar berukuran besar yang permukaannya ditumbuhi beberapa tanaman kangkung air.
Di tepian empang, terdapat jembatan kecil yang terbuat dari jajaran batang bambu bulat yang diikat tali ijuk biasa disebut getek atau titian.
"Nah, Mas Gibran yang terhormat. Tantangan pertamanya adalah duduk di ujung bambu itu, pasang umpannya, dan pancing sampai dapat tiga ekor ikan mas besar," ujar Nayla sambil menunjuk ke arah titian bambu yang bergoyang pelan ditiup angin.
Gibran menatap titian bambu tersebut dengan dahi berkerut. Jalur bambu itu lebarnya tidak lebih dari tiga puluh sentimeter, dan di bawahnya adalah air empang yang berwarna hijau kecokelatan, penuh dengan lumpur dasar.
"Keseimbangan adalah salah satu nilai tertinggi dalam olahraga surfing yang biasa gue lakukan di Bali, Nay. Ini perkara mudah," kata Gibran sombong. Dengan langkah perlahan, ia mulai meniti batang bambu tersebut.
Bambu itu berderit dan melengkung ke bawah menerima beban tubuh Gibran yang berbobot hampir delapan puluh kilogram otot padat.
"Mas, hati-hati! Jangan sombong!" teriak Nayla dari tepi kolam.
Gibran berhasil mencapai bagian tengah titian, lalu dengan perlahan ia berjongkok di atas bambu yang bergoyang. Masalah berikutnya muncul ketika Adi menyerahkan kaleng berisi cacing tanah.
Gibran menatap mahluk melata yang menggeliat-geliat di dalam tanah gembur itu dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah masam. "Ini ... harus dipegang pakai tangan kosong?"
"Iya dong, Mas Gibran sayang. Masak cacingnya mau disumpit pakai sumpit sushi? Ayo, tusuk ke mata kailnya!" seru Nayla dari jauh sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat kepanikan di mata suaminya.
Gibran mengembuskan napas panjang, mencoba menguatkan mentalnya. Ia menjumput seekor cacing dengan dua jarinya, memejamkan mata sesaat karena geli, lalu berhasil memasangnya ke mata kail. Dengan gerakan sekali sentak, ia melemparkan tali pancingnya ke tengah empang.
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan. Matahari mulai meninggi dan hawa panas mulai membakar kulit. Gibran masih bertahan dalam posisi jongkoknya di atas bambu, peluh mulai bercucuran dari pelipisnya, mengalir melewati rahangnya yang tegas.
Nayla yang awalnya berniat mengerjai, perlahan merasa tersentuh melihat keseriusan Gibran. Pria itu benar-benar tidak mengeluh sama sekali demi menyenangkan hatinya dan keluarganya.
Nayla berjalan mendekat ke tepian empang membawa sebuah kipas anyaman bambu. "Mas, kalau capek kita menyudahi saja"
Sret! ..
Tiba-tiba, pelampung dari gabus di pancingan Gibran tertarik masuk ke dalam air dengan sangat kencang. Bambu pancingannya mendadak melengkung tajam.
"Eh! Umpannya dimakan, Mas! Tarik! Tarik cepat!" teriak Adi heboh.
"Mas Gibran, tahan jorannya! Tarik pelan-pelan!" pekik Nayla panik.
Gibran yang terkejut langsung menegakkan tubuhnya secara mendadak. Hambatan air dari tarikan ikan di dalam empang rupanya sangat kuat. Terjadi aksi saling tarik-menarik yang sengit antara sang CEO dan ikan mas monster di dalam kolam.
"Sial, ikannya kuat banget!" seru Gibran, mencoba mengunci posisi kakinya di atas bambu.
Namun malang tidak dapat ditolak, batang bambu yang licin terkena air beradu dengan pijakan kaki Gibran yang goyah. Dalam hitungan detik, Gibran kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya condong ke kanan, lengannya berputar-putar di udara mencoba mencari pegangan, namun tidak ada apa-apa di sekitarnya.
BYURRRRR .....
sory ya thor 🙏