NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Gemuruh dalam Diam

Pagi itu, suasana ruang kuliah terasa lebih dingin bagi Hana Syafina. Biasanya, Hana adalah mahasiswi yang paling antusias, duduk di barisan depan dengan binar mata yang haus akan ilmu. Namun hari ini, ia memilih bangku paling pojok di barisan belakang. Kepalanya terus tertunduk, sementara jemarinya sibuk meremas ujung jilbabnya, seolah berusaha mencari perlindungan di sana.

Ketika langkah kaki yang sangat ia kenali terdengar memasuki kelas, jantung Hana mencelos. Pak Arlan masuk dengan setelan gelap yang masih memancarkan aura duka. Pria itu sempat menghentikan langkahnya sejenak, matanya menyapu seisi ruangan, mencari satu sosok yang biasanya menyambutnya dengan senyum sopan.

Namun, Hana tidak sekalipun mendongak. Ia justru berpura-pura sibuk dengan tumpukan buku di depannya. Baginya, melihat wajah Pak Arlan saat ini hanyalah cara untuk memutar kembali kaset traumatis tentang detik-detik kematian Bu Inggit dan wasiat yang menghancurkan hidupnya.

Sepanjang perkuliahan, suara berat Pak Arlan yang biasanya menenangkan kini terdengar seperti dentum martil di kepala Hana. Setiap kata yang diucapkan dosen itu terasa jauh, seolah ada dinding kaca tebal yang memisahkan mereka.

Begitu kelas usai dan Pak Arlan melangkah keluar, atmosfer kelas yang tadinya sunyi langsung pecah oleh bisik-bisik yang tajam.

"Eh, kalian dengar nggak? Gosipnya Pak Arlan bakal nikah lagi dalam waktu dekat," bisik seorang mahasiswi di barisan tengah, memancing teman-temannya untuk mendekat.

"Hah? Serius? Istrinya kan baru sebulan saja menikah!" sahut yang lain dengan wajah terperangah.

"Yee, laki mah pagi bini dimakamkan sore boleh langsung akad."

"Jangankan istri meninggal, masih hidup aja boleh nambah," tambah lainnya.

"Katanya sih karena wasiat terakhir istrinya. Tapi aneh nggak sih? Masa secepat itu? Soalnya Pak Arlan kan bucin banget sama istrinya."

"Yang kelihatan bucin belum tentu setiap, bisa aja udah mulai dari istrinya masih hidup."

"Iya juga ya. Jangan-jangan memang sudah 'main api' dari lama. Eh, gue dengar calonnya masih muda banget, lho."

"Wah, parah! Kalau sampai benar, berarti itu cewek fix Pelakor. Kok tega ya, merebut suami orang yang istrinya lagi berjuang antara hidup dan mati?"

Pelakor.

Kata itu menghantam dada Hana dengan telak. Napasnya memburu, paru-parunya seolah kehabisan oksigen. Meskipun teman-temannya tidak tahu bahwa sosok yang sedang mereka kuliti habis-habisan adalah dirinya yang duduk hanya beberapa meter dari mereka, rasa sakitnya tetap nyata. Setiap tawa mengejek dari teman-temannya terasa seperti belati yang sedang mengukir kata hinaan di kening Hana.

Dengan tangan gemetar, Hana menyambar tasnya. Ia tidak sanggup lagi berada di sana. Ia tidak sanggup mendengar penghakiman yang dilemparkan tanpa tahu kebenaran di baliknya.

"Han? Hana, mau ke mana?" panggil Dila, sahabat baiknya, saat melihat Hana berdiri secara mendadak.

Hana tidak menjawab. Ia berlari keluar kelas secepat yang ia bisa, mengabaikan tatapan heran dari mahasiswa lain di koridor. Air matanya sudah di ujung pelupuk, siap tumpah kapan saja. Ia butuh tempat untuk bersembunyi. Ia butuh tempat untuk mengadu pada satu-satunya Zat yang tahu isi hatinya.

Dila yang merasa ada yang tidak beres segera mengejar. Langkah kaki Hana sangat cepat, hilang di balik tikungan gedung fakultas. Dila menyisir area kantin dan taman, namun nihil. Hingga akhirnya, langkah Dila terhenti di depan teras masjid kampus.

Di sana, ia melihat sepasang sepatu yang sangat ia kenali. Sepatu Hana.

"Hana..." gumam Dila lirih. Ia segera melepaskan alas kakinya dan melangkah masuk ke dalam bangunan suci yang tenang itu.

Di sudut paling belakang area akhwat, Dila menemukan sahabatnya. Hana sedang bersujud, namun bukan sujud yang biasa.

Bahunya terguncang hebat. Suara isaknya yang tertahan terdengar begitu menyayat hati di tengah kesunyian masjid. Hana tidak sedang sekadar salat, ia sedang menumpahkan seluruh kehancurannya di hadapan Sang Pencipta.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!