NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Bintang

Istri Rahasia Sang Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Dokter
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Langkah kaki Elvano terdengar berwibawa menyusuri lorong eksklusif Zenithra Entertainment setelah menyelesaikan rapat maraton dengan tim kreatif. Begitu memasuki ruang kerjanya yang luas dengan pemandangan cakrawala Jakarta di balik dinding kaca, ia langsung melepaskan kancing jasnya, mencoba mencari sedikit sela untuk bernapas.

Darian sudah menunggu di sana. Tanpa banyak bicara, asisten pribadinya itu meletakkan sebuah map kulit premium di atas meja marmer hitam milik Elvano.

“Proyek baru, El. Mini drama, hanya dua puluh episode. Naskahnya sangat matang, tipe karakter anti-hero yang biasa kau sukai,” ujar Darian sambil menggeser dokumen itu.

Elvano menarik napas pendek, jemari panjangnya mulai membalik halaman dokumen dengan teliti. Karakter CEO yang perfeksionis dalam dirinya tidak pernah membiarkan satu detail pun terlewat.

“Jadi, setelah film ini selesai, aku akan langsung masuk ke proyek mini drama?” tanya Elvano tanpa mengalihkan pandangan dari barisan teks naskah tersebut.

“Benar. Jadwalnya sudah diatur sedemikian rupa agar kau tetap punya waktu jeda dua minggu untuk istirahat,” jawab Darian. Ia sempat terdiam sejenak, tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum melanjutkan kalimatnya. “Oh iya, ada laporan dari tim Max. Pagi tadi dia sudah mulai menjalankan instruksimu untuk konsultasi ke ahli gizi.”

Elvano mengangguk sekilas, masih belum merasa ada yang janggal. “Baguslah kalau dia kooperatif.”

“Dokter yang menanganinya di Rumah Sakit Internasional Medika adalah dr. Selena Nayumi,” sambung Darian dengan suara yang sedikit lebih rendah.

Gerakan tangan Elvano yang hendak membalik halaman naskah mendadak berhenti di udara. Keheningan yang mencekam tiba-tiba menyelimuti ruangan itu. Elvano mengangkat kepalanya perlahan, menatap Darian dengan sorot mata tajam yang sanggup membuat siapa pun merasa terintimidasi.

“Siapa yang menyarankan Max pergi ke Selena?” tanya Elvano. Suaranya terdengar tenang, namun ada getaran dingin yang mengancam di setiap kata yang diucapkannya.

Darian berdehem, sedikit merapikan posisi berdirinya yang mulai terasa canggung. “Bram yang membuat janji temu itu sendiri, El. Dia mencari dokter gizi klinis terbaik yang punya reputasi bagus di media sosial untuk mendukung citra profesional Max, dan nama Selena muncul di urutan pertama sebagai rekomendasi rumah sakit,” jelas Darian dengan hati-hati.

Elvano menutup map dokumen di depannya dengan suara dentuman kecil yang terdengar sangat tegas. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, memijat pangkal hidungnya sambil mengembuskan napas panjang yang penuh dengan rasa kesal yang tertahan. Amarahnya mulai naik, namun logika kepemimpinannya memaksa ia untuk tetap terlihat stabil.

Ia menyadari posisinya sangat sulit. Tidak ada yang tahu tentang status pernikahan mereka selain beberapa orang kepercayaan di level petinggi Zenithra. Secara profesional, ia tidak memiliki alasan logis untuk melarang salah satu aktor papan atasnya berkonsultasi dengan dokter gizi terbaik di kota ini.

“Darian, pantau setiap pergerakan Max di sana. Aku tidak mau ada satu pun berita miring atau interaksi di luar urusan medis yang tercium media,” perintah Elvano dengan nada absolut.

“Aku mengerti, El. Tapi kau tahu sendiri Max, dia tipe aktor yang sangat ramah pada staf medis. Apalagi Selena punya persona yang sangat mudah membuat orang nyaman,” ujar Darian mencoba memberikan peringatan halus.

Elvano mengepalkan tangannya di bawah meja, rahangnya mengeras. Bayangan Selena yang tersenyum hangat kepada pria lain—meskipun itu adalah artisnya sendiri—membuat dadanya terasa sesak oleh rasa protektif yang berlebihan.

“Selena bukan sekadar dokter, Darian. Dia adalah istriku. Jika Max melampaui batas, aku tidak akan segan-segan menggantinya dari proyek film ini, tidak peduli seberapa besar kerugian yang harus ditanggung perusahaan,” ucap Elvano dingin, matanya menatap lurus ke arah jendela seolah sedang merencanakan sesuatu.

**

Suasana apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan itu terasa hening saat Max melangkah masuk. Ia melepaskan topi dan maskernya, lalu melemparkannya ke atas sofa kulit tanpa gairah. Pikirannya masih tertinggal di ruang praktik serba putih tadi, pada sosok wanita yang kini terlihat jauh lebih matang dan berwibawa dengan jas putihnya.

Bram, yang sudah menunggu di ruang tengah sambil mengutak-atik tabletnya, segera mendongak. Ia menyadari ada aura yang berbeda dari artis asuhannya itu.

“Bagaimana konsultasinya? Lancar?” tanya Bram sambil beranjak mendekat.

Max tidak langsung menjawab. Ia hanya menyodorkan selembar kertas hasil pemeriksaan klinis dan sebuah kartu nama elegan berlogo Serenity Nutri-Heal kepada manajernya.

“Ini hasil pemeriksaan tadi. Dan ini kartu nama klinik milik dr. Selena. Dia menyediakan katering menu sehat yang disesuaikan dengan kebutuhan medis,” ujar Max dengan nada suara yang terdengar datar, mencoba menutupi gejolak di dadanya.

Bram menerima kartu nama itu, mengamatinya sejenak dengan dahi berkerut. “Jadi kau memutuskan untuk menggunakan katering dari Dokter Selena?”

Max mengangguk pelan sambil berjalan menuju jendela besar yang menampilkan kemacetan Jakarta. “Aku akan mencobanya. Jarang ada dokter gizi yang terjun langsung mengelola katering medis seperti ini. Dua minggu lagi aku harus kembali untuk kontrol perkembangan berat badan dan komposisi lemak.”

Bram meletakkan kertas-kertas itu di meja, lalu melipat tangan di depan dada. Ia berjalan mendekati Max, mencoba membaca ekspresi wajah pria yang sudah ia bimbing sejak remaja itu.

“Wajahmu tidak bisa berbohong, Max. Ada apa? Kau terlihat murung setelah pulang dari sana. Apa ada masalah dengan hasil pemeriksaannya?” tanya Bram dengan nada menyelidik.

Max menggelengkan kepalanya pelan, matanya tetap terpaku pada gedung-gedung tinggi di kejauhan.

“Bukan masalah medis, Bram. Aku hanya sedikit lelah.”

“Kau sudah bersamaku sejak kelas satu SMA, Max. Aku yang membawamu masuk ke industri ini, aku tahu kapan kau lelah karena fisik dan kapan kau lelah karena pikiran,” sahut Bram lembut namun tajam. “Jika ada sesuatu yang ingin kau bagi, aku di sini. Tapi jika kau lebih memilih menyimpannya sendiri, aku akan menghargai itu.”

Max terdiam. Ia merasakan sesak yang sulit dijelaskan. Bertemu Selena setelah bertahun-tahun memutus komunikasi secara sepihak menyisakan rasa bersalah yang amat dalam. Ia ingat betapa ambisi mudanya dulu menghancurkan hati gadis itu. Namun, di balik rasa bersalah itu, ada sisa-sisa perasaan masa remaja yang ternyata belum sepenuhnya menguap.

“Hanya perasaan gundah yang tidak penting,” gumam Max akhirnya.

Bram menepuk bahu Max dengan mantap. “Ya sudah, kalau begitu kau istirahatlah sekarang. Simpan energimu, karena sore nanti kita ada meeting besar dengan tim produksi film. Kita akan mendiskusikan jadwal reading dan pendalaman karakter lebih lanjut. Jangan sampai matamu terlihat sembab di depan produser.”

“Aku mengerti, Bram. Terima kasih,” jawab Max pendek.

Ia melangkah menuju kamar tidurnya, namun langkahnya terhenti saat matanya melirik kartu nama Selena yang tergeletak di meja. Tanpa sadar, ia mengambil kartu itu dan menyimpannya di dalam saku celananya.

***

1
irma hidayat
kepo menyiksamu max, lepas ihklas selena bahagianya bukan kamu
Li On
aq tunggu kak
Alana kalista
lanjutkan 🥰
Sri Murtini
Real Selena milik El jika kau cerdas Max ,jgn bloon
irma hidayat
jangan ngotot max, lakukan demi kebaikan selena juga
irma hidayat
dan yg jelas kamu mengusik milik orang lain max, siap hancur
Ambar
suka banget novel genre slow romance yang ga lebay begini
Sri Murtini
gaya cool meluncur tanpa naskah ,mmpukah selena menghindar/Heart//Heart/
Sri Murtini
Max buka mata dan telinga siapa dokter Selena sekarang. jgn sampai kariermu ambyar klu singa mengamuk 🫢🫢🫢
Li On
nunggu up lama banget kak🥺
Sri Murtini
Hati hati Max klu nggk mau hancur kariermu di zenitra dan jagat raya algojo kariermu ada dibelakang sana
Lina RA
semangat thor
Sri Murtini
cie cie merah tu pipi sang super star dpt asupan dr istri/Drool/
Sri Murtini
kak lanjut ya😄😄
Sri Murtini
hati " Elvano turunkan egomu jgn sampai tindakanmu membunuh karakter istrimu, biarkan dia bersinar di profesinya bgmnapun istrimu nggk akan menyaingimu dokter punya batasan mengendalikan diri krn sangat mencintaimu/Heart//Heart//Heart/
Sri Murtini: ingat dr selena istri pilihan oma
total 1 replies
Sri Murtini
semangat yg hangat
Sri Murtini
senangnys elvano ditungguin sang istri
Blu Lovfres
😘😘😘😘😘
Blu Lovfres
seruu jg si permainan sts private 😂😂😂😂
Blu Lovfres
y resiko, sts yg tersembunyi 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!