“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 4
“Jangan cuma pembantu itu yang dibelikan, aku juga mau!” Suara Dewi menyahut dari depan pintu.
Gadis berhijab itu langsung menyerbu begitu masuk ke dalam kamar, menciumi pipi dan perut gembul Adam yang sedang tertidur pulas hingga menggeliat dan berakhir menangis.
“Mau magrib itu nggak boleh bobok, lo, Dik,” ujarnya seraya mengangkat tubuh kecil Adam ke gendongannya, lalu menyalami sang kakak ipar yang masih duduk di tepian ranjang.
“Bukan muhrim kok berduan di dalam kamar, bisa mengundang fitnah tau! Lagian aneh bener sih, masak pembantu apa-apa minta sama bosnya,” cibir gadis itu sambil melirik sinis ke arah Nadya.
“Sama siapa kamu ke sini?” sahut Rizal tanpa memperdulikan sindiran yang Dewi lontarkan.
“Sendiri. Aku libur tiga hari, kata mamah aku suruh di sini jagain Adam,” balas Dewi.
Mendengar ucapan Dewi, wajah Nadya seketika tertekuk, pundaknya merosot, matanya memutar malas.
Kehadiran Dewi sama saja neraka untuknya. Karena, mulut gadis yang usianya terpaut lima tahun di bawahnya itu tak jauh beda dengan sang mamah—cerewet.
Rizal yang menyadari perubahan air muka Nadya, berdehem pelan. Ia lalu beranjak dari duduknya seraya berujar pada Nadya. “Ehm … kamu makan dulu gih, Nad. Mumpung Adam ada yang gendong.”
Nadya menjawab dengan anggukan kecil, lalu berjalan keluar kamar tanpa memperdulikan tatapan sinis dari Dewi.
“Abang, dapet pembantu itu di mana, sih. Jutek bener mukanya, bener kata mamah, nggak punya sopan santun,” celetuk gadis itu seraya mengikuti langkah Rizal yang juga keluar kamar.
“Nadya bukan pembantu, Dew?” Rizal menyahut dengan suara sedikit tegas.
Bibir tebal Dewi mencebik kecil, tatapanya acuh. “Apa bedanya baby sister sama pembantu. Sama-sama bisa di suruh, paling yang bikin beda dari baby sister lain cuma pelayanan plus-plus dia aja.”
Nadya yang mendengar itu seketika mengeratkan rahangnya, bibirnya terkatup rapat, tangannya menggenggam erat centong nasi agar tak terlempar ke wajah Dewi.
Gadis itu bersikap tenang, mengambil beberapa lauk dan sayur bening daun katuk yang sudah Bu Harmi siapkan di meja, lalu duduk santai bersiap menyuapkan nasi ke mulutnya. Namun, lagi-lagi celetukan Dewi membuyarkan nafsu makannya.
“Pembantu kok makannya di meja bareng punya majikan. Nggak sopan!”
Nadya meletakkan sendok yang di pegangnya dengan kasar, tatapannya menjurus ke arah Dewi yang sedang menimang Adam. “Kamu nggak dengar apa yang abang kamu bilang. Aku bukan pembantu di sini.”
“Ngarep sekali?” cibir Dewi, bibirnya mencebik menahan tawa.
Bu Harmi yang risih dengan ketegangan itu, menepuk pelan punggung tangan Nadya, mata sendunya berkedip pelan—memberi kode untuk tidak lagi meladeni.
“Makan sayurnya yang banyak, Nad. Ikannya juga dihabiskan, ibu sengaja goreng kering, kamu ‘kan sukanya yang kering?” sela wanita lembut itu seraya mengulurkan piring yang berisi dua ekor ikan lele goreng.
“Lauk Nadya masih banyak ini, Bu.”
“Di gado saja, Nad. Kamu butuh banyak nutrisi buat ASI-nya Adam,” timpal Rizal. “Oh ya, besok kayaknya kacang almond sama keripik buah pesanan kamu dateng deh, besok kalau sampe kantornya malem, Abang minta tolong Yasir anter ke rumah,” imbuhnya seraya mencomot satu ekor ikan goreng.
Dewi yang melihat kehangatan di meja makan itu, mendengus kesal, satu kakinya menghentak lantai. Tatapan gadis itu menyapu sekitar, sudut bibirnya terangkat sedikit saat melihat photo pernikahan sang kakak yang masih tergantung di dinding rumah itu.
Ia kemudian mengarahkan wajah Adam ke photo itu sambil berucap dengan nada yang sengaja di tinggikan.
“Lihat itu, Dik, photo mamah Adik. Cantik kan? Sudah cantik, lemah lembut lagi, nggak kaya …,” Dewi sengaja menggantung ucapannya, menatap sekilas ke arah meja makan.
Rahang gadis itu mengerat, hatinya semakin memanas saat melihat sang Abang ipar dengan telaten menuangkan air minum ke gelas Nadya. Ia kemudian berjalan cepat, mendekat ke arah meja makan, lalu membentak Nadya dengan kasar.
“Heh, Nadya, makannya yang cepet dong, jangan kaya tuan putri. Kamu itu disini kerja bukan tamu!”
Rizal yang baru menyelesaikan suapan terakhirnya menoleh ke arah Dewi, alis tebalnya mengerut dalam. “Kamu kenapa sih, Dew, bentak-bentak Nadya begitu. Dia lagi makan lo!”
Nadya turut melirik sekilas, bukan ke arah Dewi tapi ke wajah Adam yang masih tidur pulas.
“Tau itu, lagian, ngapa pula anak tidur digendong, kurang gawe!” timpal gadis manis itu sambil membereskan bekas makan miliknya dan juga milik Rizal.
“Kalau ada orang makan itu biasakan duduk diam, Dewi, bukan malah sengaja memancing emosi. Kalau kamu juga pengen ikut makan bareng, tinggal taruh Adam di ayunannya, bukan malah ngomelin orang yang lagi makan,” Bu Harmi turut menimpali sambil membawa bekas piring kotornya ke dapur.
Mendengar pembelaan yang dilayangkan Rizal dan Bu Harmi untuk Nadya, wajah Dewi memerah seketika, bibirnya hendak menjawab, namun seketika terkatup rapat saat mendengar Rizal mengajak Nadya untuk sholat berjamaah dengannya.
“Sholat magrib sekalian, Nad mumpung Adam ada yang gendong. Sekalian jamaah bareng Abang sama ibu.”
Dewi masih mematung di tempatnya saat melihat Nadya mengangguk pelan, lalu lekas mengambil air wudhu disusul Bu Harmi di belakangnya.
Hatinya semakin memanas saat melihat wanita paruh baya itu tersenyum hangat ke arah Nadya yang sedang memakai mukena dan berdiri di belakang Rizal.
“Kamu cantik sekali, Nad. Ibu jadi keinget Almarhumah Sukma kalau begini,” ucap Bu Harmi begitu Nadya selesai mengenakan mukena.
“Masih cantikan Ayuk Sukma, Bu. Ayuk Sukma itu bidadari surga, mana sebanding dengan Nadya,” sahut Nadya.
“Kamu juga bidadari, bidadari penolong yang dikirim Allah untuk menyelamatkan nyawa Adam,” Rizal turut menyahut sambil tersenyum hangat. "Rapatkan saf, kita mulai sholat berjamaahnya,” imbuhnya kemudian.
Mendengar ucapan Rizal, mata Dewi mendelik seketika, dadanya bergemuruh, tangannya mengepal erat hingga tanpa sadar paha montok Adam yang dia remas.
Sontak bayi yang mulai terlihat gembul itu, menangis kencang membuat Nadya mengurungkan niat sholatnya, dengan cepat dia berjalan mengambil Adam dari gendongan Dewi.
“Adam saja tau kalau bukan muhrim tidak boleh sholat berjamaah, kamu dengan percaya dirinya makmum di belakang Bang Rizal. Dasar tukang cari muka!” cibir Dewi, pelan.
Nadya melirik sekilas, ujung bibirnya terangkat tipis. ia memelankan suaranya sebelum masuk ke kamar untuk menyusui Adam. “Mending suka cari muka daripada nggak punya muka!”
Sesampainya di kamar, Nadya lekas membuka coco melonnya, mengarahkan ke bibir mungil Adam yang langsung menyusu dengan lahap. Dada bayi gembul itu naik turun, sesekali isak tangis masih terselip di sela hembusan napasnya.
Nadya mengernyit dalam, netranya dengan saksama memperhatikan wajah polos Adam. Ini kali pertamanya melihat anak susunya itu menangis hingga begitu sesak.
Setelah memastikan Adam kenyang dan sedikit tenang, gadis dengan rambut sebahu itu meletakkan Adam ke atas kasur, berniat memeriksa diapersnya. Mata sayu Nadya dibuat terbelalak manakala celana Adam terbuka, paha montok bayi mungil itu memerah dengan bekas kuku yang tercetak jelas.
“Dewi, nikeu ngapai paha Adam?!” (Dewi kamu apakan paha Adam)
Bersambung.
Semangat 🔥