NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Matahari pagi mulai merayap masuk melalui jendela besar apartemen, namun suasana di dalamnya tidak seperti biasanya.

Alih-alih berangkat ke kantor dengan setelan jas lengkap, Jati justru terlihat sibuk di meja makan dengan laptop dan tumpukan berkas.

Dua asisten pribadinya tampak berdiri tegak di sudut ruangan, sementara beberapa staf IT sedang sibuk memasang jalur internet tambahan dan layar monitor besar di ruang tengah.

Apartemen mewah itu mendadak berubah menjadi kantor cabang pribadi.

Di depan pintu, empat pengawal berbadan tegap berjaga tanpa henti, sementara dua perawat pribadi tadi malam masih setia berdiri di dekat pintu kamar.

Lintang yang baru saja bangun dan melangkah keluar dari kamar, tertegun melihat pemandangan itu.

Ia menghampiri Jati yang sedang berbicara serius di telepon tentang laporan saham tahunan.

"Mas..." panggil Lintang lembut.

Jati langsung memutus sambungan teleponnya sepihak begitu mendengar suara istrinya.

Ia bangkit dan segera menuntun Lintang untuk duduk di kursi yang paling empuk.

"Sayang, kenapa bangun? Harusnya kamu istirahat saja di tempat tidur. Suster, bawakan sarapan Ibu ke sini sekarang," perintah Jati dengan nada protektif yang tak terbantahkan.

Lintang mengembuskan napas panjang, menatap suaminya dengan tatapan memohon.

"Mas, jangan seperti ini. Aku sudah tidak apa-apa, Mas. Sungguh. Mas tidak perlu memindahkan seluruh kantor ke apartemen seperti ini."

Jati menggenggam tangan Lintang, tatapannya dalam dan penuh kecemasan yang belum hilang.

"Mas tidak bisa tenang di kantor, Lintang. Membayangkan kamu di sini tanpa pengawasan Mas secara langsung membuat Mas tidak bisa berpikir jernih. Biarkan Mas bekerja dari sini untuk beberapa minggu ke depan."

"Tapi Mas, karyawan Mas butuh pemimpinnya di sana. Aku merasa bersalah kalau gara-gara aku, pekerjaan Mas jadi terhambat," ucap Lintang lagi, mencoba memberikan pengertian.

"Lihat, pipiku sudah tidak sakit lagi, memarku juga sudah memudar."

Jati menyentuh pipi Lintang dengan sangat hati-hati.

"Bagi dunia, mungkin ini berlebihan. Tapi bagi Mas, kehilanganmu sedetik saja kemarin adalah neraka. Mas tidak peduli soal kantor, Mas hanya peduli soal keselamatanmu."

Lintang terdiam, ia melihat guratan kelelahan dan ketakutan di wajah suaminya.

Ia menyadari bahwa trauma penculikan itu ternyata membekas lebih dalam di hati Jati

daripada di dirinya sendiri.

"Baiklah, kalau itu memang membuat Mas tenang," bisik Lintang akhirnya, mengalah pada ego protektif suaminya.

"Tapi janji, Mas juga harus makan tepat waktu dan jangan terlalu memaksakan diri."

Jati tersenyum lega, ia mengecup kening Lintang dengan lama.

Di sudut ruangan, para staf dan perawat hanya bisa menunduk hormat, menyadari betapa besarnya cinta sang CEO kepada wanita yang telah menjadi nyawa kedua baginya.

Suasana di ruang kerja darurat di dalam apartemen itu mendadak dingin saat pengacara pribadi Jati, Pak Baskoro, melangkah masuk dengan raut wajah serius.

Jati, yang sedang menatap layar laptopnya sambil sesekali melirik Lintang yang sedang beristirahat di sofa, langsung memberikan perhatian penuh.

"Bagaimana, Baskoro? Apa ada kendala dengan tuntutan kita?" tanya Jati, suaranya rendah namun tajam.

Baskoro menghela napas pendek, lalu membuka map yang dibawanya.

"Tuntutan penculikan dan penganiayaan terencana sudah masuk, Pak. Namun, pihak kepolisian melaporkan bahwa Mila terus-menerus histeris di dalam sel. Dia menolak makan dan terus berteriak memanggil nama Anda. Melalui pengacaranya, dia memohon—bahkan bersujud—hanya untuk bertemu Anda sekali saja sebelum persidangan dimulai."

Mendengar nama Mila disebut, rahang Jati mengeras.

Kenangan saat ia melihat Lintang terikat dan memar di gudang itu kembali melintas, memicu kemarahan yang tertahan.

"Ketemu aku?" Jati terkekeh, namun tawanya terdengar sangat mengerikan.

"Untuk apa? Untuk meminta maaf? Atau untuk merancang kebohongan baru lagi?"

Jati berdiri, melangkah mendekati jendela besar yang menghadap pemandangan kota, membelakangi pengacaranya.

"Dengarkan instruksi saya dengan tegas, Baskoro. Blokir semua akses. Jangan biarkan ada satu pun surat, pesan, atau permohonan dari dia yang sampai ke meja saya atau telinga istri saya."

"Tapi Pak, pihak keluarga Dery juga mencoba melakukan pendekatan untuk damai..."

"Damai?" potong Jati cepat, ia berbalik dengan tatapan mata yang berkilat dingin.

"Katakan pada mereka, tidak ada kata damai untuk orang yang berani menyentuh Lintang. Pastikan mereka semua mendapatkan hukuman maksimal. Jika perlu, tambahkan pasal pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Saya ingin mereka tahu bahwa bermain-main dengan keluarga Jati Pratama adalah akhir dari hidup mereka."

Lintang yang mendengar percakapan itu dari sofa hanya bisa terdiam.

Ia melihat sisi lain dari Jati—sisi yang sangat tegas dan tanpa ampun jika menyangkut keselamatannya.

"Baik, Pak Jati. Saya mengerti. Saya akan segera instruksikan tim untuk menutup semua komunikasi," jawab Baskoro sambil membungkuk hormat dan pamit undur diri.

Jati kembali menghampiri Lintang, kemarahannya seketika luruh saat ia menatap wajah lembut istrinya.

Ia berlutut di depan Lintang, menggenggam tangannya dengan penuh kasih.

"Maaf ya, Sayang.. Mas harus bicara keras seperti itu. Mas hanya tidak ingin sampah-sampah itu mengganggu kedamaian kita lagi," bisik Jati.

Lintang tersenyum tipis, mengusap pipi suaminya.

"Aku mengerti, Mas. Aku percaya pada keputusan Mas."

Dinding beton yang dingin dan lembap di dalam sel tahanan seolah perlahan menghimpit kewarasan Mila.

Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi di salon mahal kini tampak kusut dan kotor.

Riasan wajahnya sudah luntur, menyisakan lingkaran hitam di bawah mata yang mencerminkan keputusasaan yang mendalam.

"Mas Jati pasti datang. Dia tidak mungkin setega ini padaku," gumam Mila berulang kali, suaranya parau karena terlalu banyak berteriak.

Sore itu, pengacaranya datang dengan wajah lesu, berdiri di balik terali besi tanpa membawa kabar baik sedikit pun.

"Bagaimana? Apa Mas Jati mau bertemu? Apa dia mencabut laporannya?" seru Mila histeris, jemarinya mencengkeram besi sel hingga buku-bukunya memutih.

Pengacara itu menggeleng pelan, tidak berani menatap mata Mila yang mulai terlihat kosong.

"Tidak, Mila. Pak Jati sudah menutup semua akses. Instruksinya tegas: blokir semua komunikasi. Dia bahkan menyewa tim hukum tambahan untuk memastikan hukumanmu maksimal. Tidak ada ruang untuk negosiasi atau maaf."

Mila terhuyung ke belakang, punggungnya menabrak dinding sel yang kasar.

Tawa getir mulai keluar dari bibirnya—tawa yang terdengar menyayat hati sekaligus mengerikan.

"Menutup akses? Dia benar-benar membuangku seperti sampah?"

Mila tertawa semakin keras, namun air mata mengalir deras di pipinya yang kuyu.

"Semua gara-gara si pelayan itu! Lintang, perempuan sialan itu telah mencuri segalanya dariku!"

Mila mulai memukul-mukul dinding sel dengan tangan kosong, mengabaikan rasa perih dan darah yang mulai keluar dari sela-sela jarinya.

Pikirannya terus berputar pada bayangan Jati yang berdiri tegap, gagah, dan penuh wibawa saat melindung Lintang di gudang tempo hari.

Ia baru menyadari bahwa pria yang dulu ia hina sebagai "beban" kini adalah raja yang tidak akan pernah lagi menoleh padanya.

"Aku yang harusnya jadi Nyonya Jati Pratama! Aku!" teriaknya hingga suaranya pecah.

Petugas penjara yang lewat hanya bisa menggelengkan kepala melihat kondisi Mila yang mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di dalam kegelapan sel, Mila menyadari satu hal yang paling menyakitkan: ia telah kehilangan segalanya—harta, martabat, dan satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya dulu—hanya demi obsesi dan rasa iri yang tak berujung.

Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan yang terlambat dan dinding dingin yang menjadi saksi hancurnya hidup seorang wanita yang dulu begitu angkuh.

1
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sebagai cowok kami faham seberapa sakit kamu sebenarnya Wak huhuhu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Puke/ "udahlah hubungan kayak gini mendingan gak usah dipertahanin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "aku dibuat tak bisa berkata-kata"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "buta matanya sampai gak sadar"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Angry/ "ini kembarannya Jule kah?"
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
bagus tinggalkan saja baju kotormu karena sudah tidak bisa dipakai lagi
tiara
mampir thor mulau membaca ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!