Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Aroma mentega hangus samar bercampur wangi kopi hitam memenuhi dapur rumah keluarga Virellia. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui tirai tipis berwarna krem, memantul lembut di lantai marmer yang mengilap.
Jam dinding menunjukkan pukul 06.12.
Di lantai dua, seorang gadis masih menggeliat di balik selimut tebalnya.
Arcelia Virellia.
Rambut panjangnya berantakan menutupi setengah wajahnya. Alarm ponselnya sudah berbunyi tiga kali, tapi tangannya hanya mengibas asal, lalu kembali menarik selimut sampai menutup kepala.
"…Lima menit lagi…"
Pikirannya setengah sadar.
Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.
BRAK!
Pintu kamarnya terbuka cukup keras.
"ARCELIA! Bangun! Kamu telat lagi!"
Suara Kaiven Virellia, kakaknya, menggema memenuhi kamar.
Arcelia mengerang pelan, wajahnya masih menempel di bantal.
"Bang… aku bangun… ini…"
"Bangun itu duduk, bukan ngomong sambil ngiler."
Arcelia langsung membuka mata. Ia refleks menyentuh sudut bibirnya.
"ABANG!"
Kaiven menyeringai puas, bersandar di kusen pintu dengan tangan terlipat di dada.
"Tiga puluh menit lagi kamu harus berangkat."
Setelah mengatakan itu, Kaiven pergi begitu saja.
Arcelia menjatuhkan wajahnya kembali ke bantal.
"...Aku benci pagi."
Suara hatinya bergumam pelan.
Tapi ia tahu, kalau ia tidak bangun sekarang, mamanya akan datang. Dan itu jauh lebih menakutkan daripada kakaknya.
Dengan napas panjang, Arcelia akhirnya duduk. Rambutnya acak-acakan seperti baru disambar badai. Ia menyeret langkah menuju kamar mandi, masih setengah tersandung sandal rumah.
Air dingin menyentuh wajahnya saat ia mencuci muka. Sensasi dingin itu langsung memaksa kesadarannya kembali.
Ia menatap bayangannya di cermin.
"...Hari baru lagi."
Ada perasaan aneh setiap ia mengucapkan itu dalam hati. Bukan sedih, bukan juga senang. Hanya… perasaan seperti sedang mengejar sesuatu yang bahkan belum ia pahami.
Lima belas menit kemudian, Arcelia turun ke ruang makan dengan rambut masih sedikit lembap. Seragam sekolahnya rapi, meskipun kancing paling atas sengaja ia biarkan terbuka.
Di meja makan panjang, keluarganya sudah berkumpul.
Mirella Virellia sedang menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen putih. Gerakannya anggun, tenang, seperti selalu memiliki waktu untuk segala hal.
Alveron Virellia duduk di ujung meja, membaca tablet berisi laporan bisnis sambil sesekali mengernyit.
Kaiven sudah duduk lebih dulu, menyantap sarapan dengan cepat. Sedangkan Elvarin, adik bungsu mereka, sibuk menusuk omeletnya tanpa benar-benar memakannya.
"Pagi, Ma… Pa…" sapa Arcelia, suaranya masih serak sisa bangun tidur.
Mirella tersenyum hangat. "Pagi, Sayang. Duduk. Sarapannya hampir dingin."
Arcelia duduk di kursinya, menarik piring berisi roti panggang dan telur orak-arik.
Baru saja ia hendak menyuap, suara Alveron terdengar.
"Kamu ada latihan hari ini?"
Arcelia mengangkat kepala. "Ada, Pa. Setelah sekolah."
Alveron mengangguk pelan, matanya kembali ke tablet.
"Bagus. Kamu harus tetap jaga kemampuan bela dirimu."
"Dia jaga kok, Pa. Kemarin dia hampir bikin pelatihnya jatuh," sela Kaiven.
Arcelia langsung menendang kaki kakaknya di bawah meja.
Kaiven tersedak minuman.
"ARCELIA!"
Elvarin tertawa kecil.
Mirella hanya menggeleng sambil tersenyum.
Suasana itu terasa hangat. Nyaman. Normal.
Dan Arcelia menyukai momen seperti ini.
Ia menyuap makanannya perlahan, menikmati suara sendok beradu pelan dengan piring, aroma kopi papanya, dan tawa kecil adiknya.
Kadang ia berpikir…
Andai waktu bisa berhenti di momen seperti ini saja.
Namun, Arcelia menangkap sesuatu.
Ia memperhatikan papanya menatap layar tablet sedikit lebih lama dari biasanya. Jari Alveron mengetuk meja tanpa sadar.
Gerakan kecil. Hampir tidak terlihat.
Tapi Arcelia terbiasa memperhatikan detail.
"Pa… semuanya baik-baik saja?" tanyanya tiba-tiba.
Alveron menatapnya sekilas. Senyum tipis muncul.
"Tentu Sayang."
Jawaban cepat. Terlalu cepat.
Arcelia tidak bertanya lagi. Tapi ada perasaan kecil yang mengganjal di dadanya. Seperti ada sesuatu yang tidak dikatakan.
Setelah sarapan, mereka bersiap berangkat.
Suara langkah kaki, suara tas diseret, suara pintu lemari ditutup, bercampur menjadi rutinitas pagi yang akrab.
Di halaman rumah, mobil keluarga sudah menunggu.
Angin pagi menyapu lembut rambut Arcelia saat ia berdiri di samping mobil, menunggu adiknya yang masih mengikat sepatu.
Ia menatap langit cerah.
Hari itu terlihat sempurna.
Terlalu sempurna.
"...Semoga hari ini tenang."
Bisiknya dalam hati.
Ia belum tahu.
Hari-hari tenang seperti ini tidak akan bertahan selamanya.
Mobil keluarga Virellia melaju mulus meninggalkan halaman rumah. Deru mesin terdengar halus, hampir tenggelam oleh suara musik instrumental pelan yang diputar oleh sopir.
Arcelia duduk di kursi belakang bersama Elvarin. Adiknya itu masih sibuk memainkan resleting tasnya naik turun tanpa tujuan.
"Varin, nanti rusak Dek," tegur Arcelia.
Elvarin mengangkat bahu. "Aku bosan Kak."
"Kamu baru duduk dua menit loh Dek."
"Ya itu, dua menit itu lama Kak."
Arcelia menghela napas kecil, lalu menoleh ke luar jendela. Pepohonan kota bergerak mundur dengan cepat, sinar matahari pagi menyelinap di sela bangunan tinggi.
Di kursi depan, Kaiven sedang membalas pesan di ponselnya dengan ekspresi serius. Sesekali rahangnya mengeras, seolah menahan sesuatu.
Arcelia memperhatikannya beberapa detik.
"Bang."
Kaiven tidak langsung menoleh. "Hm?"
"Abang lagi sibuk banget ya akhir-akhir ini."
Kaiven mengunci layar ponselnya. "Namanya juga mau lulus. Banyak urusan Dek."
Jawabannya terdengar santai. Tapi Arcelia tahu kakaknya terlalu cepat menjawab.
Perasaan ganjil itu muncul lagi.
Ia tidak melanjutkan pertanyaan. Hanya menyandarkan punggung ke kursi, memejamkan mata beberapa detik.
...Apa aku cuma terlalu sensitif?
Mobil berhenti di depan gerbang sekolah elit tempat Arcelia belajar. Bangunan megah dengan halaman luas menyambut para siswa yang berdatangan. Suara percakapan, langkah sepatu, dan tawa remaja bercampur menjadi hiruk-pikuk pagi.
Arcelia turun dari mobil, merapikan rok seragamnya secara refleks.
"Jangan lupa pulang tepat waktu," kata Kaiven dari dalam mobil.
Arcelia mendengus kecil. "Aku bukan anak kecil Bang."
"Kadang iya."
Mobil melaju pergi sebelum Arcelia sempat membalas.
Elvarin sudah berlari lebih dulu menuju gedung sekolahnya, melambaikan tangan tanpa menoleh lagi.
Arcelia menggeleng pelan, lalu mulai berjalan memasuki area sekolah.
Beberapa siswa menyapanya.
"Pagi, Arcelia!"
"Hai!"
"Kamu udah siap presentasi hari ini?"
Ia membalas dengan senyum ringan dan anggukan sopan. Arcelia dikenal cukup ramah, tapi tidak terlalu mudah dekat dengan semua orang.
Saat berjalan melewati lorong utama, suara langkah sepatu beradu dengan lantai keramik terdengar ritmis. Aroma parfum lembut bercampur bau buku dan pendingin ruangan yang khas.
Ia berhenti di depan loker, membuka pintunya, lalu memasukkan beberapa buku.
Tiba-tiba—
BRAK.
Seseorang menutup pintu loker di sebelahnya dengan cukup keras.
Arcelia menoleh refleks.
Seorang siswi berdiri di sana, menatapnya sekilas sebelum memalingkan wajah. Tatapan itu hanya berlangsung satu detik, tapi cukup untuk membuat suasana terasa sedikit tegang.
Arcelia mengangkat alis tipis.
...Aku kenal dia?
Namun gadis itu sudah pergi, berjalan bersama dua temannya sambil berbisik pelan.
Arcelia menghembuskan napas.
"Drama sekolah lagi…"
Gumamnya dalam hati.
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa.
Suara spidol menulis di papan tulis, suara lembar buku dibalik, suara guru menjelaskan materi… semuanya terasa rutin.
Namun Arcelia kesulitan fokus.
Ia menatap buku catatannya, tapi pikirannya melayang kembali ke meja makan pagi tadi.
Tatapan papanya.
Nada suara kakaknya.
Perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
"...Kenapa rasanya kayak ada sesuatu yang mau terjadi ya?"
Suara hatinya berbisik pelan.
Ia menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran itu.
Bel istirahat berbunyi nyaring.
Suara kursi digeser dan percakapan langsung memenuhi ruangan. Arcelia berjalan menuju kantin bersama dua temannya.
Suasana kantin ramai. Aroma makanan hangat dan minuman manis bercampur menjadi satu. Suara sendok beradu dengan piring, suara gelas diletakkan di meja, dan tawa para siswa menciptakan keramaian yang hidup.
Arcelia duduk di kursi dekat jendela. Ia membuka kotak makan yang disiapkan Mirella pagi tadi.
Nasi hangat, ayam panggang, dan sayur tumis sederhana.
Ia tersenyum kecil.
Mama selalu tahu menu yang ia suka.
"Cel, kamu tuh beruntung banget punya keluarga harmonis," kata salah satu temannya sambil menyeruput minuman.
Arcelia mengangkat kepala. "Kenapa?"
"Kamu kelihatan dekat banget sama mereka."
Arcelia terdiam beberapa detik.
Bayangan meja makan pagi tadi muncul di kepalanya.
Suara tawa adiknya.
Suara sendok kakaknya.
Senyum ibunya.
"…Iya," jawabnya pelan.
Ia tidak tahu kenapa, tapi jawaban itu terasa berat di tenggorokannya.
Sepulang sekolah, Arcelia langsung menuju pusat latihan bela diri. Bangunan itu cukup besar, dengan lantai kayu dan dinding cermin tinggi.
Suara benturan pelindung tubuh, suara napas berat, dan suara instruktur memberi aba-aba memenuhi ruangan.
Arcelia mengenakan sarung tangan latihannya, mengencangkan ikatan di pergelangan tangan.
"Siap?" tanya pelatih.
Arcelia mengangguk.
Latihan dimulai.
Suara langkah cepat menghantam lantai kayu. Suara benturan tangan ke pelindung terdengar padat. Napas Arcelia mulai memburu, keringat menetes di pelipisnya.
Ia bergerak cepat, menghindar, lalu menyerang balik.
BRAK.
Benturan keras terdengar saat pukulannya mengenai target.
"Bagus! Fokus!" seru pelatih.
Arcelia mengangguk, tapi pikirannya masih berputar.
Ia meningkatkan intensitas serangan, seolah menyalurkan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Benturan demi benturan terdengar semakin keras.
Sampai akhirnya—
"Berhenti."
Suara pelatih membuatnya tersadar.
Arcelia menurunkan tangannya. Dadanya naik turun cepat.
"Kamu lagi kepikiran sesuatu Lia," kata pelatih.
Arcelia menatap lantai.
"...Mungkin Coach."
Sore hari,
Arcelia pulang dengan tubuh lelah. Langkahnya sedikit berat saat memasuki rumah.
Suasana rumah terasa tenang.
Terlalu tenang.
Ia meletakkan tasnya di sofa ruang tamu. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara adiknya bermain.
Arcelia mengerutkan kening.
"Ma?"
Tidak ada jawaban.
"Pa?"
Sunyi.
Ia melangkah pelan menuju ruang kerja papanya. Pintu sedikit terbuka. Dari celah itu, terdengar suara percakapan pelan.
"...Kita tidak punya banyak waktu."
Suara Alveron.
Jantung Arcelia berdetak lebih cepat.
Ia mendekat tanpa sadar.
"...Jika berita itu keluar, semuanya bisa runtuh."
Arcelia menahan napas.
Ia tidak mengerti apa maksudnya.
Tapi satu hal pasti.
Nada suara papanya… bukan nada yang pernah ia dengar sebelumnya.
Nada seseorang yang sedang menghadapi sesuatu yang besar.
Dan menakutkan.
Arcelia mundur perlahan dari pintu itu. Tangannya terasa dingin.
Ia berdiri di lorong rumah, menatap lantai tanpa fokus.
"...Apa yang sebenarnya terjadi…?"
Suara hatinya bergetar pelan.
Di luar, matahari mulai tenggelam. Cahaya jingga masuk melalui jendela, memanjang di lantai rumah Virellia.
Pemandangan itu indah.
Tapi entah kenapa…
Arcelia merasa, keindahan itu seperti penutup sebelum badai datang.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....