Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Hari demi hari terus berjalan. Sekarang disinilah Alya di Apotek rumah sakit setelah selesai memeriksakan kedua orangtuanya.
“Kak, bagaimana hasil pemeriksaan Mama dan Papa, kalau sudah selesai tolong kabari aku ya” Alya menghela nafas pelan, ia sedang kebingungan menyampaikan hasil pemeriksaan yang lumayan bermasalah kata dokter.
Akhirnya pesan itu hanya dibaca oleh Alya, mungkin akan ia balas saat ia sudah mempunyai jawaban yang tepat.
Alya pilih memeriksakan kedua orang tuanya di hari yang sama untuk menghindari rasa tidak enak kepada atasannya jika harus selalu ijin dari pekerjaan kantor.
Meski sebenarnya, para atasan itu tidak keberatan sama sekali karena pekerjaan Alya selalu selesai.
Kini Alya sedang duduk jauh dari orang tuanya yang sedang menikmati makan siangnya di ruang tunggu, bahkan Alya belum makan sejak pagi.
Tapi rasa lapar tiba-tiba hilang begitu saja. Dari tempatnya, Alya bisa melihat kedua orang tuanya yang sedang makan berdua diselingi canda tawa.
Dari jauh, orang tuanya tampak kuat.
Tertawa.
Makan dengan lahap.
Seolah tubuh mereka tidak sedang memberontak, meski hasil pemeriksaan menunjukkan sebaliknya.
Jika saja Alya bisa meminta lebih, ia ingin orang tuanya selalu seperti itu, ceria dengan tubuh yang sehat, dering telfon membuyarkan lamunannya.
Viko.
Alya berdecak pelan, anak itu sangat tidak sabar.
“Halo kak, bagaimana kondisi kesehatan Mama dan Papa? Kenapa chatku hanya dibaca saja” Alya menghela nafas, pertanyaan itu seakan ikut menekannya.
“Kak?”
“Hasilnya tidak bagus dek, dua minggu lagi Mama dan Papa harus kontrol lagi untuk melihat reaksi pengobatan yang saat ini diberikan” hening, Alya tahu ini juga berat untuk adiknya, tapi Alya tidak bisa berbohong demi kenyamanan hati adiknya.
Viko juga anak Mama dan Papa yang harus tahu keadaan mereka yang sesungguhnya.
“Kamu masih disana?”
“Hmm” Alya merasa bersalah, ia tahu adiknya pasti sedang menahan tangis di seberang sana.
“Jangan putus asa, harapan sekecil apapun itu pasti ada, kita sebagai anak Mama dan Papa harus terlihat kuat untuk mensupport mereka”
“Iya kak” suara parau itu semakin jelas, Alya juga ingin menangis, tapi jika ia juga rapuh siapa yang akan menenangkan adik kecilnya?
“Ya sudah kamu fokus saja dulu, kalau ada waktu pulanglah, setidaknya Mama sama Papa bisa sedikit terhibur kalau anak-anaknya ada dirumah”
“Iya kak, aku tutup ya, kita harus kuat ya kak, kakak punya aku, aku punya kakak”
“Iya” telepon tertutup.
Alya menunduk sedih, setidaknya ia punya seorang adik yang sudah sangat dewasa sekarang.
Tapi kesedihan itu tak berlangsung lama saat nama orangtuanya dipanggil.
Alya menerima bungkusan obat yang tidak sedikit, ia mendengarkan dengan sabar saat apoteker menjelaskan obat apa saja yang didapat dan cara penggunaannya.
Alya menatap orangtuanya diujung sana, mereka terlihat sudah selesai makan siang, tapi papanya, Mirza melambaikan tangan meminta putrinya mendekat.
Alya berjalan menghampiri keduanya.
“Sudah selesai makannya ya?”
“Sudah nak, obatnya sudah selesai?” Alya mengangkat bungkusan obat ditangannya.
“Ya sudah, kami pulang dulu ya, kamu harus segera kembali ke kantor kan?” Alya mengangguk.
“Tunggu disini dulu Pa, Alya pesankan taxi dulu” tak berselang lama taxi online yang Alya pesan sudah berada di lobby rumah sakit.
Alya menggandeng mamanya berjalan, “Hari ini kamu lembur ya kak?”
“Iya Ma, mungkin akan pulang sedikit telat hari ini, tapi Alya sudah masak untuk makan malam, nanti Papa sama Mama tinggal panasin saja ya?”
“Gak usah pikirin rumah kak, kamu fokus sama kerjaanmu, dan harusnya kamu gak perlu selalu mengantar kami kontrol” Mirza selalu mengatakan itu pada putrinya, dalam hati ia juga tidak tega karena selalu merepotkan putri sulungnya.
“Pokoknya harus selalu sama aku, titik” dan Mirza juga tidak bisa melawan keras kepala putrinya sendiri.
“Hati-hati di jalan ya Ma, Pa”
“Iya kami pulang dulu ya Nak” Alya mengangguk, ia tak langsung pergi sampai mobil yang membawa kedua orang tuanya menghilang dari pandanganya.
Saat tidak ada lagi orang yang mengenalinya, Alya kembali pada sisi rapuhnya,
Ia duduk.
Pelan.
Lelah.
Kepalanya berisik, bagaimana ia akan menghadapi kondisi kesehatan kedua orangtuanya yang sedang tidak baik-baik saja.
Duduk sendirian di salah satu kursi tunggu, menenggelamkan wajahnya dalam kesedihan.
Alya menangis tanpa suara.
“Minum dulu” suara itu membuat Alya mendongak kepada orang yang kini berdiri dihadapannya.
“Ini silahkan diminum” Reyhan membuka air mineral kemasan itu lalu kembali menjulurkannya pada Alya.
Alya menerimanya, bahkan ia tidak sempat menghapus air mata yang membasahi wajahnya, tidak ada drama maskara luntur, karena Alya tidak memakai make up yang berlebihan.
Reyhan duduk disamping gadis itu, merasa takjub sekali lagi pada Alya.
“Sepertinya ini hari yang berat” Alya menoleh, masih dengan wajah sendunya dengan sisa tangis yang masih terlihat.
“Lumayan Pak”
“Hmm, ngomong-ngomong, semua orang pasti pernah ada di hari yang seperti itu, terdengar klise tapi kamu harus percaya setelah badai pasti ada pelangi”
“Iya pak saya percaya itu” Reyhan mengangguk tipis.
Reyhan tak pernah menyangka akan kembali bertemu dengan Alya dalam kondisi seperti ini, hari ini, Ia sebenarnya ke rumah sakit untuk menemui temannya. Sampai matanya menangkap sosok itu.
Tidak ada senyum itu hari ini. Tidak ada cahaya itu.
Alya tampak… hilang dan berbeda dengan Alya yang ia kagumi sebulan yang lalu.
Reyhan tak langsung menyapa dan menghampiri Alya, ia hanya memantau gadis itu dari jauh.
Sejujurnya Reyhan juga tanpa sadar menghampiri Alya saat gadis didepannya ini menangis sedih sendirian.
“Terimakasih minumannya pak”
“Sama-sama Alya, kamu sedang apa disini?” tanyanya berpura-pura tidak tahu.
“Saya sedang mengantar orang tua saya kontrol pak”
“Oh begitu, bapak atau ibu yang sakit?”
Alya tersenyum miris, “Kedua orangtua saya sakit pak”
Rasanya Reyhan kini tahu alasan gadis itu tampak berbeda dari sebulan lalu saat mereka bertemu.
“Kalau Pak Reyhan sedang apa disini?”
“Oh itu, saya mau mengunjungi teman yang baru saja bekerja di rumah sakit ini” Reyhan mencoba bicara setenang mungkin.
Rasanya Reyhan ingin lebih lama bicara dengan Alya, tapi..
Triiiiing...
Mbak Pingkan is calling...
“sebentar pak saya angkat telfon ini dulu”
“Silahkan” Alya berdiri dan sedikit menjauh dari Reyhan.
“Halo, kenapa mbak?”
“Maaf Al, mengganggu sebentar aku mau tanya soal...........”
Tak lama Alya kembali pada Reyhan “Pak maaf saya harus kembali ke kantor, sekali lagi terimakasih minumannya”
“Sama-sama” setelah itu Alya benar-benar pergi, kali ini Reyhan masih menatap Alya yang kian lama kian jauh lalu menghilang dari pandangannya.
Cukup lama juga Reyhan menatap gadis itu. Gadis yang terlihat tangguh itu ternyata rapuh.
TBC