Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Sang Pangeran Kelas Sebelas
TENG! TENG! TENG!
Bel tanda istirahat kedua berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Pukul 11.30 WIB.
Di Gedung B, tepatnya di ruang kelas XI-A—kelas yang berisi siswa-siswi unggulan angkatan kelas sebelas—suasana yang tadinya kaku karena pelajaran Fisika seketika mencair.
Di bangku barisan tengah, seorang siswa laki-laki baru saja memasukkan buku catatannya ke dalam laci. Dia berdiri, merapikan sedikit seragam putihnya yang dimasukkan rapi ke dalam celana abu-abu. Rambut hitamnya ditata dengan gaya comma hair yang trendi, membingkai wajahnya yang memiliki proporsi nyaris tanpa cacat.
Namanya Rasya Reanta.
Di sekolah ini, tidak ada yang tidak mengenal nama itu. Bagi para siswi kelas 11 dan 12, Rasya adalah definisi dari 'Pangeran Sekolah'. Dia cerdas, selalu meraih peringkat tiga besar paralel, tutur katanya sangat sopan, dan senyumnya bisa membuat siapa saja merasa dihargai.
Lebih dari itu, semua orang tahu bahwa Rasya adalah kandidat terkuat untuk menjadi Ketua OSIS periode berikutnya, menggantikan takhta Fazi. Dia juga adalah salah satu dari "16 Titan"—sebutan tak resmi untuk enam belas siswa paling berpengaruh, berbakat, dan memiliki latar belakang luar biasa di sekolah ini.
Baru saja Rasya melangkah keluar dari barisan mejanya, seorang siswi cantik berambut panjang dengan bando biru menghalangi jalannya dengan senyum tersipu.
"Rasya," panggil siswi itu lembut. Namanya Syifa, salah satu gadis paling populer di kelas XI-A. "Mau ke kantin bareng?"
Rasya menatap Syifa. Senyum hangat langsung merekah di wajah tampannya, membuat beberapa siswi lain di kelas yang menguping pembicaraan itu diam-diam menggigit bibir iri.
"Boleh," jawab Rasya ramah. "Aku juga baru mau ke sana."
Mereka berdua berjalan bersisian keluar kelas, menyusuri koridor lantai dua yang mulai ramai. Tatapan kagum dari adik-adik kelas maupun teman seangkatan mengikuti langkah mereka. Mereka terlihat seperti pasangan emas sekolah.
"Rasya," Syifa memecah keheningan saat mereka menuruni tangga. "Sebentar lagi kan Festival Olahraga dimulai. Kamu... sudah ada rencana untuk angkatan dan kelas kita? Tahun lalu kelas kita juara umum waktu masih kelas sepuluh."
Rasya berjalan dengan langkah santai. Dia menoleh, menatap mata Syifa dengan senyum tulus yang menenangkan.
"Aku sendiri belum tahu pasti, Syifa," jawabnya dengan nada merendah yang khas. "Banyak kelas lain yang juga berkembang pesat tahun ini. Doakan saja, semoga angkatan dan kelas XI-A kita bisa memenangkan Festival Olahraga lagi seperti tahun lalu. Kita harus berjuang sama-sama."
Mendengar jawaban yang begitu bijaksana, Syifa mengangguk senang. "Pasti. Aku akan selalu dukung kelas kita, dan dukung kamu juga."
Mereka hampir mencapai pintu masuk kantin utama yang sudah sangat padat, ketika tiba-tiba tiga orang siswa laki-laki dari kelas XI-B menghampiri mereka dari arah samping.
"Hoo... lihat siapa yang jalan berdua nih," goda salah satu dari mereka, cowok berambut agak ikal bernama Raza, sambil tertawa lebar. "Hehe, Syifa, kamu sepertinya akhir-akhir ini makin nempel aja sama Rasya. Awas lho, dijagain yang ketat, takutnya Pangeran kita diculik orang lain."
Wajah Syifa seketika memerah matang mendengar godaan terang-terangan itu. Dia sedikit mengerucutkan bibirnya, setengah malu setengah marah.
"Raza, jangan gitu dong!" sungut Syifa sambil menutupi pipinya. "Aku cuma ngajak dia makan bareng ke kantin aja kok, nggak lebih."
Melihat Syifa yang salah tingkah, Rasya hanya tertawa tipis. Tawanya terdengar renyah dan sama sekali tidak terganggu.
"Sudahlah, Raza," kata Rasya menengahi dengan nada bercanda. "Setiap kamu ketemu kami, kamu selalu aja begitu. Kasihan Syifa jadi nggak nyaman."
Raza dan kedua temannya, Hanu dan Gilang, saling pandang lalu tertawa mengalah. Mereka memang menghormati Rasya.
"Iya deh, iya, ampun Pak Calon Ketua OSIS," kekeh Raza. "Kalau gitu, kita gabung ya? Ayo ke kantin sama-sama, meja pasti udah pada penuh di dalam."
Rasya mengangguk setuju. "Ayo."
Mereka berlima akhirnya masuk ke dalam kantin yang hiruk-pikuk. Suara piring beradu, tawa siswa, dan aroma berbagai macam makanan langsung menyergap.
Rasya berjalan menuju salah satu kedai paling ramai. "Pak, sop ayamnya satu ya," pesannya ramah pada bapak penjual.
"Oke, siap Mas Rasya! Tunggu sebentar ya!" jawab bapak itu dengan semangat.
Sambil menunggu, mereka mencoba mencari meja kosong di tengah lautan siswa. Syifa berjalan sedikit di depan Rasya, mengedarkan pandangan.
Karena terlalu fokus melihat ke arah meja di ujung ruangan, Syifa tidak memperhatikan jalan di depannya. Dari arah berlawanan, seorang siswa laki-laki bertubuh tegap sedang berjalan membawa mangkuk sop ayamnya.
Bruk!
"Aw!"
Syifa tidak sengaja menabrak dada siswa itu. Karena benturan yang cukup lumayan, kepala mereka sempat beradu sedikit. Syifa terhuyung mundur satu langkah sambil memegangi dahinya, begitu juga dengan siswa laki-laki itu yang mundur selangkah untuk menjaga keseimbangan agar kuah sopnya tidak tumpah.
Syifa terkejut. Dia buru-buru menunduk. "Eh, astaga! Maaf... maaf ya, aku nggak lihat jalan tadi."
Siswa laki-laki yang ditabrak itu tidak menunjukkan ekspresi marah. Wajahnya datar. Dia hanya menggelengkan kepala pelan.
"Tidak perlu minta maaf," jawab siswa itu singkat, suaranya tenang tanpa emosi.
Syifa menghela napas lega, tersenyum canggung, lalu segera berlalu menyusul Rasya dan teman-temannya yang sudah menemukan meja kosong di sudut kantin.
Di sisi lain, siswa laki-laki itu—Callen—kembali berjalan perlahan menuju mejanya sendiri.
Dari belakang Callen, seorang gadis cantik, Zea, muncul dengan raut wajah sangat khawatir. Dia langsung mengecek keadaan Callen.
"Cal! Kamu nggak apa-apa? Kepalamu sakit nggak? Tadi nabraknya lumayan keras lho," cerocos Zea cemas, tangannya hampir saja terulur untuk memeriksa dahi Callen sebelum Callen menghindar halus.
Callen menoleh ke arah Zea, memberikan senyum yang sangat, sangat tipis namun cukup untuk membuat Zea tenang.
"Tenang aja, Ze. Cuma kejedot dikit," jawab Callen santai sambil meletakkan mangkuk sop kesukaannya di meja mereka.
Sementara itu, di sudut kantin yang lain.
Rasya, Syifa, Raza, Hanu, dan Gilang sudah duduk melingkar. Mangkuk-mangkuk sop ayam pesanan mereka akhirnya datang. Uap panas mengepul dari atas meja.
Hanu, yang dikenal memiliki mata paling jeli di antara mereka, mengaduk sopnya sambil menatap Rasya.
"Sya," panggil Hanu. "Kamu kenal cowok yang barusan nggak sengaja ditabrak sama Syifa tadi?"
Rasya meniup pelan kuah sop di sendoknya, lalu menyesapnya dengan elegan. Dia menggelengkan kepala.
"Hmm... nggak. Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia anak kelas 10," jawab Rasya tenang.
"Bukan cowoknya yang menarik perhatianku," sela Hanu, menyipitkan mata ke arah meja Callen dan Zea yang agak jauh. "Tapi... aku rasanya agak familiar dengan cewek yang ngekor di belakangnya tadi."
Raza yang sedang mengunyah daging ayam langsung berhenti, matanya membesar karena teringat sesuatu.
"Ah! Iya bener! Aku juga rasanya kenal!" seru Raza agak tertahan agar tidak menarik perhatian. "Kalau nggak salah, cewek itu primadona baru di kelas 10. Namanya Zea. Cantik banget kan? Tapi aneh..."
Raza mencondongkan tubuhnya ke tengah meja.
"Gue kira si Zea itu pacaran sama Kevin, adik kelas 10 yang jago banget main basket dan kapten klub itu. Gosipnya kan mereka dekat. Tapi... cowok yang barusan ditabrak Syifa itu benar-benar asing. Tampangnya tidak terlalu wah, bahkan cenderung datar."
Raza menoleh pada Syifa. "Menurutmu gimana, Syif? Kan kamu tadi yang jaraknya paling dekat."
Syifa mengunyah makanannya dengan lembut, menelannya perlahan sebelum menjawab.
"Aku sih nggak terlalu mikirin ya," kata Syifa jujur. "Zea si primadona mau dekat sama siapa pun, ya itu urusan dia, kan? Tapi..."
Syifa terdiam sejenak, alisnya bertaut mencoba menggali ingatannya.
"Cowok yang kutabrak tadi... setelah kulihat-lihat lagi dari dekat, wajahnya benar-benar mirip dengan siswa misterius yang nantang Kevin main basket satu lawan satu minggu lalu di lapangan indoor."
Hanu dan Raza saling berpandangan dengan terkejut. Insiden anak cupu mengalahkan Kevin itu memang sempat menjadi rumor panas, tapi tidak banyak yang tahu siapa pelakunya karena kejadiannya saat jam pulang sekolah yang sepi.
"Tapi entahlah, mungkin aku cuma salah lihat," tambah Syifa mengangkat bahu. Dia lalu menoleh ke arah cowok di sebelahnya. "Menurutmu gimana, Rasya?"
Semua mata di meja itu kini tertuju pada Rasya.
Rasya tidak langsung menjawab. Dia terus memakan sop ayamnya dengan tenang. Sendoknya beradu pelan dengan mangkuk. Satu detik... dua detik... tiga detik berlalu. Ekspresi di matanya sangat tenang, terlalu tenang, seolah otaknya sedang menyortir dan memproses ribuan informasi dalam waktu singkat.
Senyum ceria yang sejak tadi menghiasi wajahnya memudar sekian milidetik, sebelum akhirnya kembali merekah sempurna.
Rasya meletakkan sendoknya, lalu menatap teman-temannya dengan ceria dan hangat.
"Sudahlah, teman-teman," ucap Rasya, nadanya halus namun memotong topik pembicaraan itu secara absolut. "Itu kan urusan anak kelas 10. Lebih baik kita nikmati makanan kita sebelum bel masuk bunyi."
Keempat temannya sedikit terkejut dengan perubahan topik yang mendadak itu. Aura Rasya, meski tersenyum, mengisyaratkan bahwa percakapan tentang cowok kelas 10 itu harus berhenti sampai di sini.
"E-eh... iya, bener juga kata Rasya. Ayo makan, keburu dingin nih," sahut Raza memecah kecanggungan, diikuti anggukan Hanu, Gilang, dan Syifa.
Mereka pun kembali memakan sop ayam masing-masing. Namun, sambil menyuapkan makanan ke mulutnya, ekor mata Rasya diam-diam melirik tajam ke arah sudut kantin—tepat ke punggung Callen yang sedang makan dengan tenang bersama Zea.
Menarik, batin Rasya di balik senyum sempurnanya.