NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Ujian Kejujuran di Ruang Sunyi

Siang itu, koridor sekolah terasa lebih hening dari biasanya bagi dua orang siswa yang sedang berjalan dengan langkah berat. Di bawah perintah yang disampaikan secara berbisik oleh wali kelas masing-masing agar tidak memancing perhatian siswa lain, Dean dan Karline digiring menuju satu titik, Ruang BK. Kabar burung yang disebarkan Clarissa rupanya telah sampai ke telinga para petinggi sekolah dengan kecepatan yang mengerikan.

​Di dalam ruangan yang beraroma kayu dan kertas lama itu, suasana terasa sangat menekan. Guru BK, Bu Maya, duduk dengan wajah formal yang sangat tegas namun suaranya tetap terjaga rendah. Di sampingnya, Pak Doni selaku wali kelas Dean tampak gelisah, sementara Bu Rina, wali kelas Karline, menatap murid kesayangannya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Dean, Karline, duduklah," perintah Bu Maya. Setelah mereka duduk, ia melanjutkan, "Kami memanggil kalian bukan tanpa alasan. Ada laporan yang masuk mengenai kondisi kalian yang... sejujurnya sangat memalukan bagi nama baik sekolah jika itu benar. Kami ingin kejujuran dari mulut kalian sendiri. Karline, apa benar kamu sedang mengandung?"

​Karline terdiam, tangannya saling meremas di bawah meja. Ia tidak menyangka fitnah ini akan sampai ke level otoritas sekolah.

​Bu Rina, wali kelas Karline, memajukan tubuhnya. "Karline, jawablah. Saya percaya kamu anak baik. Kamu pintar, berprestasi, dan dari keluarga yang terhormat. Tidak mungkin kamu melakukan hal sejauh ini, kan?"

​Sementara itu, Pak Doni menoleh ke arah Dean dengan ekspresi kecewa yang mendalam. "Dean, kamu itu kapten voli. Prestasi kamu sudah banyak membawa nama harum sekolah ini sampai tingkat nasional. Saya hampir pingsan saat mendengar kabar ini tadi pagi. Jawab Bapak, apa yang sebenarnya terjadi?"

​Dean menarik napas panjang, matanya melirik Karline yang masih mematung. "Pak, Bu, semua itu tidak benar. Kami tidak pernah melakukan hal yang melanggar norma. Itu hanya fitnah dari orang yang tidak suka pada kami."

​Bu Maya tidak lantas percaya begitu saja. Ia adalah orang yang berpegang pada fakta, bukan sekadar kata-kata. "Jika salah satu dari kalian tidak ada yang mau menjawab dengan bukti yang konkret, kebetulan saya sudah berkoordinasi dengan dokter kandungan dari klinik rekanan sekolah. Beliau sudah ada di UKS. Mari, Karline, kita ke sana untuk pemeriksaan medis agar semuanya jelas."

​Suasana mendadak menjadi sangat kaku. Karline berdiri tanpa membantah, ia ingin masalah ini selesai sekali dan selamanya. Dean ingin memprotes karena menganggap ini terlalu berlebihan, namun Karline memberikan kode lewat tatapan matanya agar Dean tetap diam.

​Pemeriksaan dilakukan secara tertutup di UKS. Dean, Pak Doni, dan Bu Rina menunggu di luar dengan perasaan was-was. Setelah sekitar lima belas menit, pintu UKS terbuka. Dokter tersebut keluar diikuti oleh Bu Sarah dan Karline yang wajahnya tampak sedikit pucat.

​"Bagaimana, Dok?" tanya Pak Doni cepat.

​Dokter itu tersenyum tipis. "Siswa ini tidak hamil. Hasil pemeriksaan fisik dan tes menunjukkan hasil negatif."

​Tepat setelah dokter bicara, sebuah suara aneh terdengar di ruangan yang sunyi itu. Kruyuuukkk... Suara perut keroncongan yang cukup keras berasal dari perut Karline. Semua orang terdiam, menatap ke arah Karline yang kini menunduk malu dengan wajah memerah hingga ke telinga.

​"Maaf... saya lapar," bisik Karline kecil. "Tadi di kantin tidak sempat makan karena beradu mulut dengan Clarissa."

​Bu Maya mengembuskan napas lega yang sangat panjang, diikuti oleh Bu Rina dan Pak Doni yang seketika berubah ceria. Ketegangan yang tadinya mencekik kini mencair begitu saja hanya karena suara perut Karline.

​"Ya ampun, Nak. Sampai segitunya kamu menahan lapar," ucap Bu Rina sambil mengelus bahu Karline.

​Bu Maya kembali duduk di kursinya dan menatap Karline dengan nada yang kini lebih santai, namun sedikit menyindir. "Karline, kamu itu bukannya yang kemarin mengadu pada saya tentang kasus pembullyan di sekolah ini? Kenapa akhir-akhir ini kamu malah terlihat sangat dekat dengan kapten voli kita ini? Bukankah dulu kalian bermusuhan?"

​Karline melirik Dean sebentar, lalu menjawab dengan tenang. "Hubungan kami sudah membaik, Bu. Dean sudah meminta maaf."

​"Dan kenapa kamu tidak langsung memberitahu saya tentang fitnah ini saat pertama kali muncul di grup sekolah? Siapa yang memberi tahu fitnah ini ke publik?" tanya Bu Maya lagi.

​Karline menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Bu. Lupakan saja siapa yang memulainya. Yang penting masalah ini telah selesai melalui pemeriksaan tadi dan tidak ada lagi yang perlu ditutupi. Saya tidak ingin memperpanjang drama."

​Bu Maya mengangguk paham, menghargai kedewasaan Karline. "Baiklah, kali ini saya mengerti. Tapi jika sekali lagi kamu difitnah atau merasa dirugikan seperti ini, jangan segan-segan untuk memberitahu saya dan guru yang lain. Kami ada di sini untuk melindungi kalian."

​"Baik, Bu," jawab Karline sopan.

​Pak Doni menepuk punggung Dean dengan keras, wajahnya kembali bangga. "Hampir saja jantung saya copot, Dean! Ayo kembali ke kelas, lanjutkan belajar. Jangan buat masalah lagi!"

​Bu Rina tersenyum manis pada Karline. "Ayo, Karline. Setelah ini kamu harus makan, ya. Jangan sampai sakit."

​Mereka berempat keluar dari ruang BK dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Fitnah yang tadinya ingin menghancurkan masa depan mereka justru menjadi bukti nyata bagi para guru bahwa Karline adalah siswi yang jujur dan Dean adalah siswa yang kini lebih bertanggung jawab. Di koridor, saat para guru sudah menjauh, Dean berbisik pelan pada Karline.

​"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi harus diperiksa seperti tadi dan kelaparan."

​Karline tersenyum tipis, kali ini tanpa rasa benci. "Tidak apa-apa. Setidaknya sekarang guru-guru tahu kalau aku tidak semudah itu melakukan hal bodoh. Tapi, Dean... aku benar-benar lapar sekarang."

​Dean tertawa kecil. "Habis ini, aku belikan makanan paling enak di kantin. Anggap saja upah karena sudah jadi Tuan Putri yang sabar."

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!