NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - BADAI ES DI GERBANG MERAH

Penjaga itu tidak sempat merasakan rasa takut yang semestinya. Saat ia menarik napas untuk berteriak memanggil kawan-kawannya, Kaelan sudah bergerak. Gerakannya begitu halus, seolah-olah ia bukan lagi makhluk dari daging dan tulang, melainkan seberkas cahaya perak yang membelah kegelapan kedai.

Zrak!

Tanpa mencabut belatinya, Kaelan hanya menggunakan dua jarinya yang dialiri Qi Embun Berbisa. Ia menusuk pangkal tenggorokan penjaga pertama. Seketika, pria itu mematung; suaranya hilang karena pita suaranya membeku menjadi kristal es dalam sekejap. Ia tumbang tanpa suara, seperti batang kayu yang lapuk.

"Ada pengacau! Bunuh mereka!" teriak pemimpin penjaga sambil menghunuskan pedang lebarnya.

Para pengunjung kedai berhamburan keluar, menjerit ketakutan saat suhu di dalam ruangan anjlok drastis. Rian meringkuk di bawah meja, menutup telinganya rapat-rapat. Ia tahu, jika Kaelan sudah mulai menari, maka hanya kematian yang akan mengiringi musiknya.

Kaelan menghentakkan kakinya ke lantai kayu.

Teknik Bulan Dingin: Lantai Cermin Pecah.

Gelombang hawa dingin menjalar dari telapak kaki Kaelan, membekukan lantai kayu kedai dan membuatnya menjadi sangat licin bagi para penjaga yang mengenakan sepatu bot berat. Mereka tergelincir, kehilangan keseimbangan, dan itulah saat Kaelan melepaskan "Sutra Rembulan".

Sepuluh benang perak melesat dari jemari Kaelan, melilit leher dan pergelangan tangan lima penjaga sekaligus. Dengan satu sentakan kuat, Kaelan menarik benang-benang itu menyilang.

Srek! Srek! Srek!

Tidak ada darah yang menyembur deras. Setiap luka yang tercipta langsung tertutup oleh lapisan es tipis, membekukan darah di dalam tubuh mereka sebelum sempat menyentuh lantai. Lima kepala terjatuh secara bersamaan, mengeluarkan bunyi dentuman tumpul di atas lantai yang membeku.

Pemimpin penjaga, yang memiliki kultivasi sedikit lebih tinggi, berhasil menangkis benang Kaelan dengan pedangnya yang dialiri energi api rendah. Namun, matanya terbelalak melihat betapa cepat rekan-rekannya dihabisi.

"Kau... kau bukan manusia! Kau monster dari utara!" teriaknya dengan suara bergetar.

Kaelan muncul tepat di depannya, jarak mereka hanya beberapa senti. Penutup kepala Kaelan sedikit merosot, memperlihatkan rambut putih susunya yang berpendar di bawah cahaya lampu kedai yang redup.

"Jika aku monster, maka kalian adalah santapanku," bisik Kaelan.

Kaelan mencengkeram wajah pemimpin penjaga itu. Qi es murni disuntikkan langsung melalui mata pria itu. Dalam hitungan detik, seluruh tubuh sang pemimpin membiru, urat-uratnya menonjol keluar dalam warna hitam pekat akibat racun ular yang bermutasi. Pria itu mati berdiri, menjadi patung es abadi yang memancarkan kengerian.

Kaelan menarik napas panjang, menenangkan aliran energinya. Ia menoleh ke arah Rian. "Bangun. Kita harus pergi sebelum bala bantuan mereka datang."

Rian merangkak keluar dari bawah meja, wajahnya pucat pasi melihat pemandangan "galeri seni kematian" yang diciptakan Kaelan. "Kaelan... kau membunuh mereka semua dalam hitungan detik..."

"Dunia ini tidak memberikan tempat bagi yang lambat, Rian," jawab Kaelan sambil menarik kembali benang-benangnya.

Mereka keluar dari pintu belakang kedai tepat saat pasukan besar penjaga kota mulai mengepung bagian depan. Di gang gelap yang sempit, Kaelan melompat ke atas atap rumah penduduk, menarik Rian bersamanya dengan bantuan benang perak.

Dari ketinggian atap, Kaelan melihat Kota Gerbang Merah mulai terbangun karena alarm. Obor-obor dinyalakan di mana-mana. Namun, tatapan Kaelan tertuju pada sebuah bangunan megah di pusat kota—Markas Besar Aliansi Langit Merah cabang selatan.

"Rian, kau bilang catatan medis itu berisi tentang asal-usul racun di tubuhku?" tanya Kaelan tanpa mengalihkan pandangan.

"I-iya, Kaelan. Ada penyebutan tentang 'Laboratorium Bunga Hitam' di wilayah selatan. Sepertinya sekte kita membeli racun itu dari sana," jawab Rian sambil memeluk tasnya erat.

Kaelan menyipitkan matanya. Jika ia ingin benar-benar bebas, ia harus menghancurkan setiap rantai yang pernah mengikatnya, termasuk mereka yang menciptakan racun yang sekarang mengalir di darahnya.

"Kita punya tujuan baru," ucap Kaelan. "Kita akan menuju Laboratorium Bunga Hitam."

Malam itu, mereka meninggalkan kota melalui jalur udara, melompati atap demi atap seperti bayangan rembulan yang melintasi awan, meninggalkan jejak mayat membeku yang akan menjadi legenda baru bagi penduduk Gerbang Merah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!