Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Menyerah
Pukul sebelas malam, keheningan Kota Bandung dipecah oleh deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan kediaman Suryono. William akhirnya tiba dengan sisa-sisa napas yang memburu setelah perjalanan panjang dari Jakarta.
Chika, yang tengah duduk di ruang tengah menemani sang kakek, segera bangkit saat mengenali suara mobil itu. Wajahnya yang semula muram tampak cerah melihat kedatangan sang papa.
"Ayah, bagaimana kondisinya? Sudah lebih membaik?" tanya William begitu melangkah masuk dan melihat ayah mertuanya masih terjaga di atas kursi roda.
"An ... ik ... ra ... ait," jawab Suryono dengan suara parau yang terbata-bata, mencoba menjelaskan bahwa kondisinya cukup baik namun Vira saat ini berada di rumah sakit.
William mengangguk paham, ia merengkuh punggung tangan pria tua dan mengusapnya. Kemudian, ia meletakkan kotak cheesecake kesukaan mertuanya di atas meja.
"Papa harus segera ke rumah sakit. Chika, bisa tolong temani Opa dulu di sini?" pinta William.
Chika mengangguk singkat tanpa menoleh, jemarinya masih asyik menari di atas layar ponsel, menyembunyikan rasa cemas di balik permainan gimnya.
"Kalau butuh apa-apa, segera bilang pada asisten rumah tangga, ya," pesan William sembari mengusap lembut puncak kepala putri sulungnya. Ia kemudian berpamitan pada Suryono, "Saya menyusul Vira dulu, Yah."
Suryono mengangguk lemah. Meski dadanya terasa sesak oleh kekhawatiran terhadap sang istri, ia memilih diam, tak ingin menambah beban pikiran menantu yang sudah menempuh perjalanan jauh.
BMW merah itu kembali membelah kesunyian malam menuju rumah sakit. Pikiran William berkecamuk, ia tahu persis betapa hancurnya perasaan istrinya saat ini. Ayahnya baru saja menunjukkan kemajuan pasca-stroke, dan kini sang ibu harus menyusul masuk ruang perawatan.
Tiba di rumah sakit, William segera melangkah lebar menuju ruang VVIP tempat Aina dirawat. Begitu ia mengirim pesan singkat, pintu kamar terbuka. Vira keluar dengan langkah gontai dan langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya.
"Sayang, kau baik-baik saja?" bisik William lembut. Ia mendekap tubuh Vira yang bergetar hebat, mendaratkan kecupan-kecupan penenang di puncak kepala istrinya.
"Ibu baru saja sadar ... aku takut, William," rintih Vira lirih. Ia mendongak, menatap suaminya dengan mata yang sembap dan binar ketakutan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya William dengan nada cemas.
"Ibu mengalami anemia akut. Ternyata selama seminggu ini tubuhnya sudah sangat lemah, Liam ... dan aku tidak ada di sisinya untuk menyadari itu semua." isak Vira pecah. Ia kembali membenamkan wajah di dada bidang William, membiarkan air matanya membasahi kemeja putih sang suami yang kini tampak kusut.
William mempererat pelukannya, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan istrinya di titik nadir kelelahannya. Menyadari tangisan Vira yang kian pecah, ia perlahan menuntun sang istri menuju mobil BMW-nya yang terparkir di sudut rumah sakit. Ia tak ingin isakan pilu itu mengganggu ketenangan pasien lain di koridor malam yang sunyi.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan. Vira melingkarkan tangannya erat pada lengan William, menyandarkan kepalanya di sana sembari membiarkan bahunya bergetar.
"Sayang, sepertinya aku belum bisa pulang ke rumah besok. Aku masih ingin di sini, merawat Ibu dan Ayah," ucap Vira dengan suara yang masih serak.
William mengangguk pelan, jemarinya mengusap lembut rambut istrinya. Ia sangat memahami situasi ini—tak mungkin memaksakan Vira pulang sementara hati dan pikiran wanita itu tertinggal di kediamannya mertuanya.
"Kau sudah memberitahu kedua kakakmu?" tanya William sembari mengeratkan tautan jemari mereka, lalu mengecup punggung tangan Vira berkali-kali.
"Sudah, Sayang. Tapi mereka baru bisa tiba di Indonesia satu bulan lagi," tutur Vira lesu. Ia tak tega mendesak kedua kakak laki-lakinya yang tengah mengemban tugas negara di Lebanon untuk pulang secara mendadak.
William menghela napas panjang, mencoba memikul beban yang dirasakan istrinya. "Ya sudah, tinggallah di sini sampai semua membaik. Aku akan mengirim perawat khusus untuk menjaga Ibu, agar kau tidak terlalu kelelahan," putusnya tegas.
Vira terenyuh. Ia meraih tangan suaminya dan mengecupnya lama sebagai bentuk terima kasih yang mendalam. Tanpa andil William—mulai dari fisioterapis untuk ayahnya, perawat khusus, hingga dua asisten rumah tangga tambahan kiriman suaminya—ia tak tahu bagaimana nasib kedua orang tuanya yang tinggal di Bandung.
"Mommy sudah pulang," ujar William memecah keheningan yang sempat tercipta.
Vira tersentak, isakannya seketika terhenti. "Mama sudah kembali dari Aussie?"
"Iya, Sayang. Baru saja ... dan tadi...," William menjeda kalimatnya sejenak, seolah berat untuk mengatakannya. "Mommy dijemput oleh Cyntia."
Deg!
Napas Vira kembali tersengal. Wanita yang berambisi merusak pernikahannya itu kini mulai melangkah lebih jauh dengan mendekati ibu mertuanya. Vira yakin, telinga Inneke kini tengah dijejali hasutan-hasutan beracun oleh 'ular betina' itu.
"Aku lelah, William. Dia pasti tidak akan berhenti setelah menghasut Chika. Apakah ... apakah pernikahan ini adalah sebuah kesalahan?" tanya Vira dengan suara bergetar. Ia merasa seolah seluruh keluarga William—kecuali suaminya sendiri—menolaknya mentah-mentah.
William melonggarkan pelukannya, memegang kedua bahu Vira agar mereka bisa bertatapan langsung. "Apa yang salah? Aku mencintaimu, Vira. Jangan pernah meragukan itu hanya karena mereka," ucapnya dengan tatapan tajam namun teduh.
"Tapi Chika ... aku mungkin masih bisa bersabar menghadapi labilnya emosi anak itu. Namun kakakmu, mama ... aku merasa tak cukup kuat untuk menopang semua tekanan itu sendirian. Aku ingin menyerah rasanya," bisik Vira tertunduk lesu
William meraih dagu istrinya, mengangkat wajah cantik yang kini sembap itu hingga netra mereka bertemu. "Aku yang akan mengurusnya. Aku akan menyingkirkan Cyntia dari hidup kita. Aku janji."
Vira ingin percaya, namun bayangan kakak iparnya yang kasar dan ibu mertuanya yang memandangnya sebelah mata seolah hanya sebagai pengasuh, membuat nyalinya terombang-ambing.
"Aku tidak bisa kehilanganmu, Vira. Kau tahu itu? Setelah orang tuamu pulih, mari kita mulai hidup baru. Hanya kau, aku, dan anak-anak. Jika perlu, kita bisa pindah dan menetap di Singapura," ajak William dengan nada serius.
Vira tertegun, tak mampu menjawab. Pikirannya saat ini masih terlalu penuh dengan kekhawatiran akan kesembuhan orang tuanya.
"Kau mengizinkanku tinggal di rumah orang tuaku untuk sementara waktu, kan?" tanya Vira memastikan sekali lagi.
"Tentu, Sayang. Jangan khawatirkan hal lain. Chika dan Anggi akan baik-baik saja bersama Bi Ijah dan suster yang membantu menjaga mereka." William mengecup kening istrinya.
Vira ingin sekali merasa tenang, namun jauh di lubuk hatinya dipenuhi dengan kekhawatiran luar biasa. Ia bisa membayangkan betapa murkanya Inneke saat mengetahui menantunya tidak segera pulang untuk menyambutnya dan justru memilih bertahan di Bandung.
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭