Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
"Ya begini nih, kalau anak tanpa orang tua lagi, nggak ada yang nasehatin, udah nggak tau sopan santun. Jangan-jangan penyakit kulitnya ini pasti karena pernah durhaka sama orang tuanya, soalnya sama kita aja dia nggak sopan!" Kata Pak Adhi dengan wajah memerah penuh kemarahan.
Pa Adi sambil menggerutu sambil mengamati Abram yang berdiri diam di tengah para warga yang mengelilinginya itu. Suasana terasa mencekam dengan suara bisik-bisik warga yang semakin ramai mengelilingi mereka.
"Benar juga, ini pasti azab dari Tuhan karena dia telah melakukan keburukan!" Buk Siti menambahkan, tangannya mengepal keras dan pandangannya penuh tuduhan.
Abram terdiam, raut wajahnya pucat bukan hanya karena penyakit kulit yang menyebar di lengannya dan wajahnya, tetapi juga karena rasa sakit yang menusuk hati. Ia mengingat jelas setiap bantuan yang pernah ia berikan.
Membantu Pak Adhi memperbaiki atap rumah saat angin kencang, mengantar anak Buk Siti ke dokter saat ibu nya tidak bisa pergi.
Bahkan pernah meminjamkan uang simpanannya untuk biaya pengobatan suami Buk Sri. Tapi kini, para tetangga yang dulu menerima bantuannya dengan senyum kini hanya melihatnya sebagai orang sial.
Dengan hati yang hancur, Abram melangkahkan kakinya yang sedikit goyah untuk pergi dari sana.
Ia berniat pergi ke pasar sebentar aku pulang. Namun langkah kakinya baru beberapa langkah, ia dihalangi oleh Buk Sri yang berdiri dengan wajah memerah penuh kemarahan.
"Heh mau pergi kemana kamu hah! Kamu itu pantasnya di usir saja dari tempat ini! Kami nggak mau kena sial gara-gara penyakit mu itu!" teriaknya dengan suara nyaring.
Buk Sri mulai menggerakkan tangannya untuk mengusir Abram, membuat para warga yang sudah mulai terbawa emosi.
"Kenapa kalian mengusir ku? Aku tidak pernah melakukan kesalahan pada kalian, aku juga sudah pernah membantu kalian, setidaknya biarkan aku tinggal di rumah mendiang orang tua ku," kata Abram dengan suara yang sedikit bergetar, tangannya mengepal kuat.
"Heh membantu kamu bilang? Bantuan hanya seujung kuku itu kamu ungkit, kami lebih berbaik hati karena sudah membiarkan orang seperti kamu tinggal di tempat ini selama ini. Jadi kami sudah tidak tahan lagi, lebih baik kamu pergi dari sini! Kami nggak mau terjangkit penyakit aneh mu itu!" Pak Adi menjawab dengan suara lantang, sambil menginjak-injak tanah dengan kasar.
"Ya betul itu!" seru warga lain yang ikut bersuara.
"Ya kami setuju! Usir dia dari sini!" teriak yang lain, suara seruan saling bersahutan membuat suasana semakin panas.
Abram melihat sekeliling, wajah-wajah yang dulu akrab kini penuh kebencian. Kepalanya menjadi pusing karena suara teriakan yang berdecak-decak di telinganya, sementara tubuhnya merasa semakin lemah akibat penyakit yang telah lama.
Tanpa diduga, Pak Adi dengan geram melangkah cepat dan menendang bokong Abram hingga ia tersungkur ke tanah kasar. Tubuhnya bergesek dengan batu dan rerumputan kering, membuat luka di kaki dan tangannya semakin membesar, sementara bekas nanah dari penyakit kulitnya meleleh dan menyatu dengan darah yang keluar dari luka baru.
"Ughhhhh!" keluh Abram dengan suara penuh rasa sakit luar biasa, karena kulitnya yang sudah lemah terkelupas saat bergesek dengan tanah.
Ia berusaha bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah dan rasa sakit yang luar biasa membuatnya hanya bisa merangkak perlahan menjauh dari kerumunan warga yang masih terus meneriakkan kata-kata kebencian.
"Bakar rumahnya! Bakar!" kata Buk Sri.
Suara mereka bergema dengan suara Abram hingga membuat dirinya gemetar rasa takut dan marah.
Kaki nya terasa lemah, tubuhnya gemetar hebat saat dia merangkak perlahan ke arah gerombolan warga.
"Tolong... jangan lakukan ini. Ini satu-satunya yang ku punya dari orang tua ku... satu-satunya peninggalan mereka!" ucapnya dengan suara serak, dan rasa takut dan suara yang membuat ia menangis.
Matanya memerah, air mata mengalir deras menyusuri pipinya yang penuh nanah, dia terjatuh beberapa kali saat berusaha menghalangi mereka.
Tapi para warga di depannya hanya menunjukkan kemarahan yang membara, tak ada sedikit pun rasa iba pada Abram.
"Salahmu sendiri, Abram! Kau membawa bencana bagi tempat ini!" teriak seorang pria bertubuh besar yang memegang kaleng bensin di tangannya.
Pria itu pun menuangkan bensin itu ke dinding kayu rumah mendiang orang tua Abram hinga merata di sekelilingnya.
"Tidakkkkkkkkkk!" teriak Abram dengan keras.
Ia berusaha berdiri namun kembali terjatuh. Air mata sudah menutupi pandangannya, membuat pandangannya kabur.
Dia merangkak lebih cepat, mencoba meraih kaki pria itu tapi hanya berhasil menyentuh tanah yang sudah terbasahi bensin.
"Jangan... tolong... aku akan pergi jauh dari tempat ini, aku tidak akan pernah mengganggu kalian lagi!" jeritan nya semakin keras, tapi tidak ada yang peduli.
Seorang wanita muda mengangkat korek api, lalu menghidupkan korek api tersebut lalu melempar ke arah rumahnya itu.
"Tidakkkkk! Jangan bakar!" teriak Abram lagi, matanya tertutup oleh air mata yang tak pernah berhenti mengalir, tangannya mencapai, tapi tak sampai.
Dalam sekejap, nyala api membakar dengan cepat dan membakar seluruh dinding. Api besar membakar rumah dengan cepat.
"Rumah kuuuuu!" teriak Abram dengan isak tangis. Dia mencoba menerobos ke dalam tapi panasnya begitu menyengat hingga membuatnya terpental mundur.
Dia jatuh di tanah, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana setiap sudut rumah tempat dia tumbuh besar, tempat dia berbagi tawa dan air mata dengan orang tuanya, perlahan-lahan hancur di dalam nyala api yang besar.
di tunggu kelanjutannya