Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sejak kejadian kecelakaan itu, semuanya benar-benar berhenti. Tidak ada lagi telepon misterius. Tidak ada pesan aneh. Tidak ada foto. Nomor tak dikenal itu sunyi—seolah tak pernah ada.
Pria yang tergeletak di jalan itu resmi dinyatakan meninggal. Berita kecilnya sempat muncul di media lokal: kecelakaan tunggal, kehilangan kendali, kepala terbentur aspal. Selesai. Tidak ada yang istimewa.
Dan kehidupan Olivia… terus berjalan. Terlalu normal.
Kabar Olin tetap nihil. Nomornya tidak aktif. Media sosialnya kosong. Tidak ada jejak transaksi. Tidak ada kabar dari teman-temannya. Seolah ia benar-benar menghilang dari dunia.
Hari pernikahan semakin dekat. Undangan sudah dikirim. Gedung sudah dipesan. Gaun sudah hampir selesai. Cincin telah tersimpan rapi dalam kotak beludru hitam. Dunia Olivia terasa makin sempit.
Rumah megah itu berubah menjadi sangkar emas. Setiap langkahnya terasa diawasi. Dewi tak lagi berteriak—ia justru menjadi lebih tenang, dan itu jauh lebih menakutkan.
Olivia pernah mencoba kabur.
Subuh itu, ia mengenakan pakaian sederhana, rambut diikat rendah, masker menutup wajah. Ia keluar lewat pintu belakang, menyusuri jalan kecil yang jarang dilewati.
Ia sudah membeli tiket penerbangan paling pagi. Bandara terasa seperti napas kebebasan. Namun saat ia menyerahkan dokumen di konter check-in, petugas tersenyum canggung.
“Maaf, Miss Olivia. Ada permintaan dari pihak keluarga untuk menahan keberangkatan Anda.”
Jantungnya langsung jatuh. Dua pria berbadan besar berdiri tak jauh dari sana. Orang Oma. Ia tidak melawan. Tidak menangis. Tidak membuat keributan.
Ia hanya berjalan kembali dengan langkah kaku, menahan harga dirinya yang runtuh di hadapan orang-orang asing.
Di rumah, Dewi tidak memarahinya. Ia hanya berkata pelan, tanpa emosi:
“Kalau kamu pergi, kamu bukan cuma lari dari pernikahan. Kamu mempermalukan keluarga.”
Olivia sudah tidak peduli dengan nama keluarga, ia hanya ingin hidupnya.
Sejak saat itu, pengawasan semakin ketat. Dan Juna? Juna tetap sama. Tenang. Rasional. Seolah semua ini hanya transaksi hidup yang harus diselesaikan. Kadang Olivia ingin membencinya. Kadang ia justru merasa Juna sama terperangkapnya.
Seminggu sebelum hari H. Olivia duduk sendirian di kamarnya. Gaun pengantin tergantung di sudut ruangan, tertutup plastik transparan. Putih bersih. Terlalu suci untuk hidupnya yang berantakan. Ia menatapnya lama.
“Aku nggak mau,” bisiknya pada diri sendiri.
Olivia berdiri perlahan dan berjalan ke jendela. Dari lantai dua, ia bisa melihat halaman depan rumah yang diterangi lampu taman. Mobil keamanan terparkir di sana.
Satu hal yang dulu tak pernah ada. Ia menyadari sesuatu malam itu. Ini bukan lagi tentang cinta. Bukan tentang Olin. Bukan tentang Juna. Ini tentang reputasi. Kuasa. Nama keluarga. Dan ia hanyalah pion.
Olivia memejamkan mata. Jika ia tidak bisa kabur dengan cara biasa…maka ia harus memikirkan cara yang tidak biasa.
Tiga hari sebelum hari pernikahan. Angka itu terus berputar di kepala Olivia seperti hitung mundur bom waktu.
Ia duduk di lantai kamarnya, bersandar pada sisi ranjang, ponsel di tangan. Setelah beberapa menit menimbang, akhirnya ia menekan nama yang sejak kemarin ingin ia hubungi.
Jesica.
Sahabatnya sejak SMP. Satu-satunya orang yang pernah tahu rencana kaburnya dulu.
Telepon tersambung.
“Liv?” suara Jesica terdengar pelan, seperti sedang berbisik.
“Jes, gue butuh bantuan.”
“Jangan bilang lu mau kabur lagi.”
Olivia terdiam dua detik. “Iya.”
Hening. Lalu terdengar helaan napas panjang dari seberang sana.
“Liv… gue juga lagi diawasi.”
“Apaan sih?” Olivia langsung duduk tegak. “Serius lu?”
“Iyaaa, Liv!” bisik Jesica frustasi. “Nyokap gue sekarang tiap ke mana-mana ngajak gue. Katanya quality time. Padahal berasa dikawal bodyguard pribadi! Kemarin gue cuma mau ke minimarket, tau-tau supir keluarga lu nongol di parkiran.”
Olivia terbelalak. “Hah?!”
“Dan yang paling gila,” lanjut Jesica dramatis, “nyokap gue sekarang update story terus tiap gue keluar rumah. Kayak kode ke seseorang: ‘Jes lagi di mall yaaa.’ Gila nggak sih?”
Untuk pertama kalinya hari itu, Olivia hampir tertawa. Hampir.
“Berarti lu nggak bisa bantu gue?”
“Liv, waktu lu kabur kemarin, gue yang pesenin mobil online. Gue yang nutupin keberadaan lu. Oma lu nggak sebodoh itu.”
Olivia terdiam. Dadanya terasa kosong. Jadi benar. Semua jalur sudah ditutup. Tidak ada cara lagi kah? batinnya lirih.
“Liv…” suara Jesica melembut. “Lu yakin mau nikah?”
“Enggak.”
“Yakin banget?”
“Banget.”
Jesica terdiam sebentar, lalu mendesah pelan. “Oke. Kalau kabur fisik nggak bisa… kita kabur secara strategi.”
“Maksudnya?”
“Bikin mereka yang nggak mau lu nikah.”
Olivia mengernyit. “Caranya?”
“Skandal?” usul Jesica ringan. “Atau lu pura-pura kerasukan di pelaminan?”
“Gila.”
“Ya gue juga lagi panik!”
Olivia menutup wajahnya dengan tangan. Ia ingin tertawa, ingin menangis, ingin menghilang sekaligus.
Tiga hari lagi.
Gaun sudah siap. Makeup artist sudah dibayar. Gedung sudah full booked. Katering sudah final tasting.
“Kalau gue sakit?” gumam Olivia.
“Dokter keluarga lu pasti standby.”
“Kalau gue kabur pagi-pagi banget?”
“Bodyguard taman depan rumah lu, halo?”
Olivia mendengus frustrasi.
“Gini aja,” kata Jesica tiba-tiba dengan nada penuh ide brilian yang biasanya berujung bencana. “Lu jangan kabur sebelum hari H.”
“Terus?”
“Lu bikin kekacauan pas acara.”
Olivia mengangkat alis. “Kayak apa?”
“Misalnya… pas ditanya ‘bersedia atau tidak’, lu jawab—”
“Jes. Ini akad bukan sesi tanya jawab, kita beda agama” potong Olivia datar.
"Oh iya, ya gue lupa lu ini bukan nikah sinetron gereja.”
Olivia memijat pelipisnya. “Jes.”
“Hmm?”
“Kalau gue lakuin itu… gue masih hidup nggak ya besoknya?”
Jesica terdiam. “Oke itu poin penting.”
Keduanya hening beberapa detik. Lalu tiba-tiba Jesica terkikik.
“Astaga, kita kayak lagi nyusun misi kriminal padahal cuma mau nolak nikah.”
Olivia akhirnya tertawa kecil, meski pahit. Namun tawanya terhenti ketika terdengar ketukan di pintu kamar.
Tok. Tok.
“Oliv,” suara Dewi dari luar. “Besok ada pengajian keluarga. Jangan lupa pakai yang sopan.”
Sopan. Olivia melirik lemari yang isinya sekarang lebih banyak kebaya dan kain dibanding hoodie. Olivia dan Jesica sama-sama diam di dua sisi telepon.
“Liv,” bisik Jesica. “Gue merinding.”
“Gue juga.”
Langkah Dewi menjauh. Olivia menatap pintu kamar yang tertutup. Tiba-tiba ia sadar sesuatu. Pengajian? Ia tidak pernah tau ada jadwal itu.
“Jes,” bisiknya pelan.
“Iya?”
“Gue nggak pernah tahu ada pengajian sebelum nikahan.”
Hening. Tak ada jawaban dari Jesica, karena di luar jendela kamar Olivia—sebuah drone kecil melayang pelan.
Lampu merahnya berkedip-kedip, dan mengarah tepat ke arahnya. Jesica masih di ujung telepon ketika Olivia berkata pelan,
“Jes… kayaknya mereka bukan cuma ngawasin lu.”
“Lah terus?”
Olivia menatap drone itu yang semakin mendekat ke kaca jendelanya.
“Kayaknya… gue lagi di-shoot dari sekarang.”