Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancur karna ego
Arlan berdiri mematung di balik kaca mobilnya yang gelap, terparkir beberapa meter dari pagar rumah Raia. Mesin mobil sengaja ia matikan. Melalui jendela rumah yang terbuka sedikit, ia bisa mendengar setiap isakan dan kalimat tajam yang keluar dari mulut Raia kepada ibunya.
"Dia bukan Arlan yang kita kenal, Bu. Dia monster!"
Kata-kata itu menghantam ulu hati Arlan. Tangannya yang memegang setir gemetar. Rasa bersalah mulai merayap, membakar dadanya. Ia ingin turun, memeluk Raia, dan meminta maaf atas segala kegilaan ini. Namun, bayangan kejadian satu minggu yang lalu kembali muncul di benaknya seperti duri yang menusuk.
Malam itu, Arlan datang ke rumah ini secara diam-diam untuk mengantarkan obat tambahan bagi ayah Raia. Ia tak sengaja mendengar percakapan Raia dan ibunya di teras.
"Raia, Arlan sudah sangat baik. Apa kamu tidak punya sedikit pun perasaan lebih untuknya setelah semua ini?" tanya ibunya penuh harap.
Dan jawaban Raia saat itu adalah racun yang mengubah Arlan. "Perasaan? Tidak, Bu. Bagiku dia hanya teman masa kecil yang kebetulan punya uang. Aku bahkan tidak merindukannya selama sepuluh tahun ini. Aku cuma merasa kasihan padanya."
Suara Raia yang terdengar sangat jujur dan dingin malam itu menghancurkan Arlan. Sakit hati yang luar biasa berubah menjadi dendam yang pekat. Itulah alasan mengapa Arlan berubah menjadi "monster" di kantor. Ia ingin membuktikan bahwa ia punya kuasa, bahwa ia bukan pria yang patut dikasihani.
"Kamu yang membuatku jadi begini, Raia," bisik Arlan dalam kegelapan mobilnya. Matanya yang merah menatap sosok Raia yang sedang menangis di pelukan ibunya.
Ia merasa bersalah melihat air mata itu, tapi ego dan luka hatinya jauh lebih besar. Ia merasa harus mengikat Raia dengan cara apa pun—meskipun itu lewat ancaman dan uang—karena ia tahu, jika ia menjadi Arlan yang lembut, Raia hanya akan menganggapnya sebagai "teman yang bisa dimanfaatkan".
Momen di depan rumah itu merubah segalanya. Arlan menyadari bahwa hubungan mereka kini bukan lagi tentang cinta yang tulus, melainkan perang urat syaraf antara pria yang terobsesi dan wanita yang merasa dikhianati.
Arlan menyalakan mesin mobilnya dengan gerakan kasar. Suara deru mesin yang berat seolah meredam isakan Raia yang masih terdengar sayup dari balik jendela rumah itu. Ia tidak turun. Ia tidak mengetuk pintu. Ia memilih untuk memutar kemudi dan melesat pergi, meninggalkan debu yang berterbangan di depan pagar rumah sahabat masa kecilnya.
Di dalam mobil, Arlan mencengkeram setir hingga buku-bukunya memutih. Matanya lurus menatap jalanan yang sepi, namun pikirannya berkecamuk hebat. Kata-kata Raia yang menyebutnya "monster" beradu dengan ingatan saat Raia mengaku "tidak punya perasaan" kepadanya di depan ibunya tempo hari.
"Monster, ya?" gumam Arlan getir. Senyum miring yang menyakitkan muncul di wajahnya. "Kalau itu satu-satunya cara supaya kamu tetap di jangkauanku, maka aku akan menjadi monster itu sampai akhir, Raia."
Malam itu merubah segalanya bagi Arlan. Rasa bersalah yang sempat muncul sesaat tadi ia tekan dalam-dalam, dikubur di bawah tumpukan sakit hati yang telah mengeras selama sepuluh tahun. Ia memutuskan untuk tidak akan pernah menjelaskan soal foto di Instagram itu, tidak akan menjelaskan kenapa ia menghilang, dan tidak akan menunjukkan sisi lemahnya lagi.
Ia sampai di apartemen mewahnya yang dingin dan kosong. Arlan menuangkan minuman keras ke dalam gelas kristal, menatap pemandangan kota dari lantai limapuluh. Besok pagi, ia akan kembali menjadi bos yang kejam. Ia akan menanti Raia datang dengan laporan revisi dan wajah yang penuh kebencian—karena baginya, dibenci oleh Raia jauh lebih baik daripada dilupakan atau sekadar dikasihani.
Persahabatan mereka telah resmi menjadi sejarah. Yang tersisa hanyalah permainan kekuasaan di mana Arlan memegang kendali atas hidup orang-orang yang paling dicintai Raia.
Kedatangan teman-teman lama mereka—geng SMA yang dulu selalu kumpul bersama—menambah sesak atmosfer di kantor Arlan pagi itu. Mereka datang tanpa kabar, bermaksud memberikan kejutan untuk "si sukses" Arlan, namun yang mereka temukan justru pemandangan yang menghancurkan memori masa lalu.
Dimas dan Galang masuk ke ruangan Arlan dengan tawa keras, namun seketika terdiam saat melihat Raia berdiri di depan meja Arlan dengan mata sembap dan tumpukan berkas yang berantakan.
"Woi, Arlan! Raia! Kok suasananya tegang amat? Kita mau ajak makan siang malah kayak lagi sidang skripsi," seloroh Dimas, mencoba mencairkan suasana.
Arlan tidak berdiri. Ia bahkan tidak tersenyum. Ia hanya melirik jam tangannya dengan dingin. "Kalian salah waktu. Raia sedang menyerahkan laporan yang penuh kesalahan. Dia harus memperbaikinya sekarang juga."
Galang mengerutkan kening, menatap Arlan seolah tidak percaya. "Lan, ini Raia. Sahabat kita. Kamu kenapa jadi kaku banget begini sama dia?"
"Di sini dia karyawan, Lang. Bukan sahabat," potong Arlan tajam.
Raia hanya menunduk, meremas ujung kemejanya. Kehadiran teman-temannya justru membuatnya merasa semakin terhina. Ia ingin berteriak menceritakan betapa "monster"-nya Arlan sekarang, tapi ancaman tentang biaya rumah sakit ayahnya membungkam mulutnya rapat-rapat.
"Ra, lo oke?" bisik Dimas mendekati Raia. "Kok lo kayak takut banget sama Arlan? Dulu kan lo yang paling berani jewer dia kalau dia telat jemput."
Raia hanya menggeleng pelan, air matanya nyaris jatuh lagi. "Aku permisi dulu, mau revisi laporan."
Saat Raia keluar ruangan, Galang langsung menggebrak meja Arlan. "Ada apa sama lo, Lan? Kenapa lo perlakukan Raia kayak sampah? Kita semua tahu lo dulu segila apa sama dia sampai rela nyusul ke luar negeri tapi malah menghilang!"
Arlan tertawa sinis, menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran. "Kalian nggak tahu apa-apa. Kalian nggak tahu rasanya cuma dianggap 'teman yang punya uang' dan 'kasihan' oleh orang yang kalian perjuangkan mati-matian."
Kehadiran teman-teman mereka merubah segalanya. Rahasia yang selama ini dipendam Arlan mulai terkuak di depan sahabat-sahabatnya, sementara Raia di luar ruangan mendengar samar-samar perdebatan itu.
"Lan, lo bener-bener udah sakit jiwa ya?" Dimas melangkah maju, wajahnya memerah menahan amarah. "Lo denger omongan Raia di teras rumahnya terus lo jadiin itu alasan buat nyiksa dia kayak gini? Lo pengecut, Lan!"
Galang menimpali dengan nada yang tak kalah tajam, "Lo tahu nggak kenapa Raia bilang dia 'kasihan' sama lo? Karena selama sepuluh tahun lo ngilang, dia yang paling hancur! Dia nungguin lo kayak orang gila sampai akhirnya dia liat foto lo sama cewek lain itu. Dia bilang 'kasihan' karena dia berusaha ngebujuk dirinya sendiri supaya berhenti cinta sama lo, biar dia nggak sakit hati terus!"
Arlan terdiam, tangannya yang memegang pena tampak sedikit bergetar. "Kalian nggak tahu rasanya jadi gue..."
"Nggak tahu apa?!" potong Dimas kasar. "Lo pikir lo doang yang menderita? Raia banting tulang buat biaya RS bokapnya, dan sekarang lo jadiin bantuan itu buat nahan dia? Itu bukan cinta, Lan.
Itu penindasan. Kalau lo emang sayang sama dia, lo bakal jelasin kenapa lo ngilang, bukan malah jadi monster yang nakutin dia!"
Galang menarik napas panjang, menatap Arlan dengan tatapan kecewa yang dalam. "Sepuluh tahun lalu kita bangga punya temen kayak lo. Tapi sekarang? Lo cuma orang asing yang kebetulan punya jabatan. Lo udah ngerusak satu-satunya orang yang paling tulus nungguin lo."
Perkataan sahabat-sahabatnya itu menghantam ego Arlan tepat di titik terlemahnya. Tembok dingin yang ia bangun selama ini mulai retak. Di luar pintu, Raia ternyata mendengar semuanya. Ia tersimpuh, menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar.
Dimas dan Galang saling berpandangan di parkiran kantor, mengabaikan panasnya terik matahari. Mereka tahu, jika dibiarkan, Arlan dan Raia akan saling menghancurkan sampai tidak ada yang tersisa.
"Kita nggak bisa diam saja, Lang. Arlan itu cuma butuh tamparan realita kalau dia itu pengecut, dan Raia perlu tahu alasan kenapa Arlan menghilang sepuluh tahun lalu," ucap Dimas sambil menyalakan rokoknya.
Galang mengangguk setuju. "Rencana pertama: Kita harus cari tahu siapa cewek di foto Instagram itu. Gue curiga itu bukan pacar, tapi bagian dari alasan kenapa dia nggak bisa pulang ke Indonesia selama itu."
Mereka pun menyusun strategi "Operasi Rekonsiliasi":
Membuka Kartu Arlan: Galang akan menjebak Arlan untuk mabuk atau setidaknya bicara jujur di bar langganan mereka, memaksanya menceritakan kejadian sebenarnya di luar negeri.
Membawa Raia ke 'Zona Nyaman': Dimas bertugas menjemput Raia dan membawanya ke tempat nongkrong masa SMA mereka—warung kopi mpok Siti—tanpa memberi tahu kalau Arlan juga akan ada di sana.
Melunasi Utang: Diam-diam, Dimas dan Galang yang juga sudah sukses berencana mengumpulkan dana untuk melunasi "biaya pengobatan" yang dijadikan alat sandera oleh Arlan, agar Raia tidak merasa terikat lagi.
"Kita bikin mereka bicara empat mata tanpa jabatan CEO atau asisten manajer. Cuma Arlan si bodoh matematika dan Raia si tukang jewer," pungkas Galang.
Rencana ini merubah segalanya. Tanpa sepengetahuan Arlan yang masih bersembunyi di balik jas mahalnya, dua sahabatnya sedang bersiap meruntuhkan tembok ego yang ia bangun selama satu dekade.
Dimas dan Galang mulai bergerak lincah. Mereka tahu, membiarkan Arlan dan Raia dalam kondisi ini sama saja dengan membiarkan bom waktu meledak. Berikut adalah rencana rahasia yang mereka susun:
Misi Pengakuan Paksa: Galang akan menyeret Arlan keluar kantor dengan alasan "merayakan kesuksesan proyek", tapi sebenarnya membawanya ke gudang sekolah lama mereka yang sudah sepi. Di sana, mereka akan mengunci Arlan sampai dia mau jujur soal alasan menghilang 10 tahun lalu dan siapa perempuan di foto itu.
Menghapus "Tali Kekang": Dimas, yang diam-diam mengelola bisnis investasi, memutuskan untuk mentransfer dana darurat ke rekening Raia. "Ini bukan pinjaman, Ra. Ini investasi buat kebebasan lo," pesan yang akan dia kirimkan agar Raia punya keberanian menatap wajah Arlan tanpa rasa takut soal biaya rumah sakit ayahnya.
Konfrontasi di 'Titik Nol': Mereka merencanakan pertemuan di taman kota tempat Arlan dan Raia dulu sering belajar bersama. Dimas akan membawa Raia ke sana, sementara Galang membawa Arlan. Tidak ada jas mahal, tidak ada embel-embel bos. Hanya dua manusia yang saling menyakiti karena terlalu gengsi untuk jujur.
"Kita harus bikin Arlan sadar kalau dia hampir kehilangan satu-satunya orang yang tulus nunggu dia cuma demi ego setinggi langit," ucap Galang sambil mengepalkan tangan.
Rencana di taman kota itu berubah menjadi kekacauan total. Begitu Arlan melihat Raia berdiri di dekat bangku tua tempat mereka dulu belajar, rahangnya mengeras. Ia langsung berbalik dan menatap Dimas serta Galang dengan tatapan membunuh.
"Apa-apaan ini?!" bentak Arlan, suaranya menggelegar hingga burung-burung di pohon beterbangan. "Kalian menjebakku? Kalian pikir ini lucu?!"
Galang mencoba menahan bahu Arlan. "Lan, tenang! Kalian berdua perlu bicara sebagai manusia, bukan sebagai bos dan bawahan!"
"Lepaskan!" Arlan menyentak tangan Galang dengan kasar. Ia melangkah maju ke arah Raia, namun bukan dengan tatapan rindu, melainkan kemarahan yang meluap-luap. "Kamu yang merencanakan ini, Raia? Kamu mengadu ke mereka supaya mereka mengasihanimu lagi? Supaya mereka menganggapku penjahat?"
Raia menggeleng, air matanya jatuh. "Aku bahkan tidak tahu mereka akan membawaku ke sini, Lan..."
"Bohong!" Arlan tertawa getir, tawanya terdengar menyakitkan. Ia menunjuk ke arah Dimas. "Dan kamu, Dimas! Kamu pikir aku tidak tahu kamu mentransfer uang ke rekening Raia pagi ini? Kamu mau jadi pahlawan? Mau membayar utang-utangnya padaku supaya dia bisa lari dariku?"
Arlan menendang tempat sampah besi di dekatnya hingga penyok. Suara hantamannya membuat Raia berjengit ketakutan.
"Dengarkan baik-baik," Arlan menatap mereka bertiga satu per satu dengan mata merah. "Tidak ada yang bisa ikut campur dalam urusanku. Raia tetap milik perusahaanku sampai aku yang memutuskan dia boleh pergi! Dan kalian berdua... jangan pernah injakkan kaki di kantorku lagi!"
Arlan berbalik menuju mobilnya, meninggalkan mereka dalam kesunyian yang mencekam.
Amukan Arlan merubah segalanya; niat baik sahabat-sahabatnya justru mempertebal tembok ego dan membuat Arlan merasa dikhianati oleh semua orang yang ia percayai.
Kini, Arlan benar-benar sendirian di puncak kekuasaannya.
Pertengkaran di taman itu pecah menjadi sebuah ledakan emosi yang paling mengerikan dalam sejarah sepuluh tahun mereka. Raia tidak lagi menangis tersedu-sedu; kali ini, matanya menyala dengan kemarahan yang setara dengan Arlan.
"Cukup, Arlan! Berhenti bersikap seolah-olah kamu korban di sini!" teriak Raia, suaranya melengking memecah ketegangan. Ia melangkah maju, tepat ke hadapan Arlan yang sedang mengamuk. "Kamu bilang aku mengadu? Kamu bilang aku ingin dikasihani? Lihat dirimu sendiri! Kamu itu pengecut yang bersembunyi di balik uang dan jabatan karena kamu terlalu takut mengakui kalau kamu sudah gagal menjaga janji kita!"
Arlan tertawa getir, wajahnya memerah. "Gagal? Aku sukses, Raia! Aku punya segalanya yang tidak pernah aku miliki sepuluh tahun lalu saat aku cuma anak bawang yang kamu remehkan!"
"Kamu punya segalanya tapi kamu kehilangan jiwamu!" Raia mendorong dada Arlan dengan kedua tangannya. "Kamu marah karena mendengar aku bilang 'kasihan' pada ibuku? Ya! Aku kasihan padamu! Aku kasihan karena Arlan yang aku cintai sudah mati dan digantikan oleh pria sombong yang bahkan tidak berani jujur siapa perempuan di Instagram-nya itu! Siapa dia, Arlan?! Jawab!"
"Dia tunanganku! Puas?!" Arlan membentak tepat di depan wajah Raia. "Dia orang yang ada saat aku sekarat di London karena kecelakaan kerja, sementara kamu? Kamu cuma menunggu kabarku tanpa melakukan apa-apa!"
"Aku tidak melakukan apa-apa?!" Raia membalas dengan teriakan yang lebih kencang. "Aku mengirimkan ratusan email yang tidak pernah kamu balas! Aku hampir gila mencari tahu keberadaanmu sampai aku harus bekerja tiga tempat demi biaya hidup karena aku pikir kamu akan kembali untukku! Kamu yang memutus akses, Arlan! Kamu yang menghilang!"
Dimas dan Galang mencoba melerai, namun Arlan justru semakin membabi buta. Ia menunjuk ke arah mereka semua. "Kalian semua sama saja! Kalian hanya ingin melihatku jatuh lagi! Raia, besok pagi kamu serahkan semua aset kantor. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Pergi dari hidupku dan bawa semua utang-utang ayahmu itu ke neraka!"
Arlan berbalik dan memukul kap mobilnya sendiri hingga tangannya berdarah, lalu masuk ke dalam dan melesat pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang menyesakkan.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Arlan mencengkeram setir dengan tangan yang bergetar hebat. Darah segar menetes dari buku jarinya yang luka akibat memukul kap mobil tadi, tapi ia tidak merasakannya. Begitu mesin menderu dan ia menjauh dari taman, pertahanan yang ia bangun selama sepuluh tahun runtuh seketika.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang kaku. Suara tangisnya pecah, memenuhi ruang sempit itu dengan penyesalan yang menyesakkan.
"Maafkan aku, Raia... maafkan aku," bisik Arlan parau di sela isakannya. "Aku tidak mampu... aku tidak pernah cukup kuat untuk berhadapan denganmu tanpa merasa hancur."
Arlan meminggirkan mobilnya di bahu jalan yang sepi, menelungkupkan kepalanya di atas setir. Kebenaran yang selama ini ia tutup-tutupi dengan kemarahan akhirnya meluap. Ia bertingkah seperti monster karena ia terlalu pengecut untuk mengakui bahwa ia masih pria yang sama yang mencintai Raia dengan putus asa.
Sakit hatinya saat mendengar Raia bilang "hanya kasihan" hanyalah puncak dari rasa tidak percayanya pada diri sendiri. Ia merasa tidak layak kembali setelah menghilang tanpa kabar, sehingga ia memilih untuk menyakiti Raia lebih dulu sebelum Raia sempat menolaknya lagi.
"Aku takut, Ra... Aku takut kalau aku jadi Arlan yang dulu, kamu akan melihat betapa rusaknya aku sekarang," gumamnya pelan, menatap foto kecil di dompetnya—foto mereka berdua saat kelulusan SMA yang tak pernah ia buang.
Momen ini merubah segalanya bagi Arlan.
Kemarahannya yang meledak-ledak tadi hanyalah topeng terakhir yang kini telah hancur. Ia sadar, dengan mengusir Raia, ia baru saja membunuh satu-satunya alasan ia bertahan hidup selama sepuluh tahun ini.
Di taman yang mulai gelap itu, pertahanan Raia runtuh sepenuhnya. Ia jatuh terduduk di bangku taman, menutupi wajah dengan kedua tangannya, dan menangis sejadi-jadinya.
Isakannya terdengar begitu menyayat hati, sebuah ledakan emosi dari luka yang ia simpan rapat selama sepuluh tahun terakhir.
"Kenapa dia jahat sekali, Dim? Kenapa dia berubah jadi orang asing yang mengerikan?" raung Raia di sela tangisnya.
Dimas segera berlutut di depan Raia, memegang kedua bahunya untuk memberikan kekuatan.
"Ssst, sudah Ra... Jangan dengerin omongan dia yang tadi. Arlan cuma lagi kalap. Dia nggak maksud ngomong sekasar itu soal bokap lo."
Galang duduk di samping Raia, merangkulnya pelan sambil menyodorkan tisu. "Ra, dengerin gue. Arlan itu bodoh. Dia pikir dengan punya uang dan jabatan, dia bisa nutupin rasa bersalahnya karena ngilang. Dia ngerasa rendah diri di depan lo, makanya dia nyerang lo duluan biar nggak kelihatan lemah."
"Tapi dia bilang aku nggak melakukan apa-apa selama dia di London!" Raia mendongak, matanya merah dan sembap. "Dia nggak tahu tiap malam aku cuma bisa liatin profil dia yang nggak aktif... Dia nggak tahu aku hampir gila!"
"Gue tahu, Ra. Kita semua tahu," ucap Galang lembut. "Makanya, sekarang jangan pikirin dia dulu. Lo nggak sendirian. Soal biaya rumah sakit, biar gue sama Dimas yang urus. Lo nggak perlu tunduk lagi sama ancaman dia."
Momen ini merubah segalanya bagi Raia. Di tengah kehancuran hatinya karena perlakuan Arlan, ia menyadari bahwa ia masih memiliki sahabat sejati yang tidak pernah berubah. Sementara itu, di kejauhan, lampu belakang mobil Arlan sudah menghilang, meninggalkan mereka dalam sunyi yang pedih.