NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebohongan yang Menyelamatkan

Di ruang keluarga yang lebih privat, Raja Alaric menatap Geneviève dengan tatapan menyelidik. Sebagai seorang kakak dan penguasa, dia merasa ada yang tidak beres.

"Ève, katakan yang jujur. Selama sebulan ini kau di mana? Dan siapa yang menolongmu?" Tanya Alaric tegas.

Geneviève menyesap teh hangatnya dengan tenang, matanya menatap kobaran api di perapian. "Jenderal Eisérre Valois. Dia menemukanku di tumpukan mayat, Kak. Aku baru saja siuman dari koma panjang kemarin. Dia yang merawatku dengan sangat baik di paviliun pribadinya."

Alaric menggebrak meja pelan. "Kenapa dia tidak jujur dari awal?! Aku sudah mengirim orang untuk memeriksa setiap kediaman bangsawan, termasuk paviliun Valois, tapi laporannya nihil. Kenapa saat digeledah kau tidak ada?"

Geneviève terdiam sejenak. Jemarinya tanpa sadar menyentuh bekas suntikan kecil yang sudah hampir hilang di lehernya. Pikirannya melayang pada cairan bening yang sering disuntikkan Eisérre—cairan yang membuatnya tidur lelap setiap kali tim pencari kerajaan datang mendekat.

Sebegitu tinggikah obsesimu, Eisérre? Sampai kau sanggup membiarkanku tertidur demi memilikiku sendiri? batin Geneviève miris.

Namun, ia menarik napas panjang. "Mungkin saat itu aku sedang dipindahkan ke tempat perawatan khusus agar tidak terganggu, Kak. Sudahlah, bagaimanapun yang terpenting dia menolongku. Kalau bisa, naikkan saja jabatannya. Berikan dia bintang lima atau penghargaan tertinggi karena telah menjaga nyawa Putri Mahkota."

Henri, sang ayah, mengangguk setuju. "Benar kata adikmu, Alaric. Yang penting dia pulang dengan selamat."

Beberapa hari kemudian, aula istana dipenuhi oleh para bangsawan. Eisérre berdiri tegak di tengah ruangan dengan perasaan berkecamuk. Ia datang dengan keyakinan akan dihukum mati atau setidaknya dicopot jabatannya.

Namun, pengumuman Alaric justru membuatnya seolah tersambar petir.

"Atas jasa luar biasa dalam menyelamatkan dan merawat Putri Mahkota Geneviève selama masa kritisnya, Kerajaan d'Orléans memberikan gelar Jenderal Bintang Lima kepada Eisérre Valois!"

Riuh rendah tepuk tangan memenuhi ruangan. Eisérre mematung saat Mantan Raja Henri mendekat dan menjabat tangannya dengan hangat.

"Terima kasih telah merawat putriku dengan baik, Jenderal," ucap Henri tulus. "Kata Geneviève, dia baru sadar dari koma kemarin. Kami mengerti kenapa kau menunda memberi kabar; kau pasti tidak ingin membahayakan kondisinya yang sedang kritis. Sekali lagi, terima kasih."

Eisérre hanya bisa mengangguk kaku, lidahnya benar-benar kelu. Ia merasa seperti pecundang yang sedang dipuja-puja. Ia menyapu pandangannya ke seluruh aula, mencari sosok gadis yang telah mencuri hatinya, namun Geneviève tidak ada di sana. Gadis itu sengaja tidak hadir untuk menghindari kecanggungan.

Di sudut lain, Perdana Menteri Silas terlihat seperti orang yang "kebakaran jenggot." Wajahnya merah padam, tangannya gemetar menahan amarah. Rencananya untuk melenyapkan Geneviève gagal total, dan sekarang musuh terbesarnya—Eisérre—malah mendapatkan kenaikan pangkat tertinggi.

Setelah upacara berakhir, kediaman Valois mendadak banjir karangan bunga dan ucapan selamat. Madame Hestia berjalan dengan dagu terangkat tinggi, seolah gelar bintang lima itu adalah miliknya sendiri.

"Lihat itu, Eisérre!" Madame Hestia menunjuk ke arah lencana emas baru di seragam cucunya. "Sudah kubilang, gadis itu adalah keberuntunganmu. Ternyata dia cukup tahu diri untuk mengatakan bahwa kau menyelamatkannya. Sekarang, posisi kita di dewan bangsawan tidak akan tersentuh!"

Eisérre hanya menatap kosong ke luar jendela. Ucapan neneknya terdengar seperti dengungan lalat yang menjijikkan. Ia tahu, setiap gram emas di lencananya adalah pemberian dari Geneviève—sebuah "uang tutup mulut" yang elegan sekaligus menyakitkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!