Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23: Istana Es Abadi
Angin kencang yang menderu di pusat Benua Utara tidak lagi membawa salju, melainkan serpihan kristal tajam yang sanggup menyayat baja. Di cakrawala, berdiri sebuah struktur yang menantang akal sehat manusia: Istana Es Abadi. Bangunan itu bukanlah hasil pahatan tangan, melainkan sebuah gunung kristal tunggal yang tumbuh dari jantung dunia, memancarkan cahaya biru pucat yang menembus awan-awan hitam.
Li Chen berdiri di garis depan pasukannya. Di belakangnya, ribuan murid Sekte Iblis Bintang berbaris dengan rapi. Mereka mengenakan jubah hitam dengan sulaman teratai perak, masing-masing memancarkan aura haus darah yang telah terasah selama pertempuran di Lembah Tulang Es. Kahn, sang raksasa, berdiri di samping Li Chen dengan kapak meteoritnya yang baru, matanya terpaku pada puncak istana.
"Tuanku," suara Kahn bergemuruh. "Formasi pertahanan istana itu terhubung langsung dengan nadi bumi Benua Utara. Jika kita menghantamnya dengan kekerasan, seluruh benua ini bisa pecah menjadi dua."
Li Chen menatap pedang Takdir Sembilan Bintang yang kini telah utuh. Bilahnya hitam pekat, namun di dalamnya terdapat aliran cahaya perak yang berdenyut seperti detak jantung.
"Biarkan benua ini pecah jika perlu," jawab Li Chen dingin. "Aku tidak datang untuk menjadi raja di atas es ini. Aku datang untuk mengambil apa yang mereka curi dari keluargaku."
Li Chen melangkah maju sendirian. Setiap langkahnya menciptakan retakan hitam di bawah kakinya yang membeku. Saat ia berada dalam jarak seratus meter dari gerbang kristal istana, udara di depannya mulai memadat.
Tiga sosok berjubah emas muncul dari udara hampa. Mereka tidak memiliki wajah, hanya topeng matahari yang memancarkan cahaya menyilaukan. Mereka adalah Pembersih Langit (The Heavens' Purifiers), algojo elit yang dikirim langsung dari Kuil Matahari untuk menjaga portal rahasia di dalam istana.
"Mahluk rendah dari garis keturunan terkutuk," salah satu Pembersih bersuara, suaranya seperti ribuan logam yang bergesekan. "Langkahmu berakhir di sini. Istana ini adalah wilayah suci yang tidak boleh dinodai oleh kaki iblis."
Li Chen menyeringai, memperlihatkan taring kecilnya. "Suci? Tempat ini dibangun di atas mayat klan-ku sepuluh ribu tahun yang lalu. Aku hanya datang untuk mengambil kembali biaya sewanya."
Li Chen tidak menunggu. Ia melesat dengan kecepatan yang melampaui penglihatan manusia.
SRAK!
Satu tebasan horizontal dikirimkan. Pedang Sembilan Bintang membelah udara, menciptakan gelombang gravitasi yang menarik ketiga Pembersih itu ke pusat serangan. Para Pembersih mengangkat tangan mereka, menciptakan perisai cahaya kolektif yang sangat kuat.
DUARRRR!
Benturan itu menciptakan ledakan energi yang meratakan hutan-hutan kristal di sekeliling istana. Namun, Li Chen tidak berhenti. Ia menggunakan momentum ledakan itu untuk memutar tubuhnya di udara.
"Gerbang Kedua Belas: Pemecah Keabadian!"
Ini adalah teknik baru yang ia pahami setelah menyerap roh ayahnya. Pedangnya bersinar dengan cahaya perak yang dingin. Saat pedang itu menghantam perisai cahaya, perisai itu tidak pecah; ia menguap.
Pedang Li Chen menembus dada salah satu Pembersih. Tanpa ragu, Li Chen mengaktifkan daya serapnya.
"Seni Penelan Bintang: Pemakan Dewa!"
Pembersih itu berteriak tanpa suara saat esensi cahayanya ditarik paksa keluar dari topengnya, mengalir masuk ke dalam meridian Li Chen. Dua Pembersih lainnya mencoba menyerang dari belakang dengan tombak cahaya, namun Kahn dan pasukan Sekte Iblis Bintang sudah melompat masuk ke dalam pertempuran.
"Urusan mereka adalah milikku! Kalian hancurkan gerbangnya!" perintah Li Chen sambil melemparkan mayat Pembersih yang sudah kering ke samping.
Rahasia Jantung Bintang
Li Chen menghantamkan tinjunya ke gerbang kristal utama. Menggunakan energi Matahari Murni yang ia curi dari Lin Feng dan energi Iblis Bintang-nya, ia menciptakan ledakan termonuklir mini di titik sentuh.
KRAK... PRANG!
Gerbang setebal sepuluh meter itu hancur berkeping-keping. Li Chen berjalan masuk ke dalam aula utama yang sunyi. Lantainya terbuat dari es bening, memperlihatkan apa yang ada jauh di bawah tanah.
Di sana, di dasar istana, Li Chen melihat sesuatu yang membuatnya terpaku. Sebuah bola energi berwarna ungu gelap, sebesar sebuah rumah, sedang berdenyut perlahan. Rantai-rantai cahaya emas dari langit-langit istana menancap ke dalam bola itu, menarik energinya terus-menerus.
"Itu dia, Nak," suara Kaisar Pedang terdengar penuh kerinduan. "Itu adalah Jantung Bintang. Inti dari kekuatan klanmu yang asli. Para dewa Langit Atas menggunakan istana ini sebagai sedotan untuk menghisap kekuatan dunia ini demi keabadian mereka sendiri."
Li Chen merasakan kemarahan yang begitu hebat hingga sisik hitam di tubuhnya mulai membara merah. "Mereka memenjarakan ibuku, membantai ayahku, dan sekarang mereka mencuri jantung duniaku..."
Ia melompat turun menuju Jantung Bintang. Namun, sebelum ia bisa menyentuhnya, sebuah bayangan muncul dari balik pilar es.
"Li Chen, kau benar-benar beruntung bisa sampai sejauh ini."
Seorang pemuda dengan pakaian yang sangat dikenal Li Chen berdiri di sana. Itu adalah Jian Yu, murid jenius dari Sekte Pedang Langit yang dulu pernah menjadi "teman" Li Chen di masa kecilnya, sebelum pengkhianatan terjadi.
"Jian Yu?" Li Chen menyipitkan mata. "Kau dikirim untuk menghentikanku?"
Jian Yu tersenyum licik. "Tidak. Aku dikirim untuk memberimu hadiah."
Tiba-tiba, Jian Yu melemparkan sebuah botol kecil berisi cairan hitam ke arah Jantung Bintang. Saat cairan itu menyentuh bola energi ungu, Jantung Bintang mulai bergejolak hebat. Warnanya berubah menjadi merah darah yang tidak stabil.
"Itu adalah Racun Pemutus Jiwa," kata Jian Yu sambil tertawa. "Langit tahu mereka mungkin tidak bisa menjaganya selamanya. Jadi, jika mereka tidak bisa memilikinya, tidak ada yang boleh memilikinya. Jantung ini akan meledak dalam tiga menit, dan bersamanya, seluruh Benua Utara akan lenyap!"
Taruhan Nyawa Sang Penelan
Li Chen menatap Jantung Bintang yang mulai retak. Energi destruktif mulai bocor keluar, menghancurkan fondasi Istana Es.
"Li Chen! Kau tidak bisa menghentikan ledakannya dengan Qi-mu! Itu terlalu besar!" teriak Kaisar Pedang panik.
Li Chen menoleh ke arah Jian Yu yang mencoba melarikan diri melalui portal kecil di belakangnya. Dengan satu gerakan cepat, Li Chen melemparkan pedangnya. Pedang Sembilan Bintang menembus kaki Jian Yu, memakukannya ke lantai es.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana," desis Li Chen.
Li Chen berbalik menghadap Jantung Bintang yang membara. Ia tahu hanya ada satu cara. Sebuah cara yang bahkan Seni Penelan Bintang pun belum pernah mencobanya.
"Aku akan menelannya."
"KAU GILA?!" raung Kaisar Pedang. "Itu adalah esensi sebuah benua! Tubuhmu akan hancur dalam hitungan detik!"
"Kalau begitu, aku akan hancur sebagai pemenang, bukan sebagai pecundang yang membiarkan rakyatnya mati!"
Li Chen merentangkan tangannya. Ia melepaskan seluruh segel di Dantiannya. Sembilan bintang di punggungnya mulai berputar dengan kecepatan cahaya, menciptakan pusaran gravitasi yang begitu kuat hingga cahaya di dalam aula pun mulai melengkung.
"Seni Penelan Bintang: Bentuk Terlarang—Lubang Hitam Abadi!"
Li Chen benar-benar berubah. Tubuhnya tidak lagi terlihat seperti manusia; ia menjadi siluet kegelapan murni dengan mata perak yang bersinar. Ia menerjang masuk ke dalam Jantung Bintang yang sedang meledak.
BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!
Seluruh Benua Utara merasakan guncangan itu. Langit berubah menjadi ungu gelap selama beberapa menit. Di dalam istana, ledakan itu tertahan di dalam tubuh Li Chen. Ia merasakan setiap sel di tubuhnya robek dan terbentuk kembali ribuan kali dalam sedetik.
Darah emas, darah hitam, dan energi ungu Jantung Bintang bercampur di dalam nadinya.
"ARGHHHHHHHHHH!"
Raungan Li Chen meruntuhkan seluruh langit-langit Istana Es. Perlahan, bola energi raksasa itu mulai mengecil, tersedot masuk ke dalam pusaran di dada Li Chen. Saat sisa terakhir energi itu masuk, Li Chen jatuh berlutut.
Kultivasinya meledak melampaui segala batas.
Ranah Transformasi Dewa (Deity Transformation)... Tahap Awal... Tengah... Puncak!
Bahkan, auranya mulai menyentuh ranah yang belum pernah dicapai oleh siapa pun di dunia bawah selama ribuan tahun: Ranah Kenaikan (Ascension Stage).
Menuju Gerbang Penjara
Li Chen berdiri di tengah reruntuhan istana yang kini sudah tidak bersinar lagi. Di depannya, Jian Yu gemetar hebat, melihat sosok yang kini memancarkan tekanan yang sama dengan para Dewa Agung Langit Atas.
Li Chen berjalan mendekati portal rahasia di belakang Jian Yu. Ia menginjak kepala Jian Yu tanpa emosi. "Terima kasih atas racunnya. Itu membuat Jantung Bintang lebih mudah untuk kucerna."
Li Chen menatap portal yang memancarkan cahaya emas redup. Di balik portal itu, ia bisa merasakan kehadiran ibunya yang semakin dekat.
"Kahn!" teriak Li Chen.
Kahn dan sisa pasukannya masuk, mereka bersimbah darah namun pemenang. Mereka terpana melihat transformasi Li Chen. Li Chen kini memiliki rambut perak panjang yang melayang-layang dan tanda bintang di dahinya memancarkan cahaya ungu yang megah.
"Tuanku... Anda..." Kahn tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Sekte Iblis Bintang, dengarkan aku!" suara Li Chen bergetar dengan hukum alam. "Istana ini telah jatuh. Jantung Bintang telah kembali ke pemiliknya yang sah. Sekarang, kita tidak akan lagi bersembunyi di salju."
Li Chen menunjuk ke arah portal. "Di balik gerbang ini adalah penjara ibuku. Di balik gerbang ini adalah rumah para penindas kita. Siapa yang berani mengikutiku masuk ke jantung musuh?!"
"KAMI MENGIKUTI SANG PENGUASA BINTANG!" raung ribuan murid serentak.
Li Chen melangkah masuk ke dalam portal. Saat ia melewatinya, ia merasakah tarikan dimensi yang kuat. Namun kali ini, ia tidak lagi masuk sebagai tawanan atau penyamar.
Ia masuk sebagai bencana yang akan menghancurkan fondasi Langit Atas. Perang besar yang sesungguhnya telah dimulai.