NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:195
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Map Pertama

Begitu pintu rumah Mercer tertutup di belakangnya, Rick Nolan tidak lagi bisa mempertahankan wajah datarnya.

Di luar sana, di kafe, di bar, di hadapan manajer cantik yang menyebutnya “kurir”, ia bisa berdiri dengan punggung tegak dan menahan kedipan mata agar tidak terlihat gugup. Tapi rumah ini—rumah dengan ladang sunyi dan bunyi alat medis dari ruang rahasia—selalu membongkar topengnya. Di sini, udara terasa seperti cermin: memantulkan kembali siapa dirinya sebenarnya.

Rick berdiri di ruang tamu, map tipis di tangan, lalu menelan ludah sampai tenggorokan terasa perih. Jari-jarinya gemetar. Bukan karena dingin. Karena makna.

Ia menatap map itu seperti menatap benda hidup yang bisa menggigit.

Mercer tidak memarahi. Mercer juga tidak menenangkan. Pria itu hanya duduk di ujung meja, menyandarkan punggung, menatap Rick dengan mata lelah yang sudah melihat terlalu banyak korban untuk percaya pada drama.

“Kamu tidak nyaman,” kata Mercer datar.

Rick tidak menjawab. Ia cuma membuka map pelan, seperti takut kertas di dalamnya akan mengeluarkan suara.

Mercer menambahkan satu kalimat yang rasanya seperti palu:

“Kalau kamu menolak, kamu tidak akan jadi pemain lagi.”

Rick menatap Mercer, ingin berkata, aku tidak mau jadi pemain. Tapi kata-kata itu mati sebelum sempat lahir. Karena Rick tahu—menjadi “bukan pemain” di dunia ini bukan berarti kembali normal. Itu berarti jadi target yang dibuang tanpa kesempatan kedua.

Tangannya makin gemetar saat ia menarik lembar pertama.

Di sana ada foto seorang gadis.

Wajahnya cantik, muda, dan terlalu bersih untuk cocok dengan kata “pesanan”. Senyumnya tipis, mata terang. Di bawah foto tertulis:

Usia: 17 tahun.

Rick menutup mata sebentar. Ada rasa mual naik dari perut, bukan karena minuman, bukan karena lelah. Karena ia sempat berharap map pertamanya berisi wajah yang bisa ia benci. Wajah penjahat. Wajah yang akan membuat pembunuhan terasa “lebih mudah.”

Tapi ini… anak.

Ia menggeser ke lembar berikutnya.

Lokasi: Hotel Borton, Prancis

Kebiasaan: Setiap jam 17:00 turun ke lobi

Batas waktu: 5 hari

Catatan: “Jangan buat keributan.”

Rick menarik napas panjang, lalu menghembuskan pelan. Setiap kata di kertas itu terasa seperti memaku sesuatu di dalam kepalanya. “Hotel.” “Jam lima.” “Lima hari.” Seolah hidup gadis itu sudah dikompresi menjadi jadwal.

Rick memandang Mercer, suaranya pecah.

“Kenapa… anak ini?”

Mercer mengangkat bahu, tidak menjawab “moral”, hanya menjawab realitas.

“Karena ada yang bayar.”

Rick menggertakkan gigi. “Aku berharap… setidaknya dapat tugas dengan korban yang jelas-jelas jahat.”

Mercer berdiri, merapikan jaketnya. Wajahnya tetap datar, tapi suaranya lebih dingin:

“Harapan itu untuk orang yang hidup normal.”

Mercer melangkah menuju pintu, lalu berhenti sebentar tanpa menoleh.

“Kamu harus ke Prancis,” katanya. “Survey lokasi. Tentukan waktu yang tepat.”

Rick menelan ludah, menatap map itu lagi, lalu bertanya pelan, seolah masih punya ruang untuk menunda:

“Kalau aku… ragu?”

Mercer menjawab seperti vonis:

“Keraguan berarti kekalahan.”

Kemudian Mercer pergi, meninggalkan Rick sendirian dengan foto gadis 17 tahun itu.

Rick menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ia duduk lama.

Lalu berdiri.

Lalu duduk lagi.

Pikirannya seperti diputar dalam lingkaran: kalau ia membunuh, ia jadi monster. Kalau ia menolak, ia jadi mati. Tidak ada pilihan yang bersih.

Hari pertama Rick tidak berangkat.

Ia berkata pada dirinya: aku butuh rencana. Tapi itu hanya bungkus. Isi sebenarnya: ia menunda karena belum sanggup menerima bahwa “pekerjaan mudah” di dunia ini bisa berarti membunuh anak muda.

Hari kedua, Rick tidak berangkat.

Ia naik ke ruang rahasia tempat Maëlle terbaring. Ia berdiri di samping ranjang itu, menatap wajah Maëlle yang diam. Monitor berdetak pelan. Maëlle tidak memberi jawaban, tapi keberadaan Maëlle—bahkan dalam koma—seperti menahan Rick agar tidak jatuh total.

Rick berbisik, tidak tahu pada siapa:

“Aku butuh kamu bangun.”

Hari ketiga, Rick masih tidak berangkat.

Ia kembali berdiri di sisi Maëlle, memandang kelopak mata yang tidak bergerak itu. Ia ingin wajah itu memberinya kekuatan, seperti seorang prajurit yang menatap bendera. Tapi yang ia dapat hanya kenyataan: Maëlle tidak bisa menolongnya sekarang. Yang menolongnya selama ini adalah keputusan Maëlle… yang membuat Rick terjebak.

Hari keempat, Rick memegang map itu lagi, membaca semua detail berulang-ulang, berharap ada “celah”: kesalahan data, pembatalan, sesuatu yang membebaskannya.

Tidak ada.

Hari keempat malam, Rick hampir membakar map itu—bukan karena takut ketahuan, tapi karena ia benci kertas yang bisa memutus hidup manusia.

Namun ia berhenti.

Karena Mercer benar.

Kalau Rick tidak bergerak, orang lain akan bergerak.

Dan lima hari akan habis.

Hari kelima datang seperti pintu yang ditutup keras.

Rick tidak punya ruang lagi.

Ia berangkat tanpa survey.

Tanpa rute cadangan.

Tanpa rencana matang yang seharusnya menjadi fondasi, bukan bonus.

Ia hanya membawa penyamaran dan tekad yang dipaksakan.

Sore itu, jam 16:00, Rick sudah duduk di lobi Hotel Borton. Ia menyamar lebih agresif daripada biasanya: topi koboi menutupi bagian wajah, kacamata gelap menutup mata, jas rapi menutupi tubuh atletis yang terbentuk oleh empat tahun latihan.

Ia memilih topi itu untuk satu alasan: kamera.

Ia tidak bisa mematikan CCTV, tapi ia bisa membuat wajahnya tidak jelas.

Jantungnya berdetak cepat. Terlalu cepat.

Agar tangan tidak gemetar, ia memesan minuman keras.

Satu gelas habis.

Lalu gelas kedua.

Kepalanya mulai limbung, bukan mabuk berat, tapi cukup untuk membuat tepi dunia melembut, cukup untuk menumpulkan rasa bersalah yang menjerit dalam dadanya.

Rick menatap lift.

Jam mendekati 16:30.

Setengah jam lagi.

Ia mengulang dalam kepala: jam lima turun ke lobi. Itu jadwal yang tercetak seperti hukuman.

Rick menelan ludah, merasakan tenggorokan panas karena alkohol.

Dan tepat ketika jarum jam mendekati lima, pintu lift terbuka.

Gadis itu keluar.

Cantik. Muda. Terlalu “biasa” untuk jadi target.

Dan jantung Rick memukul lebih kencang, bukan karena gairah, tapi karena ia sadar: ini bukan latihan. Ini bukan buku. Ini manusia.

Rick mengencangkan genggaman di bawah meja.

Ia menunggu sesuatu yang membuatnya bisa membenarkan keputusan.

Ia tidak tahu bahwa “pembenaran” itu akan datang… dalam bentuk yang tidak ia sangka.

Rick menahan napas saat gadis itu melangkah ke lobi.

Ia tidak berlari. Ia tidak terburu-buru. Ia berjalan ringan, seolah jam lima hanyalah kebiasaan kecil—turun, menunggu, lalu kembali naik. Ia berhenti dekat area sofa, mengeluarkan ponsel, menatap layar sebentar, lalu menoleh.

Rick memaksa dirinya tidak menatap terlalu lama. Ia menatap pantulan kaca, memeriksa sudut-sudut, berlagak sebagai tamu hotel yang bosan.

Namun ada satu momen kecil yang membuat semua darah Rick terasa berhenti.

Seorang gadis muda lain mendekat—lebih muda, mungkin sebaya, mungkin sedikit di bawahnya. Mereka bertemu seperti teman biasa.

Ada tawa ringan.

Ada gerakan tangan yang cepat.

Dan Rick melihatnya.

Benda kecil dalam bungkus plastik.

Tidak besar. Tidak mencolok. Tapi cukup jelas bagi mata yang dilatih mengamati: sebuah paket kecil yang berpindah tangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!