NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa Season 2

Penerus Warisan Dewa Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)

Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.

Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.

Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.

Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.

Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 121: Rahasia Ratu Bintang

Pagi itu, langit di atas Dunia Tianyun tampak seperti lukisan kehancuran. Asap hitam pekat bergulung-gulung, diselingi kilatan sihir dan ledakan dari perang saudara antara armada Klan Yao dan Sekte Langit Absolut.

Namun, di dalam Aula Bersantap Istana Kerajaan Zhao, pemandangan yang tersaji justru sangat damai, hangat, dan... sedikit memalukan bagi standar seorang penguasa bayangan.

Zhao Xuan sedang duduk menempel erat pada lengan Ibundanya (Sang Ratu). Wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi kini memancarkan aura anak manja yang absolut. Ia membuka mulutnya sedikit, menunggu dengan sabar.

"Aaa..." ucap Zhao Xuan polos.

Sang Ratu tersenyum penuh kasih sayang, meniup pelan sesendok bubur ayam sarang burung walet, lalu menyuapkannya ke mulut putra bungsunya. "Pelan-pelan, Xuan'er. Jangan sampai tersedak."

Di seberang meja, Zhao Ling memutar bola matanya sambil tertawa geli. "Astaga, Xuan'er! Kau sudah dua belas tahun, sebentar lagi tiga belas! Kau bahkan berani memberikan saputangan pada dewi es kemarin, tapi paginya kau merengek minta disuapi Ibunda? Kau benar-benar punya dua wajah!"

Zhao Tian, yang matanya berkantung hitam karena begadang mengawasi ledakan di langit semalaman, ikut terkekeh lelah. "Biarkan saja, Ling'er. Selama langit di luar sana masih terbakar, melihat adik bungsu kita bertingkah seperti bayi raksasa entah mengapa membuat hatiku tenang."

Raja Zhao mengangguk setuju, menyeruput teh hangatnya. "Keluarga kita aman. Nona Xiao Mei menepati janjinya untuk melindungi istana kita dari kekacauan di luar."

Zhao Xuan mengunyah buburnya dengan tenang. Di dalam hatinya, Zhao Xuan yang semalam baru saja meremukkan jantung Tuan Muda Yao Yan dari dimensi lain itu sama sekali tidak merasa gengsi.

Di kehidupan laluku, orang tuaku dibunuh didepan mataku, batin Zhao Xuan santai. Jika merengek sedikit bisa membuat wanita yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanku ini tersenyum bahagia, aku rela membuang harga diri Asura-ku.

Setelah menelan buburnya, Zhao Xuan menyandarkan kepalanya ke bahu Sang Ratu. Suasananya begitu hangat, sehingga Zhao Xuan memutuskan ini adalah momen yang tepat.

"Ibunda," panggil Zhao Xuan lembut, menatap Sang Ratu dengan mata bulatnya yang polos. "Langit di luar sana sangat menakutkan. Orang-orang terbang itu mengatakan mereka berasal dari Benua Tengah. Ibunda... apakah kita benar-benar hanya manusia fana dari tempat ini? Dari mana sebenarnya kita berasal?"

Gerakan tangan Sang Ratu yang sedang merapikan rambut Zhao Xuan terhenti seketika.

Udara di meja makan mendadak sedikit canggung. Raja Zhao terbatuk pelan, menundukkan pandangannya. Zhao Tian dan Zhao Ling saling berpandangan dengan bingung.

Sang Ratu menarik napas panjang. Ia menatap mata putra bungsunya lekat-lekat. Insting keibuannya menyadari bahwa Zhao Xuan anak yang semalam bertanya tentang "sepuluh bola hitam" terlalu cerdas untuk terus dibohongi.

"Kalian bertiga," Sang Ratu menatap anak-anaknya satu per satu, suaranya kini kehilangan kelembutan fana, digantikan oleh wibawa kuno yang membuat Aula itu terasa hening. "Ada hal yang harus Ibunda simpan demi keselamatan nyawa kalian. Tapi karena dunia telah berubah... kalian berhak tahu sedikit kebenaran."

Sang Ratu mengusap pipi Zhao Xuan dengan lembut.

"Darah yang mengalir di nadi kalian... separuhnya adalah darah raja fana yang mulia dari ayah kalian. Dan separuhnya lagi... berasal dari Benua Barat di Alam Atas," bisik Sang Ratu, matanya menerawang jauh. "Klan Dewa Bintang. Klan yang menguasai tata surya. Ibunda dulunya adalah salah satu dari mereka, sebelum sebuah tragedi memaksaku membuang kekuatanku dan bersembunyi di dunia fana ini."

Zhao Ling menutup mulutnya terkejut. "I-Ibunda... seorang dewi bintang?"

"Ibunda adalah ibumu. Hanya itu yang penting," Sang Ratu memeluk Zhao Xuan dengan erat. "Ibunda menceritakan ini agar kalian paham. Jika ada kultivator yang menyadari sesuatu dalam darah kalian, mereka akan memburu kita tanpa henti. Terutama kau, Xuan'er. Kau yang paling sensitif. Berjanjilah pada Ibunda, jangan pernah mencari tahu kekuatan itu, dan jangan pernah menunjukkannya pada dunia."

Zhao Xuan membalas pelukan ibunya dengan senyum yang sangat manis.

"Aku berjanji, Ibunda. Aku hanya anak bungsu Ibunda yang tidak bisa apa-apa," bisik Zhao Xuan manja.

Namun, di balik pelukan hangat itu, mata hitam Zhao Xuan yang tidak terlihat oleh ibunya berkilat dengan Niat Membunuh sedingin es.

Klan Dewa Bintang. Jadi itu asal usul Roda Bintang ini, batin Zhao Xuan tersenyum buas. Jangan khawatir, Ibunda. Aku tidak akan menunjukkannya pada dunia. Aku hanya akan menggunakannya untuk membantai siapa pun yang berani membuat Ibunda bersembunyi ketakutan di sini.

Tengah malam tiba. Di saat istana terlelap, sang pangeran manja itu telah melepas topeng lucunya dan kembali mengenakan jubah hitam kematiannya.

Di ruang terdalam markas bawah tanah Sekte Langit Asura, Zhao Xuan duduk bersila di tengah-tengah formasi spiritual yang disusun dari puluhan ribu Batu Spiritual Tingkat Menengah hasil rampasan Kapal Utama Klan Yao.

Xiao Mei berdiri berjaga di depan pintu baja, auranya menyegel ruangan itu agar tidak ada riak energi yang bocor ke luar.

"Mulailah," Zhao Xuan memejamkan matanya.

Ia menarik napas panjang. Kesadarannya langsung menyelam ke dalam jiwanya. Ia melewati Roda Pertama (Gravitasi) dan Roda Kedua (Ruang) yang kini berputar stabil. Pandangannya tertuju pada bola hitam ketiga.

Berbeda dengan dua roda sebelumnya, Roda Ketiga memancarkan hawa yang sangat kuno, seolah ia telah ada sebelum alam semesta ini tercipta.

Buka!

Ribuan batu spiritual di sekitar Zhao Xuan meledak serentak menjadi debu. Laju penyerapan Qi kali ini sepuluh kali lipat lebih buas dari sebelumnya. Udara di dalam ruangan itu bukan sekadar bergetar atau retak, melainkan mulai berjalan lambat.

Debu batu spiritual yang melayang di udara berhenti sejenak, bergerak sangat pelan seperti terperangkap di dalam madu tebal.

KRAAAAK!

Tubuh fana Zhao Xuan kembali direkonstruksi secara brutal. Kepadatan otot, tulang, dan meridiannya melonjak gila-gilaan. Kekuatan fisiknya menembus batas Foundation Establishment, melesat naik dengan kecepatan mengerikan hingga akhirnya stabil di tahap Core Formation (Pembentukan Inti) Awal!

Meski ia tidak memiliki energi sihir (Qi) untuk ditembakkan, satu jentikan jarinya kini memiliki tenaga yang setara dengan ledakan gunung berapi.

Di dalam jiwanya, Roda Bintang Ketiga menyala terang, memancarkan cahaya emas keabu-abuan. Pintu hukum alam ketiga telah terbuka.

Hukum Waktu. Manipulasi Relativitas Skala Kecil , Zhao Xuan tersenyum membuka matanya.

Ia mengangkat tangannya. Tiba-tiba, sebuah radius tak kasat mata sepanjang tiga meter terbentuk di sekelilingnya. Di dalam Domain Waktu Relatif ini, Zhao Xuan menjadi dewa mutlak atas detik yang berdetak.

"Tuan!" suara Jue Ying dari alat komunikasi bambu memecah keheningan. "Ada penyusup! Dua pengintai tingkat Foundation Establishment Akhir dari Sekte Langit Absolut berhasil melewati perimeter atas. Mereka sedang mencoba menggali masuk ke arah paviliun Ibunda Tuan!"

Mendengar kata 'Ibunda', Xiao Mei yang berjaga di pintu langsung mencabut pedang esnya, Niat Membunuhnya meledak.

Namun Zhao Xuan mengangkat tangannya, menghentikan Xiao Mei.

"Kau tetap di sini, Mei'er," suara Zhao Xuan tidak lagi memancarkan nada kekanak-kanakan, melainkan kekejaman murni seorang tiran. "Mereka berani melangkah ke taman ibuku? Aku yang akan menyambut mereka."

Di taman Istana Kerajaan Zhao, dua sosok berpakaian hitam mendarat tanpa suara di dahan pohon persik. Mereka adalah elit pengintai Sekte Langit Absolut yang dikirim untuk mencari tahu mengapa Klan Yao menembak kapal mereka semalam.

"Istana fana ini aneh. Tidak ada penjagaan spiritual, tapi aku merasakan sisa aura yang sangat padat," bisik pengintai pertama.

"Jangan banyak bicara. Cepat pasang peledak pembentuk formasi ini di atap paviliun Ratu. Jika kita menyandera keluarga kerajaan, Klan Yao tidak akan—"

Kalimat pengintai kedua terputus.

Di dahan pohon yang sama, berjarak kurang dari satu meter di antara mereka berdua, berdiri seorang remaja berjubah hitam pekat. Ia muncul begitu saja tanpa memicu riak ruang sedikit pun (berkat Roda Kedua).

"Menyandera siapa?" bisik Zhao Xuan datar.

Kedua pengintai Foundation Establishment itu tersentak kaget. Insting bertarung mereka yang sangat terlatih langsung bereaksi. Dalam seperseribu detik, mereka mencabut pedang pendek yang dilapisi racun dan menikamkannya secara serentak ke arah leher dan jantung Zhao Xuan!

Kecepatan pedang kultivator tingkat tinggi itu terlalu cepat untuk diikuti oleh mata fana.

Namun, bagi Zhao Xuan, semuanya tampak sangat membosankan.

Tepat saat ujung pedang mereka berjarak lima sentimeter dari kulitnya, kedua pengintai itu memasuki Domain Waktu Relatif (Radius Tiga Meter) milik Roda Bintang Ketiga Zhao Xuan.

Seketika, bagi kedua pengintai itu, tubuh mereka terasa seberat gunung. Waktu di sekitar mereka melambat sepuluh kali lipat. Gerakan pedang kilat mereka kini terlihat seperti gerakan siput yang sedang merayap. Mereka mencoba berteriak, namun pita suara mereka bergetar dengan frekuensi yang sangat lambat hingga tidak menghasilkan suara apa pun.

Mata mereka membelalak dalam kengerian absolut. Apa ini?! Formasi dewa macam apa ini?!

Di tengah waktu yang membeku itu, Zhao Xuan bergerak dengan kecepatan normal. Kontras kecepatan ini membuatnya terlihat seperti iblis yang menari di antara patung-patung hidup.

Zhao Xuan tidak mencabut senjata. Ia hanya berjalan santai melewati ujung pedang yang bergerak satu milimeter per detik itu.

Ia mengulurkan tangannya, meremas gagang pedang salah satu pengintai, lalu dengan lembut mengarahkan ujung pedang beracun itu ke arah tenggorokan rekan pengintai tersebut. Kemudian, ia mengambil pedang yang satunya, dan mengarahkannya ke jantung temannya yang lain.

Zhao Xuan mengatur posisi pedang mereka sedemikian rupa sehingga mereka tampak seperti saling menikam satu sama lain secara telak.

Setelah posisinya sempurna, Zhao Xuan menepuk bahu mereka berdua dengan santai.

"Selamat tidur," bisik Zhao Xuan kejam.

Ia melangkah mundur, keluar dari radius tiga meternya, dan mematikan Domain Waktunya.

Seketika, waktu kembali mengalir normal bagi kedua pengintai itu. Momentum dorongan tenaga yang mereka keluarkan sebelumnya kini meledak tanpa bisa dihentikan.

JLEB! JLEB!

"Ukkk!!"

Kedua pengintai Sekte Langit Absolut itu saling menikam tenggorokan dan jantung rekan mereka sendiri dengan kecepatan penuh! Darah menyembur deras. Mereka jatuh dari atas dahan pohon dan menghantam tanah dengan suara berdebum keras, tewas seketika oleh senjata mereka sendiri dalam posisi saling membunuh.

Zhao Xuan berdiri di atas dahan, menatap mayat mereka dengan mata hitam yang sedingin es. Tidak ada secercah pun kehangatan atau kelucuan anak manja yang ia tunjukkan pada ibunya pagi tadi. Di sini, di bawah cahaya bulan, ia murni sang dewa kematian.

Gravitasi, Ruang, dan Waktu, batin Zhao Xuan, memutar lehernya hingga berbunyi krak pelan. Roda Bintang Ketiga telah memberiku kendali absolut atas pertarungan jarak dekat. Faksi mana pun yang berani turun ke dunia fana ini, bersiaplah untuk dibantai dalam kesunyian.

1
MF
fghuihffxdfgghju
Yanka Raga
😎🤩
Yanka Raga
🤩😎
Yanka Raga
😎🤩
alexander
bagus ceritanya
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
gasssdd deuiiii manggg minnnn
saniscara patriawuha.
sikatttttt sudahhhhh
abyman😊😊😊
Hahahah🤣
saniscara patriawuha.
gassssdddd...
Rinaldi Sigar
lnjut
abyman😊😊😊
Bantaiiiiiiiiiiii 💪💪💪
saniscara patriawuha.
wadohhhhhh wadohhhhh
Rinaldi Sigar
lanjut
Yanka Raga
😎🤩
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
ohh yessss
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
bantaiiii habisssd manggg suannnn
saniscara patriawuha.
apa nggak terkencing kencing itu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!