Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESONAMU MENGALIHKAN DUNIAKU
Bram menghentikan pekerjaannya. melihat pada perempuannya yang sekarang terbaring tidur menikmati keindahan alam dan angin semilir pagi itu. Ia agak letih juga, apalagi sedari tadi Belinda banyak sekali bertanya, mengganggu konsentrasinya bekerja.
Ia membuang kapaknya ke bawah lalu berjalan perlahan ke arah Belinda. Dia tidur di samping Belinda, Belinda tersenyum melirik padanya.
"Aku tidak tahu apakah God mengampuniku."
"Atau para sanderaku akan menarik sumpahnya dan memaafkanku."
"Entahlah."
"Aku hanya menjalani takdir hidup."
"Bram, how poor you're."
Belinda menatap kasihan pada kekasihnya itu.
Bram mulai mendekat pada badan Belinda, ia mulai merapatkan badannya, merapatkan badannya pada gadis itu, dan kini ia menindih badan Belinda. Kini badan Belinda yang mungil sudah ada dalam tindihan Bram. Bram merapatkan badannya ke tubuh Belinda menciumi leher jenjang Belinda. Belinda kegelian dan tertawa kecil. Bram menatap Belinda.
"Kamu harus bersyukur punya kehidupan sedari kecil bergelimang harta."
"Ya, Bram."
"Banyak gadis seusiamu harus jual diri atau bekerja jadi pekerja kasar karena kehidupannya yang keras."
Belinda menatap pada mata Bram. Belinda melihat dari bawah badan Bram seperti berkilau-kilau. Wajahnya bercahaya, kulitnya yang hitam kecoklatan berkilau terkena panas matahari. Bram tampan sekali. Rambutnya hitam kecoklatan. Rahangnya keras dengan brewok tipis menghiasinya.
Bram lalu mulai merapatkan kembali badannya ke badan Belinda. Keringatnya yang mengucur di badan kini menetes ke badan Belinda. Menyatu dengan kulit Belinda. Bram seakan mengelapkan keringatnya yang membasahi badannya ke badan Belinda. Baju Belinda Basah terkena keringat Bram.
Bram mulai memeluk erat Belinda, dia mencium aroma cerry dari mulut Belinda. Belinda kegelian dipeluk Bram. Apalagi bagian perutnya yang di tengah. Sudah 23 hari sepertinya ia hidup bersama Bram, sudah seperti suami istri, dia menjalani hidup bersama Bram di beberapa hari itu seperti mommy dan Daddynya. Dari tidur bersama, makan bersama, berjalan bergandengan, dan lainnya.
Aah Bram, bahagia sekali bisa bertemu denganmu, kamu hadir ke muka bumi ini memberi pelajaran baru padanya. Tentang banyak hal. Tentang cinta, tentang memecahkan masalah, tentang meredakan emosi, tentang berpetualang, dan tentang memilih barang belanjaan yang penting-penting saja, atau tentang dunia mafia yang kejam. Bram membuatnya mendapat wawasan baru. Bram begitu mempesona. Bram begitu mempesona bagi Belinda.
Pesona Bram kekasihku, mengalihkan duniaku.
"Bram, apakah kamu benar-benar mencintaiku?"
"Mengapa harus menanyakan pertanyaan berulang kembali?"
"Aku hanya memastikan, Bram."
"Dasar wanita."
"Apakah Ku tidak boleh menanyakannya?"
"Tentu saja pertanyaan itu menjemukan. Kamu mengulangi pertanyaan itu berulang kali?"
"Itu karena aku ingin kejujuran hatimu Bram."
"Lalu, apakah harus disampaikan setiap saat, padahal kita sudah hampir setiap hari tidur bersama."
"Tapi aku butuh kepastian."
"Gila memang wanita itu, sudah demikian aku memperlakukanmu masih kau tanyakan apakah aku mencintaimu?"
"Apa sulitnya untuk menjawabnya."
"Tidak sulit, cuma membuat aku jenuh menjawabnya."
"Baiklah, aku tidak akan menanyakannya lagi Bram."
"Baguslah."
Bram lalu mengusap pipi Belinda yang merona.
"Kamu cantik sekali Belinda."
"Terima kasih Bram."
"Apakah kamu punya pacar?"
"Tentu saja."
"Oh, ya, siapa itu? Anak Gubernur atau anak pengusaha?"
"Kamu,, kamu Bram, kamu kekasihku."
"Maksudku, sebelum ini, apakah kamu punya pacar?"
"Tidak. Mereka hanya seperti kanak-kanak olehku. Mereka anak lelaki manja. Aku tidak menyukainya. Beda dari kamu."
"Oh, ya."
"Ya, Bram."
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆