Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Retak yang Tak Bersuara
Acara makan malam kolega yang disebutkan Mamih ternyata bukan sekadar jamuan biasa. Itu adalah panggung pamer. Zerya berdiri di samping Aldric dan Marisella, mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang indah, namun terasa seperti beban ribuan ton di bahunya.
"Zerya, sapa Tuan Bramanta. Putranya baru saja kembali dari Amerika," bisik Mamih dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
Zerya mengangguk patuh. Sepanjang malam, ia melakukan hal yang sama: tersenyum, mengangguk, menjawab pertanyaan basa-basi dengan kecerdasan yang sudah ditakar agar tidak menutupi wibawa Papihnya.
Hingga tiba saatnya Aldric berbicara dengan beberapa pengusaha besar.
"Proyek CSR Talandra berjalan lancar berkat bimbingan saya," ucap Aldric dengan nada jumawa. "Zerya hanya membantu administrasi, saya yang memegang kendali penuh atas visinya."
Zerya, yang berdiri tepat di belakang Aldric, merasakan ulu hatinya seperti ditusuk.
Padahal, dialah yang begadang setiap malam, dia yang berdebat dengan tim teknis, dan dia yang menghadapi tekanan Javian. Tapi di depan orang lain, dia kembali menjadi "bayangan".
"Oh, saya dengar Nona Zerya yang mempresentasikan idenya di depan Tuan Javian?" tanya salah satu kolega.
Aldric tertawa kecil, tawa yang meremehkan. "Dia hanya membacakan draf yang saya buat. Zerya masih terlalu muda untuk memahami strategi tingkat tinggi."
Zerya mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Di tengah kerumunan itu, matanya tidak sengaja bertabrakan dengan mata kelam Javian yang berdiri beberapa meter di sana, memegang gelas champagne. Javian tidak mendekat, dia hanya memperhatikan dari kejauhan dengan wajah datar yang tak terbaca.
Begitu sampai di rumah, suasana berubah dingin seketika setelah pintu mansion tertutup.
"Papih, kenapa tadi Papih bilang begitu?"
suara Zerya bergetar, sebuah keberanian yang jarang ia tunjukkan di rumah.
Aldric berhenti melangkah, berbalik dengan tatapan yang sangat tajam. "Apa maksudmu?"
"Ide itu... itu murni riset saya. Papih bahkan tidak membaca drafnya sebelum rapat."
"Zerya," potong Aldric pelan, namun nadanya sangat mengintimidasi. "Kamu adalah Omerly karena Papih mengizinkanmu. Tanpa nama ini, idemu tidak ada harganya. Jangan pernah mencoba mengklaim apa yang menjadi milik keluarga."
"Tapi saya juga manusia, Pih. Saya ingin dianggap—"
"Masuk ke kamarmu," sela Mamih dingin.
"Jangan merusak suasana malam ini dengan drama tidak penting."
Zerya berbalik, menaiki tangga dengan langkah yang berat. Begitu sampai di kamarnya yang luas namun terasa seperti penjara, ia mengunci pintu.
Ia tidak menangis histeris. Ia hanya duduk di lantai di balik pintu, memeluk lututnya dalam kegelapan. Nafasnya mulai sesak, namun ia menekan mulutnya dengan tangan agar tidak ada satu pun suara isakan yang keluar. Inilah breakdown ala Zerya Omerly: sunyi, tertahan, dan mematikan.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di lantai menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan, tapi ia tahu siapa pemiliknya.
Unknown: "Ide itu milik Anda. Dunia mungkin tidak mengakuinya malam ini, tapi saya tahu siapa yang mengerjakannya."
Zerya menatap layar ponsel itu cukup lama. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh satu per satu, jatuh mengenai layar. Itu bukan pesan cinta, itu hanya pengakuan atas kerja kerasnya, tapi bagi Zerya yang selama ini dianggap "tidak ada", pesan itu terasa seperti oksigen di tengah laut yang menenggelamkannya.
Di sisi lain, Javian duduk di balkon kamarnya yang hangat, menatap ponselnya. Ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya: mengirim pesan pribadi pada seorang wanita hanya untuk memastikan wanita itu tidak menyerah.
"Jangan hancur dulu, Nona Zerya," gumam Javian pada kegelapan malam. "Saya masih ingin melihat Anda meledak."