Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Pelampiasan
Kaki Amira tiba-tiba terpeleset. Tubuhnya hampir saja jatuh kalau saja tangannya tidak berpegangan pada tiang kecil di dekat pintu. Meski begitu, pergelangan kakinya terpelintir.
“Ah …!”
Amira meringis menahan sakit. Dirga yang baru saja keluar dari mobil langsung menoleh.
“Amira!”
Dia bergegas menghampiri. Sedangkan Amira sudah berdiri dengan satu kaki sedikit terangkat, wajahnya menahan nyeri.
“Kamu kenapa?”
“Kakiku sepertinya keseleo .…”
Dirga langsung menunduk melihat kakinya.
“Kamu ini, dibilang cepat malah lari.”
Nada suaranya terdengar kesal, tapi jelas penuh kekhawatiran.
“Bisa jalan?”
Amira mencoba menapakkan kaki. Namun baru sedikit menapak, rasa nyeri membuatnya meringis lagi. Dirga pun menghela napas panjang.
“Udah.”
Tanpa banyak bicara, dia menunduk lalu mengangkat tubuh Amira dengan kedua lengannya. Sontak Amira pun begitu terkejut.
“Mas, nggak usah.”
“Diam.”
Dirga berjalan masuk ke dalam hotel sambil menggendongnya. Beberapa tamu hotel sempat menoleh, tapi Dirga sama sekali tidak peduli.
Amira yang berada dalam gendongannya justru semakin salah tingkah. Jantungnya berdebar cepat.
“Mas, saya bisa jalan pelan-pelan sebenarnya.”
Dirga tetap berjalan menuju lift.
“Tadi aja kamu berdiri hampir jatuh.”
Amira terdiam. Beberapa detik kemudian mereka sudah berada di dalam lift.
Suasana hening. Amira menatap wajah Dirga dari jarak sangat dekat. Wajah pria itu terlihat serius, fokus menahan tubuhnya agar tidak tergelincir. Entah kenapa dada Amira terasa hangat.
Lift akhirnya berhenti di lantai kamar mereka. Dirga masih menggendongnya sampai masuk ke dalam kamar hotel.
Setelah itu, dia meletakkan Amira perlahan di atas ranjang.
“Coba gerakkan kaki kamu.”
Amira menuruti, saat pergelangan kakinya bergerak sedikit, rasa nyeri langsung terasa.
“Ah .…”
Dirga langsung duduk di tepi ranjang, memegang pergelangan kaki Amira dengan hati-hati.
“Maaf jadi merepotkan…”
Dirga menatapnya sebentar.
Lalu berkata pelan, “Kenapa kamu selalu minta maaf?”
Amira terdiam. Dirga kemudian berdiri.
“Tunggu di sini. Aku ambil es.”
Amira hanya bisa mengangguk sambil menatap punggung Dirga yang berjalan menuju mini bar.
Di dalam kamar hotel, suasana terasa jauh lebih hangat dibandingkan dinginnya malam di luar. Sementara di luar, salju masih turun perlahan di balik jendela kaca besar, memantulkan cahaya lampu kota yang temaram.
Amira duduk di tepi ranjang, sementara Dirga berlutut di depannya dengan handuk kecil berisi es yang dibungkus kain. Dengan hati-hati, Dirga menempelkan kompres dingin itu pada pergelangan kaki Amira.
“Kalau sakit bilang,” ucapnya singkat.
Amira mengangguk pelan. Sesekali dia meringis, tapi lebih banyak diam sambil memperhatikan wajah Dirga yang terlihat begitu fokus. Beberapa saat kemudian, Dirga menoleh, dan tatapan mereka bertemu.
Amira buru-buru mengalihkan pandangan, wajahnya memerah.
“Makasih,” bisiknya.
Dirga masih memegang pergelangan kaki Amira beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya melepaskannya.
“Besok jangan banyak jalan,” katanya.
Amira mengangguk lagi. Namun suasana di antara mereka tiba-tiba terasa canggung.
Hanya suara lembut pemanas ruangan yang terdengar. Amira mencoba berdiri sedikit untuk merapikan posisinya di ranjang, tapi pergelangan kakinya kembali terasa nyeri.
Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Dirga refleks menahannya. Tangannya memegang bahu Amira agar tidak jatuh.
Akibatnya jarak mereka kembali sangat dekat. Bahkan, Amira bisa merasakan napas hangat Dirga di wajahnya. Jantungnya pun mulai berdetak lebih cepat.
“Mas ...,” bisiknya pelan.
Namun Dirga tidak menjawab. Tatapan pria itu justru tertuju pada bibir Amira, rasanya ada sesuatu yang menariknya tanpa bisa ditahan.
"Sekarang kaki kamu gimana?"
"Udah jauh lebih baik."
Dirga perlahan mendekat, dan kali ini Amira tidak mundur. Bibir mereka akhirnya bertemu. Ciuman itu awalnya pelan, dan hangat. Seolah hanya sekadar memastikan perasaan yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Namun beberapa detik kemudian, ciuman itu berubah lebih dalam.
Dirga memegang wajah Amira dengan satu tangan, sementara Amira tanpa sadar menggenggam kerah baju Dirga.
Rasa nyeri yang tajam di pergelangan kaki Amira seolah memudar, digantikan oleh gelombang panas yang jauh lebih mendominasi saat Dirga menariknya ke dalam dekapan. Kamar hotel di Tokyo itu kembali menjadi saksi bisu betapa rapuhnya pertahanan Amira di hadapan pria ini.
Tangan Dirga tidak lagi berada di tengkuk Amira. Seperti biasa, jemarinya yang liar mulai menjelajahi lekuk paha Amira hingga masuk ke balik pakaian yang dikenakan Amira.
Di tengah ciuman yang kian memanas, pikiran Amira kembali berkelana. Dia menikmati bagaimana Dirga menikmati setiap bagian tubuhnya, bagaimana tangan pria itu seolah tidak bisa berhenti menjamahnya. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, tanda tanya tetap menggantung.
"Aku nggak yakin Dirga melakukan ini karena tertarik padaku. Mungkin, dia melakukan semua ini hanya sebatas kebutuhan karena Celine tidak pernah memberikan kewajibannya sebagai istri, dan inilah tugasku, sebagai istri pelampiasan Dirga."
Gerakan Dirga semakin liar. Amira membiarkan Dirga mendorongnya perlahan ke atas ranjang, melupakan kaki yang cedera demi merasakan kehangatan yang mungkin akan hilang begitu matahari Tokyo terbit esok pagi.
Pergulatan itu, kini bukan lagi sekadar ciuman, melainkan sebuah pertarungan antara hasrat dan pertahanan yang runtuh. Dirga bergerak dengan dominasi yang mutlak, menindih Amira dengan berat tubuhnya yang hangat, memastikan tidak ada celah udara di antara mereka.
Tangan Dirga yang liar tidak lagi memberi ampun, jemarinya bergerak dengan presisi yang memabukkan, menanggalkan sisa-sisa kain yang menghalangi kulit mereka hingga keduanya benar-benar bersentuhan secara langsung. Amira hanya bisa mengerang rendah, jemarinya meremas sprei hingga buku jarinya memutih, mencoba mencari pegangan di tengah guncangan gairah yang dia rasakan.
Di tengah pergulatan panas itu, Amira merasa dunianya seolah meleleh. Dia menyukai cara Dirga memperlakukannya, begitu intens, dan penuh tuntutan.
Dirga seolah sudah membawa Amira terbang menuju puncak yang membuat segala logika menghilang, menyisakan hanya dua insan yang terbakar oleh api gairah di tengah dinginnya Tokyo hingga keduanya mencapai puncak kepuasan.
"Makasih banyak, Amira."
Setelah badai itu perlahan mereda, mereka berdua terengah-engah dalam pelukan yang masih enggan terlepas.
kau tanam angin kau tuai badai...
andaipun nantinya amira menyerah..kau tak akan dapatkan dirga lagi...