NovelToon NovelToon
AKU YANG DIPANDANG HINA

AKU YANG DIPANDANG HINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:613.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, paras cantik jelita dengan senyum menawan.

Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.

Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.

Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.

Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter : 09

Daksa Wangsa menutup pena dari brand ternama, lalu menautkan kedua tangan di atas meja, kemudian menatap sebentar sang sekretaris, setelahnya baru Ayunda yang barusan bertanya.

“Hari spesial,” katanya singkat.

“Boleh lebih spesifik lagi, Tuan? Supaya kami nggak salah pilih tempat, atau nanti mau ada tambahan menggunakan dekorasi bunga segar?” Ayunda mempertahankan raut lembutnya.

“Lebih penting dari pesta ulang tahunnya beberapa bulan lalu.”

Senyum Ayunda bertambah lebar, dia paham makna ucapan bos nya. “Baik, Tuan. Begitu saya sudah mendapatkan gambaran dekorasi dan tempat yang cocok, nanti langsung saya perlihatkan, supaya hasil akhir, Tuan lah yang menentukan.”

“Tidak perlu terburu-buru, masih cukup waktu untuk hari spesial itu,” tambahnya kemudian, lalu beranjak.

Yusniar mengedipkan mata ke Ayunda, isi pikirannya tentu sama – bonus di depan mata.

Sang atasan keluar dari ruang kerja, hari ini dia berniat keliling perusahaan tanpa pengawalan, dan pemberitahuan. Ingin menyaksikan kinerja para bawahan, meskipun dapat memantau lewat kamera pengawas.

***

“Kok aneh ya? Gosip kemarin bak ditelan bumi, sama sekali gak ada jejaknya.” Dwira meletakkan ponselnya di atas meja kerja.

Sheila yang duduk di sebelahnya, terhalang sekat rak buku rendah, menanggapi. “Bisa jadi demi melindungi citra kedua artisnya. Soalnya pernyataan mereka kalau di kaji lebih dalam, seperti sengaja mengejek, memiliki niat mempermalukan Ayunda.”

“Kalau dipikir-pikir iya juga, si. Kekanakan. Lagian itu kan udah lama banget ya kejadiannya,” Dwira merasa bersalah.

“Sama kayak elu. Kekanakan, norak! Udah tua tapi bertindak layaknya kanak-kanak. Untung gosip kemarin langsung hilang, kalau gak ... Ayunda bakalan jadi bulan-bulanan,” Seila masih menyimpan rasa kesal.

“Ya maaf. Eh, tapi setelah dikeluarkan, Ayunda nyambung sekolah di mana?” Dwira penasaran.

Seila tidak jadi mau menjawab, ia menangkap kode dari rekan kerja berseberangan meja. Lewat cermin bulat yang diletakkan di depan komputer, dapat melihat sosok tinggi tegap, beraura mendominasi tengah memperhatikan divisi customer.

“Kenapa, Sei? Kok lu gak jawab?”

“Diem, Ra! Ada direktur utama lagi sidak.”

“Hah, mana?” Dwira spontanitas menoleh kebelakang, lalu cepat-cepat melihat komputer. “Rasanya bunyi jantungku ngajak perang. Gantengnya tu orang gak ketulungan, Sei!”

“Anak setan, diem gak lu! Gua lakban juga nanti mulut kaleng rombengmu!”

Manajer layanan pelanggan (customer service manager), menghampiri sang direktur, berusaha beramah tamah meskipun sudah tahu hasilnya cuma akan dijawab hem, iya, tidak, atau anggukan singkat.

.

.

“Kamu kenapa si, Ayunda? Dari keluar ruangan bos, senyum terus?” Yusniar menggeser roda kursinya sampai meja sebelah, mengintip layar komputer Ayunda yang sedang menampilkan gambar dekorasi mewah sampai sederhana.

“Biasa mbak, lagi ngebayangin bonus kita. Pasti kali ini lebih besar dari terakhir kali sewaktu kita nyiapin pesta kejutan ulang tahun nona Syafira,” katanya antusias, sorot mata berbinar.

Jemari Ayunda menggerakkan mouse bluetooth, mengklik salah satu contoh dekorasi elegan. “Menurut mbak Niar, ini menggambarkan kepribadian glamor nona Syafira, tidak?”

Yusniar mengamati detail ruangan tertutup – lantai berkarpet merah, set meja tertutup kain warna gold, ada juga vas bunga mawar merah muda diletakkan pada setiap sudut, lalu panggung sempit yang mana terdapat alat musik.

“Bagus. Kelihatan mewah dengan dekorasi tidak terlalu ramai. Pilihan tepat sepertinya. Apa memang untuk acara lamaran ya?”

Ayunda mengedikkan bahu, tidak mengalihkan perhatian dari layar komputer. “Besar kemungkinan iya, Mbak. Kalau ulang tahun kan baru tiga bulan terlewati. Anniversary pertunangan pun masih setengah tahun lebih.”

“Kamu hafal banget, ya?”

“Wajib itu, Mbak. Biar disayang bos terus bonus lancar … hahaha.” Ayunda membekap mulut kala kelepasan tertawa.

“Dasar.” Bibir Yusniar naik sebelah.

“Ya mau gimana lagi, Mbak. Kudu pinter nyari uang tambahan selain gaji. Setiap tanggal muda, cicilan mobil dan sewa apartemen udah menagih,” ucapnya lancar, biasa saja.

“Coba buka foto tuan Daksa bersama nona Syafira sewaktu mereka tunangan, Yunda. Biar kita coba cocokan sama dekorasi tadi, siapa tahu dapat membantu memilih.” Yusniar menggeser kursinya sampai lengan atas menempel dengan tangan Ayunda.

Ayunda menurut, mencari potret pertunangan sepasang kekasih kelas atas, keturunan konglomerat.

“Aku gak bisa bayangin gimana keturunan mereka nanti. Nona Syafira itu seperti bukan manusia, cantiknya kelewatan,” puji sang sekretaris seraya memandang foto wanita mengenakan gaun berwarna gold.

Dalam hati Ayunda mendengus. ‘Kecantikan yang sudah terkontaminasi tangan ahli bedah, bukan lagi murni pemberian Tuhan, mana bisa dibilang nyaris sempurna. Tulang hidung ditinggikan, dagu dibuat lancip, kelopak mata diperbesar, untung saja dia terlahir dari keluarga berkuasa, jadi bisa menutup rapat para ahli medis yang terlibat.’

Ayunda tentu mengetahui bentuk asli rupa Vinira dan Syafira sebelum mengubah bagian tubuh yang dirasa kurang menunjang karir sebagai seorang model dan juga artis. Mereka tumbuh besar bersama, cuma lebih muda Ayunda tiga bulan saja.

Mereka memang terlahir cantik, tapi tidak secantik yang dipuja-puja sampai katanya seperti jelmaan dewi kayangan.

Hey …. “Kok malah bengong.” Yusniar menyenggol lengan kanan rekannya.

“Tiba-tiba aku keinget paket skincare ku hampir habis, Mbak. Ya ampun, awal bulan masih jauh, malah pengeluaran ugal-ugalan,” ucapnya mendramatisir.

“Duit aja yang kamu pikirkan.” Yusniar sampai geleng-geleng kepala.

“Selain uang, gak ada yang menarik bagiku, Mbak. Karena uang bisa membuat yang terlihat mustahil jadi nyata,” katanya sambil menghela napas.

‘Memiliki uang ibarat menggenggam dunia. Bisa mempermainkan kehidupan seseorang semudah membalikkan telapak tangan. Uang juga yang menghancurkan masa kecil dan hampir merenggut masa depanku yang sebenarnya belum pasti ini,” Yunda menggeram, ia memejamkan mata demi menetralkan perasaan dalam dada.

“Ada benernya juga sih. Ada uang, kekuasaan dalam genggaman. Bahkan bisa memanipulasi apapun yang dikehendaki, termasuk benar disalahkan, dan sebaliknya,” ia setuju dengan pola pikir Ayunda.

“Kalau gitu ayo kerja, kerja, kerja, biar cepat kaya, Mbak!” Ayunda mengepalkan tangan lalu mengangkat tinggi-tinggi.

Yusniar terkekeh, dia bergeser kembali ke meja kerjanya.

***

“Jadikan ini yang terakhir kalian bertindak ceroboh!” hardik manajer agency artis yang menaungi Syafira dan Vinira.

“Hampir saja kita semua terkena masalah. Kalian itu sudah dewasa, mengapa bertindak kekanakan, hah?!” mata wanita bertubuh langsing itu melotot sempurna, geram melihat kedua artisnya yang berekspresi biasa saja.

“Untung saja berita terlanjur viral itu bisa diredam, ditangani sampai dilenyapkan, kalau tidak habis kita! Sekarang kalian boleh keluar! Renungan kesalahan ini!” usirnya.

Vinira, dan Syafira bergegas keluar dari ruangan manager perusahaan agensi. Sampai di depan pintu telah ditutup, mereka tersenyum licik.

“Masih banyak kesempatan lain kali. Terpenting gua puas lihat muka si benalu pucat pasi,” ujar Syafira.

“Berikutnya wajib lebih dari kemarin. Gua belum puas kalau belum lihat dia nangis sambil mohon-mohon,” Vinira merasa kejadian kemarin tidak cukup menarik, tapi bisa dikatakan lumayan menghibur.

Kedua sahabat itu pergi dari sana, berencana mau menghabiskan waktu di tempat favorit mereka – club malam.

.

.

“Mbak, temenin aku izin ke tuan Daksa, yuk?” ajaknya, kembali lagi ke meja sekretaris padahal tadi sudah berdiri didepan pintu.

“Astaga, Ayunda. Gak ada waktu lagi, kasihan ibumu sendirian di rumah sakit. Sana masuk ke ruangan tuan Daksa!” Yusniar mendorong punggung Yunda.

.

.

Bersambung.

1
Nabila Nabil
mampusssss salah si effendy yg kena ardo sama yeri... kasihan banget....
Ruwi Yah
semoga mas2 yg punya anjing nih yg datang mau menolong Yunda
Nabila Nabil
hajaaar aja yeri... ama yeri aja kalah... gimana sama Ardo... 🤣🤣🤣
Nabila Nabil
ini bodyguard bodyguardnya mana sih..... 😤😤😤😤😤 daksa tau mati semua kalian nanti... 😤😤😤
mamaqe
okeeyyy saat semuanya terungkap💃💃💃💃
mamaqe
tanya daksa mbah utiiii🤣🤣
mamaqe
tobat lah ..meratap aja buat apaa...sia sia pak tuaaa
Cublik: Mau buat lagu meratapi nasib dia, Maq🤣
total 1 replies
mamaqe
betul2 kuntilanak salehah kamu yun🤣🤣🤣🤣
Dew666
💟💟💟💟
Aurel Bundha
lanjut💪💪💪
lyani
duda manis ini
lyani
owalahh peliharaan si Pendi toh binar ini
Zeliii... S
Mulai skrg segera jemput Ayunda & jgn jauh² lagi... bereskan semua manusia iblis itu agar mereka jera...!!!
🌷💚SITI.R💚🌷
ya Allah..ikut tegang jg kawatir bangeet
Zeliii... S
Ayo... Daksa segera jemput Ayunda...
🌷💚SITI.R💚🌷
lah knp bisa lepas ya..smg ga jd rumit de
🌷💚SITI.R💚🌷
oh binar toh yg jd simpsnan fendi..
Iis Dawina
sy ko berprasangka SM si hitam manis itu ya ...yg ketemu Yunda itu
Moms Rafi-alhusaini 🌺
ada nama Daksa kan digelang itu 😩
Cublik: Lah iya, Kak
total 1 replies
Moms Rafi-alhusaini 🌺
ternyata binar mainan Efendi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!