Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan
Brugh...
Ronand menghempaskan badannya di sofa ruang keluarga rumah Julian. Semua orang berada di sana untuk sekedar berbincang setelah makan malam. Ronand baru pulang malam hari, padahal Julian sudah sejak siang berada di rumah. Tidak ada yang tahu kemana pemuda itu pergi.
Julian juga sudah bertanya pada Gema tentang keberadaan Ronand. Namun Gema juga tidak mengetahui dimana keberadaan Ronand. Ada rasa khawatir dalam diri Julian karena anaknya itu sangat misterius. Bahkan Julian merasa ada tembok kasat mata sebagai jarak antara keduanya. Banyak rahasia yang sepertinya disimpan oleh Ronand.
"Darimana, Ronand? Kok kayanya sibuk banget. Rapat udah selesai dari siang tapi pulangnya malam begini," tanya Julian tanpa mengalihkan pandangannya dari TV. Sedangkan Susan, mengambil tas kerja dan melepaskan sepatu juga jas suaminya.
"Ada urusan sebentar," jawab Ronand dengan singkat.
"Urusan apa sampai malam begini? Cari hiburan di..."
Tak...
Awww...
"Apa? Papa mau ngomong apa? Cari hiburan dimana?" sela Ronand setelah berhasil mendaratkan bolpoint pada lengan Julian.
"Cari hiburan di..."
"Panggung dangdut desa sebelah," sela Mika yang duduk di atas pangkuan Chiara sambil makan cemilan.
Hahaha...
Abang nonton sound horeg yang lagi viral itu. Ikut goyang asyik,
Rachel yang kepalanya masih pusing, langsung tertawa saat mendengar ucapan Mika. Tentu saja itu sangat menggelikan. Bukan panggung dangdut atau sound horegnya yang menggelikan. Namun membayangkan Ronand berada di sana. Ronand adalah orang yang introvert. Tidak mungkin Ronand mau datang ke acara yang ramai dan dihadiri oleh banyak orang. Dia saja yang rapat penting dan dihadiri sedikit orang, tidak mau berangkat. Apalagi ini yang pasti akan ada kerumunan.
"Sensi amat sih anakmu ini, Sayang." adu Julian pada Chiara yang hanya bisa menggelengkan kepala. Apalagi lengannya yang sedikit nyeri karena timpukan bolpoint oleh Ronand. Tingkah mereka itu seperti anak-anak jika bersama. Ribut dan sindir-sindiran terus padahal tadi pagi sempat bersitegang.
"Van, tumben ada di rumah. Ingat pulang juga ternyata," ucap Ronand mengalihkan pembicaraannya saat melihat Arvan ada di ruang keluarga juga.
"Ingat, masih butuh duit soalnya." ucap Arvan menanggapinya dengan santai. Walaupun jika ada orang yang mendengar, pasti berpikir bahwa itu merupakan sindiran agar diberikan uang oleh keluarganya.
"Woah... Uncle panpan sudah masuk dalam kelompoknya kita, Onty boncel. Beban kelualga," ucap Mika dan disambut gelak tawa oleh Rachel dan Arvan.
"Nggak papa jadi beban keluarga. Asalkan tahu diri aja," seloroh Rachel membuat Arvan langsung merangkul bahu Kakaknya itu.
"Setuju. Selama masih bisa minta, ngapain cari sendiri? Lagian kita disuruhnya fokus belajar aja, bukan cari uang." ucap Arvan yang seperti remaja sekolah pada umumnya. Tahunya hanya minta saja. Untuk bekerja, nanti setelah lulus kuliah baru dia akan memikirkannya.
"Benal. Cuma Uncle Onand yang ndak menikmati hidup di kelualga Lobelto ini. Opa Fabio dan Opa Julian sudah kaya, kenapa Uncle Onand kelja kelas telus dali dulu? Ayo lah, Uncle. Jadi bebannya Opa Julian saja," sindir Mika menyindir Ronand yang terlalu sibuk dengan pekerjaan saat usia masih muda.
Ronand tampak biasa saja disindir begitu. Ia sudah pernah hidup susah dan melihat bagaimana Chiara kerja keras untuknya tanpa bantuan Julian. Sebagai anak laki-laki, dia harus bisa menjadi penopang bagi Chiara dan Rachel saat itu. Walaupun penghasilannya sangat sedikit, setidaknya bisa untuk jajan Rachel. Ia sudah terbiasa bekerja dari kecil, sehingga sulit dihilangkan kebiasaan itu. Walaupun Ronand tahu, tanpa bekerja pun pasti orangtua dan Opanya akan memberikan uang untuknya.
Siapa tahu perusahaan Opa dan Papa bangkrut? Setidaknya aku punya skill buat bekerja dan punya uang sendiri,
Kalau gitu, kita nebeng Bang Onand nanti.
Dasal ndak mau kelja sendili Uncle panpan itu. Maunya nebeng sama Uncle Onand,
Heleh... Mika juga mau kan?
Tentu dong. Mika nanti langsung cali Uncle Onand buat minta duit. Ndak bisa Mika ini jauh-jauh dali duit,
Astaga...
***
"Capek ya, Sayang?"
Susan memijat bahu dan punggung Ronand setelah keduanya masuk ke dalam kamar. Setelah perdebatan dan sedikit perbincangan hangat di ruang keluarga, Ronand memutuskan untuk ke kamar. Ia membersihkan diri kemudian tengkurap di atas ranjangnya. Susan yang melihatnya pun segera melakukan hal menyenangkan bagi suaminya.
"Banget. Kerjaan banyak banget. Maklum kerjaannya nggak cuma satu tempat," ucap Ronand sedikit menyombongkan dirinya sendiri.
"Ini nih yang bikin aku sayang dan cinta sama kamu. Pekerja keras demi memastikan keluarga tidak kekurangan,"
"Walaupun sebenarnya aku tak apa jika hidup sederhana. Tapi sepertinya kamu tidak akan membiarkan itu," ucap Susan sambil tersenyum.
"Ya, aku tidak akan membiarkan kamu hidup sederhana. Biar lah aku kerja keras, yang penting hidup kita dan Mama tercukupi. Entah dari segi makanan, rumah, dan pakaian." ucap Ronand yang memang bertekad untuk membuat kehidupan Chiara dan Susan tercukupi.
"Jangan lupa jatah buat Mika dan Achel. Nanti mereka ngamuk," ucap Susan sambil terkekeh pelan.
Susan begitu bahagia masuk ke dalam keluarga Ronand. Mereka memperlakukan dia sebagai anggota keluarga beneran. Dari sebelum dan sesudah menikah dengan Ronand, Chiara tidak pernah berubah. Selalu perhatian kepadanya. Bahkan seringkali menanyakan kabarnya, sudah makan atau belum, dan apakah dia bahagia berumah tangga bersama Ronand.
"Kamu nggak keberatan kan kalau aku masih sering kasih uang bulanan untuk Mama, Mika, Achel, dan Oma?" tanya Ronand tiba-tiba. Pasalnya ia belum sempat berdiskusi dengan Susan tentang masalah ini.
"Nggak masalah dong. Yang penting kamu bertanggungjawab sama Ucan."
"Lain hal kalau kamu kasih uang itu ke ani-ani. Bakalan aku potong-potong itu tanganmu," ucap Susan dengan ancamannya.
"Nggak akan mungkin aku berani seperti itu. Lihat sendiri kan kalau didekati sama ulat bulu, aku udah gatal-gatal sendiri." ucap Ronand sambil terkekeh pelan.
"Siapa tahu lho kamu meleng sedikit," ucap Susan sambil mengedikkan bahunya acuh.
Apalagi sekarang Ronand sudah mempunyai fans di kampus. Tampaknya Susan harus waspada dengan banyaknya godaan dari fans-fans Ronand. Laki-laki itu langsung saja menghentikan gerakan memijat istrinya. Susan tengah melamun dan raut wajahnya begitu serius. Pijatan tangannya tak lagi nyaman karena melakukannya dengan bercampur emosi.
Sayangnya Abang Onand. Aku tidak akan pernah berpaling, meleng, atau sejenisnya.
Jika nanti aku sampai seperti itu, ambil saja semua hartaku. Biar aku hidup terlunta-lunta di jalanan,
Ya. Setelahnya aku akan tertawa melihat kemalanganmu,
Hahaha...
Nggak dong, Ucan percaya sama Abang. Yang perlu dicurigai itu bukan Abang, tapi fans-fans genit itu.
Nanti kita minta Achel dan Mika untuk membasminya,
Setuju,
Hahaha...