NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:191
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cairan Dalam Botol Kecil

Sore itu, rumah Mercer terasa seperti tempat yang tidak seharusnya ada dalam hidup Fred.

Di luar jendela besar ruang tamu, hamparan ladang membentang—tanah cokelat yang baru dibalik, garis pohon-pohon telanjang yang tersapu angin, dan langit yang mulai menguning di ujung barat. Tidak ada suara klakson. Tidak ada sirene. Tidak ada langkah tergesa-gesa orang kota. Hanya angin yang menggeser ranting, dan burung-burung yang sesekali melintas seperti titik hitam kecil.

Fred berdiri lama di sana, tangan di saku, menatap pemandangan itu seolah mencoba menenangkan otaknya yang selama beberapa hari terakhir hanya tahu satu mode: bahaya.

Kedamaian semacam ini hampir terasa mewah—terlalu kontras, terlalu bersih.

Ia menghela napas, mencoba merasakan “normal” lagi. Dan untuk beberapa detik, ia hampir berhasil.

Sampai pintu ruang tamu berderit pelan.

Mercer masuk dengan dua cangkir kopi. Aromanya langsung mengisi ruangan—kopi hitam yang kuat, bukan kopi instan mahasiswa. Mercer meletakkan salah satu cangkir di ambang jendela, dekat Fred.

“Kafein adalah obat paling jujur,” kata Mercer ringan, lalu menyandarkan bahu ke dinding.

Fred mengambil cangkir itu dengan hati-hati. Tangannya masih sering gemetar belakangan ini, tapi hangat kopi memberi sedikit jangkar.

“Terima kasih,” gumam Fred, lalu meneguk sedikit. Pahit. Tapi menenangkan.

Mereka diam sejenak. Mercer tidak memaksa bicara. Itu salah satu hal yang paling aneh—dan paling nyaman—tentang pria itu. Ia tahu kapan orang butuh kata, dan kapan kata hanya memperparah luka.

Fred akhirnya memecah hening, pertanyaan yang sejak siang mengganggunya.

“Mercer… gimana kamu bisa bawa tubuhku yang pingsan dari kereta sampai ke sini?” Fred menatapnya, masih setengah tidak percaya. “Itu… itu bukan hal kecil.”

Mercer mengangkat bahu, menyesap kopinya.

“Menggendong, tentunya.”

Fred berkedip. “Hah?”

Mercer menatap Fred seperti dokter menatap pasien yang menanyakan hal paling sederhana.

“Aku berdiri, aku angkat kamu. Kamu lebih berat dari perkiraan, tapi bukan masalah,” katanya datar, lalu menambahkan dengan nada setengah mengejek diri sendiri, “Aku sudah tua, tapi punggungku belum menyerah.”

Fred mengerutkan kening. “Dan… orang-orang? Kereta penuh orang. Ada petugas. Mereka nggak curiga?”

Mercer mengangkat cangkirnya sedikit, seolah memberi toast pada absurditas.

“Aku bilang kamu mabuk.”

Fred membeku. “Mabuk?”

“Ya.” Mercer menunjuk Fred dengan cangkirnya. “Mahasiswa. Wajah lelah. Mata sembab. Mudah sekali untuk membuat orang percaya kamu baru putus cinta atau baru pesta.”

Fred menghela napas pendek—campuran malu dan lega.

Mercer melanjutkan, “Aku bilang ke orang di sekitar bahwa kamu muntah di toilet kereta dan hampir pingsan. Aku pura-pura kesal, pura-pura jadi orang tua yang kerepotan mengurus ‘anak muda bodoh’.”

Fred memijat keningnya. “Dan mereka percaya?”

“Semua orang suka penjelasan yang membuat mereka bisa pergi tanpa merasa bersalah,” jawab Mercer. “Mereka mengangguk, memberi ruang, dan melupakan kamu lima menit kemudian.”

Fred menatap kopi di tangannya. Ia ingin merasa tersinggung—disebut mabuk, disebut bodoh—tapi kenyataannya, itu menyelamatkannya.

“Lalu?” tanya Fred.

“Sampai peron, aku seret kamu sedikit. Lalu taxi.” Mercer menghela napas, seolah mengingat momen itu dengan kesal. “Aku bilang kamu mabuk berat dan aku harus pulangin kamu sebelum kamu membuat masalah. Sopir taxi tidak peduli. Dia dibayar.”

Fred mengangguk pelan, mencoba membayangkan dirinya yang tak sadar dipanggul seperti karung tepung. Jika situasinya tidak mengerikan, mungkin itu lucu.

Mercer menatap luar jendela, lalu kembali menatap Fred. “Kamu bertahan lebih lama dari yang aku kira, loh. Kebanyakan orang sudah runtuh total setelah apa yang kamu lihat.”

Fred menegang. Kalimat itu seperti membuka pintu ke ruangan yang ia kunci rapat.

Ia menutup mata sebentar, lalu menggeleng. “Aku… nggak tahu aku bertahan atau cuma… kosong.”

Mercer tidak membantah.

Di kejauhan, ada suara kendaraan mendekat di jalan kecil depan rumah. Tidak keras, tapi cukup jelas karena lingkungan sunyi.

Mercer langsung menaruh cangkirnya, bergerak ke jendela lain, mengintip lewat celah tirai.

Fred merasakan tubuhnya menegang lagi otomatis. Kedamaian sore langsung retak.

“Santai,” kata Mercer pelan. “Itu taxi.”

Fred menoleh cepat. “Taxi? Siapa yang—”

Suara klakson kecil terdengar, seperti kode.

Mercer membuka pintu depan tanpa ragu.

Dan di ambang pintu, Maëlle muncul.

Fred terpaku.

Kalau ia harus jujur, ini bukan Maëlle yang ia bayangkan dari ingatannya—bukan jaket gelap, bukan wajah pucat di bawah lampu stasiun, bukan bayangan yang bergerak cepat di lorong apartemennya.

Maëlle sore ini… tampak seperti perempuan yang bisa lewat di jalan mana pun tanpa diingat orang.

Ia memakai pakaian feminin sederhana: coat krem yang pas di tubuh, celana gelap rapi, sepatu yang tidak berisik. Rambutnya ditata halus, jatuh di bahu. Makeup tipis—nyaris tidak terlihat—tapi cukup untuk mengubah wajahnya dari “tajam” menjadi “nyaman dilihat.”

Tapi satu hal tidak berubah.

Matanya.

Dingin. Tidak tersenyum. Tidak meminta izin pada dunia.

Dan yang paling aneh: ia tidak membawa apa-apa.

Tidak ada ransel.

Tidak ada tas tangan.

Tidak ada tas kecil wanita.

Ia berdiri dengan kedua tangan kosong seperti orang yang baru keluar sebentar membeli roti—padahal Fred tahu, tangan kosong itu bisa lebih berbahaya daripada koper penuh.

Maëlle menatap Fred sebentar saja. Tidak lama. Seolah memastikan: masih hidup.

Lalu ia mengalihkan perhatian pada Mercer dan mengeluarkan sesuatu dari saku dalam coat-nya: sebuah botol kecil, seperti botol obat, dengan cairan bening di dalam.

Ia menyerahkannya pada Mercer tanpa kata.

Mercer menerima botol itu, mengamati label kecil yang tidak terbaca dari posisi Fred.

“Oke,” kata Mercer singkat.

Maëlle menoleh ke arah Fred. “Masuk.”

Fred berkedip. “Aku sudah di dalam.”

Maëlle tidak tersenyum. “Ke ruangan dalam.”

Mercer mengangguk pada Fred, memberi isyarat untuk menuruti. Mereka bertiga bergerak ke ruang kerja Mercer—ruangan kecil di belakang rumah, yang pintunya lebih tebal, jendelanya punya tirai ganda, dan ada rak buku medis bercampur map-map tua.

Begitu pintu tertutup, Mercer mengunci. Bukan satu kunci. Dua. Dan satu kait tambahan.

Maëlle berdiri dengan punggung ke dinding, posisi yang selalu memberi pandangan ke pintu dan jendela sekaligus. Kebiasaan orang yang tidur dengan satu mata terbuka.

Fred duduk perlahan di kursi dekat meja, mencoba membaca suasana.

“Apa itu?” tanya Fred, menunjuk botol.

Mercer menaruhnya di meja, berkata, “Vitamin untuk orang yang suka susah tidur.”

Maëlle tidak bereaksi. Tapi Fred menangkap bahwa Mercer bercanda untuk membuat suasana tidak membeku total.

Maëlle akhirnya bicara, suaranya datar tapi tegas.

“Fred. Kamu tidak keluar dari rumah ini sebelum kita tahu motif pembunuhan dan siapa yang menginginkan kamu mati.”

Fred ingin protes. Ingin bilang ia baru saja kehilangan segalanya dan ia butuh udara. Tapi ia juga ingat stasiun. Ingat pisau Léa.

Ia menelan ludah. “Kamu mau aku jadi tahanan?”

Maëlle menatapnya tajam. “Aku mau kamu hidup.”

Fred menghela napas, kesal dan putus asa bercampur. “Kenapa kamu masih bantu aku? Kamu bisa pergi. Kamu bisa hilang. Kamu malah bikin masalahmu makin besar karena aku.”

Maëlle diam beberapa detik, seolah mempertimbangkan apakah Fred pantas mendapat jawaban. Lalu ia berkata, dengan nada yang hampir seperti orang membacakan daftar.

“Ada tiga alasan.”

Fred menegakkan badan, fokus.

Maëlle mengangkat satu jari.

“Pertama. Kamu itu target kontrakku—awalnya.” Ia menatap Fred tanpa emosi. “Tapi kontrakmu aneh. Kamu diberikan ke orang lain, bahkan lebih dari satu tim. Itu bukan ‘kalau aku gagal, baru orang lain ambil.’ Itu… pembagian. Seperti mereka tidak peduli siapa yang membunuhmu, yang penting kamu mati cepat.”

Fred merasakan tengkuknya dingin. “Terus?”

Maëlle melanjutkan, “Aku benci kontrak seperti itu. Karena itu bukan kontrak—itu pembersihan. Dan kalau itu pembersihan, berarti ada sesuatu yang mereka takut kamu bawa.”

Fred menelan ludah. Kata “bawa” itu menancap, mengingatkan pada ucapan Mercer kemarin: orang yang tidak sadar nilainya sering membawa sesuatu tanpa menjaganya.

Maëlle mengangkat jari kedua.

“Kedua. Kamu menyelamatkanku.” Ia berkata kalimat itu seperti fakta mekanis, tapi ada ketegangan kecil di rahangnya. “Di gang, kamu tahu aku mau membunuhmu. Kamu tetap menolongku. Kamu mengeluarkan peluru dari tubuhku. Kamu bisa saja membiarkan aku mati dan itu masuk akal. Tapi kamu tidak.”

Fred membuka mulut, ingin bilang itu refleks calon dokter—bukan heroik. Tapi Maëlle memotongnya dengan tatapan.

“Aku tidak suka hutang,” kata Maëlle dingin. “Dan hutangku… bukan uang.”

Fred menatapnya, tidak tahu harus merasa tersentuh atau takut.

Maëlle mengangkat jari ketiga.

“Ketiga.” Ia berhenti sebentar. Mata Maëlle menajam. “Sekarang ini bukan lagi cuma tentang kamu.”

Fred mengerutkan kening.

Maëlle melanjutkan, “Pria di stasiun yang lolos itu akan melapor. Nama Maëlle sekarang kotor. Aku jadi target juga. Kalau aku lari tanpa jawabannya, aku akan berlari seumur hidup—diburu oleh orang yang lebih banyak, lebih kaya, dan lebih sabar.”

Ia menghela napas pelan. Untuk sepersekian detik, Maëlle tampak… lelah. Bukan lelah fisik. Lelah karena hidupnya selalu jadi lorong sempit tanpa pintu keluar.

“Jadi kamu bantu aku,” Fred berkata pelan, “karena kamu juga mau selamat.”

Maëlle menatapnya datar. “Ya.”

Mercer mengangguk kecil, seolah mengiyakan bahwa itu jawaban paling jujur yang bisa diberikan Maëlle.

Fred terdiam, mencerna tiga alasan itu. Rasanya seperti seseorang menarik tirai dari panggung: ini bukan drama pribadi lagi. Ini permainan besar. Dan ia—Fred—adalah pusatnya tanpa tahu kenapa.

Maëlle menggeser berat badan, lalu menatap Mercer.

Mercer menjawab tanpa melihat Fred, “Kamu tidak perlu tahu detailnya. Kamu cukup tahu ini: Maëlle datang tanpa tas bukan karena dia tidak membawa apa-apa. Dia datang tanpa tas karena dia tidak ingin meninggalkan pola.”

Maëlle menambahkan, “Dan karena aku tidak mau ada yang bisa dilacak dariku kalau aku harus lari lagi.”

Fred merasakan kepalanya berat.

“Maëlle,” kata Fred pelan, “kamu… kamu oke? Kamu kelihatan—”

“Lelah,” jawab Maëlle cepat. “Aku tidak akan bicara banyak.”

Ia berjalan ke pintu ruangan, membuka sedikit, berbicara pada Mercer tanpa menoleh ke Fred, “Kamar?”

Mercer menunjuk lorong. “Kamar atas. Yang kiri.”

Maëlle mengangguk. Sebelum keluar, ia menoleh ke Fred, tatapannya dingin tapi tegas.

“Dengar. Jangan keluar. Jangan buka pintu kalau bukan Mercer. Kalau kamu dengar suara apa pun malam ini—ketukan, panggilan nama, apa pun—kamu diam.”

Fred menelan ludah. “Oke.”

Maëlle menatapnya satu detik lebih lama, seolah memastikan Fred benar-benar mengerti. Lalu ia keluar tanpa kata lain, langkahnya senyap, menghilang ke atas.

Begitu pintu menutup, Fred menyadari ia menahan napas sejak tadi.

Ia menghembuskan pelan, lalu menatap Mercer.

“Dia… selalu begitu?” Fred berbisik, seolah takut Maëlle mendengar dari lantai atas.

Mercer menyandarkan punggung ke kursi, menyesap kopi yang sudah dingin.

“Maëlle selalu begitu ketika dia memutuskan sesuatu,” jawab Mercer. “Dan dia sudah memutuskan.”

Fred mengerutkan kening. “Memutuskan apa?”

Mercer menatap Fred dengan tatapan yang membuat Fred merasa seperti pasien yang baru sadar penyakitnya serius.

“Memutuskan bahwa kamu bukan lagi target yang bisa diserahkan,” kata Mercer pelan. “Kamu sekarang… adalah simpul. Kalau simpul itu diputus, banyak hal lain ikut tertutup selamanya.”

Fred menatap lantai. “Aku bahkan nggak tahu simpul apa.”

Mercer berdiri, merapikan botol kecil itu ke dalam laci, lalu berkata dengan nada yang lebih lembut:

“Kamu akan tahu. Tapi tidak malam ini. Malam ini, kamu makan. Kamu tidur. Besok kita mulai kerja.”

Fred menelan ludah. “Kerja apa? Aku bukan pembunuh.”

Mercer memandangnya, tenang.

“Kerja untuk tetap hidup,” jawabnya. “Dan kerja untuk menemukan jawaban sebelum orang lain menemukannya lebih dulu.”

Fred memejamkan mata sebentar. Di luar, sore makin gelap. Kedamaian ladang berubah jadi bayangan panjang.

Di lantai atas, ada Maëlle yang tertidur dengan mata dingin, tubuh siap bangun dalam satu detik.

Di ruang kerja, ada Mercer yang menyimpan botol kecil seperti menyimpan rahasia.

Dan di tengah-tengah semuanya, Fred duduk—mahasiswa kedokteran yang hidupnya telah dicabut dari akarnya, dipindahkan ke tanah asing yang dipenuhi orang-orang yang membunuh tanpa suara.

Untuk pertama kalinya, Fred benar-benar percaya pada satu hal:

Ini belum selesai.

Ini baru mulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!