Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 Trauma yang Membekas
Wei Ying termenung, pikirannya sibuk mengingat kembali bagian-bagian pertama dari novel. Saat melihat ketiga anak kecil itu, ada perasaan lega tapi juga gelisah.
"Untung saja, scene novel bagian drama perselingkuhan masih belum di mulai..." bisik Wei Ying dalam hati. "Lu Bao dan Lu Xue masih hidup, masih ada kesempatan untuk di ubah! Image-ku yang hancur bisa di tata ulang!"
Wei Ying mengepalkan tangannya dan tersenyum kecil. Lalu dengan hati-hati mulai mendekat, ia merendahkan tubuhnya untuk menyesuaikan dengan anak-anak yang kini semakin meringkuk ketakutan.
Lalu dengan hati-hati ia mengulurkan tangannya, mencoba untuk menggapai Lu Shu yang kini tubuhnya gemetar, "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya pelan.
"Jangan sentuh aku!" seru Lu Shu seraya menepis tangan Wei Ying yang hendak menggapainya.
Lu Bao dan Lu Xue yang melihat kakaknya menepis tangan ibu tiri mereka, semakin ketakutan. Mereka mencoba bersiap untuk amukan yang akan terjadi.Tapi Wei Ying yang sudah bertekad untuk menundukkan ke tiga anak yang kini menjadi anak tirinya itu, segera meraih lengan Lu Shu.
"Coba ibu lihat dulu lukamu ya..." pinta Wei Ying sambil menarik lengan Lu Shu.
Lu Shu meringis pelan saat Wei Ying menyingkap lengan bajunya dan memperlihatkan lebam kebiruan, juga luka dimana darah yang sudah kering tak di bersihkan dengan baik hingga meninggalkan bekas yang parah.
"Ini sangat parah..." gumam Wei Ying. "Apa yang di pikirkan Wei Lu ketika menyiksa mereka? Meski saat itu aku hanya melihat dia dari sudut pandang pembaca, tapi kini menyaksikannya langsung.. benar-benar tak habis pikir!"
Lu Shu yang merasa tak nyaman segera menarik lengannya, "Tak perlu sok baik! Lepaskan aku!"
"Diam, biar ibu oleskan obat!" seru Wei Ying.
Wei Ying lalu berlari ke kamarnya, ia mengobrak-abrik lemarinya hingga matanya tak sengaja menatap sebuah botol kecil berwarna hijau. Ia membukanya dan mencium aromanya.
"Ini dia!" serunya dan segera kembali ke tempat di mana anak-anak itu berada.
Wei Ying segera membuka botol kecil itu dan mengoleskannya ke lebam di tangan Lu Shu. Anak itu meringis saat sensasi dingin dan perih dari salep itu mengenai lukanya. Lu Bao yang melihat kakaknya kesakitan, memeluk tubuhnya semakin erat.
"Ibu, sudah bu.. kasihan kakak..." bisik Lu Xue dengan wajah yang sembab menahan tangis, ia mengira jika Wei Ying mencoba menyakiti kakaknya lagi.
Wei Ying menatap Lu Xue dan spontan membuat anak itu mematung menahan isak tangis yang siap pecah, "Tidak, tidak.. Ibu hanya mengoleskan salep untuk lukanya." ujarnya sambil memperlihatkan lengan Lu Shu yang sudah di olesi salep.
"Bagian mana lagi yang sakit, ayo.. biar ibu pijat juga kakimu.." seru Wei Ying saat melihat gelagat Lu Shu yang selalu memegang kaki kirinya.
Wei Ying perlahan memijatnya, ia tau kaki anak itu terkilir dilihat dari bengkak dan memar yang sudah kebiruan di sana.
Ketiga anak itu menatap bingung dan takut, Lu Shu memandang wajah ibu tirinya dengan was-was.
"Beneran gak sakit lagi.." bisiknya dalam hati. Meski begitu rasa traumanya membuatnya segera menepis tangan Wei Ying.
"Kamu pasti akan memukulku lagi kan?" ujarnya, "Berpura-pura baik, mengobati ku untuk memukul ku lagi lebih keras lagi kan?!"
Wei Ying menatap sedih ketiga anak itu, perasaannya kacau. Melihat anak kecil itu begitu terluka oleh perlakuan Wei Lu.
"Cara seperti ini tak akan mempan padaku, walaupun kamu membunuhku.. aku tetap akan ambil uang santunan ayahku! Itu uang yang di dapat ayah dengan mengorbankan nyawanya!"
Lu Shu berusaha bangkit, mengabaikan tatapan lain dari ibu tirinya. Lu Bao yang melihat kakaknya hendak pergi, segera meraih lengannya dan mengikutinya. Kini hanya tersisa Wei Ying dan Lu Xue.
Wei Ying menatap anak itu dengan penuh tanda tanya, sedangkan Lu Xue terlihat gugup dan takut.
"Ah, Lu Xue itu gadis, sikap padanya selalu paling buruk, biasanya dia selalu menghindar. Kok sekarang malah diam aja?" bisik Wei Ying dalam hati seraya memperhatikan anak itu.
Lu Xue yang salah faham mengira ibu tirinya akan marah lagi. Lalu dengan cepat berbicara. "Ibu.. aku bukannya tidak mau masak. Tapi, berasnya sudah tidak ada, sayur liar pun juga tak ada.."
Wei Ying yang mendengar hal itu memijit pelipisnya, ia menghela nafas panjang dengan kening berkerut. Lu Xue yang melihat reaksi itu segera bersujud, "Ibu, tolong ambil kembali uang santunan itu ya.. ambil setengahnya juga ngg apa-apa."
"Kalo tidak, nanti kita kelaparan, bu.."
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭