NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma, Iman, dan Magi

Jam di tangan sudah menunjukkan pukul delapan malam, tetapi aku tetap berdiri di belakang kafetaria sambil memandang gedung-gedung sekitar dan bulan sabit yang sangat cantik di atas kepalaku. Momen setelah presentasi percobaan kedua dengan Pak Bos dan kawan satu tim memberikan hasil yang cukup memuaskan untuk mereka, dan luar biasa untuk diriku sendiri. Pak Bos hanya memandang proposal di layar proyektor ketika aku selesai menjelaskan, namun ia berkata satu hal yang membuatku merasa lega hingga sekarang. Katanya, ide eksekusi activation cenderung sama dimanapun, tapi perbedaannya hanyalah alasan kenapa kita membuatnya. Kesimpulannya, ia merasa aku sudah mengerti poin tersebut. Tipikal bos seperti inilah yang membuat karyawannya begitu bersyukur punya waktu santai di jam delapan malam, walau masih di kantor.

“Galau sih boleh, tapi jangan bunuh diri plis.”

Aku menoleh ke arah belakangku dan tersenyum kepadanya seketika. Iman datang menjemputku ke kantor. Ia bilang sedang berada di dekat kantorku tadi petang karena baru saja kopi darat di café seberang gedung dengan penjual kamera jadul idamannya.

“Beli apa lagi sih, Man? Kamera lo udah menuhin satu kamar, tahu!

“Emang kenapa sih? Kan gue udah nyari kamera ini dari jaman kuliah.”

“Itu kamera apa sih? Tampak berat kayaknya.”

“Kepo sih!”

“WOY!”

Iman hanya nyengir. Ia membuka tempat pelindung kamera tersebut dan menunjukannya kepadaku. Ia menyerahkan pelan-pelan dan membiarkanku mengamatinya dari jarak dekat.

“Namanya Lubitel Two, kamera buatan Rusia. Kalau lo tau kamera gue yang warna-warni dan sering gue pake untuk fotoin lo sama Magi, nah ini masih dari produsen yang sama. Berat memang karena ini kamera lama, dibuat pertama kali antara tahun 1954 dan 1980.”

“Maksud lo kamera Lomo?”

Iman menaikkan alisnya bergantian.

“Mau gue jelasin nggak cara kerjanya? Terus gimana hasil fotonya?”

“Nggak usah. Lo udah sering banget nguliahin gue tentang kamera. Udah cukup.”

“Tapi yang ini beda.”

“Cukuuuuup.” Sahutku menyodorkan satu jari ke arah mulutnya.

Iman menutup kembali kameranya dengan sarung khusus. Lalu ia mengalungkan kamera yang sangat berat itu ke lehernya.

“Udah baikan? Gimana hasilnya? Bos lo masih hidup?”

Aku menatap Iman dengan bibir tersungging sebelah, “Menurut lo???”

“Tapi tampaknya lo sudah kembali menjadi Najma yang biasanya, ya?”

“Emang kayak gimana tuh?”

“Hm, pokoknya yang gimanapun mimik mukanya tetep lucu sih.”

Aku menoleh lagi menatap Iman, namun mataku begitu penasaran terhadap maksud Iman akhir-akhir ini.

“Kok lo akhir-akhir ini selalu berucap hal yang membingungkan sih, Ims?” Aku menghadap ke arahnya. Iman mengikutiku.

“Membingungkan gimana, sih?”

“Ya ini, muji-muji gue mulu. Lo suka sama gue, ya?”

“Iya. Lo kan udah tahu.”

“Hah? Udah tahu? Nggak!”

“Lah, emang gue nggak ngasih tahu, ya?”

“Kapan? Gue nggak pernah ngerasa lo suka sama gue. Lagian, kita kan temen, Ims.”

“Emang temen ga bisa suka-sukaan?”

“Ya, bukan gitu sih maksud gue. Tapi sejak kapan lo suka sama gue? Ini maksudnya suka kayak cowok ke cewek, kan?”

“Yaiyalah!”

“Ya kan lo selalu bilang gue kayak cowok!”

“Itu cuma pas lo pake sepatu dokmart item kayak pak satpam. Sebel gue lihatnya! Gue kan pengen punya juga tapi harganya mahal!”

“Zzzzz. Makanya jangan beli kamera mulu!”

“Eh, lo ngomong tuh sama kaca, jangan beli sepatu cowok mulu!”

“Ih, kok lo nyolot sih sekarang? Kan lo lagi nembak gue!”

“Ih siapa yang nembak lo? Ge to the Er! Gembel!”

Aku tak pernah bisa memberikan respon yang paling pantas untuknya, makanya kuinjak saja kakinya dengan sepatu platform taliku yang berwarna hitam dengan motif pisang.

“Ya ampun! Itu sepatu apa batu-bata sih!”

Aku hanya sinis memandangnya. Tapi sebenarnya aku tahu, Iman begitu gugup di depanku. Iman biasanya tidak pernah berkata dengan nada sol-la-si-do ke atas. Kalau sudah nada tinggi begitu, sudah pasti pertanda dia sedang salting berat. Tidak sia-sia aku mengenalnya selama sembilan tahun. Aku terkekeh melihat tingkahnya yang melotot kalau sedang kesal.

“Jadi lo suka sama gue, nih? Cie, Iman Giza Rahadi naksir gue.”

“Ih malah digodain. Udah sih, kan malu.”

“Terus Magi tahu?”

“Nggak.”

“Lah? Lo kan lebih dekat sama Magi daripada sama gue.”

“Suka-suka gue lah mau ngasih tahu atau nggak! Kok lo yang pusing.”

Aku gemas sekali dibuatnya. Kucubit lengan kanan Iman yang terbungkus jaket hoodie tebal membaluti tubuhnya. Selain kolektor kamera aneh, Iman juga senang sekali pakai sweater atau jaket hoodie.

“Kenapa nggak naksir Magi aja? Doi kan lebih cute dan girly.”

“Najma, kalo gue bisa milih kepada siapa gue naksir orang, mending gue naksir Miranda Kerr. Cantik kemana-mana. Lo berdua mah lewat.”

“Gih sana ke Amrik, kepoin tuh Miranda Kerr sampai mati.”

“Cie cemburu nih. Asik dicemburuin Najma. Haha.”

Aku melihatnya lagi keheranan, “Di otak lo ada apa sih, Ims? Jemuran belum kering ya?”

“Enak aja! Otak gue penuh sama lo, ngerti?”

“Asik.”

“Dih, ini anak dikasih tahu malah asik. Udah ah, pulang yuk. Gue pulang naik motor lo naik kopaja.”

“Hah?”

“Hahaha. Yuk ah, my gebetan.”

“Apa sih? Haha.”

**

Kami bertiga berada di café lucu langganan yang memiliki menu Chocolate Mint gelas besar untuk bersama-sama dinikmati di sabtu sore yang begitu ramai pengunjung. Bedanya, Magi hanya menatap wajahku dan Iman secara bergantian.

“Apa sih, Gi?” tanyaku tak mengerti.

“Gue masih harus membiasakan diri untuk melihat kalian berdua sebagai pasangan pacaran nih.”

“Kita belum pacaran, Gi.” Terang Iman sambil memotret diriku dengan kamera mirrorlens-nya. Bisa dipastikan wajah kagetku akan jadi bahan ledekan di kemudian hari.

“Terus kapan pacarannya?” Magi bertanya lagi.

“Pedekate dulu aja. Iya, nggak?” Iman meminta dukungan kepadaku dengan senyuman alisnya yang khas.

“Pedekate aja izin, heran.”

“Ya, kan kalau diizinin gue maju. Kalau nggak kita akan tetap berteman gitu.”

“Jadi lo nggak mau effort kalau nanti-nanti ditolak?” mataku terbelalak ke arahnya. Aku benar-benar tak mengerti dengan pola pikirnya.

“Lo beneran suka sama gue atau cuma biar ngisi waktu lo aja sih?”

“Beneran lah! Semenjak gue putus dari Marina sang putri laut, gue nggak pernah suka lagi sama cewek.”

“Lo yakin udah ngelupain dia? Pacar tiga setengah tahun yang ninggalin lo demi cowok baru?”

“Jangan ngeledek deh. Gitu-gitu dia yang paling spesial di antara mantan-mantan gue yang lain,“ Iman melirik sinis padaku dan menggeser bangkunya ke arah Magi, “si Najma ini sebenarnya suka sama gue atau nggak, sih? Dia pernah curhat tentang gue, nggak?”

Magi hanya menggelengkan kepalanya lalu meminum hot cappuccino yang masih cantik dengan hiasan dedaunan di atas cangkirnya.

“Nanti gue bawain kamera range finder gue yang paling gue sayang buat gue foto-fotoin lo, ya. Lo kapan lagi punya waktu buat gue jadiin model?”

“Kapan ya? Besok juga nggak apa-apa sih.”

“Oke. Besok kita ketemu deh di sini.”

“Jemput aja ke rumah kenapa, sih?”

“Yah, besok gue mau nganter nyokap dulu. Sekalian aja jadi lo nunggu sini. Gue jemput dari sini, ya!”

“Magi, ikut yuk!” ajakku semangat. Magi sedari tadi hanya diam menyaksikan obrolan tak penting antara aku dan Iman.

“Nggak deh. Kalian kan mau kencan jadi gue nggak akan ganggu. Besok gue mau ngasuh keponakan, hehe.”

“Yah, kencan sama Iman nggak akan asyik kalo nggak sama lo. Tapi, yaudah deh. Apa boleh buat.” ujarku lesu.

“Mana ada kencan bertiga, Ma.” Sahut Iman datar. Aku dan Magi langsung menatapnya dan bergantian menatap satu sama lain.

**

Aku dan Iman sudah berada di taman bunga anggrek yang tak jauh dari rumahnya. Aku melihat-lihat semua bunga yang sudah disusun sebegitu rapinya dan langsung memindahkan keberadaanku ke lahan penuh dengan bunga warna ungu dan pink yang memiliki beragam gradasi. Seketika aku membuka mata, kulihat ribuan bunga di depanku memenuhi lahan sepanjang mata memandang, seakan-akan bunga-bunga di depanku tak pernah putus tumbuhnya. Begitu luas seakan-akan hanya aku manusia di muka bumi ini. Seakan-akan aku mengerti perasaan Sandra Bloom di film Big Fish ketika ia dikejutkan dengan pemandangan penuh dengan bunga bakung berwarna kuning.

“Najma lihat sini, dong.”

Aku membuka mata dan begitu merasa terganggu karena Iman telah merusak imajinasiku. Aku menoleh ke belakang dengan memasang wajah sebal. Iman langsung memotret secara spontan hingga aku tak punya persiapan.

“Yah, kok manyun?”

“Nggak apa-apa. Coba foto lagi.”

Untuk menghibur sang fotografer, aku mencoba tersenyum ceria. Aku bergaya seperti layaknya anak perempuan yang sedang bertamasya dengan ayahnya dan bersiap membuat kenangan bersama di tempat yang pastinya tak terlupakan.

Aku dan Iman duduk di pelataran teras sangkar besar bunga anggrek yang sudah kita jelajahi bersama. Duduk sambil memakan es krim pembelian Iman dari minimarket seberang, aku dan Iman sangat menikmati waktu siang hari yang panas namun tak berasa karena kami dilindungi pepohonan di sekitar.

“Lo tahu nggak, gue punya temen yang pacarnya agak nggak waras. Masa dia masuk ke grup chat kita cuma untuk monitor pacarnya ngomongin apa aja?!”

“Hah? Ada?”

“Ada! Bahkan dia pernah chat gue secara pribadi untuk nanya bahasan di grup chat itu karena dia nggak ngerti tapi terlalu gengsi untuk nanya langsung. Gue sih sebenarnya ya, agak males sama dia. Kita kan cowok-cowok jadi nggak bebas mau ngebahas hal-hal yang seru. Pernah nih, temen gue yang lain ngirim foto cewek yang seksian dikit cuma untuk lucu-lucuan, eh tuh cewek marah. Kata dia kita semua tuh penjahat kelamin dan nggak penting. Dia marah-marah karena kita dirasa bukan teman yang baik buat pacarnya.”

Aku hanya mendengarkan dengan saksama curhatan Iman yang sebenarnya tak terlalu menarik untukku. Kenapa dia ngomongin cewek orang, ya?

“Yaaa, tapi karena dia pacarnya temen kita ya kita bisa apa coba? Gue dan anak-anak yang lain sih berusaha maklum. Cewek tipe bipolar seperti itu nggak layak untuk diladenin.”

“Bipolar?”

“Iya. Kalau lagi happy sama pacarnya pasti pamer foto di grup dan muji-muji pacarnya secara langsung. Tapi kalau lagi marah semua omongan kasar yang nggak pantas diucapkan perempuan dilontarkan gitu aja di grup. Emosinya nggak stabil dan ekstrim. Apa namanya kalau bukan bipolar?”

“Bipolar itu kan gangguan kejiwaan. Kalau dia sedang berada dalam masa manic atau mania, dia akan benar-benar sangat enerjik dan semangat banget seakan-akan nggak butuh siapapun karena percaya diri berlebihan. Tapi, saat dia mengalami depresi alias super murung karena penuh tekanan, dia akan terus begitu hingga waktu yang cukup lama sampai ke fase ingin bunuh diri karena dampak depresi orang bipolar tuh negatif banget. Kalau memang ciri-ciri pacar temen lo seperti itu, mending putusin aja deh. Buat apa pacaran kalau nggak bikin happy?” Aku membuang bungkus es krimku ke tempat sampah yang tidak jauh dari posisiku, “Lagian lo nggak ngasih tahu dia apa kalau tindakannya tidak terpuji dan bikin ganggu?”

“Udah! Kita tuh bahkan sampai bikin grup chat baru. Tapi dasar lebay, dia tahu aja dan masukkin nomor dia sendiri ke grup chat itu. Lelah deh pokoknya, berhubungan sama dia.”

“Such a drama queen.”

“Jangan gitu ya, Najma. Lo tahu kan sekarang begitu banyak cewek lebay di dunia ini? Lo harus tunjukkin sama mereka jenis cewek apa yang seharusnya muncul di muka bumi. Gue kalau jadi Superman, dibanding harus berantem sama Batman, mending gue musnahkan cewek-cewek labil nan lebay kayak dia ini.”

“Impian lo tuh fantasi abis.”

“Tapi fantastis kan?”

“Nggak, biasa aja!”

Aku memandang wajah Iman yang sibuk menjilat es krim yang semakin encer hingga mengotori tangannya. Sambil bertanya dalam hati, apakah begini cara Iman menaklukkan hati perempuan-perempuan yang ia sukai? Apakah ia lebih senang membicarakan kasus orang lain ketimbang pembicaraan yang fokus kepada diri sendiri, atau topik menarik yang berhubungan dengan mimpi masing-masing?

Aku sudah mengenal Iman dari masa ABG dan baru benar-benar akrab dengannya ketika kelas tiga SMA. Aku hanya tahu bahwa Iman adalah jenis makhluk hidup yang usil dan senang menggangguku setiap malam sebelum tidur, apalagi pada masa-masa ujian akhir nasional. Di jam sepuluh malam ia akan meneleponku dan ketika kuangkat teleponnya, ia memutuskannya begitu saja. Terus saja begitu hingga aku kesal dan mengirimkan pesan kepadanya.

“IMAN BISA NGGAK SIH LO NGGAK MISKOL TIAP MALEM?”

Dan hanya dijawab dengan, “Tidur kali. Mau lulus nggak? Belajar keras tapi kalau telat buat apa?”

Chat-ku yang penuh kemarahan dengan huruf kapital tidak pernah berarti baginya. Dia akan lebih senang jika membuatku marah-marah.

**

Jam dua belas di kantor.

Aku berdiri dengan sigap dari bangkuku dan berencana untuk makan siang bersama Gian di warung belakang, tapi tampaknya harus aku tunda karena tiba-tiba ada panggilan telepon dari Magi dan harus aku angkat sesegera mungkin karena jika tidak, Magi akan memarahiku lewat telepon rumah nanti malam, dan itu sungguh merepotkan.

“Iya Bu Dosen, ada apa sih?”

“Gimana kencannya kemarin?”

“Kencan? Itu sih main doang ke Taman Anggrek.”

“Loh? Kok bisa? Tapi pasti seru, kan?”

“Ya gitu deh. Gue nggak mengalami perubahan emosi yang signifikan pas jalan sama Iman. Kayak biasanya aja. Nggak ada yang aneh.”

“Lo harus membuka hati buat Iman. Coba lo anggap dia sebagai lelaki tulen yang siapa tahu bisa membuat lo berdegup-degup karena gugup.”

“Hih.”

“Kok hih?”

“Ahaha. Nggak tahu gue juga. Kok gue hih?”

“Ih, dasar dodol! Ya udah ah, gue mau makan. Daah, Nanas!”

“Yow!”

Aku menutup telepon Magi dan bergegas menuju lift karena aku tahu Gian sudah menunggu. Gian si pria gemuk lucu, aku datang!

**

Sebagai informasi saja, aku merasa sebenarnya Iman tidak terlalu menyukaiku. Jika harus kurinci alasannya, bisa dijelaskan sebagai berikut:

Iman tidak pernah mengucapkan ‘selamat pagi’ dan ‘selamat malam’. Padahal menurutku, itu adalah ungkapan dasar tahap pedekate.

Iman pasti chat duluan, tapi itu terjadi pada waktu-waktu yang tidak bisa ditebak. Misalnya saja saat ini, ia menyapaku dengan kata “Hai, Najma,” lalu langsung kubalas, “hai, Ims!” dan akan dibalas kembali dengan, “lagi apa?” tiga jam kemudian. Aku akan membalas saat itu juga dengan, “sekarang lagi ngetik, tadi pas gue bales sebelumnya lagi makan siang. Lo dimana sih?” dan akan ia balas lagi dengan, “Ini abis meeting. Makan dulu, yak,” empat jam kemudian.

Iman selalu meneleponku setiap larut malam, tepat di saat jam tidurku yang pastinya sudah ia ketahui sebelumnya. Kata-kata pengantar sebelum menelepon adalah, “Najma, belum tidur kan? Gue pengen denger suara lo dong, bentar.” Tapi nyatanya, ia meneleponku selama satu jam bahkan hingga aku ketiduran.

Iman juga tidak pernah memintaku bertemu lebih sering. Mungkin jika Magi tidak mempertemukan kami di jadwal biasa kami nongkrong, Iman tidak akan memintaku bertemu berduaan saja. Aku juga tidak pernah bertanya karena aku tahu ia hanya akan menjawab, “sibuk, Ma. Lo tahu gue kan.”

Walaupun ia langsung izin padaku untuk pedekate, tapi rasanya aku tidak pernah merasa ada perubahan yang berarti. Ia tetap Iman yang biasanya, namun dengan motif yang berbeda. Di saat kami bertemu pun, aku tak pernah menangkap pandangannya yang mengarah kepadaku. Ia hanya memandangku seperti biasanya dan membicarakan topik yang ia rasa menarik seperti biasanya.

Dengan ciri-ciri seperti itu, tidak mengherankan bukan jika aku ragu terhadap perasaan Iman? Karena sepengalamanku, jika seorang lelaki menyukaiku, akan ada sikap yang aku terima untuk membuatku merasa begitu disukai. Akan ada perlakuan berbeda dan lebih manis dibandingkan hari-hari biasanya. Jika kamu mengerti maksudku, pasti akan ada perubahan yang terjadi dalam hidupmu kalau memang benar ada yang menyukaimu dan mengejarmu.

Tujuan pedekate adalah untuk pacaran, bukan? Atau jika lebih serius lagi, pasti untuk ke jenjang pernikahan, bukan?

Untuk kasus Iman aku masih tak mengerti, kemana ia akan membawa hubungan kami. Jujur saja, sebagai perempuan aku hanya berusaha membuka hati, apalagi karena Iman merupakan sahabatku, itu berarti aku tak perlu menjadi orang lain untuk bisa bersamanya. Aku tak perlu memperkenalkan diriku lagi karena ia begitu memahamiku apa adanya.

Kupikir, semua lelaki akan bersikap sama jika menyukai seorang perempuan. Kupikir, sikap kasmaran seorang lelaki akan sama kepada setiap perempuan yang ia suka. Seperti Aga kepadaku, betapapun banyak tantangannya.

Tapi, apa yang Iman inginkan dariku? Aku masih tak mengerti apa maksudnya.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!