Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Kematian Beruntun
Setelah sholat subuh, terdengar suara kentongan yang di pukul dengan lima ketukan yang kemudian di beri jeda.
"Innalillahi wa innaillaihi roji'un." Lirih Arjuna dan keluarganya hampir bersamaan.
Tak lama, terdengar suara pengumuman yang mengabarkan tentang meninggalnya salah satu Warga Desa Banyu Alas.
Arjuna dan keluarganya pun bersiap untuk melayat, kecuali Sashi tentunya. Ia tetap berada di rumah di temani Arunika dan Shima.
"Padahal kemarin sehat."
"Iya, meninggalnya mendadak."
"Katanya serangan jantung."
Desas - desus warga lain yang melayat terdengar. Mereka membicarakan mengenai Almarhum yang meninggal secara mendadak.
Arjuna sendiri tertegun kala melihat jenazah. Ada sesuatu yang aneh, menurutnya. Namun ia hanya diam dan berencana membicarakannya pada Ayah, Bopo dan Yang Kungnya nanti.
Setelah prosesi pemakaman usai, mereka pun kembali ke rumah masing - masing. Arjuna pun segera bersiap untuk beraktifitas di Balai Desa. Namun, sebelum itu, ia mengajak Ayah, Bopo dan Yang Kungnya berkumpul.
"Kenapa, Nang?" Tanya Arsha.
"Aku yakin ini ada yang gak beres Yah, Po, Kung." Kata Arjuna.
"Memangnya ada apa?" Tanya Abimanyu. Arjuna pun kemudian menceritakan apa yang ia lihat semalam.
"Aku juga lihat seperti ada yang aneh dengan jenazah tadi." Kata Arjuna yang membuat mereka semua saling berpandangan.
Ternyata, kali ini tak hanya Arjuna. Bopo yang lain juga merasakan hal yang sama.
"Tadi itu, bukan jenazah almarhum, kan? Mata kita hanya di tipu." Kata Arjuna yang di jawab anggukan oleh yang lain. Namun mereka tak menyampaikan hal itu pada keluarga almarhum karena tak ingin membuat suasana duka semakin bertambah.
"Arjuna benar, sepertinya ada yanga gak beres. Kita harus segera cari tau." Kata Abimanyu.
Mereka semua sama - sama terdiam dan berfikir. Tak ada tanda - tanda aneh yang mencolok di tunjukkan. Bahkan, Belang dan Sanca pun sama sekali tak memberikan peringatan.
Setelah diskusi singkat itu, mereka pun kembali beraktifitas dengan kondisi hati yang resah dan was - was.
Keesokan harinya, di jam yang sama, kabar duka kembali terdengar. Bahkan, dalam sehari ada dua warga yang meninggal. Hal itu pun kembali terjadi lagi di hari ketiga. Setiap setelah subuh, kembali ada kabar duka.
"Mas, ini sebenernya ada apa?" Tanya Meshwa dengan resah.
"Bukan wabah penyakit, kan?" Imbuhnya kemudian.
"Bukan, Sayang. Buna dan Dinas Kesehatan sudah memastikan kalau ini bukanlah wabah penyakit." Jawab Arjuna.
"Mas juga masih berusaha cari tau masalah ini. Semua warga yang meninggal tiga hari ini, meninggal secara mendadak." Kata Arjuna.
"Tapi, ada yang aneh gak sih, Mas?" Tanya Meshwa lagi.
"Kenapa, Dek?" Tanya Arjuna dengan dahi berkerut.
"Mereka yang meninggal ini, masih keluarga kan?" Tanya Meshwa yang di jawab anggukan oleh Arjuna.
Ia tampak kembali berfikir. Benar apa yang di ucapkan Meshwa. Warga yang meninggal ini adalah anggota dua keluarga yang berbeda.
Malamnya, Arjuna kembali melakukan wirid. Ia berharap kali ini ada petunjuk hingga ia dan para Bopo lain bisa menyelesaikan masalah yang cukup meresahkan ini.
"Nang..." Suara itu akhirnya terdengar.
"Njih, Bopo." Jawab Arjuna.
"Danau Gondo Mayit mengamuk. Ada yang melakukan hal buruk di sana." Kata Bopo Jati Birawa. Tapi hanya itu yang di sampaikan oleh Bopo Jati Birawa.
"Aku harus memeriksa Danau Gondo Mayit kalau begitu." Lirih Arjuna.
Selama ini, memang tak ada yang pernah menginjakkan kaki di sekitar Danau Gondo Mayit. Pun tak ada penjagaan atau pengecekan rutin di sana seperti tempat sakral lain. Arjuna menghembuskan nafas berat. Ia dan para Bopo kecolongan.
"Danau Gondo Mayit." Lirihnya lagi.
Orang gila mana yang berani berbuat macam - macam di sana? Apa yang dia lakukan sampai - sampai membuat Danau Gondo Mayit mengamuk? Dan apa yang harus ia juga Para Bopo lakukan agar bisa menenangkan Danau Gondo Mayit supaya tak lagi memakan korban?
Pertanyaan - pertanyaan itu berkecamuk di benak Arjuna. Ia, masih terdiam di atas sajadahnya, hingga kedatangan Meshwa mengagetkannya.
"Astaghfirullah, Dek. Ngagetin aja." Kata Arjuna sambil mengusap dadanya.
"Mas kok malah melamun? Udah selesai wiridnya?" Tanya Meshwa yang kemudian duduk di sebelah Arjuna.
"Sampun, Sayang." Jawab Arjuna.
"Terus?" Tanya Meshwa yang tentu penasaran dengan apa yang terjadi.
"Semua ini ulah Danau Gondo Mayit yang mengamuk." Jawab Arjuna yang membuat dahi Meshwa berkerut.
"Kata Bopo Jati Birawa, Danau Gondo Mayit mengamuk karena ada yang melakukan hal buruk di sana." Jelas Arjuna.
"Astaghfirullah. Siapa yang berani kesana? Bahkan sampai melakukan hal buruk?" Tanya Meshwa yang juga tak habis pikir.
"Mas juga gak tau, Sayang." Jawab Arjuna yang kemudian merebahkan diri di pangkuan istrinya.
"Besok, Mas cari tau. Mas mau ke Danau Gondo Mayit. Kita harus segera menyelesaikan ini, biar semua warga kembali tenang." Kata Arjuna.
"Mas tau cara menenangkannya?" Tanya Meshwa yang di jawab gelengan oleh Arjuna.
"Mungkin Aya, Bopo dan Yang Kung tau. Besok pagi, Mas bicara sama Ayah, Bopo dan Yang Kung." Kata Arjuna.
Berita duka kembali terdengar seusai sholat subuh. Tak tanggung - tanggung, bahkan kali ini tiga orang sekaligus yang meninggal di waktu hampir bersamaan.
Kejadian ini tentu membuat warga merasa semakin resah. Mereka selalu di hantui ketakutan setiap malam. Para Bopo pun sudah berusaha menenangkan, berharap warga bisa sedikit sabar karena mereka sedang mencari penyebab hal ini.
"Ayah, Bopo, Yang Kung. Semalam Bopo Jati Birawa bilang, kalau hal ini karena Danau Gondo Mayit yang mengamuk." Arjuna memulai ceritanya.
"Pasti ada yang melakukan hal buruk di sana." Lirih Abimanyu. Netranya menggambarkan keresahan.
"Benar, Kung. Cuma, Bopo Jati Birawa gak ngasih tau penyebab pastinya dan gimana cara meredakan amukan Danau itu." Kata Arjuna.
"Orang gila mana yang berani berbuat seperti itu di sana." Geram Aksa.
"Mungkin masih keluarga dari mereka yang meninggal. Mengingat, mereka yang meninggal ini hanya keluarga dari Mbah Kasan dan Mbah Surip." Arsha mencoba menebak - nebak.
Mereka berempat pun terdiam. Benak mereka tentu berisik dengan berbagai macam pertanyaan.
"Lalu, gimana cara kita membuat Danau kembali tenang, Mo?" Aksa buka suara setelah beberapa saat.
"Kita harus tau dulu, apa yang membuat Danau Gondo Mayit mengamuk. Kita baru bisa menenangkan setelah mengetahui masalahnya." Jawab Abimanyu.
"Jadi, Yang Kung tau caranya?" Tanya Arjuna.
"Ada di Kitab Besar. Yang Kung pernah baca masalah ini." Jawab Abimanyu.
"Tuh! Makanya baca Kitab Besar, Nang." Celetuk Aksa.
"Kok aku? Bopo aja gak pernah baca." Cicit Arjuna yang memang belum menyelesaikan membaca Kitab Besar.
Kitab Besar itu di tulis dengan tulisan aksara jawa. Hal itulah yang membuat Arjuna sedikit malas mempelajari Kitab Besar itu.
"Lho! Bopo udah baca setengah, ya." Kata Aksa.
"Aku udah setengah lebih malahan." Sergah Arjuna.
"Ssst! Berisik. Ara masih tidur itu lho." Tegur Arsha.
"Ayah yang baca belum sampe setengah aja gak berisik kok." Imbuhnya kemudian yang membuat Arjuna, Abimanyu dan Aksa tertawa.