Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemakaman Orang Tua Daley
Seminggu kemudian...
Pemakaman kedua orang tua Daley baru dilaksanakan, itu dikarenakan Daley bersikeras untuk mengantarkan kepergian orang tuanya untuk yang terakhir kali. Namun karena kesehatannya, seminggu setelah kecelakaan barulah prosesi pemakaman tersebut dilakukan.
Keluarga Furhet ikut hadir dalam prosesi pemakaman tersebut, namun Juanda dan Amel justru membawa Lania sebagai Lisa. Setelah terjadi perdebatan yang panjang, akhirnya Juanda menyetujui ide istrinya untuk menjadikan Lania sebagai Lisa.
Bukan karena tega mengorbankan Lania, tapi hari demi hari pun Lania terus memohon pada ayahnya agar ia diizinkan untuk membantu keluarga Furhet. Gadis itu tentu saja terus memohon pada ayahnya, karena Amel dan Lisa terus mengancamnya dan mengungkit soal balas budi keluarga.
Saat prosesi pemakaman, Juanda terus berbisik pada Lania. Pria itu berusaha mengenalkan keluarga Jamiko padanya agar Lania tidak sampai salah mengenali mereka. Lania terus menatap Daley yang berada di kursi roda. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa perasaan pria remaja itu karena kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.
Setelah acara itu selesai, seketika keluarga Furhet pun mendekati Aston Jamiko. Lania yang selalu bersikap sopan, seketika menarik tangan Aston lalu mencium punggung tangannya.
Aston terkejut, ia langsung menatap Lisa penuh tanya.
"Ini pertama kalinya Lisa bersikap sopan padaku, selama ini ia tidak pernah melakukannya. Bahkan terakhir kali saat berada di ruang perawatan Daley, gadis ini terlihat sombong dan acuh. Saat aku memeluknya, tidak ada kehangatan sama sekali. Tapi kali ini... senyumannya pun terasa hangat. Sebenarnya apa yang berbeda darinya?" pikir Aston.
Aston Jamiko mengenyahkan pikirannya, ia pun tersenyum lebar saat melihat Lania.
"Bagaimana dengan lukamu nak?" tanya Aston.
"Sudah sembuh total kek. Bolehkah aku yang membantu Daley?" tanya Lania.
"Aku tidak perlu bantuan siapapun, aku bisa melakukannya sendiri. Kau tak perlu mengejekku," celetuk Daley.
Aston menyunggingkan senyumnya, "kau harus sabar menghadapi sikap Ley. Ia..."
"Tidak apa-apa kek, aku bisa mengatasinya," sergah Lania seraya mendorong kursi roda Daley.
"Aku bilang tidak perlu, kau bisa mengerti ucapan manusia kan?" bentak Daley.
Lania tersenyum lebar, "kau lebih cerewet dari seorang kakek-kakek," ejeknya sambil terus mendorong kursi rodanya.
Lania meninggalkan Aston Jamiko dan keluarganya untuk membawa Daley berjalan jalan di sekitar area pemakaman.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Lania.
"Kau sudah tahu tapi masih bertanya. Kau tak perlu menghibur orang cacat sepertiku. Seharusnya kau tidak menyelamatkan aku, aku lebih baik mati bersama kedua orang tuaku dari pada harus hidup seperti ini. Sungguh memalukan," ucap Daley.
Seketika Lania menghentikan langkahnya, ia berjalan ke depan Daley lalu berjongkok di depan pria remaja itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Daley.
"Apa kau pernah bertanya pada orang tuamu apa yang mereka harapkan untuk anaknya?"
Daley bergeming seraya memalingkan wajahnya.
"Setiap orang tua menginginkan anak mereka hidup lebih lama dan bahagia. Kau masih sangat muda, mengapa kau mudah menyerah dengan keadaanmu ini? Aku dengar kakekmu akan mengirimmu ke Amerika untuk melakukan pengobatan. Walaupun hanya nol persen harapan itu tapi tetap patut di coba. Kau tahu kenapa? Itu demi mengabulkan keinginan orang tuamu Ley. Ayah dan ibumu baru saja dimakamkan, mereka pasti bersedih saat mendengar putra mereka tidak menginginkan hidupnya lagi. Saat ini mereka sedang melihatmu dari surga, mereka sangat berterima kasih kepada Tuhan karena menyelamatkan putra kesayangannya."
"Berhentilah menceramahiku."
"Aku hanya mengatakan apa adanya, pikirkan saja sendiri ucapanku. Kau harus tetap bertahan hidup, berusaha sembuh dan membuktikan pada orang tuamu, kalau kau baik baik saja. Kau harus berdiri tegak dan berkata, mami papi... kalian tidak perlu khawatir lagi, jadi tenanglah di alam surga. Karena tidak semua orang memiliki keberuntungan sepertimu, ada yang hidup tapi sebenarnya ia seperti mati. Ia tak bisa memilih antara hidup dan mati karena beban yang ditanggungnya."
Daley menatap Lania, ia melihat kesedihan pada wajah gadis itu.
"Mengapa ia berkata seperti itu? Bukankah kehidupannya begitu bahagia, ia bahkan bisa menjadi artis terkenal seperti keinginannya. Kedua orang tuanya terlihat sangat menyayanginya, tapi aku melihat ada penderitaan tersembunyi di wajahnya, ia benar-benar aneh seperti bukan Lisa yang aku kenal," pikir Daley.
Lania berdiri lalu kembali ke belakang kursi roda Daley. Gadis itu mendorong kursi rodanya lagi.
"Kau jangan memikirkan ucapanku yang terakhir, aku hanya membandingkan keadaanmu dengan orang yang lebih menderita darimu," kata Lania.
"Kau memang pantas jadi ratu drama," celetuk Daley.
Lania terkekeh geli, "tentu saja, itu memang pekerjaanku."
"Kenapa kau tidak membatalkan perjodohan ini? Kau publik figur, jika mereka tahu kau akan menikahi pria cacat, bukankah..."
"Apa aku punya pilihan? Atau kau yang tidak menginginkan aku?" sergah Lania.
"Mengesalkan sekali," gerutu Daley.
"Kenapa?"
"Karena kau terus saja membalas ucapanku. Kau sangat berbeda seperti bukan Lisa yang aku kenal."
"Memang aku kenapa? Apa bedanya?" tanya Lania.
"Apa aku bersikap terlalu lembut di depannya? Bagaimana jika belum menikah saja sudah ketahuan? Ya Tuhan... bantu aku... aku hanya ingin membahagiakan papa Juan," pikir Lania.
"Biasanya kau sangat sombong saat bertemu denganku. Kau pernah bilang, kau akan memutuskan masalah perjodohan kita ini setelah dewasa nanti. Tapi sekarang..."
"Berhentilah banyak berpikir, saat itu aku baru saja memulai karirku. Jadi banyak sekali yang aku pikirkan."
"Ya Tuhan... berapa banyak lagi kebohongan yang harus aku lakukan ini? Aku benar benar tidak tega melakukannya, sepertinya Daley dan kakek Jamiko adalah orang yang sangat baik. Maafkan aku Ley, suatu saat nanti aku akan mengatakan semua kebenarannya, tapi beri aku waktu. Saat ini aku tidak bisa berbuat apapun, aku harus melindungi papa Juan," pikir Lania sedih.
"Baiklah, aku akan berusaha memahaminya. Tapi aku tidak akan memaksamu untuk menikah denganku Lisa, pernikahan karena keterpaksaan itu bukanlah sebuah ikatan yang benar. Tidak perduli seperti apa perjanjian kakekku dengan kakekmu, jika kau tidak menginginkannya, maka aku tidak akan memaksanya."
"Bagaimana denganmu? Apakah kau juga tidak menginginkan pernikahan ini?" tanya Lania.
"Bagaimana aku tidak menginginkannya, aku mengikuti perjalanan karirmu. Aku memiliki semua DVD drama dan filmmu, aku menyukai adegan yang kau mainkan terutama saat kau menjadi wanita yang teraniaya. Kau selalu mendalami setiap karakter dalam film dan drama itu. Kau terlihat cantik dan alami saat membintangi beberapa iklan. Walaupun terkadang kau terlihat tidak sama, entah kenapa ada beberapa yang tidak aku sukai tentangmu. Tapi... aku tetap menyukaimu Lisa, aku sangat menginginkan pernikahan ini," pikir Daley.
Tentu saja Daley menyukai Lisa yang sebenarnya adalah Lania. Beberapa adegan drama dan film bahkan iklan sering digantikan olehnya. Dan saat beberapa kali Daley tidak menyukainya, itu karena yang muncul adalah Lisa yang asli.
"Kenapa kau diam?" tanya Lania.
"Bisakah kau tidak balik bertanya? Apa kebiasaanmu sekarang selalu membalikkan pertanyaan orang lain?" ujar Daley.
"Seingatku, Ley itu pendiam. Kenapa sekarang kau sangat cerewet?"
"Itu karena lawan bicaraku. Kau juga lebih cerewet dari sebelumnya," balas Daley.
Lania menghela nafasnya, "aku tidak mau berdebat denganmu."
"Karena aku cacat? Kau tak perlu mengasihaniku."
"Aku sama sekali tidak membahas kakimu, kenapa kau sensitif sekali?"
Daley tidak lagi membalas ucapan Lania. Pria remaja itu akhirnya diam sambil menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat kembali sedih. Daley menatap kedua kakinya yang sama sekali tidak bisa digerakkan.
"Apakah sangat sakit Ley?"
"Bawa aku ke mobilku, aku sangat lelah," pinta Daley tanpa menjawab pertanyaan Lania.
"Baiklah, aku akan mengantarmu," ujar Lania seraya terus mendorong kursi rodanya menuju mobil Jamiko.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣