NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadget Baru dan Tutorial Cepat

Aroma kopi pagi masih tertinggal di udara ruang tengah saat Rian duduk bersila di atas karpet bulu, dikelilingi oleh beberapa kotak putih elegan yang masih tersegel plastik mengilap. Di hadapannya, Lana duduk dengan posisi bersimpuh yang sangat rapi, menatap kotak-kotak itu seolah-olah mereka adalah kotak pandora yang menyimpan sihir.

"Kak Rian, itu apa? Kok kotak-kotaknya cantik banget, kayak kado pernikahan?" tanya Lana polos, matanya mengerjap penuh rasa ingin tahu.

Rian tertawa kecil, ia meletakkan tabletnya dan mengambil salah satu kotak terkecil. "Kado pernikahan pala lo peyang, Lan. Ini namanya investasi buat otak lo. Lo kan mau kuliah, masa ke kampus bawa buku tulis doang sama pulpen yang tintanya macet?"

Rian dengan cekatan menyobek plastik pelindungnya. "Ini titipan dari Arka. Dia bilang lo nggak boleh ketinggalan zaman. Jadi, ini buat lo."

Rian mengeluarkan sebuah ponsel pintar dengan layar penuh yang sangat tipis, berwarna rose gold yang berkilau mewah. Lana menerima benda itu dengan tangan gemetar.

"Loh? Kok nggak ada tombolnya, Kak? Terus Lana mau telepon Ibu gimana caranya? Dulu Lana kalau mau telepon harus pencet angka yang bunyi tut-tut itu," bisik Lana bingung. Ia membolak-balikkan ponsel itu, mencari lubang atau tombol fisik yang familiar.

"Hari gini pakai tombol fisik? Gak asik banget lo, Lan! Ini namanya touchscreen. Lo tinggal elus-elus aja layarnya kayak lo ngelus kucing," ledek Rian. "Sini lo, deketan. Gue ajarin biar lo nggak keliatan kudet banget pas masuk kelas nanti."

Rian menggeser posisinya hingga lututnya bersentuhan dengan paha Lana. Ia menyalakan ponsel tersebut, dan seketika layar itu memancarkan cahaya terang dengan resolusi yang sangat tajam. Lana terkesiap melihat gambar bunga yang sangat nyata di layar itu.

"Wah! Gambarnya hidup, Kak! Kayak ada taman di dalem kotak ini!" seru Lana takjub.

"Norak lo, sumpah," Rian nyengir, namun tangannya mulai bergerak lincah di atas layar. "Dengerin gue. Ini namanya aplikasi. Yang gambar gagang telepon ini buat telepon, yang ijo ini WhatsApp buat kirim pesan. Dan yang paling penting... ini."

Rian menunjuk ikon kamera. "Ini buat lo selfie. Biar lo bisa pamer ke temen-temen desa lo kalau lo udah jadi anak kota."

Rian merangkul bahu Lana, menarik gadis itu agar mendekat ke arahnya. Ia mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi. "Sini, liat ke layar. Senyum, Lan! Jangan tegang gitu mukanya kayak mau disuntik Bumi."

Cekrek!

Lana melihat hasilnya di layar. Wajahnya bersanding dengan wajah Rian yang tampak sangat tampan dengan kacamata dosennya. "Ih, Lana kok jadi cantik banget di sini? Kulit Lana jadi putih bersih!"

"Ya iyalah, ini kameranya mahal, nyet. Ada fitur beauty-nya otomatis," Rian menggelengkan kepala. "Sekarang, bagian yang lebih serius. Nih, buka kotak yang gede ini."

Lana membuka kotak panjang di depannya. Sebuah laptop berwarna perak yang sangat tipis muncul. Lana menyentuh permukaannya yang dingin. "Ini... talam buat makan ya, Kak? Kok tipis banget?"

Tawa Rian meledak sampai ia harus memegangi perutnya. "Talam makan?! Gila lo, Lan! Ini MacBook! Ini komputer jinjing buat lo ngerjain tugas, bukan buat naruh gelas kopi!"

Rian membuka layar laptop itu. Sekali lagi, Lana dibuat terperangah oleh teknologi yang belum pernah ia lihat. Rian mulai menjelaskan fungsi-fungsi dasar dari trackpad dan keyboard yang menyala di kegelapan.

"Liat tangan gue," Rian memegang tangan kanan Lana, menaruh jari telunjuk gadis itu di atas kotak sentuh di bawah keyboard. "Ini pengganti mouse. Lo geser-geser aja buat gerakin panahnya. Kalau mau klik, lo tekan dua kali. Pelan-pelan aja, jangan lo pukul, ntar pecah gue yang digorok Arka."

Lana mengikuti gerakan tangan Rian. Ia merasa jari-jarinya sangat kaku, namun bimbingan Rian yang sabar membuatnya perlahan mulai mengerti. Aroma parfum Rian yang seperti bau kertas baru dan vanila membuat Lana merasa tenang.

"Kak Rian pinter banget ya. Lana bangga punya Kakak dosen kayak Kak Rian," ucap Lana tulus sambil menatap Rian dari samping.

Rian terhenti sejenak. Kalimat "bangga" dari Lana terasa lebih kuat daripada pujian rektor saat ia menerbitkan jurnal internasional. Ia berdeham, mencoba menutupi rasa bangganya. "Biasa aja kali. Gue emang pinter dari lahir. Makanya lo jangan malu-maluin gue nanti di kampus. Kalau ada dosen yang nanya, bilang lo dididik langsung sama Rian, sang maestro."

"Iya, Kak Rian. Lana bakal belajar rajin!"

Rian kemudian membuka sebuah aplikasi media sosial di ponsel Lana. "Nah, sekarang gue buatin lo akun Instagram. Biar lo nggak kuper. Nama akunnya apa ya? Lana_Cantik? Nggak deh, alay banget. Lana_AnakDesa? Makin nggak nyambung."

"Nama Lana aja, Kak. Lana nggak mau aneh-aneh," usul Lana.

"Yaudah, Lana_Official aja ya biar kayak artis," Rian mengetik dengan cepat. "Dan inget pesen gue satu hal, Lan. Di dalem sini... di dunia internet ini, banyak orang jahat. Kalau ada cowok-cowok nggak jelas kirim pesan atau ajak kenalan, jangan pernah lo bales. Ngerti nggak lo? Langsung kasih tau gue atau Gaza."

Lana mengernyitkan dahi. "Emang kenapa, Kak? Kan cuma mau kenalan?"

Rian menatap mata Lana dengan serius, tangannya masih merangkul bahu gadis itu. "Gue bilang jangan, ya jangan. Di luar sana banyak serigala berbulu domba. Lo itu polos, gampang dibego-begoin. Biar gue sama yang lain aja yang jagain lo di sini. Dunia luar itu nggak asik, mending lo main sama kita-kita aja. Paham nggak lo?"

Lana mengangguk patuh, merasa sedikit takut dengan nada bicara Rian yang mendadak protektif. "Paham, Kak Rian. Lana cuma bakal bales pesan dari Kakak-kakak aja."

Rian tersenyum puas, ia mengacak rambut Lana dengan gemas. "Pinter. Nah, sekarang gue ajarin cara ngetik cepat biar lo nggak kayak kura-kura kalau ngerjain tugas."

Malam itu, ruang tengah dipenuhi dengan suara ketikan keyboard dan tawa kecil Lana saat ia berhasil mengirim pesan WhatsApp pertamanya kepada Arka yang sedang lembur. Rian mendampinginya dengan sabar, sesekali memperbaiki posisi duduk Lana atau sekadar memberikan camilan mahal yang namanya pun tidak bisa Lana ucapkan.

Bagi Lana, teknologi digital ini adalah jendela menuju dunia baru yang luas. Namun baginya, Rian adalah pemandu yang paling hebat. Ia merasa sangat beruntung. Di tengah deretan kabel dan sinyal internet, ia menemukan kasih sayang yang sangat nyata. Ia tidak sadar bahwa bagi Rian, mengajarkan Lana bukan sekadar tugas tutorial, melainkan cara untuk memastikan bahwa Lana akan selalu "terhubung" dengannya dan tidak akan pernah berpaling ke pria lain di luar sana.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!