💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 : Rasa yang tak seharusnya ada.
Suara detak jam dinding semakin terasa nyaring di tengah kesunyian yang membelit ruangan kerja Bima. Hampir lima menit berlalu, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut kedua kakak beradik itu. Arsen tetap tidak bergerak, matanya masih menatap foto lama yang terpajang di dinding ruangan, wajah kedua orang tuanya yang tersenyum lebar, dan Bima yang masih muda dengan senyum ceria di wajahnya.
Bima duduk di sofa lain, dia menghentikan gerakan jari-jarinya, mengeluarkan hembusan napas yang panjang sebelum menoleh ke arah Arsen.
"Arsen, Kakak rasa tidak ada salahnya kamu menerima perjodohan dengan wanita bernama Clara tadi. Usia kamu sudah tiga puluh lima tahun, sudah saatnya kamu menikah dan memiliki keluarga sendiri."
Arsen menutup matanya sebentar, menghela napas yang penuh beban sebelum membukanya kembali dan menatap Bima. Matanya yang biasanya tenang kini terbakar dengan rasa tidak puas, garis rahangnya menegang karena dia menahan emosi yang ingin meledak.
"Sejak kapan Kakak begitu peduli dengan urusan pribadiku?" Arsen tersenyum kecut, suaranya terdengar tegas dan jelas di tengah kesunyian, bergema bersama detak jam dinding yang kini terasa semakin mengganggu. "Lagipula usia bukanlah alasan untuk memilih seseorang yang tidak aku cintai, aku memiliki pilihan dan tujuan hidupku sendiri,"
Bima mengangkat bahu perlahan, ekspresi wajahnya tetap serius namun ada nuansa keprihatinan yang tersembunyi di dalam matanya.
"Ibu meninggal satu hari setelah melahirkanmu," jawab Bima dengan suara rendah, matanya tidak berpaling sedikitpun dari wajah adiknya. "Sebenarnya aku sangat membencimu saat itu, merasa semua kehilangan itu karena keberadaanmu. Tapi aku sudah berjanji pada ibu untuk menjagamu dengan sebaik-baiknya, Arsen. Jadi sebaiknya kamu menurutlah dan jangan jadi pembangkang seperti biasanya."
Arsen berdiri, berjalan beberapa langkah ke arah dinding di mana foto itu terpajang. Dia mengulurkan tangan sebentar seolah ingin menyentuh wajah orang tuanya di foto, tapi kemudian menariknya kembali dan menggenggam tangan kanannya menjadi kepalan.
"Menjagaku bukan berarti memutuskan apa yang terbaik bagiku." ucap Arsen sambil membalikkan tubuhnya kembali, melihat Bima masih duduk ditempatnya. "Jika tidak ada hal lain yang ingin dibicarakan lagi, aku akan keluar sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan berjalan menuju pintu dengan langkah cepat. Kakinya menyentuh lantai dengan suara yang jelas. Saat ujung jari telunjuknya menyentuh pegangan pintu, dia tiba-tiba berhenti sejenak dan perlahan membalikkan tubuhnya kembali.
"Aku dengar Kakak memberikan ijin pada Farel untuk mengajak Viona menginap di villa akhir pekan ini," ucapnya dengan nada yang lebih rendah namun tetap tegas. "Apa Kakak sudah mempertimbangkannya secara matang dulu sebelum mengambil keputusan itu? Atau hanya karena dia anakmu, Kakak langsung memberikan kepercayaan penuh?"
Bima sedikit terkejut, alisnya terangkat dan matanya membelalak sejenak. Dia tidak menyangka pembicaraan akan bergeser ke arah itu. "Aku sudah mempertimbangkannya dengan baik, Arsen. Mereka sudah bertunangan, jadi tidak ada salahnya jika pergi bersama untuk lebih mengenal satu sama lain."
Arsen mengerutkan alisnya, ekspresi wajahnya kembali menunjukkan rasa tidak puas. Dia melangkah satu langkah maju, menjauh dari pintu.
"Harusnya Kakak paham seperti apa tabiat putra Kakak!" ucapnya dengan nada yang mulai meninggi, tangan kanannya yang tadinya tergenggam kini semakin erat. "Apa Kakak yakin akan membiarkan Viona pergi dengan Farel dan teman-temannya begitu saja? Kakak tahu kan mereka sering minum-minuman keras dan melakukan hal-hal yang tidak pantas!"
Bima mengangkat kedua alisnya, tampak sedikit tersinggung dengan tuduhan yang tersirat dalam ucapan adiknya. Dia mendirikan tubuhnya dengan perlahan, kemudian melangkahkan kakinya mendekati Arsen dengan langkah yang tegas.
"Apa maksudmu dengan bicara seperti itu?" tanya Bima dengan suara yang mulai mengerucut, napasnya menjadi lebih berat. "Farel adalah anakku, Arsen. Aku tahu dia lebih baik dari yang kamu gambarkan! Dia sudah berjanji padaku dan bersungguh-sungguh akan menjaganya dan mencintai Viona dengan tulus!"
"Kakak terlalu percaya padanya!" teriak Arsen dengan nada yang ikut meninggi, wajahnya memerah karena emosi. "Dia melihat Viona bukan sebagai calon istri yang akan dia hormati, tapi sebagai sesuatu yang harus dia miliki!"
"Arsen, cukup!"
Suara tamparan yang keras menggema di seluruh ruangan, menyambar seperti kilat dan menyudahi semua kata yang akan keluar dari mulut Arsen. Tangan kanan Bima yang baru saja menyentuh pipi Arsen tergantung di udara dengan sedikit gemetar. Arsen terpaku ditempatnya, tangan kanannya secara refleks menyentuh pipinya yang mulai terasa panas dan perih, matanya yang tadinya terbakar kemarahan kini dipenuhi dengan keterkejutan dan rasa sakit yang mendalam seperti ditusuk jarum.
Bima juga terkejut dengan tindakannya sendiri. Wajahnya yang tadinya marah kini berubah menjadi canggung dan penuh penyesalan.
"Sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur dengan hal apapun yang berhubungan dengan Viona," ucap Bima dengan suara yang kembali tegas meskipun masih terdengar sedikit goyah. "Viona adalah urusanku, tanggung jawabku, karena mendiang ayahnya sudah menitipkannya padaku dan memintaku untuk menjaganya. Dan aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk memberikan yang terbaik untuknya, Arsen."
Arsen hanya menatap kakaknya dengan pandangan yang kosong, semua emosi dalam dirinya tiba-tiba sirna dan digantikan oleh kesadaran yang menyakitkan. Dia meraih pegangan pintu dan pergi meninggalkan ruangan tanpa mengatakan sepatah katapun, menutup pintunya dengan sedikit kasar hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Langkahnya cepat dan terasa berat. Sepenuhnya dia sadar akan ikatan yang terjalin antara dirinya dengan Viona, ikatan yang tidak mungkin pernah bisa diucapkan secara terbuka, karena gadis itu sudah menjadi tunangan dari keponakannya sendiri, yaitu Farel.
Semua rasa khawatir dan perhatian yang dia miliki untuk gadis itu harus selalu disembunyikan dibalik kedudukan sebagai paman yang baik. Dia tidak bisa menunjukkan sedikitpun bahwa perhatiannya melebihi apa yang seharusnya diberikan oleh seorang paman pada calon istri keponakannya.
Pintu kamar terbuka, Arsen melangkah masuk dan menutup pintunya kembali. Saat dia membalikkan badan untuk berjalan menuju ranjang, seketika ada sosok yang melesat ke arahnya. Tangan lembut itu langsung melingkarkan di sekitar pinggangnya, dan tubuh hangatnya menyatu erat dengan badannya. Arsen terkejut, tubuhnya sedikit kaku dan napasnya terhenti sejenak sebelum kembali mengalir.
"Viona, kamu belum tidur?" tanya Arsen dengan suara yang sedikit terengah akibat keterkejutan itu. Kedua tangannya ingin merengkuh punggung gadis itu, namun kemudian terhenti di udara.
"Aku belum bisa tidur, Paman," jawab Viona dengan suara pelan yang terdengar seperti bisikan, wajahnya menyemat erat di dada Arsen yang masih terasa sesak akibat emosi yang belum surut. Arsen bisa mencium aroma lembut parfum bunga mawar yang berasal dari baju tidur katun yang dikenakan oleh Viona.
Arsen menghela napas panjang, udaranya keluar perlahan melalui bibirnya dan membuat dadanya menyusut. Udara di kamar terasa hangat namun sedikit sesak, seperti penuh dengan kata-kata yang terperangkap dan tidak bisa keluar.
Kedua tangannya perlahan menyentuh bahu Viona, kemudian mendorongnya pelan hingga pelukan erat itu perlahan terlepas. Dia tetap menjaga jarak satu langkah, matanya menatap Viona dengan pandangan yang penuh perhatian namun juga penuh batasan.
"Ayo aku antar ke kamarmu sekarang," ucapnya dengan nada yang tegas namun tetap lembut.
Viona menggeleng perlahan, matanya menatap Arsen dengan pandangan yang penuh dengan sesuatu yang sulit dipahami, campuran rasa takut, harapan, dan keinginan yang dalam.
"Tidak usah, Paman," ucapnya dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.
Tanpa memberi waktu untuk Arsen bereaksi, dia perlahan berjinjit di depan pria itu, kedua tangannya kembali menggenggam pinggang Arsen dengan erat. Bibirnya yang lembut menyentuh kulit leher Arsen dengan ringan, membuat seluruh tubuh Arsen seperti terkena sengatan listrik tiba-tiba.
"Viona..." ucapnya dengan suara yang terdengar serak. Bagaimana dia bisa menjaga jarak dengan gadis itu jika dia sendiri tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri.
-
-
-
Bersambung...