NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah yang memanggil: dekap hangat di jantung hutan

Ketakutan Laura telah mencapai puncaknya. Oksigen di sekitar Waruga itu terasa menipis, membuat paru-parunya sesak dan kepalanya berdenyut hebat. Bayangan sejarah kelam tentang ibu yang menikahi putranya, tentang asal-usul perdukunan modern yang mendarah daging di tanah ini, meracuni pikirannya hingga ia merasa mual.

Tidak... aku tidak mau tahu! Aku harus pergi!" isak Laura. Suaranya nyaris habis, hanya berupa bisikan parau yang tertelan deru angin.

Dengan sisa tenaga yang ada, Laura menjatuhkan diri, jemarinya yang gemetar mencengkeram tumpukan dedaunan kering dan tanah lembap yang dingin. Ia merangkak, mencoba menjauh dari pusara keramat itu. Rasa sakit di kepalanya akibat suara roh wanita itu membuatnya nyaris kehilangan kesadaran, namun insting bertahannya memaksa tubuhnya untuk terus bergerak.

Ia berhasil berdiri dengan kaki yang goyah. Satu langkah, dua langkah... ia memaksakan diri berlari ke arah jalur pita merah yang kini tampak seperti garis keselamatan yang jauh.

"Oma... tolong aku..." rintihnya sambil terus memacu kakinya yang lemas.

Tepat saat Laura merasa telah cukup jauh dari jangkauan roh wanita berbaju putih itu, sebuah bayangan besar tiba-tiba melesat dari balik pohon pinus yang menjulang tinggi.

"DUG!"

Laura menabrak sesuatu yang keras dan kokoh, membuatnya terpental jatuh ke atas tanah berbatu. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan meledak. Dengan napas terengah-engah, ia mendongak, matanya yang basah oleh air mata mencoba menembus kegelapan.

Lutut Laura hampir menyerah. Jantungnya yang tadi berdegup kencang karena horor, kini seolah berhenti berdetak sesaat akibat guncangan emosional yang luar biasa. Ia mendongak dengan sisa tenaga, air mata mengaburkan pandangannya, namun aroma maskulin yang bercampur bau tanah dan keringat itu sangat ia kenali.

Cahaya bulan yang pucat akhirnya menyinari wajah pria yang berdiri kokoh di depannya. Bukan Pak Bram, bukan pula sosok Michael yang ia takuti.

"Ma-marco...?" bisik Laura, suaranya nyaris hilang.

Pria itu terengah-engah, napasnya memburu seolah habis berlari mendaki seluruh puncak gunung ini. Bajunya sobek di beberapa bagian, dan ada luka gores yang masih basah di pipinya. Ia langsung mencengkeram bahu Laura dengan kuat, memastikan gadis itu nyata.

"Maafkan aku... aku datang terlambat," ucap Marco dengan suara tersengal. Suaranya serak dan berat, menanggung beban rasa bersalah yang teramat dalam. "Hutan ini... mereka menutup jalanku, Laura. Mereka tidak ingin aku mencapaimu."

Tanpa memedulikan lagi rasa takutnya pada roh wanita berbaju putih di belakang sana, Laura menghambur ke pelukan Marco. Ia terisak keras, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Tubuh Marco terasa panas, sangat kontras dengan hawa sedingin es yang dipancarkan oleh makam Waruga di sekeliling mereka.

"Marco, ada wanita... dia... dia bicara di kepalaku," rintih Laura di sela isaknya. "Dia memakai cincin ayahku! Dia bilang dia adalah awal dari semua ini!"

Marco mengeratkan pelukannya, matanya yang tajam menatap ke arah pohon beringin tempat sosok berbaju putih usang itu masih melayang membisu. "Aku tahu, Laura. Dia adalah Sang Leluhur. Dia adalah alasan mengapa darah kita terbakar."

Meskipun Marco telah hadir, suasana tidak lantas menjadi aman. Roh wanita itu mengeluarkan suara desisan yang panjang, seolah tidak suka dengan kehadiran Marco.

"Laura, dengarkan aku," Marco melepaskan pelukannya dan memegang wajah Laura, memaksanya menatap matanya yang kini memancarkan rona keemasan tipis. "Kita harus pergi sekarang. Pemilik penginapan dan guru-gurumu... mereka sedang menuju ke sini.

Tiba-tiba, dari kejauhan, terlihat cahaya obor yang mulai mendekat menyisir hutan. Suara langkah kaki yang teratur dan berat mulai terdengar.

"Cepat, pakai ini!" Marco memberikan sebuah kain hitam kusam yang dipenuhi rajahan kuno kepada Laura.

Marco tidak membuang waktu. Dengan gerakan kasar namun protektif, ia menyelimutkan kain hitam berajah kuno itu ke pundak Laura. Seketika, hawa dingin yang menusuk dari roh wanita berbaju putih itu terasa meredup, seolah kain itu adalah perisai yang memutus koneksi gaib antara Laura dan sang leluhur.

"jangan lepaskan kain ini, Laura! Tetap tundukkan kepalamu!" bisik Marco tajam. Suaranya yang tersengal bercampur dengan deru angin yang semakin ganas.

Mereka berlari menembus rapatnya pohon pinus, menjauhi area Waruga yang kini mulai mengeluarkan suara dentuman batu yang bergeser. Marco menarik tangan Laura dengan kuat, membimbingnya melewati jalur-jalur tikus yang tidak ditandai oleh pita merah mana pun.

Di belakang mereka, suara teriakan Pak Bram dan deru langkah kaki banyak orang mulai mendekat. Cahaya obor menyapu batang-batang pohon seperti jemari api yang mencari mangsa.

Sambil terus berlari, Marco menoleh sekilas, matanya berkilat emas di tengah kegelapan. "Aku sudah mengikutimu sejak bus itu meninggalkan kota, Laura. Aku tidak bisa membiarkanmu masuk ke penginapan itu sendirian.

Suasana di sekitar penginapan dan pinggiran hutan berubah menjadi kekacauan yang mencekam. Lampu-lampu senter membelah kegelapan, cahayanya menari-nari liar di antara batang pohon pinus yang rapat. Suara teriakan memanggil nama Laura bersahutan, menciptakan gema yang ganjil di tengah ke

Di barisan depan, Pak Bram tampak paling agresif. Wajahnya yang tegas kini terlihat pias, keringat dingin membasahi pelipisnya meski udara sangat membeku. Di belakangnya, Ibu Sarah terus terisak sambil memegang daftar hadir siswa yang kini terasa seperti beban ribuan ton.sunyian pegunungan.

"Laura! Laura, jawab! Ini Pak Bram!" teriaknya hingga urat lehernya menonjol. Di dalam hatinya, Pak Bram tidak hanya takut pada keselamatan Laura, tapi ia membayangkan wajah orang tua Laura dan tuntutan hukum yang akan menghancurkan kariernya.

Pria tua itu berjalan dengan langkah cepat yang tak terduga untuk usianya. Ia terus meraba kunci-kunci kuno di pinggangnya. "Sudah saya katakan, jangan biarkan ada yang keluar! Hutan ini tidak ramah pada orang asing!" gerutunya, namun matanya memancarkan ketakutan akan reputasi penginapannya yang sudah turun-temurun.

Beberapa teman sekamar Laura ikut dalam rombongan pencari, wajah mereka pucat pasi. Mereka membayangkan jika hal ini terjadi pada mereka. "Kalau Laura nggak ketemu, kita semua bakal dipulangkan? Gimana kalau orang tuanya tahu kita nggak jagain dia?" bisik salah satu siswi dengan suara bergetar.

Pikiran para guru kini dipenuhi oleh skenario terburuk. Di kepala mereka, bayangan tuntutan dari orang tua siswa mulai bermunculan seperti mimpi buruk:

Sekolah ini dikenal dengan kedisiplinannya. Jika seorang siswa hilang dalam pengawasan guru di tengah hutan keramat, reputasi sekolah akan hancur dalam semalam. Para orang tua akan memandang mereka sebagai guru yang lalai dan tidak kompeten.

Apa yang harus kita katakan pada ibunya?" tanya Ibu Sarah lirih di tengah isakannya. Mereka membayangkan amarah, tangisan, dan laporan polisi yang akan segera menyusul jika fajar menyingsing dan Laura belum ditemukan.Para guru sadar bahwa kejadian ini akan mengubah pandangan seluruh orang tua siswa. Program study tour yang seharusnya menjadi ajang belajar akan dianggap sebagai "perjalanan maut". Mereka takut akan ada penarikan siswa besar-besaran dari sekolah tersebut.

Saat mereka sampai di dekat area Waruga, suasana mendadak menjadi sangat dingin.

"Pak, lihat! Itu pita merahnya... putus!" teriak salah satu siswa sambil menunjuk ke tanah.

Pak Bram membeku. Ia melihat bekas telapak kaki kecil yang terseret di tanah lembap, menuju ke arah beringin tua yang angker. Ia tahu, jika Laura sudah melewati batas itu, tanggung jawab mereka bukan lagi sekadar urusan administrasi sekolah, melainkan urusan nyawa.

"Laura! Keluar, Nak! Jangan bercanda!" Pak Bram berteriak sekali lagi, namun kali ini suaranya terdengar putus asa. Ia tahu benar bahwa di hutan ini, terkadang sesuatu yang masuk tidak akan pernah kembali dengan cara yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!