NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Pintu utama penjara wanita terbuka dengan bunyi logam berat yang bergema di udara subuh. Langkah sepatu kulit terdengar mantap menyusuri lorong. Para petugas yang berjaga otomatis menegakkan tubuh mereka.

Di depan, berdiri seorang pria dengan tatapan tajam dan aura wibawa yang sulit diabaikan.

Adrian Li.

Ketua petugas penjara wanita segera menghampiri dengan wajah pucat. Napasnya belum sepenuhnya teratur setelah berlari.

“H-Hakim Li…” suaranya terdengar kaku.

Adrian berhenti tepat di hadapannya. Tatapannya dingin, tidak terburu-buru, tapi penuh tekanan.

“Di mana Jessica Zhou?” tanyanya tanpa basa-basi.

Ketua petugas menelan ludah. “Dia… berada di ruang eksekusi, tapi prosesnya sudah dihentikan.”

Mata Adrian menatap tajam. “Sudah dihentikan?” ulangnya pelan, namun justru itu yang membuat suasana makin mencekam. “Siapa yang memerintahkan percepatan eksekusi?”

Tidak ada jawaban langsung. Para petugas saling melirik.

“Aku bertanya,” suara Adrian kini lebih rendah, “siapa yang memberi perintah?”

Ketua petugas akhirnya menjawab dengan suara gemetar. “Kami menerima panggilan… perintahnya datang secara mendesak. Mereka mengatakan keputusan sudah final.”

“Mereka?” Adrian melangkah satu langkah lebih dekat. “Nama. Jabatan. Nomor surat resmi.”

Ketua petugas terdiam. Keringat dingin mulai terlihat di pelipisnya.

“Tidak ada surat tertulis?” tanya Adrian lagi.

“Belum… belum sempat dikirim,” jawabnya lirih.

Rahang Adrian mengeras.

“Tanpa surat resmi dari Pengadilan Tinggi Provinsi S, kalian hampir mengeksekusi seorang tahanan secara ilegal,” ucapnya tegas. “Itu bukan hanya pelanggaran prosedur. Itu kejahatan.”

“Aku ingin bertemu Jessica sekarang,” lanjut Adrian. “Dan setelah itu, kau ikut denganku ke ruang administrasi. Semua rekaman, semua catatan panggilan, aku ingin melihatnya.”

“Baik… Hakim Li,” jawab ketua petugas dengan kepala tertunduk.

Adrian berjalan melewati mereka, langkahnya mantap menuju ruang eksekusi.

Ketika pintu ruangan itu dibuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok gadis yang masih terduduk lemah di kursi, rambut berantakan, wajah basah oleh air mata.

Jessica Zhou.

Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Dan badai yang hampir merenggut nyawanya kini berubah arah.

Adrian kemudian memandang satu per satu wajah di hadapannya sebelum akhirnya berbicara.

“Mulai saat ini,” suaranya tenang namun tegas, “Jessica Zhou tidak lagi ditempatkan di blok umum penjara ini.”

Para petugas saling melirik.

“Berdasarkan kewenangan Pengadilan Tinggi Provinsi S, saya memerintahkan pemindahan tahanan ke fasilitas pengamanan khusus di Kota S sampai investigasi atas prosedur eksekusi selesai.”

Ketua petugas tertegun. “Pemindahan… hari ini, Hakim Li?”

“Hari ini. Sekarang,” jawab Adrian tanpa ragu. “Proses dilakukan di bawah pengawalan resmi. Tidak ada komunikasi eksternal tanpa izin tertulis.”

Jessica mengangkat wajahnya perlahan. Matanya masih merah, tetapi kini ada kebingungan bercampur harapan.

Adrian melanjutkan dengan nada formal, “Tujuan pemindahan ini untuk menjamin keselamatan tahanan dan menjaga integritas proses hukum. Semua dokumen administrasi disiapkan dalam tiga puluh menit.”

Max yang baru tiba langsung menuju ke ruangan eksekusi dan berhenti di dekat pintu. Ia mendengar perintah itu dengan jelas.

“Max,” panggil Adrian.

“Siap.”

“Kau pimpin pengawalan. Pastikan rute steril dan tidak ada intervensi dari pihak mana pun.”

“Dimengerti.”

Adrian kembali menatap ketua petugas. “Jika ada keberatan administratif, ajukan melalui jalur resmi. Namun perintah ini tetap berlaku.”

Tidak ada yang berani membantah.

Ia menoleh kembali ke arah Jessica yang masih berdiri dengan tubuh belum sepenuhnya stabil.

“Panggil petugas medis jaga sekarang. Saya ingin pemeriksaan fisik lengkap sebelum pemindahan dilakukan.”

Perintah itu tegas dan tidak bisa ditawar.

“Baik.”

Ketua petugas segera memberi instruksi melalui radio internal. Tak lama kemudian, seorang petugas medis penjara datang dengan tas pemeriksaan.

Adrian tetap berdiri pada jarak profesional. Tangannya terlipat di depan, ekspresinya netral. Namun matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Jessica.

“Periksa tekanan darah, detak jantung, kondisi pergelangan tangan, dan respons neurologis dasar,” ujarnya kepada petugas medis. “Catat semuanya. Jika ada indikasi syok atau cedera, laporkan segera.”

“Siap, Hakim Li.”

Jessica duduk kembali saat diperiksa. Tangannya masih sedikit gemetar ketika alat tensi dipasang. Detak jantungnya terdengar lebih cepat dari normal.

Beberapa saat kemudian

Petugas medis selesai memeriksa Jessica, lalu berdiri menghadap Adrian.

“Laporan singkat, Hakim Li,” ujarnya formal.

Ia melihat kembali lembar laporan medis di tangannya sebelum berbicara.

“Tekanan darah 142 per 92. Denyut nadi 104 per menit. Peningkatan ini konsisten dengan respons stres akut.”

Jessica menunduk, napasnya mulai lebih teratur dibanding beberapa menit sebelumnya.

“Kesadaran penuh. Respons pupil normal. Tidak ditemukan cedera fisik serius. Hanya iritasi ringan pada pergelangan tangan akibat pengikatan sebelumnya.”

Petugas medis berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Tidak ada tanda syok kardiovaskular atau gangguan neurologis. Kondisi stabil dan aman untuk dipindahkan, dengan pengawasan ringan selama perjalanan.”

Adrian mengangguk pelan.

“Catatan tertulisnya serahkan ke ruang administrasi. Sertakan waktu pemeriksaan dan nama Anda.”

“Baik, Hakim Li.”

Jessica menggenggam ujung kursinya perlahan. Tubuhnya masih lemah, tetapi kini bukan karena ancaman mesin listrik—melainkan karena sisa ketegangan yang belum sepenuhnya pergi.

Adrian menatapnya sekilas.

“Jika merasa pusing selama perjalanan, beri tahu petugas,” katanya formal.

Jessica mengangguk pelan. “Iya.”

“Perintahkan rekanmu yang lain untuk menemui Hakim Chen sekarang juga,”ucap Adrian pada Max

Max sedikit mengernyit. “Hakim Chen?”

“Ya,” jawab Adrian singkat. “Jika ada pihak yang berani menyebut keputusan sudah final tanpa dokumen resmi, maka saya ingin klarifikasi langsung dari beliau.”

Max segera memberi instruksi melalui alat komunikasinya. “Tim dua, bergerak ke kantor Hakim Chen. Pastikan beliau mengetahui situasi ini dan minta konfirmasi tertulis.”

“Dimengerti.”

Adrian melangkah perlahan menuju pintu keluar ruang eksekusi, lalu berhenti.

“Max,” panggilnya lagi.

“Ya.”

“Jika dalam satu jam tidak ada klarifikasi resmi, kita ajukan investigasi internal ke dewan pengawas peradilan.”

Max mengangguk tanpa ragu. “Saya mengerti.”

1
Maria Mariati
hehhhhh
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!