NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 17

Jek menatap tangannya yang masih bergetar, merasakan sisa-sisa aliran listrik yang tadi merayap di bawah kulitnya. Rasanya bukan seperti mesin, melainkan seperti darah yang mengalir lebih cepat—lebih panas.

"Aku tidak ingin menjadi dewa bagi mereka, Maya," bisik Jek saat warga mulai sibuk mengumpulkan sisa-sisa perlengkapan pasukan Ares yang tertinggal. "Aku hanya ingin menyeduh kopi di pagi hari tanpa rasa takut."

Maya menghela napas, ia memungut potongan kabel yang hangus di dekat kaki Jek. "Dunia ini tidak akan membiarkanmu menjadi orang biasa, Jek. Bukan karena dunia ini jahat, tapi karena kamu adalah satu-satunya jembatan yang tersisa antara kekacauan organik ini dan logika manusia."

"Tapi kekuatan tadi... itu terasa seperti aku mencuri sesuatu dari alam ini," Jek berdiri, mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang masih lemas.

Di sisi lain, di dalam benteng baja pelabuhan yang dingin, seorang pria bernama Kolonel Vane—sisa pimpinan tinggi divisi taktis Ares—berdiri di depan sebuah layar monitor yang hanya menampilkan garis statis. Ia mendengarkan laporan dari unit patroli yang baru saja kembali dengan wajah pucat.

"Listrik dari tanah?" Vane bergumam, jemarinya mengetuk meja besi. "Dia tidak menggunakan perangkat retas. Dia menggunakan lingkungan sebagai senjata."

Vane berbalik menuju sebuah tabung besar di sudut ruangan yang dilapisi kaca antipeluru. Di dalamnya, terdapat sebuah prototipe baju zirah yang tidak menggunakan listrik sama sekali, melainkan digerakkan oleh tekanan hidrolik manual dan dilapisi oleh serat sintetis yang diekstrak dari tanaman yang terinfeksi.

"Jika dia ingin bertarung menggunakan alam, kita akan memberinya alam yang sudah kita jinakkan," Vane menyeringai. "Siapkan 'Unit Null'. Kita akan menjemput sang legenda besok pagi."

Kembali di kamp warga, Jek duduk di depan api unggun kecil. Rara mendekatinya dengan secangkir air hangat. Ia tidak bertanya tentang kekuatan tadi, ia hanya duduk di samping Jek, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rara lembut.

"Aku memikirkan tentang akar-akar itu," jawab Jek. "Mereka tidak benar-benar mati, Ra. Mereka hanya sedang tidur. Dan listrik tadi... itu seperti membangunkan mereka. Aku takut jika aku terus menggunakan kekuatan ini, aku akan memanggil 'mereka' kembali ke sini."

Rara menggenggam tangan Jek yang terluka. "Kalau begitu, kita tidak akan menggunakannya untuk menyerang. Kita akan menggunakannya untuk bertahan. Kita akan membangun tembok dari akar-akar ini, bukan dari besi."

Jek menatap istrinya, lalu tersenyum tipis. "Membangun tembok dari tanaman... itu ide yang sangat tidak logis. Tapi entah kenapa, itu terdengar seperti rencana terbaik yang pernah kudengar."

Tiba-tiba, dari arah laut, terdengar suara terompet rendah yang panjang. Bukan suara mesin, tapi suara tiupan kerang raksasa yang bergema menembus kabut malam. Bakri dan warga lainnya segera berdiri dengan waspada.

"Itu bukan Ares," bisik Bakri, wajahnya menunjukkan ketakutan yang berbeda. "Itu adalah kaum pesisir... mereka yang memilih untuk menyatu sepenuhnya dengan Jaringan Hijau. Mereka menyebut diri mereka 'Saksi Fajar'."

Jek berdiri, memegang tongkat besinya kembali. "Sepertinya kita tidak punya waktu untuk beristirahat. Berapa banyak faksi yang sebenarnya ingin menguasai reruntuhan ini?"

"Hanya satu yang penting, Jek," Maya muncul dari kegelapan, matanya menatap ke arah laut di mana puluhan bayangan manusia mulai berjalan di atas permukaan air yang dangkal, tubuh mereka bersinar dengan pendar hijau yang tenang. "Faksi yang menganggapmu sebagai bagian dari mereka yang hilang."

Bayangan-bayangan itu semakin mendekat, meluncur di atas permukaan air payau dengan keanggunan yang tidak manusiawi. Setiap langkah mereka memicu riak cahaya hijau yang menyebar seperti denyut nadi di permukaan laut. Jek bisa melihat bahwa mereka tidak memakai pakaian dari kain, melainkan jalinan rumput laut dan sisik ikan yang tampak menyatu dengan kulit mereka.

"Mereka tidak bernapas seperti kita, Jek," Maya berbisik, jemarinya meraba sisa-sisa luka kodenya yang mulai berdenyut dingin. "Mereka telah mengganti paru-paru mereka dengan jaringan penyaring oksigen organik. Bagi mereka, kamu bukan lagi manusia, tapi sisa dari 'Tuhan' yang pernah memberi mereka cahaya."

Jek melangkah ke bibir pantai, membiarkan ujung sepatunya terendam air asin. Di belakangnya, warga bersiap dengan tombak mereka, namun Jek mengangkat tangan agar mereka tetap tenang.

Salah satu dari sosok pesisir itu maju ke depan. Wajahnya tertutup lapisan kristal transparan, memperlihatkan mata yang tidak memiliki pupil, hanya hamparan pendar hijau yang jernih. Sosok itu tidak bicara, tapi sebuah getaran suara muncul langsung di dalam rongga dada Jek.

"Pewaris yang Terlupakan... kenapa kau membangun tembok dari rasa sakit?"

Jek mengernyit, menekan dadanya. "Aku tidak membangun tembok. Aku hanya melindungi mereka yang ingin hidup tanpa ditindas."

Sosok itu memiringkan kepalanya. "Ares membawa besi yang haus. Kami membawa keheningan yang abadi. Pilihlah, Jek. Kembali ke pelukan Jaringan, atau hancur di bawah beban besi mereka. Kau tidak bisa berdiri di tengah."

"Aku memilih di tengah!" Jek menyahut dengan suara lantang yang membelah desis ombak. "Aku tidak butuh keheningan kalian yang hampa, dan aku tidak butuh besi Ares yang dingin. Aku punya orang-orang ini, dan kami punya kehidupan yang nyata!"

Tiba-tiba, sebuah suara ledakan besar terdengar dari arah daratan. Lampu sorot raksasa dari kendaraan Ares membelah kabut, namun kali ini suaranya berbeda—tidak ada deru mesin diesel. Hanya suara hidrolik yang berat dan dentum langkah logam di atas beton.

'Unit Null' telah tiba.

Sebuah robot exoskeleton setinggi tiga meter, digerakkan secara manual oleh pilot di dalamnya dengan sistem tuas mekanis, muncul dari balik reruntuhan. Di belakangnya, Kolonel Vane berjalan dengan tenang, mengenakan jubah abu-abu yang tahan terhadap arus listrik.

"Sangat menarik," Vane berbicara melalui pengeras suara. "Pertemuan antara evolusi sesat dan sisa-sisa masa lalu. Jek, serahkan dirimu sekarang, atau aku akan meratakan kamp ini bersama dengan makhluk-makhluk berlendir itu."

Jek terjepit. Di depannya ada kaum 'Saksi Fajar' yang ingin menyerap kesadarannya ke dalam lautan, dan di belakangnya ada mesin perang Ares yang ingin menjadikannya objek penelitian.

"Rara, Maya... masuk ke belakang akar utama sekarang!" Jek berteriak.

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba memanggil kembali rasa panas yang tadi membakar tangannya. Kali ini, ia tidak menunggu listrik dari kabel. Ia menatap ke arah laut dan ke arah hutan beton secara bersamaan. Ia menyadari sesuatu: ia tidak perlu memilih antara besi atau tumbuhan.

Jek menancapkan tongkat besinya dalam-dalam ke pasir pantai yang bercampur garam dan akar mati.

"Kalian berdua ingin menguasai tempat ini?" Jek bergumam, dan kali ini pendar di matanya bukan lagi putih atau ungu, melainkan abu-abu perak—warna keseimbangan yang murni. "Maka kalian harus melewati pemilik aslinya."

Dengan sentakan kuat, Jek mengalirkan sisa energi statis dari sarafnya bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menjadi jembatan. Akar-akar mati di daratan dan ubur-ubur kabel di laut mendadak bergetar secara sinkron. Sebuah gelombang kejut frekuensi rendah meledak dari titik Jek berdiri, mematikan sistem hidrolik robot Ares dan membuyarkan pendar hijau kaum Pesisir dalam satu hantaman.

Keheningan mutlak tercipta. Jek berdiri di tengah, napasnya memburu, namun wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya.

"Satu langkah lagi," Jek mengancam, suaranya bergetar dengan kekuatan yang sanggup menggetarkan udara, "dan aku akan meruntuhkan seluruh kota ini ke dalam laut."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!