NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 12 SAKIT YANG TIDAK DITANYAKAN

Pagi datang tanpa permisi.

Cahaya menembus tirai tebal, jatuh ke lantai kamar yang semalam jadi saksi air mata.

Gadis itu terbangun dengan kepala berat.

Dunia berputar pelan.

Tenggorokannya kering.

Tubuhnya panas—bukan demam yang ribut, tapi yang diam-diam menggerogoti.

Ia duduk perlahan.

Lututnya gemetar.

Langkah pertama ke kamar mandi terasa seperti memikul beban orang lain.

Di depan cermin, wajahnya pucat.

Bibirnya pecah.

Matanya sembab—bekas menangis yang tidak selesai.

Ia membasuh muka.

Air dingin tidak membantu.

Di luar kamar, suara aktivitas mulai terdengar.

Piring beradu.

Langkah pelayan.

Tawa kecil yang dibuat-buat.

Ia menarik napas panjang.

Keluar kamar.

Di ruang makan, keluarga sudah berkumpul.

Meja panjang penuh.

Kursinya terisi rapi—kecuali satu.

Gadis itu berjalan pelan.

Duduk di kursinya.

Tidak ada yang menoleh.

Pelayan meletakkan sup di depannya.

Uapnya tipis.

Ia menyendok satu.

Tangan gemetar.

Sup itu tumpah sedikit ke piring.

“Pelan-pelan,” suara itu terdengar—

bukan perhatian, tapi sindiran.

Seorang bibi menatapnya.

“Cara makan saja masih seperti itu.”

Ia menggeleng kecil.

“Kalau begini terus, bagaimana mau dibawa keluar?”

Gadis itu menunduk.

Tidak membalas.

Bibi itu melanjutkan,

“Perempuan itu kan cerminan suami.”

Ia melirik ke arah pemuda.

“Kalau kelihatan sakit-sakitan begini, orang mikirnya macam-macam.”

Pemuda itu diam.

Menatap piringnya.

Ibu pemuda tersenyum tipis.

“Ya wajar,” katanya.

“Orang yang dari kecil hidup susah, badannya memang tidak kuat.”

Kalimat itu jatuh ringan.

Seolah fakta.

Padahal pisau.

Gadis itu berhenti menyendok.

Nafasnya tersendat.

Ibu itu belum selesai.

“Dulu waktu kecil,” lanjutnya santai,

“sering kurang makan, kan?”

Ia menoleh ke gadis itu.

“Makanya sekarang gampang sakit.”

Gadis itu mengangguk pelan.

“Iya, Bu.”

Satu kata.

Mengakui tanpa membela.

Bibi lain ikut menyahut,

“Kasihan juga sih.”

Ia tersenyum.

“Tapi ya… kasihan saja tidak cukup.”

Ia mencondongkan badan.

“Di keluarga ini, yang lemah biasanya tersingkir sendiri.”

Kata tersingkir diucapkan lembut.

Seperti nasihat.

Gadis itu merasa dadanya ditekan.

Sup di depannya sudah dingin.

Pelayan datang lagi.

Menyodorkan obat.

“Ini,” katanya singkat.

“Perintah Nyonya.”

Gadis itu menatap obat itu.

Mengangguk.

Ia menelan obat tanpa air.

Tenggorokannya perih.

Pemuda itu akhirnya menoleh.

“Kamu sakit?”

Pertanyaan itu datang terlambat.

Dan terdengar… formal.

Gadis itu menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

Kalimat yang sama.

Selalu sama.

Ibu pemuda tersenyum puas.

“Lihat? Dia kuat.”

Ia menepuk meja pelan.

“Perempuan seperti dia terbiasa.”

Terbiasa disakiti.

Terbiasa diam.

Sarapan selesai.

Satu per satu berdiri.

Pemuda itu juga bangkit.

“Siang aku ada urusan.”

Ia tidak menatap gadis itu.

Pergi.

Gadis itu duduk sendiri.

Meja panjang terasa makin panjang.

Gadis itu duduk sendiri.

Meja panjang terasa makin panjang.

Siang hari, panas menyengat.

Gadis itu berada di taman belakang.

Duduk di bangku kayu.

Pelayan lewat, berhenti sebentar.

Melirik.

“Kamu sebaiknya istirahat di kamar,” katanya datar.

“Taman ini biasanya buat keluarga.”

Gadis itu berdiri.

“Maaf.”

Ia kembali ke kamar.

Langkahnya goyah.

Di koridor, ia berpapasan dengan ibu pemuda.

“Masih berkeliaran?”

Nada suaranya tenang.

“Saya mau ke kamar.”

Ibu itu mengangguk.

“Bagus.”

Ia mendekat.

“Perempuan itu seharusnya tahu.”

Ia menatap mata gadis itu.

“Di keluarga ini, kamu tidak dipilih karena kamu.”

Gadis itu menahan napas.

“Kamu dipilih karena keadaan,” lanjutnya.

“Dan keadaan bisa berubah.”

Ia tersenyum tipis.

“Kalau kamu pintar, kamu tidak akan berharap.”

Kalimat itu menghantam pelan.

Tapi tepat.

Gadis itu menunduk.

“Iya, Bu.”

Ibu itu melangkah pergi.

Sepatunya berdetak tenang di lantai marmer.

Malam turun.

Kamar kembali sunyi.

Gadis itu berbaring.

Demamnya naik.

Punggungnya dingin, keningnya panas.

Pintu terbuka.

Pemuda itu masuk.

Ia berhenti di dekat ranjang.

Menatapnya.

“Kamu benar-benar sakit.”

Bukan pertanyaan.

Kesimpulan.

Gadis itu membuka mata.

Sedikit tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Pemuda itu menghela napas.

Lama.

“Aku—”

Kata itu tertahan.

Ia tidak tahu melanjutkan.

Gadis itu memalingkan wajah.

Air mata merembes ke bantal.

Pemuda itu berdiri di sana.

Diam.

Untuk pertama kalinya, diamnya terasa salah.

Di kamar itu,

perempuan yang tidak pernah dipilih

terbaring sendirian—

bahkan ketika ada orang di sisinya.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!