NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10:Sia-sia

Aku bukanlah tipe orang yang gemar bermusuhan. Bagiku, kebencian adalah beban yang terlalu berat untuk dibawa di pundak anak remaja. Meskipun sikap Syasya mulai berubah drastis dan Amani terasa semakin menjauh hingga ke galaksi yang berbeda, aku masih berusaha sekuat tenaga untuk berbaik sangka. Husnuzon, gumamku dalam hati berkali-kali. Mungkin mereka hanya sedang tertekan dengan tumpukan tugas Biologi atau Kimia yang mulai menggila. Mungkin juga, aku saja yang terlalu sensitif, terlalu banyak memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berarti.

Pagi itu, suasana kelas terasa lebih dingin dari biasanya, meski matahari bersinar terik di luar. Aku melihat Syasya duduk di bangkunya, asyik dengan dunianya sendiri.

"Syasya, ini nota Biologi yang mau kamu pinjam kemarin. Sudah aku bantu ringkas sedikit supaya lebih mudah dihapal," ucapku sambil menyodorkan buku catatan bersampul cokelat itu saat kami sedang menunggu guru masuk.

Syasya mengulurkan tangan, meraih buku itu tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dariku. Matanya tertuju pada layar ponsel yang sedang ia pegang bersama Hilya. Mereka sedang asyik berbisik, sesekali terkikik kecil melihat sesuatu di sana.

"Oh, thanks," jawabnya pendek, datar, dan tanpa nyawa. Setelah itu, dia kembali larut dalam obrolan rahasianya dengan Hilya.

Aku berdiri mematung di samping meja mereka selama beberapa detik. Rasanya seperti menjadi sebuah patung kayu yang tidak sengaja diletakkan di tengah jalan. Aku sempat berharap dia akan mendongak, tersenyum, lalu mengajakku bergabung ke dalam lingkaran obrolan mereka. Namun, harapan itu pupus saat kulihat bagaimana mereka sengaja merapatkan bahu. Ruang di antara meja mereka tampak begitu sempit, seolah-olah ada pagar gaib yang sengaja dibangun agar aku tidak bisa masuk.

Tiba-tiba, suara Hilya memecah kecanggungan yang hanya aku rasakan sendiri.

"Kamu sadar tidak, anak kelas unggulan itu... si Amani. Sekarang dia sudah satu geng dengan anak-anak populer, ya? Kemarin aku lihat dia di koperasi, gayanya sombong sekali. Menyapa saja tidak mau," ujar Hilya dengan volume suara yang sengaja ditinggikan.

Jantungku berdegup kencang. Hilya tahu betul bahwa Amani adalah sahabat baikku sejak kecil. Dia sengaja melempar umpan, memancing reaksiku di depan semua orang.

"Itu biasa, Hilya. Namanya juga orang sudah duduk di kelas depan, kelas unggulan. Mana sudi lagi melirik kita yang cuma anak kelas belakang ini," sahut Syasya sambil melirikku sekilas dengan tatapan sinis yang menyakitkan. "Ada orang di sini juga, walaupun fisiknya di kelas ini, tapi hatinya mungkin masih tertinggal di kelas depan sana. Makanya kalau bicara kaku sekali, seperti tidak punya perasaan."

Kalimat itu menghujam tepat di ulu hati. Aku menarik napas panjang, mencoba menelan pahitnya sindiran itu. Tanpa kata, aku berbalik dan berjalan kembali ke kursiku. Aku tidak ingin menangis di sini, tidak di depan mereka yang sedang menunggu keruntuhan mentalku.

Di dalam hati yang paling dalam, aku masih sangat ingin berteman dengan mereka. Aku masih ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki "geng", tempat untuk berbagi tawa dan keluh kesah. Jadi, aku mencoba sekali lagi. Aku menekan ego sedalam mungkin. Saat bel istirahat berbunyi, aku secepat kilat membereskan barang-barangku, berniat mengikuti mereka ke kantin.

"Hanie, kamu pergi duluan saja. Aku dan Hilya mau bertemu guru sebentar di kantor," kata Syasya tiba-tiba saat aku sudah berdiri tepat di sampingnya, siap untuk berjalan bersama.

"Tidak apa-apa, aku tunggu kalian saja. Aku tidak buru-buru kok," balasku dengan nada seikhlas mungkin. Aku benar-benar ingin menunjukkan bahwa aku setia kawan.

Namun, reaksi Syasya di luar dugaanku. "Tidak usah! Kamu pergi saja sendiri. Repot kalau harus tunggu-tungguan begini, membuang waktu!" nada suaranya meninggi, tajam dan penuh iritasi. Dia tampak sangat risih melihat kehadiranku.

Aku terdiam seribu bahasa. Lidahku kelu. Aku hanya bisa mengangguk pelan, lalu berjalan keluar kelas sendirian dengan kepala tertunduk. Rasanya seluruh koridor sekolah sedang menertawakanku. Namun, saat aku berjalan melewati belokan menuju tangga belakang, langkahku terhenti.

Dari kejauhan, aku melihat Syasya dan Hilya. Mereka tidak menuju ke kantor guru. Mereka justru mengambil jalan tikus lewat belakang gedung, berjalan sambil tertawa lepas menuju kantin bersama beberapa teman dari kelas lain.

Dada ini rasanya sesak, seolah pasokan oksigen di sekitar koridor ini tiba-tiba hilang. Aku tidak merasa marah—belum. Aku hanya merasa sangat lelah. Kenapa dihargai sebagai manusia saja rasanya begitu sulit? Apa salahku sampai mereka harus mengarang skenario hanya untuk menghindariku?

Secara refleks, aku menyelipkan tangan ke dalam saku rok. Jariku meraba ujung tajam dari sebuah cermin kecil yang selalu kubawa. Aku tidak mengeluarkannya, aku hanya ingin merasakan keberadaannya di sana. Bagiku, cermin itu adalah satu-satunya entitas yang tidak pernah lari dariku. Ia tidak pernah berbohong, tidak pernah berbisik di belakangku, dan selalu ada saat aku membutuhkannya untuk sekadar meyakinkan diriku sendiri bahwa aku masih ada.

Langkahku melambat menuju kantin. Nafsu makanku sudah menguap entah ke mana. Melihat mereka tertawa di kejauhan sana seperti melihat sebuah panggung sandiwara di mana aku bukan lagi salah satu pemerannya, bahkan bukan pula kru di balik layar. Aku hanyalah penonton yang tak diundang.

Aku duduk di pojok kantin yang paling sepi, memesan segelas teh manis hangat hanya untuk memberi alasan agar aku punya tempat duduk. Pikiranku melayang kembali ke masa-masa SMP, saat aku, Syasya, dan Amani masih sering berbagi bekal bersama. Dulu, kelas depan atau kelas belakang tidak pernah menjadi tembok penghalang. Tapi sekarang, saat kami menginjak usia enam belas tahun, segalanya berubah. Persaingan nilai, strata sosial di sekolah, dan kebutuhan untuk diakui telah mengubah segalanya.

Amani, yang dulu sering meminjamkan bahunya saat aku menangis karena nilai matematika yang anjlok, kini seolah-olah memiliki amnesia selektif. Saat berpapasan denganku, matanya seolah melihat menembus tubuhku, seakan aku hanyalah partikel debu yang mengganggu pandangannya.

"Apakah ini yang namanya tumbuh dewasa?" bisikku pada diri sendiri. Jika benar, aku benci proses ini. Aku benci bagaimana kedewasaan menuntut kita untuk memilih kubu dan meninggalkan mereka yang dianggap tidak lagi memberikan keuntungan sosial.

Aku meraba kembali cermin yang telah ku rawat di saku. Benda kecil itu terasa dingin di ujung jariku, namun entah kenapa memberikan kehangatan yang aneh di hatiku. Di dunia yang penuh dengan wajah-wajah palsu dan senyum yang dibuat-buat, hanya bayangan di dalam cermin itulah yang benar-benar jujur. Saat aku menangis, dia menangis. Saat aku terluka, dia menunjukkan luka itu tanpa menutup-nutupinya dengan tawa palsu seperti yang dilakukan Syasya dan Hilya barusan.Yah namanya juga cermin,memantulkan.

Aku menghabiskan tehku dalam diam. Di sekelilingku, suara riuh rendah siswa lain terasa seperti dengungan lebah yang tak berarti. Aku melihat Amani di meja seberang, dikelilingi oleh teman-teman barunya yang berpakaian rapi dengan rambut yang tertata sempurna. Dia tertawa, tapi entah kenapa, tawanya terdengar berbeda. Ada nada tinggi yang dipaksakan di sana. Apakah dia benar-benar bahagia, atau dia hanya sedang memainkan perannya dengan sangat baik?

Aku bangkit berdiri, memilih untuk kembali ke kelas lebih awal daripada terus-terusan menyiksa diri dengan pemandangan itu. Saat melewati koridor yang sepi, aku berhenti di depan sebuah jendela besar yang memantulkan bayanganku.

Aku menatap pantulan diriku sendiri. Hanie yang sederhana, Hanie yang tidak suka bermusuh, Hanie yang selalu mencoba husnuzon. Aku melihat mata yang mulai berkaca-kaca, tapi aku menahannya. Aku mengeluarkan cermin kecil dari saku, membukanya perlahan, dan menatap lurus ke dalam benda itu.

"Hanya aku dan kamu," bisikku pelan.

Cermin itu memantulkan cahaya matahari, menciptakan kilauan kecil di dinding koridor. Di saat semua orang berlomba-lomba mencari validasi dari orang lain, aku tersadar bahwa mungkin aku selama ini mencari di tempat yang salah. Syasya, Hilya, dan Amani... mereka bukan pemilik kebahagiaanku. Mereka hanya orang-orang yang lewat dalam hidupku, yang kebetulan memilih jalan yang berbeda.

Aku menutup cermin itu dengan bunyi klik yang mantap. Rasa sesak di dada perlahan mulai berkurang, berganti dengan perasaan hampa yang anehnya terasa jauh lebih ringan daripada rasa sakit hati tadi. Aku akan tetap menjadi diriku, Hanie yang tidak akan memulai permusuhan, tapi aku juga bukan lagi Hanie yang akan mengemis perhatian di pintu yang sudah tertutup rapat.

Biarlah mereka dengan dunianya, dan aku dengan cerminku. Karena terkadang, dalam kesendirian yang paling dalam, kita baru bisa melihat siapa diri kita yang sebenarnya tanpa gangguan dari kebisingan orang lain.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!