NovelToon NovelToon
YOU (Obsessive Love Disorder)

YOU (Obsessive Love Disorder)

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.

Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persimpangan Dua Raksasa

Di sebuah mansion megah di pinggiran London yang dikelilingi taman labirin yang sangat luas, sebuah pertemuan formal sedang berlangsung. Keluarga Zollern—Nyonya Agatha dan Emilie—datang berkunjung ke kediaman Tuan Lewis Lichtenzell.

Di ruang tamu yang beraroma kayu cendana dan sejarah, Agatha Zollern meletakkan cangkir tehnya dengan anggun. "Lewis, kau dan ayah Edward sudah berteman lama. Bisnis kalian berjalan beriringan, namun aku merasa sudah saatnya kita mengikat dua matahari Inggris ini dalam satu payung yang permanen."

Lewis Lichtenzell menghela napas, wajahnya tampak lebih tua dari pertemuan terakhirnya dengan Edward. "Nyonya Agatha, Anda tahu saya sangat menghormati keluarga Zollern. Dan Edward... dia adalah pria yang luar biasa. Namun, putriku, Eleanor... dia bukan gadis yang mudah."

"Gadis yang sulit adalah tantangan yang disukai oleh Edward," sahut Emilie dengan senyum tenang. "Kami ingin mengajukan perjodohan resmi. Jika kita bisa menyatukan Edward dan Eleanor, Inggris tidak akan pernah melihat kekuatan ekonomi sebesar ini sebelumnya."

Lewis terdiam. Di dalam hatinya, ia sangat menginginkan ini. Namun, ia teringat kata-kata Edward tempo hari yang mengesampingkan cinta. Sebagai ayah, ia bimbang, namun sebagai pemimpin perusahaan, ia tahu ini adalah langkah terbaik untuk melindungi masa depan Eleanor jika ia sudah tiada nanti.

"Baiklah, nanti saya akan menyampaikan hal ini dulu pada putriku."

Sore Harinya – Kafe L'Horizon. Sementara itu, di pesisir Sussex, Eleanor sedang mengelap konter dengan wajah yang sangat jengkel. Benar saja, pintu kafe terbuka dan sosok jangkung yang sangat ia kenali masuk dengan langkah tenang.

"Tuan Zollern," sapa Eleanor, suaranya mengandung nada lelah yang tidak disembunyikan. "Anda lagi. Jam dinding saya belum berputar satu putaran penuh sejak kunjungan Anda terakhir kali."

Edward duduk di kursi tinggi di depan konter, menatap Eleanor dengan binar penuh rahasia di matanya. "Hanya ingin memastikan kopiku tidak dibuat oleh orang lain, Nona Eleanor."

"Anda hanya di sini selama dua puluh menit, tapi menu pesanan Anda selalu tidak masuk akal," keluh Eleanor sambil menyiapkan alat-alat kopi. "Kemarin Anda minta kopi dengan suhu yang sangat spesifik, hari ini apa? Kopi yang bijinya dipetik saat bulan purnama?"

"Cukup kopi hitam dengan sedikit aroma jeruk nipis di pinggiran cangkirnya," ucap Edward santai.

Eleanor menghentikan gerakannya. "Itu selera yang sangat aneh."

"Tapi kau menyukainya, bukan?" Tanya Edward dengan nada rendah yang membuat jantung Eleanor berdegup kencang. Edward tahu itu adalah cara minum kopi favorit Eleanor saat masih di Oxford—sebuah detail kecil yang ditemukan Rey dalam laporannya.

"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan," balas Eleanor ketus, segera membelakangi Edward untuk membuat pesanan.

Setelah dua puluh menit yang penuh dengan ketegangan sunyi dan beberapa sindiran tajam dari Eleanor, Edward akhirnya bangkit. "Terima kasih untuk kopinya. Dan Eleanor... sebaiknya kau beristirahat dengan baik malam ini. Kau terlihat lebih pucat dari biasanya."

Edward pergi meninggalkan Eleanor yang hanya bisa mendengus kesal. "Pria itu benar-benar gangguan bagi kewarasanku," gumamnya.

Pukul Sepuluh Malam. Eleanor baru saja melepas sepatu dan merebahkan tubuhnya di kasur tipis di apartemen sederhananya. Seluruh badannya terasa remuk. Saat ia hampir memejamkan mata untuk beristirahat, dering ponsel yang sangat nyaring membuyarkan lamunannya.

Ia melihat layar ponselnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Papa.

Sejak ia kabur beberapa bulan lalu, ia telah mematikan akses dari keluarganya. Namun rupanya, pengaruh Tuan Lichtenzell jauh lebih panjang dari yang ia duga. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menggeser tombol hijau.

"Apa lagi, Pa?" Suara Eleanor terdengar dingin, mencoba menutupi rasa takutnya.

Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara berat yang sangat berwibawa itu terdengar. "Ele... akhirnya kau mengangkatnya."

"Jika Papa hanya ingin menyuruhku kencan dengan pria membosankan lainnya, lebih baik matikan saja teleponnya sekarang."

"Berhenti bekerja di kafe itu, Eleanor," ucap Lewis langsung pada intinya.

Eleanor tertegun. Ia terduduk tegak di kasurnya, matanya membelalak menatap kegelapan ruangan. "Bagaimana... bagaimana Papa bisa tahu?"

"Papa tahu segalanya. Papa punya orang-orang yang bisa melacakmu bahkan ke lubang terkecil sekalipun di Inggris ini. Menjadi pelayan? Setelah pendidikan yang Papa berikan padamu? Itu memalukan, Ele. Sudahlah, Papa tidak ingin berdebat. Papa ingin kamu pulang segera. Malam ini juga, atau besok pagi."

Eleanor merasa sesak di dadanya. "Papa mengirim penguntit untukku? Papa benar-benar tidak pernah berubah! Aku tidak akan pulang!"

"Papa tidak butuh jawaban 'tidak', Eleanor. Papa hanya memberitahumu. Pulanglah, atau Papa akan menutup kafe kecil itu besok pagi sehingga kau tidak punya alasan lagi untuk tetap di sana," ucap Lewis dingin, lalu memutuskan panggilan secara sepihak.

Eleanor melempar ponselnya ke atas bantal. Air matanya hampir jatuh karena rasa marah yang meluap. Ia merasa terjepit. Di satu sisi ada ayahnya yang mulai menariknya kembali ke sangkar emas, dan di sisi lain ada Tuan Zollern yang seolah-olah selalu muncul di setiap sudut kehidupannya yang baru.

Ia tidak tahu bahwa ayahnya sedang merencanakan perjodohan dengan pria yang setiap hari ia panggil "Tuan Zollern". Dan ia juga tidak tahu, bahwa pria itu sebenarnya adalah orang yang diam-diam menjaganya dari kejauhan, lebih dari yang dilakukan ayahnya sendiri.

1
Hana Nisa Nisa
tarik nafas dulu
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🙈🙈🙈🙈
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
nahhh
Hana Nisa Nisa
suka tata bahasanya bagus
Hana Nisa Nisa
😄😄😄😄
Hana Nisa Nisa
baper euyy
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🥰🥰🥰🥰🥰
W.s • Bae: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Hana Nisa Nisa
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!