NovelToon NovelToon
Bocil Milik Mafia Hyper

Bocil Milik Mafia Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cintapertama / Nikahmuda / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Pandaimut

Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Identitas Terbongkar

Malam mulai turun perlahan. Di kamar Aca, suara permainan dari layar monitor masih terdengar.

Bara dan Aron duduk di lantai seperti dua remaja yang sedang menghabiskan waktu luang, padahal kenyataannya salah satu dari mereka adalah ketua mafia paling ditakuti di kota.

Bara menggerakkan stiknya dengan cepat. “Woy woy woy! Jangan curang!” protesnya.

Aron hanya tersenyum tipis tanpa memalingkan mata dari layar. “Kalau kalah jangan cari alasan.”

“Anjir….” Bara menatap layar dengan kesal ketika karakter miliknya kalah lagi. “Lo latihan diam-diam ya?”

Aron santai saja. “Gak ada waktu buat main main gue.”

Bara mendengus. “Dasar Lucifer.”

Aron hanya tersenyum miring mendengar julukan itu. “Yeah, it’s me.”

Tepat saat itu ponsel di meja bergetar keras.

Bzzzt.

Aron melirik sekilas. Lalu alisnya langsung turun sedikit. Ia mengambil ponsel itu dan melihat layar.

Ekspresinya yang tadi santai langsung berubah dingin. Bara memperhatikan perubahan itu. “Kenapa?”

Aron berdiri. Nada suaranya sekarang jauh lebih rendah. “Ada penyusup.”

Bara langsung serius. “Di mana?”

“Markas.”

Hanya satu kata. Namun cukup membuat suasana kamar berubah drastis. Aron mengambil jaketnya yang tadi ia letakkan di kursi.

Dalam hitungan detik aura santai yang tadi ada menghilang sepenuhnya. Yang berdiri di sana sekarang bukan lagi pria yang bermain PlayStation.

Melainkan sosok yang memimpin dunia gelap kota itu. “Gue pergi dulu jaga Aca.” katanya singkat.

Bara mengangguk. “Berapa orang?”

“Belum jelas.”

Aron berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar ia melirik sebentar ke arah kamar mandi.

Di dalam sana suara shower masih terdengar.

Aron menatap pintu itu beberapa detik. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia keluar dari kamar.

Langkahnya cepat menuruni tangga mansion.

Beberapa menit kemudian suara mobil sportnya menghilang dari halaman.

Sementara itu di markas.

Gudang besar di pinggir kota yang terlihat seperti bangunan kosong bagi orang luar. Namun di dalamnya itu adalah pusat operasi salah satu organisasi paling berbahaya di dunia bawah tanah.

Ketika mobil Aron berhenti di depan gudang, beberapa anak buahnya langsung menyambut.

“Bos.”

“Situasi?”

“Lima orang penyusup.”

“Dari mana?”

“Diduga kartel Vega.”

Mata biru Aron berubah dingin. Kartel Vega.

Salah satu organisasi kriminal besar yang beberapa tahun terakhir mencoba merebut wilayah kekuasaannya.

Aron berjalan masuk ke dalam gudang. Di lantai terlihat dua orang penyusup sudah tergeletak tidak sadarkan diri.

Namun tiga lainnya masih mencoba melawan anak buahnya. Begitu melihat Aron masuk salah satu dari mereka langsung pucat.

“Shit!”

Nama Aron di dunia gelap bukan sekadar rumor. Ia adalah legenda yang hidup. Dan orang yang berdiri di depan mereka sekarang jelas bukan seseorang yang bisa mereka lawan.

Aron berjalan pelan mendekat. Setiap langkahnya terasa berat. “Siapa yang kirim kalian?”

Tidak ada yang menjawab. Salah satu penyusup malah mencoba menodongkan pistol. Suara tembakan langsung menggema.

DOR!

Namun bukan Aron yang jatuh. Melainkan penyusup itu sendiri. Anak buah Aron menembaknya lebih dulu.

Aron bahkan tidak berkedip. Ia menatap dua orang yang tersisa. “Aku tanya sekali lagi.”

Nada suaranya tenang. Namun jauh lebih menakutkan daripada teriakan. “Siapa yang kirim kalian?”

Salah satu pria akhirnya menyerah. “Vega…”

Aron tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak hangat. “Begitu ya.”

Ia menoleh pada anak buahnya. “Bakar gudang mereka.”

“Bos?”

“Semua.”

Anak buahnya mengangguk. Perintah itu sederhana. Namun konsekuensinya sangat besar.

Karena gudang kartel Vega tidak hanya satu.

Dalam beberapa jam berikutnya, beberapa lokasi milik kartel Vega di kota itu terbakar habis.

Tidak berhenti di situ. Aron juga menyerang kartel kedua yang bekerja sama dengan Vega.

Kartel Lorian. Serangan itu begitu cepat dan brutal hingga membuat dua organisasi besar itu runtuh dalam satu malam.

Dampaknya bahkan sampai ke dunia bisnis.

Beberapa perusahaan besar yang diam-diam terhubung dengan kartel tersebut langsung mengalami keruntuhan saham.

Pasar internasional ikut terguncang. Berita itu langsung meledak ke seluruh media.

Keesokan paginya. Aca sedang duduk di ruang keluarga sambil menatap layar televisi.

Di layar terlihat berita utama.

“Serangkaian kebakaran misterius menghancurkan beberapa fasilitas bisnis yang diduga terkait jaringan kartel internasional.”

Wajah Aca berubah kaget. “Ini….”

Ia langsung berdiri. “Bang! ABANGG!”

Bara yang sedang duduk santai sambil minum kopi menoleh. “Apa?”

Aca menunjuk televisi. “Ini beneran ya?!”

Bara melirik layar. “Oh itu.”

“ITU?!” Aca hampir menjerit. “Bang ini besar banget beritanya!”

Bara menyesap kopinya dengan santai. “Ya dek terus kenapa? kita gak ada masalah juga sama mereka jadi aman aja.”

“Kenapa lo santai banget?!”

Bara menatap adiknya beberapa detik. Lalu berkata dengan nada biasa. “Jangan kaget.”

Aca mengerutkan kening. “Kenapa?”

Bara mengangkat bahu. “Dia kan emang ketua Mafia.”

Beberapa detik dunia Aca terasa berhenti. “Hah…?”

Bara menatapnya. “Ketua Mafia.”

Aca mundur satu langkah. “Apa?”

“Aron.”

Bara menunjuk layar TV yang masih menampilkan berita tentang kehancuran kartel. “Itu kerjaannya.”

Aca benar-benar membeku. Wajahnya pucat. “Dia beneran Mafia? Aca pikir kemarin cuma bercanda.”

Bara mengangguk santai. “Iya.”

Jantung Aca langsung berdetak lebih cepat.

Semua kejadian beberapa hari terakhir tiba-tiba terasa berbeda.

Cara Aron berbicara. Tatapan matanya.

Aura dingin yang selalu ia miliki. Dan sekarang semua itu masuk akal. lGila….”

Aca langsung berbalik dan berlari ke arah tangga. “Dek kenapa hey?” panggil Bara.

Namun Aca sudah menghilang menuju kamarnya. Pintu kamar langsung ditutup keras.

Brak!

Aca berdiri di tengah kamar dengan napas tidak teratur. “Ketua Mafia…?”

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Berarti gue kemarin tidur di pelukan ketua Mafia.”

Panik langsung menyerangnya. “Gila. Gila. Gila.”

Ia berjalan mondar-mandir di kamar. “Kapan aja dia bisa bunuh gue!”

Aca menggigit bibirnya. “Pokoknya gue harus sembunyi dari Aron.”

Ia bahkan langsung mengunci pintu kamar dari dalam. Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar.

Bzzzt.

Aca melihat layar. Nama yang muncul membuat dadanya terasa sesak.

Alden. Mantannya. Satu pesan lalu masuk.

“Aca, kita bisa ketemu? Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu. Kali ini aja kasih aku kesempatan ya Ca.”

Aca menatap pesan itu lama. Kenangan tiga tahun hubungan mereka langsung kembali.

Tiga tahun. Namun semuanya hancur begitu saja. Karena Sinta gadis sialan yang menghancurkan hubungan mereka dengan fitnah dan drama.

Aca menghela napas panjang. Lalu mengetik balasan singkat.

“Gak bisa.”

Ia langsung mematikan ponsel dan melemparkannya ke atas kasur. Aca duduk di lantai kamar.

Untuk pertama kalinya sejak lama, matanya terasa panas. “Tiga tahun….”

Ia menunduk. “Tiga tahun gue sia-siain buat orang yang akhirnya ninggalin gue.”

Kesunyian kamar terasa berat. Di luar, matahari terus naik. Namun di dalam hati Aca semuanya terasa kacau.

Ia baru saja mengetahui bahwa pria yang terus muncul dalam hidupnya adalah ketua mafia.

Dan di saat yang sama luka lama dari hubungannya dengan Alden masih belum benar-benar sembuh.

Pintu balkon kamar Aca terbuka pelan. Udara malam yang mulai dingin langsung masuk menyapu kamar. Lampu kota terlihat berkelip dari kejauhan, membuat suasana terasa sunyi dan sedikit menyakitkan.

Aca melangkah keluar dengan langkah pelan.

Tangannya gemetar sedikit saat ia mengeluarkan sebungkus rokok dari laci kecil yang tersembunyi di dekat kursi balkon.

Ia menatap benda itu beberapa detik. “Kacau banget hidup gue hari ini.” gumamnya lirih.

Dengan gerakan terbiasa, Aca mengambil satu batang rokok lalu menyelipkannya di bibir.

Klik.

Api dari korek menyala. Ujung rokok itu mulai membara. Aca menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskan asap perlahan ke udara malam.

Selama ini memang ia merokok. Bukan kebiasaan setiap hari, tapi cukup sering ketika pikirannya sedang penuh.

Untung saja Bara tidak pernah tahu. Kalau kakaknya tahu, bisa-bisa Aca dimarahi habis-habisan.

Dan Papa Hendra juga sedang tugas di luar kota. Jadi malam ini tidak ada yang akan mengganggunya.

Aca duduk di kursi balkon sambil menatap layar ponselnya. Nama Alden masih ada di sana.

Pesan terakhirnya masih terbuka.

“Aca, kita bisa ketemu? Aku pengen ngomong. Kali ini aja kasih aku kesempatan ya Ca.”

Hati Aca terasa seperti diremas. Ia menggigit bibirnya pelan. “Terlambat,” bisiknya.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka galeri ponsel. Foto pertama muncul. Aca dan Alden tersenyum di sebuah kafe.

Foto kedua. Mereka berdua di pantai. Foto ketiga. Alden memeluknya dari belakang.

Air mata tiba-tiba jatuh begitu saja.

Aca mengusapnya dengan kasar. “Sial…”

Ia menarik napas panjang lalu menekan tombol delete. Satu foto hilang. Lalu satu lagi.

Dan satu lagi. Setiap foto yang terhapus terasa seperti bagian kecil dari hatinya ikut ditarik keluar.

Namun ia tetap melanjutkannya. Semua kenangan itu harus pergi. “Demi apa pun gue cinta sama lo,” bisiknya serak.

Air mata jatuh lagi. Namun kali ini ia tidak mencoba menahannya. “Tapi gue gak sudi nerima barang bekas.”

Kata-kata itu keluar pahit dari mulutnya. Rokok di tangannya hampir habis. Aca menghisapnya sekali lagi sebelum mematikannya di asbak kecil.

Tangannya kembali ke ponsel. Satu per satu semua foto Alden menghilang dari galerinya.

Hingga akhirnya tidak ada lagi yang tersisa.

Aca menatap layar kosong itu beberapa detik.

Lalu akhirnya ia meletakkan ponselnya di meja balkon.

Air matanya masih mengalir. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Lo jahat Alden.”

Suaranya bergetar. “Sumpah lo cowok terbrengsek yang pernah gue kenal.”

Angin malam berhembus pelan melewati balkon. Aca menunduk sambil memeluk lututnya sendiri.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama gadis keras kepala itu benar-benar menangis tanpa mencoba terlihat kuat.

Tak lama ponselnya berbunyi dan itu telfon masuk dari nomor baru.

“Siapa?” tanya Aca.

“Don’t cry baby girl, aku bisa membunuhnya sekarang juga kalau kamu masih nangisin dia!”

DEG!

“Aron….”

Aca langsung mematikan sambungan telfonnya kedua tangannya bergetar hebat sampai rokoknya pun jatuh, ia langsung lari masuk kamar dan mengunci pintu balkonnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!