NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Keputusan di Ujung Lelah

Aroma khas rumah sakit yang tajam menyeruak saat pintu ruang rawat inap terbuka. Di atas ranjang, Hana tampak begitu mungil, kontras dengan tumpukan bantal dan selang infus yang menempel di punggung tangannya. Tak lama setelah dipindahkan dari IGD, kelopak mata yang sembab itu bergerak perlahan, terbuka sedikit demi sedikit untuk menghadapi dunia yang baru saja membuatnya tumbang.

"Ya Allah, sayang... Mama khawatir sekali." Mama Hana langsung menghambur, memeluk putrinya dengan isak tangis yang tertahan. Tangannya yang gemetar mengusap kening Hana yang masih terasa dingin.

Hana mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat tercecer. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang didominasi warna putih itu. Di sana, berdiri sang Papa dengan wajah yang tampak menua sepuluh tahun dalam semalam, dan di sudut ruangan, ada sosok Arlan yang berdiri mematung. Tatapan pria itu terkunci pada Hana, penuh dengan rasa bersalah yang teramat dalam.

"Hana baik-baik saja, Ma. Hanya sedikit kecapekan," bisik Hana parau.

Suaranya hampir hilang, namun ia tetap berusaha memberikan senyum tipis untuk menenangkan ibunya.

"Mulai sekarang, jangan pergi sendirian lagi ya, Nak. Papa tidak sanggup melihatmu seperti ini," ucap sang Papa sambil menggenggam tangan Hana yang lain.

Hana hanya mengangguk lemah. Tubuhnya memang sudah stabil, tapi jiwanya masih terasa remuk.

Hana kemudian mengalihkan pandangannya pada Arlan. Ada keheningan panjang sebelum akhirnya bibir pucat itu bergerak.

"Pak Arlan..."

Arlan tersentak kecil, ia melangkah mendekat hingga berdiri tepat di sisi ranjang.

"Iya, Hana?"

"Saya... saya akan memberikan jawaban atas permintaan Bapak sekarang," ucap Hana.

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Arlan tertegun, matanya membelalak kecil.

"Hana, jangan ambil keputusan sekarang. Kondisimu belum stabil, emosimu masih kacau karena kejadian di makam tadi. Kamu masih punya waktu beberapa hari lagi sesuai janjimu. Jangan terburu-buru," tutur Arlan dengan nada tegas namun tersirat kelembutan yang nyata.

Hana menggeleng perlahan namun pasti. Matanya yang sayu kini menatap Arlan dengan sorot yang berbeda.

"Besok, lusa, atau sekarang... hasilnya akan tetap sama, Pak. Keluarga Bu Inggit tidak akan berhenti mencecar saya sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Saya tidak ingin hidup dalam pelarian dan ketakutan setiap hari."

Hana menghela napas panjang, sebuah napas yang seolah membawa seluruh beban berat keluar dari dadanya. Ia menatap kedua orang tuanya lekat-lekat, menggenggam tangan Mamanya dengan sisa tenaga yang ia punya.

"Saya ingin fokus pada masa depan saya. Saya harus segera mulai skripsi, dan saya tidak ingin beban mental ini terus-menerus membunuh saya perlahan. Saya ingin mengakhiri semua drama ini sekarang juga." Hana menjeda sejenak, menelan ludah sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang akan mengubah seluruh hidupnya.

"Saya mau menikah dengan Pak Arlan."

Detik itu juga, Arlan merasa ada sesuatu yang berdesir hebat di dalam dadanya. Ia terpaku, lidahnya mendadak kelu. Ia menatap gadis di depannya, mahasiswinya sendiri, yang terpaut usia hampir sepuluh tahun dengannya, seorang gadis yang seharusnya masih bebas bermimpi, kini justru memilih masuk ke dalam sangkar pernikahan bersamanya demi sebuah ketenangan.

"Kamu yakin, Hana?" tanya Arlan sekali lagi, suaranya sedikit bergetar.

Arlan ingin memastikan bahwa ini bukan sekadar keputusan impulsif karena rasa lelah.

Hana mengangguk mantap.

"Saya yakin, Pak. Dengan segala konsekuensi yang akan saya hadapi di depan nanti, saya yakin."

Arlan dapat melihat sorot mata itu, sorot mata tegas yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan sedikit pun. Di balik tubuhnya yang lemah dan wajahnya yang pucat, Hana menunjukkan kekuatan mental yang luar biasa. Ia tidak lagi menyerah pada keadaan, ia sedang memilih untuk menghadapi badai itu dengan status yang baru.

Papa dan Mama Hana hanya bisa saling pandang dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa sedih karena putri mereka harus mengambil keputusan yang akan merubah hidupnya, namun ada juga rasa lega karena akhirnya Hana menemukan titik pijak untuk berdiri tegak di tengah badai fitnah yang menerjangnya.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!