Aarav Elias Kayler terbangun di sebuah dunia yang tak dikenal, tanpa ingatan apapun tentang dirinya. Semua yang dia tahu adalah bahwa dunia ini dipenuhi dengan sihir, dan dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ketika mencoba menggunakan sihir, tak ada hasil yang muncul, membuatnya merasa terjebak dalam kebingungannya.
Namun, tak lama setelahnya, Aarav menemukan sebuah rumah tua yang misterius, yang mengarah pada sebuah kejadian tak terduga yang mengubah segalanya. Di dunia yang penuh dengan rahasia dan kekuatan yang belum ia pahami, Aarav harus menghadapi takdir yang tersembunyi di balik masa lalunya yang terlupakan.
Dengan tekad untuk menguasai dunia sihir dan meraih kekuatan yang selama ini hilang, Aarav harus menavigasi sebuah dunia yang penuh dengan bahaya, misteri, dan konflik. Apakah dia akan menemukan jalan menuju kekuasaannya, atau justru terjerumus dalam kekuatan yang tak dapat ia kendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Magic Dominian
Aarav tersenyum saat mendengar pertanyaan yang polos dari Nuril itu, "Udah, jangan dipikirin!!" ucap Aarav.
Nuril lalu diam sejenak, "Yaudah, aku mau pulang!!" ucap Nuril.
Nuril lalu pergi meninggalkan Aarav sendirian lagi di gubuk itu. Aarav kembali meneguk tehnya, sambil membaca layar dari system.
Di layar itu tertulis informasi penting soal kekuatan Aarav, yakni kekuatan menggunakan sihir tanpa mengucapkan mantra. Aarav membacanya, dari keuntungan menggunakannya dan juga kelemahannya.
"Ahh, kekuatan ini berubah-ubah sesuai suasana hati pemakai!!" seru Aarav yang membacanya.
Di layar itu tertulis, "Magic Dominian, kekuatan underatted yang mengandalkan suasana hati pemakainya. Semakin baik suasana hatinya, maka semakin kuat pula kekuatan sihir yang dihasilkan!!"
Aarav meletakkan gelasnya, mencoba memahami lebih jauh soal kekuatannya ini. Walaupun sebenarnya dia tidak terlalu paham dengan kekuatannya sendiri.
Angin sepoi-sepoi menembus dedaunan dan langsung menyapu Aarav yang tengah belajar santai dengan system, kali ini Aarav mencoba menggunakan system sebagai alat bantu yang relevan untuknya.
Aarav menghela napasnya, lalu dia berbaring sebentar, "System, jelaskan dengan terperinci soal Magic Dominian!!" ucap Aarav yang secara sadar memerintah system.
"Magic Dominian, adalah salah satu kekuatan paling langka di dunia sihir. Para pengguna yang tercatat di data hanya ada dua orang, anda dan Fron Derg. Kalian berdua adalah satu-satunya orang yang bisa menggunakan Magic Dominian, namun perlu diketahui. Magic Dominian adalah pedang bermata dua, dia bisa menusuk penggunaannya kapan saja!!!" suara AI system yang menjelaskan.
Aarav terdiam, dia berpikir, menelaah soal maksud system, "Tunggu, apa maksudmu?!" tanya Aarav.
"Maguc Dominian bagaikan kuda yang ditunggangi, jika hebat mengendalikannya maka hebat pula kekuatannya. Namun, jika buruk mengendalikannya maka kudanya akan memberontak terhadap orang yang menungganginya!!!" suara AI system.
Aarav sontak terduduk, wajahnya kaget, "Hah?! Tunggu, coba jelaskan pengguna yang satunya!!" ucap Aarav yang cemas.
"Form Dreg, pengguna pertama Magic Dominian. Dialah orang yang berhasil lahir dengan kekuatan ini, dia adalah orang yang selalu tenang di setiap kondisi. Bagaikan seorang penunggang yang handal, namun di dalam arena pertempuran untuk merebutkan tahta Geos atau The God battle, dia bermain dengan sangat kacau, hatinya bermain dengan sembarangan dan dia tidak bisa bersikap tenang. Sampai, Magic Dominian yang mengambil alih pertarungan itu!!!" ucap system.
Aarav menelan ludahnya karena penjelasan system, di dalam hatinya ada rasa takut tapi juga penasaran dengan semuanya.
"Apa dia mati saat Magic Dominian mengambil alih?!" tanya Aarav dengan cemas.
"TIDAK ADA DATA!!!" ucap AI system.
Saat mendengarnya, Aarav hanya diam untuk mencoba memahami lebih dalam soal kekuatan yang ada di dalam dirinya itu.
Matahari telah naik tepat di atas kepala, Aarav juga telah menyelesaikan pembelajarannya dan hendak kembali ke rumah Nuril. Dia berjalan di bawah panas terik matahari untuk bisa segera beristirahat di rumah.
Namun, setibanya di desa. Aarav tak sengaja melihat kepala desa bersama lima orang yang tidak dikenal, tiga orang dari mereka menggunakan jubah, dan dua orang lainnya tidak menggunakan baju atasan. Ditambah, dua orang itu membawa sebuah gerobak kayu yang cukup besar.
Nampak dari belakang, ketiga orang yang mengenakan jubah itu memiliki simbol kerajaan, serta jubah mereka berwarna ungu seperti jubah kerajaan.
"Siapa mereka?!" batin Aarav. Aarav lalu mendekati mereka semua.
"Ada apa, pak?!" tanya Aarav ke kepala desa.
Kepala desa melihat ke Aarav yang datang, "Seperti biasa, upeti tiap bulan... Tapi, kali ini jumlahnya tidak wajar!!" ucap kepala desa.
Aarav memandang ke orang kerajaan itu, "Tidak wajar?" tanya Aarav lagi.
"Iya, bulan sebelumnya kerajaan hanya meminta koin emas. Sekarang ditambah buah-buahan dan juga tanaman!!" ucap kepala desa.
Aarav sedikit memiringkan kepalanya, memandang salah satu dari mereka berlima, "Apa ini benari upeti untuk kerajaan?!" tanya Aarav.
Salah satu dari mereka tersenyum sinis, "Tentu, kenapa kami harus berbohong. Ayo, cepat berikan!!" ucapnya.
"Tidak bi-" ucap kepala desa yang terpotong, "Tunggu, pak. Biar aku yang bantu atasi!!" seru Aarav dengan inisiatifnya.
Bersambung...