NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

90 Triliun Won

Pagi hari, Alexey dan Haerim kembali ke kampus seperti biasa. Haerim terlihat sangat ceria setelah momen semalam, senyumnya tidak bisa hilang dari wajahnya.

"masuklah duluan," ucap Alexey sambil menghentikan langkahnya di parkiran. "Ada yang ingin aku urus sebentar."

"Nggak mau," tolak Haerim sambil menggeleng dan menggenggam lengan Alexey erat. "Aku mau ikut kemanapun kamu pergi."

"Aku cuma mau memeriksa sesuatu," ucap Alexey sambil menatap Haerim. "Sebentar saja."

"Aku tetap mau ikut!" bersikeras Haerim sambil menatap Alexey dengan tatapan tidak mau kalah. "Kemana kamu pergi, aku ikut. Titik!"

Alexey menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala pasrah.

"Baiklah," ucapnya sambil menatap Haerim. "Tapi kamu harus selalu berada di belakangku. Jangan jauh-jauh. Mengerti?"

"Mengerti!" jawab Haerim sambil mengangguk semangat.

"Good boy," gumamnya gemas sambil langsung mencubit kedua pipi Alexey dengan jahil. "Anak pintar~"

Alexey membawa Haerim ke sebuah gedung kosong yang sudah lama tidak aktif di belakang kampus. Anehnya, di sana sangat banyak satpam berjaga ketat.

Alexey mengambil sebuah masker dari tasnya dan menyerahkannya pada Haerim.

"Pakai ini," perintahnya sambil menatap serius. "Tutupi wajahmu. Jangan sampai ada yang mengenalimu."

"Apa sekarang kita mau melakukan misi khusus?" tanya Haerim excited sambil menatap masker di tangannya dengan mata berbinar.

"Cepat pakai," perintah Alexey sambil memasang maskernya sendiri. "Jangan banyak bertanya. Ikuti aku saja."

Setelah keduanya memakai masker, mereka menyelinap dari balik tembok teras gedung dan berhenti di sebuah vas bunga besar.

"Tunggu di sini," bisik Alexey sambil menatap Haerim serius. "Aku akan melumpuhkan para satpam dulu. Jangan kemana-mana."

"Hati-hati, Alexey..." ucap Haerim khawatir sambil menggenggam lengan Alexey sebentar sebelum melepaskannya.

Dengan gerakan militer terlatih, Alexey merangkak tanpa suara dan meraih leher salah satu satpam hingga pria itu pingsan. Saat satpam lain menoleh, satu pukulan tepat menghantam ulu hatinya dan ia jatuh tersungkur.

"Haerim," panggil Alexey pelan.

Haerim langsung menghampiri sambil menatap dua satpam yang tergeletak dengan khawatir.

"Mereka... akan mati?" tanyanya dengan suara gemetar.

"Tidak," jawab Alexey sambil memeriksa nadi mereka. "Mereka hanya tidak sadarkan diri sampai beberapa jam ke depan. Tenang saja."

Alexey mengambil kunci dari saku satpam dan membuka pintu gedung. Keduanya masuk dengan hati-hati.

Di dalam hanya ada lemari besar dan tumpukan berkas-berkas tua yang berdebu.

"Memangnya apa yang kita cari di tempat ini?" tanya Haerim penasaran sambil menatap sekeliling gedung yang kusam.

"Gedung ini menyimpan semua project yang pernah dibangun oleh kampus," jelas Alexey sambil mulai membuka lemari satu per satu. "Pasti ada berkas tentang data yayasan keluarga Kim di sini. Kita harus menemukannya."

"Apa yang bisa aku lakukan untuk bantu kamu?" tanya Haerim sambil menatap Alexey.

"Cari dokumen tahun 2016," perintah Alexey sambil membuka lemari. "Tentang pembangunan gedung olahraga dan laboratorium. Kalau ketemu, langsung kasih tahu aku."

Mereka berdua terus menggeledah lemari demi lemari sampai Haerim menemukan sebuah map besar.

"Alexey! Ketemu!" panggil Haerim excited sambil mengangkat map itu. "Aku nemu yang kamu suruh cari!"

Alexey langsung menghampirinya dan mengambil map tersebut sambil tersenyum tipis.

"Gadis pintar," pujinya sambil mengelus kepala Haerim sekilas.

Mereka berdua duduk di sofa berdebu dan membuka map itu. Saat memeriksa isinya, mata mereka melebar, menemukan sesuatu yang sangat mencengangkan.

Di sana tertulis: Tahun 2016, yayasan Kim mengajukan proposal ke kementerian untuk dana pembangunan gedung kampus dan infrastruktur. Mereka juga mengalang dana dari donatur. Total dana terkumpul: 90 triliun won.

"Astaga... itu benar-benar jumlah yang sangat banyak," gumam Haerim sambil menatap angka itu dengan mata terbelalak. "Kira-kira mereka pakai untuk apa? Soalnya nggak mungkin cuma buat kampus dan rumah sakit doang..."

Saat membuka halaman selanjutnya, mereka menemukan fakta yang lebih gila lagi.

Di sana tertulis: Kim Hwaran hanya menyalurkan sekitar 5 triliun won untuk kampus dan 5 triliun won untuk beberapa rumah sakit. Sisanya telah dibekukan di Hongkong. Minsook mengeluarkan pernyataan bahwa 50 triliun won telah disalurkan untuk kampus, sementara Jinhwa menyuap media untuk merilis berita aliran dana sisanya telah disalurkan ke rumah sakit.

"Mereka semua sudah gila..." gumam Haerim sambil menatap dokumen itu dengan tangan gemetar. "Aku nggak nyangka keluarga Kim dan Paman Minsook sejahat ini. Ini... ini penipuan besar-besaran..."

"Ini bukti penting," ucap Alexey sambil menggenggam dokumen itu erat. "Untuk mencari tahu siapa pembunuh Mama. Karena di buku catatan Mama tertulis... dia dan Tante Mira diteror setelah menuntut kasus ini. Ini motif pembunuhannya..."

Tangannya gemetar menahan amarah sambil terus membaca dokumen tersebut.

"Alexey... bagaimana kalau kita ketahuan di sini?" tanya Haerim khawatir sambil melirik sekeliling. "Banyak CCTV kan? Mereka bisa lacak kita..."

"Semuanya aman," ucap Alexey tenang sambil memasukkan dokumen ke dalam tasnya. "Seseorang sudah mengurus ruang CCTV. Kita tidak akan ketahuan."

 

Sementara itu di ruang CCTV, seorang pria yang dua tahun lebih tua dari Alexey duduk santai di kursi dengan puluhan layar monitor menyala. Salah satunya menampilkan Alexey dan Haerim yang sedang keluar dari gedung.

Pria itu adalah Hunter—yang baru tiba tadi malam dan langsung mendapat tugas pertamanya.

"Aku pikir Tuan Liebert akan kasih tugas yang lebih menantang," gumam Hunter bosan sambil menghapus rekaman CCTV dengan beberapa klik. "Ternyata cuma beresin beberapa satpam dan hapus CCTV."

Setelah menyelesaikan tugasnya, Hunter keluar dengan santai sambil memasukkan tangan ke saku jaket. Namun saat ingin ke parkiran, ia bertemu dengan Dosen Lisa yang baru keluar dari gedung fakultas.

"Permisi," sapa dosen lisa sambil tersenyum ramah. "Anda sedang mencari siapa? Sepertinya saya belum pernah lihat Anda di kampus..."

"Aku datang dari London," jawab Hunter datar sambil menatap Lisa tanpa ekspresi. "Ingin bertemu adikku, Alexey."

"Oh, Tuan Liebert..." gumam Dosen Lisa sambil mengangguk paham.

"Tapi sepertinya hari ini tuan Libert tidak masuk kelas," tambahnya sambil sedikit mengernyit. "Aneh juga, biasanya dia selalu tepat waktu..."

"Terima kasih atas informasinya," ucap Hunter sambil mengangguk singkat.

Namun Dosen Lisa yang tanpa sadar terlalu lama menatap wajah Hunter tidak menjawab apapun tatapannya terpaku seperti terhipnotis.

"...Miss?" panggil Hunter datar sambil melambaikan tangan di depan wajah Lisa. "Anda baik-baik saja?"

"M-maaf!" ucap Dosen Lisa buru-buru sambil wajahnya memerah padam.

Ia berusaha terlihat tenang sambil merapikan rambutnya dengan gugup.

"Mungkin... mungkin Tuan Liebert sedang sakit hingga tidak masuk kelas," tambahnya sambil menghindari kontak mata dengan Hunter. "Iya, pasti begitu..."

"Terima kasih sekali lagi, Miss," ucap Hunter sambil tersenyum tipis.

"Miss sangat kompeten," tambahnya sambil menatap Lisa sekilas. "Bahkan mengajar saat sedang demam. Impressive."

Hunter kemudian melewati Dosen Lisa begitu saja dan berjalan santai menuju mobilnya, meninggalkan Lisa yang masih berdiri membeku dengan wajah merah padam.

Setelah Hunter menjauh, Dosen Lisa langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil berjongkok di tempat.

"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" rutuknya pelan sambil memukul kepalanya sendiri. "Bisa rusak reputasiku kalau sampai dikira sebagai dosen mesum! Ya ampun... kenapa aku kayak gini sih?!"

Sementara itu di dalam mobilnya, Hunter tersenyum sinis sambil menyalakan mesin.

"Ternyata wanita di sini cukup pemalu," gumamnya sambil menggelengkan kepala. "Beda banget sama wanita di lingkungan mercenary yang aggressive..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!