Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Latihan Yang Menyakitkan
Pagi hari di desa kecil itu terasa sangat tenang. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan dan ladang gandum yang mengelilingi desa. Udara dingin menusuk kulit, namun di halaman belakang rumah sederhana milik Goo Yoon, seseorang sudah mulai berlatih sejak fajar.
Goo Yoon berdiri dengan pedang kayu di tangannya.
Tubuhnya dipenuhi keringat meskipun matahari belum sepenuhnya terbit.
“Seratus dua puluh… seratus dua puluh satu… seratus dua puluh dua…”
Ia terus menghitung setiap ayunan pedangnya.
Gerakannya sederhana. Hanya tebasan lurus ke depan.
Namun Goo Yoon mengulanginya tanpa henti.
Pedang kayu itu terus membelah udara.
SWOOSH!
SWOOSH!
Setiap ayunan membuat otot lengannya terasa semakin berat. Tangannya mulai gemetar, namun Goo Yoon tetap memaksa dirinya untuk melanjutkan latihan.
Di dalam pikirannya hanya ada satu tujuan.
Menjadi kuat.
Ia masih mengingat ejekan para murid sekte yang ia temui beberapa hari lalu.
“Petani desa ingin belajar pedang?”
“Hahaha! Bahkan berdiri saja terlihat kaku!”
Ejekan itu terus terngiang di kepalanya.
Goo Yoon menggertakkan giginya.
“Aku akan menjadi kuat… suatu hari nanti kalian akan melihatnya.”
SWOOSH!
Pedangnya kembali menebas udara.
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakangnya.
“Gerakanmu terlalu kaku.”
Goo Yoon langsung berhenti dan menoleh dengan cepat.
Di dekat pagar kayu berdiri seorang lelaki tua.
Rambutnya panjang dan putih seperti salju. Wajahnya dipenuhi keriput, namun matanya tajam seperti mata elang.
Master Cheon Mu.
Orang yang kemarin memperlihatkan tebasan luar biasa dengan pedang kayu.
Goo Yoon segera membungkuk dengan hormat.
“Guru.”
Master Cheon Mu berjalan mendekat dengan langkah santai.
Ia memperhatikan Goo Yoon dari kepala sampai kaki.
“Kau sudah berlatih sejak pagi?”
“Ya, Guru.”
“Berapa kali tebasan yang sudah kau lakukan?”
“Sekitar dua ratus lebih…”
Master Cheon Mu menggeleng pelan.
“Dua ratus tebasan yang salah tidak akan membuatmu menjadi lebih kuat.”
Ucapan itu menusuk hati Goo Yoon.
Namun ia tidak membantah.
Sebaliknya, ia menundukkan kepala.
“Mohon ajari saya, Guru.”
Master Cheon Mu mengambil pedang kayu dari tangan Goo Yoon.
“Perhatikan dengan baik.”
Ia berdiri dengan posisi santai.
Tubuhnya terlihat sangat rileks.
Lalu ia mengayunkan pedang kayu itu.
SWOOSH!
Hanya satu tebasan sederhana.
Namun angin di sekitar mereka tiba-tiba bergetar.
Beberapa daun kering yang berada di tanah terbelah menjadi dua.
Mata Goo Yoon langsung membelalak.
“Bagaimana bisa…?”
Itu hanya pedang kayu.
Namun kekuatannya seperti pedang sungguhan.
Master Cheon Mu lalu mengembalikan pedang itu.
“Pedang bukan hanya tentang kekuatan tangan.”
Ia menunjuk dada Goo Yoon.
“Pedang berasal dari tubuh, napas, dan niat.”
“Tiga hal itu harus menjadi satu.”
Goo Yoon menggenggam pedang kayu itu dengan erat.
Matanya penuh semangat.
“Saya mengerti.”
“Coba lagi,” kata Master Cheon Mu.
Goo Yoon mengambil posisi.
Ia menarik napas perlahan.
Lalu—
SWOOSH!
Pedangnya menebas ke depan.
PLAK!
Sebuah tongkat kayu langsung mengenai lengannya.
“Salah.”
Goo Yoon meringis sedikit.
“Ulangi.”
Ia mencoba lagi.
SWOOSH!
PLAK!
“Pinggangmu terlalu kaku.”
Ia mencoba lagi.
SWOOSH!
PLAK!
“Nafasmu tidak teratur.”
Latihan itu terus berlanjut.
Setiap kesalahan langsung dibalas dengan pukulan tongkat.
PLAK!
“Postur!”
PLAK!
“Keseimbangan!”
PLAK!
“Fokus!”
Waktu berlalu tanpa terasa.
Matahari sudah berada tinggi di langit.
Tubuh Goo Yoon dipenuhi memar.
Lengannya terasa mati rasa.
Namun ia tetap berdiri.
Master Cheon Mu menatapnya.
“Kau bisa berhenti jika ingin.”
Namun Goo Yoon menggeleng.
“Saya belum benar.”
Master Cheon Mu sedikit terkejut.
Namun ia tidak berkata apa-apa.
“Kalau begitu lanjutkan.”
Goo Yoon kembali mengangkat pedangnya.
Tangannya gemetar hebat.
Namun matanya tetap fokus.
Ia menarik napas panjang.
Lalu menebas.
SWOOSH!
Gerakan kali ini terasa berbeda.
Lebih stabil.
Lebih tenang.
Angin kecil berputar di ujung pedang kayu itu.
Master Cheon Mu memperhatikan dengan diam.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Anak ini…”
Namun Goo Yoon tidak menyadarinya.
Ia terus berlatih.
Seribu tebasan.
Dua ribu tebasan.
Langit mulai berubah menjadi jingga ketika Goo Yoon akhirnya jatuh terduduk di tanah.
Tubuhnya benar-benar kelelahan.
Napasnya terengah-engah.
“Haah… haah…”
Namun wajahnya justru tersenyum.
Master Cheon Mu berdiri di depannya.
“Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?”
Goo Yoon menggeleng.
Master Cheon Mu menunjuk pedang kayu itu.
“Kau baru saja menyentuh dasar dari energi pedang.”
Mata Goo Yoon membelalak.
“Energi pedang…?”
Master Cheon Mu mengangguk pelan.
“Kebanyakan orang butuh bertahun-tahun untuk merasakannya.”
“Tapi kau merasakannya dalam satu hari.”
Ia lalu berbalik dan mulai berjalan pergi.
Namun sebelum pergi, ia berkata:
“Besok kita akan memulai latihan yang sebenarnya.”
Goo Yoon sedikit merinding.
“Latihan yang sebenarnya…?”
Master Cheon Mu menoleh sedikit dan tersenyum tipis.
“Latihan yang mungkin membuatmu berharap tidak pernah memegang pedang.”
Angin sore berhembus lembut.
Goo Yoon melihat pedang kayu di tangannya.
Meskipun tubuhnya penuh luka dan kelelahan…
Matanya justru bersinar penuh tekad.
“Suatu hari nanti…”
“Aku akan menjadi pendekar terkuat di dunia.”
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/