Seri pertama Cinta Tak Perna Salah mengangkat
Kisah Cinta antara Jeanne dan Jeremy yang berawal cinta itu tumbuh saat mereka usia remaja di sebuah asrama tentara. Kedua orang ini adalah anak tentara ini, Jeanne dan Jeremy sama - sama didik dalam tradisi dan kebiasaan orangtua mereka agar anak - anak ini kuat. Ketika mereka dewasa perpisah terjadi karena tugas dari orangtua mereka. Namun perasaan cinta itu sudah semakin tumbuh. Namun terhalang Karena keakraban orangtua, ditambah orangtua Jeremy menjadikan Jeanne seperti anak perempuan mereka.
Namun takdir berkata lain Jeremy Alexander Purba ditugaskan di Papua, tepatnya di kesatuan yang dulu ditumbuh dan dibesarkan. Dan mereka bertemu kembali setelah Jeanne sudah menjadi dokter, perasaan yang lama tersimpan, kembali bersemi.
Bagaimana kisah cinta Jeanne dan Jeremy ini???
Apakah salah Jeremy mencintai Jeanne yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LMR Part 4
Kapten Jeremy Alexander Purba sudah tenang, ketika harus pergi menjalankan tugas, karena kedua orangtuanya sudah datang menemani Jean istrinya. Posisi Anto anggota Jemy yang meninggal saat menjalankan misi diganti oleh Musa lettingnya Jemy.
Malam ini, Jemy sedang tidur memeluk perut istrinya mengelus - elus perut istrinya, dan direspon oleh anaknya. Jemy langsung memberi ciuman pada bagian perut yang menonjol. Pukul sepuluh malam Jemy sudah di jemput. Dia sudah pamitan kepada istrinya. Biasa sebelum berangkat Jemy selalu berdoa bersama istrinya.
"Abang.... Jaga kesehatannya ya??? Jaga diri, jangan terluka sayang."
"Iya abang janji. Adek juga harus sehat ya. Abang titip jagoan kita ya sayang. Maafkan jika beberapa hari tidak bersama kelian."
"Abang harus janji pulang ke adek sehat ya." Jemy tersenyum.
"Iya sayang."
Jemy mencium istrinya sangat mesra, kemudian dia pamit kepada kedua orangtuanya dan menitip istri dan calon bayi mereka hanya seminggu kepada orangtuanya. Dia lagi - lagi merasa lega, karena istrinya tidak sendiri saat dia menjalankan tugas negara, ada papi dan maminya.
Pagi hari Jean menonton televisi dan informasi tentang penyerangan tentara kepada kelompok pemberontak yang telah membahayakan masyarakat terlebih membunuh aparat tentara dan polisi. Sangat cepat mereka melakukan serangan balik. Dan betapa kagetnya pasukan karena yang direkrut menjadi anggota mereka adalah anak - anak dibawa umur.
Gerakan sapu bersih dan penyaringan. Dilakukan sampai tuntas. Perintah atasan jelas, dan sebagai komandan tim khusus dilapangan langsung bergerak dengan cepat melakukan perintah itu.
Banyak yang tertangkap. Dan subuh itu dilarikan dengan pesawat tentara ke Jayapura. Lokasi kejadian bersih tim khusus sudah bersiap kembali ke Jakarta. Namun sebelumnya mereka akan ada sementara di Jayapura untyk membantu proses penyaringan mana pelaku sebenarnya dan mama yang ikut - ikutan. Sedangkan ada beberapa pasukan yang sudah membentuk markas, untuk mengamankan lokasi, agar masyarakat merasa aman, dan mereka bisa beraktivitas seperti biasa.
Tim khusus sudah di Jayapura. Jemy dan Musa kembali ke kesatuan lamanya, mereka di tempatkan di asrama perwira, sementara sampai proses penyelidikan dan penyaringan selesai. Jemy memilih istirahat di rumah dinas mama dan papa. Jemy merasa senang sekali."
"Ting, senang ya meskipun jauh dari istri, ada mertua di sini."
"Tentu dong. Sekalian melihat keadaan kedua orangtuaku. Kami sudah lama tidak bertemu."
Kedatangan Jemy sangat disambut dengan senang. Mama langsung memeluknya dengan gembira. Sedangkan papa sedang vidio call dengan besan yang juga sahabatnya di Jakarta. Mama mertuanya sama protektifnya seperti Jean anaknya, beliau melihat seluruh tubuh anak mantunya dengan teliti.
"Abang ada yang terluka???"
"Aman mama, hanya luka gores aja."
Ketika selesai mengejek, mama mertuanya merasa lega. Dia sudah menyiapka Air panas untuk mandi anaknya di kamar mandi. Jemy langsung membersihkan diri. Sementara Jean di Jakarta merasa senang suaminya selama seminggu melakukan tugasnya aman dan sekarang bersama orangtuanya. Jemy selesai mandi menikmati makan malam bersama mama dan papa, sambil menceritakan kondisi Jean.
"Mama masih membuat kue??"
"Iya abang, hiburannya mama. Biasa yang mama buat hanya pesanan dan yang mama titip di toko. Tapi ini mama buatkan khusus buat adek dan kalian."
"Mama, ngak usah terlalu lelah. Jemy dan Jean bisa kok menjaga mama dan papa??"
"Iya, mama tahu. Tetapi mama suka."
"Papa sudah kasih tahu nak, namun itu hobi mamamu . Hobi mama itu yang buat papa jatuh cinta."
"Bukan karena kecantikan mama."
"Itu yang utama nak, nomor satu." Mamanya tersenyum tersipu. Mukanya terlihat seperti Jean. Jemy tersenyum dan dia sadar bahwa jika istrinya tua masih terlihat manis seperti mertuanya.
Bulan depan mama dan papa sudah pulang ke Jakarta. Karena papa sudah pensiun. Jadi besok atau lusa Jemy balik dengan ke Jakarta dengan beberapa barang orangtuanya yang dia bawa. Hanya koper pakaian.
Dan sekarang Jemy juga sedang vidio call dengan istrinya. Aura kecantikannya semakin bertambah.
"Sayang ,kamu tambah cantik deh???"
"Bukan cantiknya adek sudah dari dulu."
Jemy tersenyum dan langsung tertawa. Dia kangen dengan istrinya.
"Abang kangen. Untung abang ada bersama mama dan papa disini." Jean tersenyum melihat suaminya.
"Sayangku, bagaimana keadaan kamu dan bayi kita???"
"Aman sayang, calon bayi kita baik sayang, dia terus berkomunikasi dengan kami."
Jean selalu mengusap, perutnya berbicara dengannya, dibalas dengan gerakan dari dalam perut. Bahkan Jean juga selalu berdoa mengajak janinnya itu.
Di kompleks asrama yang dulu, Jelas orang - orang lama masih ada. Jemy bangun pagi ini, sangat telat. Mereka tidak diwajibkan berdinas. Selesai mandi dia, langsung menuju ke bagian provost memeriksa tahanan yang memang sudah mulai dipisahkan. Yang ikut - ikutan akan diberi pelatihan sedikit dan di kembalikan. Sedangkan yang otaknya akan dikirim ke polres Jayapura untuk di sidangkan.
"Itu kapten Jemy Niken???"
"Niken lihat kesana, kapten Jemy!!!"
Genk Niken yang bertemu dengan dan melihat Jemy kembali kagum dengan penampilannya. Jemy hanya cuek saja, dalam hatinya anak kecil. Dia menyesali tindakan bodoh waktu itu yang dibuat lettingnya. Jemy meskipun tinggal dirumah orangtua. Dia selalu melihat anggotanya. Malam ini, pukul tujuh mereka datang makan malam di rumah mertua. Mama dan papa yang mengundang. Mama masak makanan yang enak - enak. Bahkan beberapa letting Jemy di mess juga ikut.
Barang - barang yang mau dibawa ke Jakarta sudah di masukan di mobil yang akan mengantar mereka ke bandara. Malam ini mereka berangkat dengan pesawat jet khusus punya tentara yang kecepatannya diatas kecepatan pesawat lainnya. Jemy sudah pamit kepada mama dan papanya. memeluk dan memberi ciuman.
"Jangan kelelahan ya ma, Jemy dan Jean sangat membutuhkan mama dan juga papa."
Orangtua Jean sudah tahu, bahwa rumah mereka di masa tua sudah ada di Jogja, disebelah rumah orangtua Jemy. Jean dan Jemy sengaja melakukan itu, agar mereka bisa melihat kedua pasang orangtua mereka dengan baik di hari tua mereka. Informasi yang diterima Jemy rumahnya sudah rampung.
Joan sangat senang waktu mendapat informasi dan melihat kirimannya dari mama dan papa, yang akan dibawa papi dan maminya ke Jogja besok pagi dengan kereta. Jean juga senang sekali, karena sebentar lagi suaminya bisa berada disampingnya.
Malam ini, Jean menceritakan kondisi kesehatan kandungannya, kepada Jemy suami dan papi dari calon abak mereka. Jean belum USG, namun secara keilmuannya dia sudah tahu kondisi anaknya seperti apa. Namun Jean percaya bahwa mujizat Tuhan itu ada. Jemy mengerti apa yang dijelaskan oleh istrinya.
"Apapun itu, abang yakin sesuai doa kita Tuhan menempatkan dia didalam rahimmu, karena Tuhan mempercayai kita berdua. Iya kan sayang??"
"Iya sayang. Terima kasih suami gantengku. I love you. Kamu itu kekuatanku abang."
"I love you more sayang. Kamu yang adalah kekuatan abang."