NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 CCTV yang Menyamar

Ren membawa Yuki dan yang lain menuju ruang kontrol utama. Di sanalah Niko biasanya menghabiskan sebagian besar waktunya. Ruangan itu dipenuhi layar-layar besar yang menampilkan berbagai sudut rumah Kai, halaman, jalan sekitar, hingga beberapa properti lain yang tersebar di kota. Namun, yang membuat semuanya berbeda adalah sistem yang bekerja di balik layar-layar itu.

“Semua CCTV di rumah utama dan area lain tidak bisa diakses sembarangan,” jelas Ren. “Bukan cuma dikunci, tapi disamarkan. Kalau ada yang mencoba menyusup atau meretas, yang mereka lihat hanyalah rekaman palsu.”

Niko, yang duduk di depan deretan komputer, menoleh dan mengangguk singkat. “Kami pakai sistem umpan. Musuh mengira mereka sudah masuk, padahal yang mereka tonton hanyalah loop lama rumah kosong, lampu mati, halaman tak terurus. Semua sudah disetting supaya terlihat seperti tak ada siapa pun di sana.”

Ia mengetik beberapa perintah, lalu salah satu layar memperlihatkan tampilan yang berbeda. “Ini tampilan asli. Dan ini,” ia menggeser jari ke layar lain, “versi yang akan dilihat penyusup.”

Perbedaannya jelas. Versi palsu memperlihatkan rumah yang tampak seperti sudah lama ditinggalkan: debu, tirai kusam, halaman penuh ranting dan daun kering. Sementara versi asli menunjukkan kondisi rumah yang sebenarnya, meski kini memang sengaja dibuat tampak berantakan dari luar.

“Kalau ada yang memasang kamera sendiri di sekitar rumah?” tanya Yuki pelan.

Niko tersenyum tipis. “Sinyalnya akan kami tangkap, lalu kami ganggu. Gambar yang mereka dapat juga akan kami ganti. Intinya, apa pun yang mereka lihat, itu bukan kondisi sebenarnya.”

Ayah Kai menepuk bahu Niko dengan bangga. “Itu sebabnya tempat ini tidak mudah ditembus. Bukan cuma temboknya yang kuat, tapi juga ilusi yang melindunginya.”

Ren melanjutkan, “Bahkan kalau ada yang berhasil masuk ke sistem kota atau jaringan umum, mereka tetap tidak akan menemukan titik akses ke ruang bawah tanah. Lokasinya tidak ada di peta, tidak ada di blueprint resmi, dan pintu masuknya hanya bisa dibuka dengan kartu akses khusus serta verifikasi ganda.”

Yuki menghela napas pelan, campuran antara kagum dan lega. “Jadi… meskipun mereka mengawasi rumah itu, mereka tidak akan tahu kita ada di sini.”

“Benar,” jawab Ren mantap. “Bagi mereka, rumah itu kosong. Dan bagi dunia luar, keluarga Kai seolah menghilang sementara waktu.”

Niko kembali fokus ke monitornya. “Kalau ada pergerakan mencurigakan di sekitar properti mana pun, kita akan tahu lebih dulu. Mereka tidak melihat kita, tapi kita bisa melihat mereka.”

Kata-kata itu membuat suasana di ruangan terasa sedikit lebih tenang. Yuki memeluk Ai lebih erat, merasa untuk pertama kalinya sejak ancaman itu muncul, mereka benar-benar berada di balik tirai yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun.

Ren mengangguk, lalu menambahkan penjelasan yang membuat Yuki semakin tercengang. “Dan satu lagi… kamera-kamera itu tidak pernah terlihat seperti CCTV biasa.”

Yuki menoleh, sedikit bingung. “Maksudnya?”

Niko tersenyum kecil, lalu berdiri dan mengajak mereka melihat salah satu sudut ruangan yang menampilkan halaman depan rumah Kai. Di layar itu terlihat taman dengan bunga-bunga kecil, patung hias, pot tanaman, dan beberapa lampu taman yang tertanam di tanah.

“Yang kamu lihat ini,” kata Niko sambil menunjuk salah satu pot bunga di layar, “itu kamera.”

Yuki terkejut. “Pot bunga?”

“Iya,” jawab Niko santai. “Ada yang berbentuk pot, ada yang menyamar jadi lampu taman, ada yang seperti batu hias, bahkan ada yang tampak seperti ornamen kecil di dinding. Semuanya punya sudut pandang berbeda. Jadi kalau ada orang mengamati dari luar, mereka cuma lihat dekorasi biasa. Tidak ada yang curiga.”

Ren menambahkan, “Bahkan di dalam rumah juga sama. Ada yang menyamar jadi jam dinding, ada yang seperti hiasan meja, ada juga yang kelihatan seperti gantungan kunci di dekat pintu. Semua itu sebenarnya kamera dan sensor.”

Ayah Kai mengangguk pelan. “Kai tidak pernah suka sesuatu yang terlihat mencolok. Dia lebih memilih perlindungan yang tidak terlihat.”

Niko kembali ke kursinya dan mengetik beberapa perintah. Layar berubah, menampilkan sudut lain: sebuah patung kecil berbentuk burung di taman belakang. “Ini salah satu favoritku. Dari luar cuma kelihatan patung biasa. Tapi di dalamnya ada lensa, mikrofon, dan sensor gerak. Kalau ada orang mendekat, sistem langsung menandai.”

Yuki memeluk Ai lebih erat, hatinya sedikit lebih tenang. “Jadi… mereka bisa mengawasi kita, tapi kita tidak pernah benar-benar terlihat?”

“Kurang lebih begitu,” jawab Ren. “Musuh mengira rumah ini cuma bangunan kosong yang tak terurus. Padahal setiap langkah mereka terekam. Setiap gerakan mereka terbaca.”

Ibu Kai tersenyum tipis. “Itulah cara Kai melindungi orang-orang yang dia sayangi. Bukan dengan pamer kekuatan, tapi dengan membuat musuh berjalan di dalam bayangan yang mereka kira aman.”

Yuki menghela napas panjang, rasa cemas di dadanya sedikit berkurang. “Aku baru sadar… dia benar-benar memikirkan semuanya sampai sedetail ini.”

Niko melirik Yuki sebentar. “Dia selalu begitu. Bahkan sebelum semua ini terjadi. Sistem ini dibuat bukan cuma untuk menghadapi musuh, tapi untuk memastikan… kalau suatu hari orang-orang yang dia cintai harus bersembunyi, mereka tetap aman.”

Ren menatap layar-layar itu dengan wajah serius. “Dan sekarang, sistem ini bekerja untuk kalian. Jadi jangan khawatir. Selama kita di sini, dan selama jaringan ini masih aktif, tidak ada yang bisa melihat kita kecuali kita sendiri yang mau terlihat.”

Yuki mengangguk pelan. Di dalam hatinya, ia merasa seperti berada di dalam benteng tak kasat mata dilindungi bukan oleh tembok semata, melainkan oleh kecerdikan, perencanaan, dan cinta yang selama ini Kai simpan dalam diam.

Yuki langsung menutup wajahnya dengan satu tangan, pipinya memerah. “Jadi selama ini… kalau aku menari-nari sambil nyanyi di halaman depan atau belakang itu… kelihatan semua dong?” katanya lirih, lalu terkekeh malu. “Pantesan aku nggak pernah lihat CCTV-nya. Ternyata nyamar semua ya… aduh, malunya.”

Ren terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil. “Tenang, Yuki. Yang lihat juga cuma kami yang pegang akses. Lagipula… itu bukan sesuatu yang memalukan.”

Niko ikut tersenyum, jari-jarinya masih di atas keyboard. “Secara teknis sih, iya, terekam. Tapi sistem ini bukan buat mengintip hal-hal pribadi. Fokusnya keamanan. Kalau tidak ada aktivitas mencurigakan, rekamannya bahkan tidak kami buka.”

Ibu Kai menepuk bahu Yuki lembut. “Justru ibu senang tahu kamu masih bisa tertawa, bernyanyi, dan bergerak bebas di halaman. Itu tandanya hatimu mulai tenang.”

Yuki menghela napas, masih tersenyum kikuk. “Tetap aja rasanya kayak… aduh, aku malu sendiri. Pasti kelihatan aneh ya aku muter-muter sambil gendong Ai?”

Ren menggeleng. “Yang kelihatan itu… ibu muda yang lagi bahagia. Itu saja.”

Ayah Kai berdehem kecil, lalu tersenyum tipis. “Dan kalau boleh jujur, rumah ini terasa lebih hidup sejak kamu ada. Jadi… kalau kamu mau menari lagi di halaman, anggap saja itu mengisi suasana.”

Yuki menatap mereka satu per satu, lalu tertawa kecil, kali ini lebih lepas. “Baiklah… tapi lain kali aku pura-pura nggak tahu saja ya kalau ada ‘bunga’ yang sebenarnya kamera.”

Niko terkekeh. “Tenang. Bunganya juga sudah biasa lihat hal-hal aneh. Mereka profesional.”

Semua tertawa ringan. Di tengah ruang bawah tanah yang kokoh itu, suasana mendadak terasa lebih hangat bukan cuma karena sistem keamanan yang canggih, tapi karena tawa kecil Yuki yang perlahan mengusir sisa-sisa cemas di hati mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!