Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Anomali di Lantai 24
Lampu lobi Talandra padam total dalam satu kedipan, digantikan oleh pendar merah lampu darurat yang berputar pelan. Suara kunci elektronik yang mengunci secara serentak terdengar seperti kokangan senjata raksasa.
Silas Vane berdiri di tengah lobi, menatap lift yang mati. Ia tidak teriak. Ia hanya memberi isyarat tangan, dan tim pembersihnya segera berpencar menuju tangga darurat.
"Nona Omerly," suara Silas bergema di seluruh gedung melalui sistem interkom yang kini berderak statis. "Bermain dengan lampu adalah trik anak kecil. Anda hanya memperlambat sesuatu yang tak terelakkan."
Di ruang server lantai 24, Zerya duduk di lantai yang dingin, dikelilingi oleh ribuan kabel yang berkedip biru. Di pangkuannya bukan lagi pistol, melainkan tablet kontrol pusat. Wajahnya pucat, diterangi cahaya layar yang menampilkan progres Chernobog.
[SYSTEM DELETION: 78% COMPLETE]
[USER IDENTITY 'ZERYA OMERLY': ERASING...]
Zerya menekan tombol interkom. "Aku tidak sedang memperlambatmu, Silas," suara Zerya terdengar tenang, hampir hampa. "Aku sedang mengundangmu masuk. Kau bilang Vanguard adalah pemilik toko? Sayangnya, aku baru saja membakar tokonya. Dan sekarang, pintunya kukunci dari luar."
Zerya menggeser jarinya di layar. Di lantai 12, sistem pemadam api mendadak aktif, menyemburkan gas CO2 yang mencekik. Di lantai 18, pintu kaca otomatis pecah, menciptakan koridor angin yang membingungkan.
Silas berhenti di tangga darurat lantai 10. Ia mendengar suara tembakan dari anak buahnya di atas, namun itu bukan tembakan ke arah manusia—itu tembakan panik ke arah bayangan yang dimainkan oleh lampu sensor gerak yang dikendalikan Zerya.
Jalan Raya Bogor – Menuju Jakarta.
Javian mencengkeram kemudi mobil operasional polisi yang ia "pinjam" setelah melumpuhkan pengawal Baskoro dengan argumen logis yang mematikan. Di telinganya, earpiece menangkap frekuensi Chernobog yang mulai melahap segalanya.
"Zerya, dengarkan aku!" Javian berteriak ke arah mikrofon. "Protokol itu akan menghapus data akses biometrikmu! Jika kau tidak keluar dalam sepuluh menit, sistem keamanan gedung akan menganggapmu sebagai penyusup. Kau akan terjebak di dalam peti mati beton itu!"
Hening sejenak, sebelum suara Zerya masuk, sangat tipis. "Javian... namaku sudah hilang dari sistem keponegaraan. Aku tidak punya paspor lagi. Aku tidak punya rekening. Aku hanya... data yang sedang dihapus."
"Zerya, jangan lakukan ini! Jangan hancurkan dirimu demi mereka!"
"Aku tidak menghancurkan diriku," bisik Zerya. "Aku sedang lahir kembali sebagai sesuatu yang tidak bisa mereka sentuh."
Lantai 24.
Pintu ruang server jebol. Silas Vane melangkah masuk sendirian. Jas abu-abunya sedikit ternoda debu, tapi wajahnya tetap simetris, tetap tenang, meski napasnya sedikit berat karena gas di lantai bawah.
Ia melihat Zerya duduk di pojok ruangan. Tablet di tangan Zerya menampilkan angka 99%.
"Cukup, Zerya," Silas menaruh senjatanya di atas server, menunjukkan bahwa dia ingin bicara. "Kau sudah menang. Dunia sedang kacau di luar sana. Tapi jika kau menekan tombol terakhir itu, kau tidak akan pernah bisa kembali ke dunia manusia. Kau akan menjadi hantu tanpa identitas selamanya."
Zerya mendongak. Matanya merah, tapi senyumnya sangat tipis dan tajam. "Identitas adalah rantai, Silas. Dan kau baru saja melihatku memutuskannya."
"Tawarkan apa pun. Kau ingin Javian bebas? Aku bisa melakukannya. Kau ingin Talandra kembali? Aku bisa membangunnya lagi."
Zerya menggeleng. "Aku tidak ingin Talandra. Aku ingin melihat kalian semua buta. Tanpa data, kalian bukan siapa-siapa. Kalian hanyalah orang kaya yang tidak bisa membuktikan kekayaannya sendiri."
Zerya menekan ikon [CONFIRM].
Layar menjadi hitam. Seluruh gedung Talandra mendadak mati total. Tidak ada lampu darurat. Tidak ada interkom. Hanya kegelapan absolut.
Di dalam kegelapan itu, Zerya meletakkan tabletnya. Ia bisa mendengar langkah kaki Silas mendekat. Ia tidak lari. Ia justru berdiri, merasakan dinginnya laras senjata Silas yang kini menempel di keningnya.
"Satu peluru," bisik Silas di kegelapan. "Hanya itu yang tersisa dariku untukmu."
"Lakukan," jawab Zerya. "Tapi ingat, Silas... namaku sudah tidak ada di dunia ini. Kau tidak sedang membunuh siapa pun."
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari atap gedung. Helikopter? Atau tim taktis Javian?
Silas tidak menembak. Ia ragu untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Dan dalam keraguan itu, Zerya melakukan gerakan yang tidak diduga—ia memeluk Silas, bukan karena cinta, tapi untuk menarik pin granat asap yang ia ambil dari tas anak buah Silas tadi.
BZZZZZT!
Ruangan itu meledak dalam asap putih. Saat tim taktis Javian menjebol langit-langit, mereka hanya menemukan Silas yang terbatuk-batuk sendirian.
Zerya Omerly telah hilang. Bukan keluar dari gedung, tapi hilang dari setiap catatan yang pernah ada di dunia.