Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
“Sayang, kamu lihat ini,” seru Nayla dengan nada panik sambil menggeser ponselnya ke hadapan Adam. Video berdurasi singkat itu menampilkan halaman rumah orang tuanya yang kini dipenuhi beberapa pria bertubuh tegap. Salah satu dari mereka memegang map cokelat, sementara yang lain berdiri di dekat mobil hitam yang selama ini Nayla gunakan.
Mereka berdua baru saja mendarat di Jakarta. Tubuh masih lelah oleh perjalanan, tetapi Nayla sama sekali tak memedulikan rasa penat itu. Dadanya terasa sesak saat melihat adegan di layar.
“Itu mobilku, Adam. Kenapa mereka berani melakukan itu tanpa izinku?”ucap Nayla terkejut, suaranya bergetar.
Adam tak langsung menjawab. Tangannya mencengkeram kopernya lebih erat, sementara matanya menatap lurus ke depan melihat mobil Pandu yang sudah menjemputnya. Ia mengurut keningnya yang terasa berdenyut hebat, seolah ada tekanan besar yang menghantam kepalanya secara bersamaan. Potongan-potongan kejadian beberapa hari terakhir berkelebat cepat di benaknya, rekening yang tiba-tiba di blokir, telpon Kiandra yang tidak di angkat, dan sekarang mobil pemberian dia untuk Nayla juga di ambil paksa.
Dugaannya semakin kuat. Kiandra tidak hanya tahu soal mobil itu. Ia sudah tahu segalanya tentang Nayla, tentang kebohongan yang ia sembunyikan selama ini.
“Nanti aku urus,” jawab Adam singkat, suaranya datar, terlalu datar untuk ukuran seorang pria yang seharusnya membela kekasihnya.
Nayla menoleh cepat, tidak puas dengan jawaban Adam. “Urus bagaimana? Orang tuaku ketakutan, Adam! Mereka dipermalukan di depan tetangga. Kamu tahu artinya mobil itu buat aku!”
Adam menghembuskan napas kasar. Ia segera melangkah menuju ke mobil seolah ingin segera menjauh dari situasi yang membuat dadanya terasa semakin sempit. Dalam pikirannya, hanya ada satu hal yang harus ia lakukan sekarang. Menjaga jarak dari Nayla, sampai semuanya selesai.
“Kita pisah di sini, untuk sementara waktu, jangan pernah menghubungiku atau berusaha menemuiku.” ucap Adam tiba-tiba, suaranya terdengar tegas namun dingin. Ia membuka pintu mobil tanpa menoleh ke arah Nayla.
Kata-kata itu jatuh seperti palu, menghantam dada Nayla tanpa ampun.
“Apa?” Nayla bangkit dari duduknya, suaranya meninggi.
“Adam, maksud kamu apa? Kamu nggak bisa ninggalin aku begitu saja!” serunya tidak terima.
Namun Adam tidak perduli, dia menutup pintu dengan suara keras, lalu meminta Pandu untuk melajukan mobilnya.
Tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, mobil itu melaju pergi, meninggalkan Nayla berdiri terpaku di pelataran bandara.
Nayla mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kukunya menancap ke telapak tangan, tetapi rasa perih itu tak sebanding dengan amarah dan ketakutan yang menggerogoti dadanya. Matanya memerah, rahangnya mengeras.
“Kiandra…” gumamnya penuh kebencian.
Dia yakin, mobilnya tidak diambil oleh sembarangan orang. Itu pasti ulah Kiandra.
Wanita itu tidak sedang memberi peringatan, atau sedang menyerang. Dan langkah Adam yang menjauh darinya semakin menguatkan satu hal di benak Nayla, semuanya mulai runtuh, dan kali ini, ia bukan lagi pemain yang aman dalam permainan mereka.
Nayla menatap ke arah mobil Adam yang sudah menghilang, tatapannya dipenuhi dendam dan tekad. Jika Kiandra ingin perang, maka ia tak akan tinggal diam.
*****
“Katakan apa yang terjadi!” ucap Adam dingin, tanpa menoleh sedikit pun. Sorot matanya menatap lurus ke jalanan di depan, rahangnya mengeras, seolah menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
Pandu yang duduk di kursi kemudi menelan ludahnya dengan susah payah. Telapak tangannya mulai basah oleh keringat, sementara jemarinya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat. Suasana di dalam mobil terasa mencekam, hanya suara mesin dan desahan napas mereka yang terdengar.
“Nyonya Kiandra mengetahui hubungan Anda dengan Nona Nayla, Tuan,” jawab Pandu akhirnya dengan suara gugup, nyaris bergetar.
Adam langsung menatap Pandu dari kaca spion. Tatapannya tajam, dingin, dan menusuk. “Kau yang memberitahu dia?” tanyanya memastikan, suaranya rendah namun penuh ancaman.
“Sungguh, bukan saya, Tuan, Nyonya Kiandra mendapatkan semua foto Anda dan Nona Nayla selama di Berlin.” buru-buru Pandu menjawab. Ia menggeleng cepat, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Kata-kata itu membuat tubuh Adam menegang. Napasnya tertahan sejenak, lalu dihembuskan kasar. Ia tak pernah menyangka Kiandra akan sejauh itu, terlebih saat mereka berada di luar negeri. Jantungnya berdetak semakin kencang, memukul dada dengan irama tak beraturan. Kepalanya terasa berdenyut hebat, dan rasa panas dari asam lambungnya merayap naik hingga ke kerongkongan, membuatnya ingin muntah.
Berlin… semua yang ia kira aman, ternyata justru menjadi senjata yang kini diarahkan padanya.
“Apalagi yang dia ketahui selain itu?” tanya Adam lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih berat, seolah setiap kata dipaksakan keluar.
Pandu terdiam. Matanya sesaat melirik ke arah kaca spion, memastikan ekspresi Adam sebelum kembali menatap jalan. Ia tahu, apa pun jawabannya nanti tidak akan membawa kebaikan untuknya. Ia teringat laporan-laporan keuangan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat, aliran dana yang seharusnya tak pernah diketahui Kiandra.
Ia menimbang, mencoba mencari celah untuk menghindar. Namun cepat ia sadar, diam ataupun berbicara, nasibnya tetap akan sama. Dia akan tetap menjadi sasaran kemarahan Adam ataupun Kiandra.
“Nyonya Kiandra mengaudit semua laporan keuangan perusahaan, termasuk laporan keuangan milik anda, tuan,” ucap Pandu akhirnya, suaranya lirih.
Adam mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya tampak menonjol. Pandu belum selesai.
“Beliau yang meminta saya memblokir rekening Anda, dan beliau juga memerintahkan orang kantor untuk mengambil mobil Nona Nayla yang anda belikan, Tuan.” lanjut Pandu dengan napas tertahan.
Kata-kata itu seperti pukulan telak. Adam bersandar ke kursinya, matanya terpejam sesaat. Kini semuanya masuk akal, kenapa aksesnya dibatasi, kenapa Nayla panik, dan kenapa Kiandra bersikap begitu tenang terakhir kali mereka bertemu. Wanita itu tidak sedang bereaksi secara emosional. Ia sedang menyusun langkah, satu per satu, tanpa celah.
“Maaf, Tuan, Kami tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti semua perintah beliau. Kami… kami takut dengan ancaman beliau, Tuan.” ucap Pandu lagi, suaranya penuh ketakutan
Adam membuka matanya perlahan. Tatapannya kosong, namun di balik itu ada bara amarah yang mulai menyala. Kiandra bukan hanya tahu, ia sudah memegang kendali. Dan untuk pertama kalinya, Adam sadar, permainan yang selama ini ia mainkan dengan penuh percaya diri kini telah berbalik arah, menjeratnya tanpa ampun.