Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Tiba-tiba, suara roda brankar yang bergesek dengan lantai keramik rumah sakit
.Krek… krek… krek…
Suaranya makin jelas, diikuti oleh langkah kaki dan obrolan ringan dari kedua petugas kamar mayat.
Abram mendengar pintu kamar mayat terbuka perlahan, disusul dengan suara obrolan rendah antara dua orang.
"Kita harus cepat. Besok pagi ada pemeriksaan untuk mayat ini dari keluarganya," ujar salah satu orang dengan suara yang terdengar lelah.
"Ya sudah, kita taruh saja di rak paling dalam seperti biasa," jawab yang lain, sambil mendorong brankar untuk masuk ke dalam. .
Tapi, ketika kedua petugas kamar mayat itu memasuki ruangan, wajah mereka yang tadinya biasa saja langsung berubah warna.
Mata mereka melotot besar, bibir menggigil, dan tangan yang sedang memegang brankar langsung terlepas..
Mereka terkejut setengah mati saat melihat seorang mayat yang barusan mereka masukan tadi sedang berdiri di dekat jendela dengan tatapan dingin.
"Si-si-siapa kamu?" ucap petugas yang lebih muda dengan suara gemetar, matanya tidak berani berpindah dari sosok Abram yang masih menghadap cermin. "Ke-ke-kenapa ka-kamu hidup? Atau… kamu hantunya?"
Kata "hantu" membuat Abram terkejut. Ia perlahan berbalik badan, ia menganggap alisnya.
Saat Abram mulai melangkah ke arah kedua petugas, langkah kakinya yang lambat malah membuat suasana menjadi semakin menegangkan.
"Apa aku mirip hantu?" tanya Abram dengan nada pelan yang kebingungan, tapi bagi kedua petugas, suaranya terdengar seperti menyeramkan.
Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, mereka saling melihat satu sama lain dengan wajah penuh ketakutan.
"Aaaaaaaa! HANTUUUUUU!"
Kedua petugas itu berbalik dan berlari terbirit-birit keluar dari kamar mayat, menyembunyikan wajah mereka dengan kedua tangan.
Mereka berlari begitu cepat dan pontang panting ketakutan, dan tidak sadar lagi jika brankar yang mereka bawa masih ditinggalkan di tengah jalan di depan pintu, dengan tubuh mayat yang tertutup kain putih masih di atas brankar.
Abram menghela nafas panjang dan berbalik lagi ke arah cermin. Ia melihat bayangan dirinya yang jelas terpantul di permukaan kaca, rambutnya yang sedikit berantakan.
Ia kemudian mengangkat tangan dan menyentuh cermin, merasakan dinginnya permukaan kaca yang menyentuh kulitnya.
"Apakah hantu ada bayangan di cermin?" gumamnya sambil memegang dagunya, Abram menatap bayangan dari kaca tersebut.
"Setahuku hantu tidak bisa bercermin, tidak bisa menyentuh barang, kakinya tidak jejak ke lantai. Tapi aku punya bayangan di sini, dan aku bisa memegang barang. Jadi, aku bukan hantu. Aku adalah manusia yang masih hidup." kata Abram seolah sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah meyakinkan diri bahwa dirinya bukan hantu, Abram menghela nafas dan berbalik menghadap pintu kamar mayat.
Ia melihat brankar yang ditinggalkan kedua petugas tadi masih berada di tengah pintu, tubuh mayat di atasnya tertutup kain putih yang sedikit terkulai ke samping.
"Aku harus membantunya masuk," kata Abram.
Ia melangkah keluar dari ruangan. Ketika ia mulai mendorong roda brankar perlahan ke dalam kamar, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari ujung lorong.
"Di mana hantunya? Lagian mana ada hantu di tempat yang sudah begitu banyak pengawasan seperti ini," ucap seorang pria dengan suara yang terdengar mantap, jelas merupakan orang yang lebih berpengalaman.
Ia adalah Beno, seorang petugas keamanan yang sudah bekerja di rumah sakit selama lima tahun.
Di belakangnya berjalan kedua petugas kamar mayat yang tadi berlari kabur, Pak Joko yang lebih tua dengan wajah masih berkeringat dingin, dan Rian yang lebih muda yang tubuhnya masih bergidik menggigil.
"Benar-benar ada, Pak Beno! Kami tidak bohong," ucap Rian dengan suara gemetar, sambil melihat ke belakang takut jika ada sesuatu yang mengikutinya.
"Kita baru saja masuk, lalu ada sosok yang berdiri di depan jendela. Wajahnya pucat banget, dan ketika dia berjalan ke arah kami... dan kami ketakutan setelah mati!" kata Pak Joko.
"Kalau bukan hantu, mungkin dia mayatnya yang bangkit kembali, Pak. Kita baru saja bawa mayat itu dari ambulans. Dokter bilang dia sudah tidak bisa diselamatkan." tambah Pak Joko dengan nada yang lebih yakin, meskipun ia masih ketakutan.
Ketika mereka sampai di pojok lorong yang menghadap kamar mayat, ketiganya langsung berhenti sejenak.
Mereka melihat seseorang sedang membetulkan posisi brankar, bahkan sudah mulai mendorongnya perlahan ke dalam ruangan agar tidak mengganggu orang yang akan lewat.
Seketika itu juga, Rian menjerit dan langsung menyembunyikan wajahnya di belakang badan Pak Joko, sementara Pak Joko sendiri melangkah mundur sejenak dan menunjuk jari ke arah Abram.
"I-itu dia! Itu mayatnya yang kami bawa tadi! Dia... dia bangkit kembali!" teriak Rian dengan suara yang terdengar campuran takut dan terkejut.
Ia hanya berani menunjuk tapi tidak berani melihat langsung ke arah Abram. Pak Joko mengangguk dengan cepat, bibirnya menggigil tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Budi mengerutkan alisnya, lalu melangkah maju dengan hati-hati. Sebelum ia bisa berkata, orang di depan brankar berbalik badan.
"Maaf Pak. Saya bukan hantu." kata Abram dengan sopan, sambil menundukkan kepala sebentar sebagai tanda hormat.
Ucapan Abram membuat kedua petugas kamar mayat terkejut hingga melongo.
Mereka perlahan mengangkat wajah dan melihat langsung ke arah Abram, wajahnya yang memang pucat, tapi jelas Abram menginjak kaki di lantai dan memiliki bayangan.
Ketika Abram mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Beno, mereka bisa melihat jika tangannya tidak seperti tangan mayat.
"Kan benar, dia bukan hantu atau mayat yang bangkit. Maafkan kedua orang ini, Pak. Mereka baru bekerja beberapa bulan saja, jadi masih mudah terkejut dengan hal-hal yang tidak biasa," ucap Budi dengan senyum lega, lalu erat menggenggam tangan Abram.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya