NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21 Mawar Pinggir Jurang dan Getaran Pintu Langit

Lampu aula perlahan meredup, menyisakan cahaya sorot yang hanya terpusat pada podium utama. Tari menggenggam mikrofonnya lebih erat. Dinginnya besi mikrofon itu sedikit membantunya untuk tetap membumi di tengah gemuruh jantung yang tak kunjung reda.

"Bismillahirrohmanirrohim Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Anisa dengan suara yang begitu lembut namun mantap, bergema halus di setiap sudut ruangan yang kini sudah sepi dari candaan.

" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh " jawab para audience serempak

" Segala puji bagi Tuhan, yang masih meminjamkan kita napas untuk berada di sini, di bawah atap yang sama, sebelum nanti... langkah kaki kita akan dipisahkan oleh jarak yang tak main-main. Kak, Masyaallah banget ini jawab salamnya kompak dan semangat lagi. Nah karena sudah semangat dan kompak maka aku punya pantun,mau dengerin gak?" Ucap Tari

" Mau dong , jadi penasaran nih kita " teriak audience

" Jalan jalan ke Brunei Darussalam

  Pulangnya bawa oleh oleh

   Siapa yang jawab salam

   Semoga dapat jodoh yang shalih " Tari mulai beraksi dengan pantunnya

Seketika suara 'Aamiin' menggema di seluruh aula, bahkan lebih kencang dari suara mikrofon Tari. Tari cuma bisa nyengir sambil ngelirik Ramdan yang lagi pura-pura benerin kacamatanya buat nutupin senyum tipisnya."

" Lagi dong Ri," kata Kak Anisa

" Hmm aku gak akan pantun Kak,tapi aku ada kata - kata entah tepat entah enggak ini khusus untuk para wanita ya dengerin nih , ' Janganlah kamu menjadi bunga mawar yang tumbuh di pinggir jalan atau di tengah taman karena pasti semua orang akan memetiknya ataupun memegangnya meskipun akan terkena duri, tapi jadilah bunga mawar yang indah tumbuh di pinggir jurang sehingga tidak sembarang orang yang mampu memetiknya ' itu buat para wanita termasuk aku pribadi " ucap Tari sambil tersenyum dan sedikit melirik ke arah Ramdan

Suasana aula mendadak hening sejenak. Kata-kata Tari barusan bukan cuma sekadar penutup, tapi sebuah pernyataan sikap yang bikin para siswa cowok di sana langsung merasa 'kecil'. Di barisan depan, Ramdan menatap Tari tanpa kedip, ada binar kekaguman yang nggak bisa dia sembunyikan lagi."

" Dan satu lagi jaga selalu hati kita ini bukan hanya untuk pasangan tapi buat kita semua, bahwa kita harus senantiasa menjaga hati jangan sampai kita mengotorinya " ucap Tari selanjutnya sambil tersenyum manis melirik ke arah Ramdan

Ramdan menarik napas panjang, hatinya berdesir hebat. Kata-kata Tari barusan seolah menjadi 'bekal' paling berharga yang akan ia bawa terbang ke Kalimantan. Bukan piala, bukan piagam, tapi pesan untuk menjaga hati itulah yang paling ia simpan rapat-rapat di dalam dadanya.

Suasana Aula semakin hening, Alvin dan geng receh yang mau godain langsung terdiam.Ramdan di barisan panitia juga terdiam menunduk.

" Masyaallah Ri, kata-katanya bagus banget. Semoga kita semua selalu menjaga hati kita " ucap Kak Anisa

" Kak ,bukan hanya menjaga hati tapi harus jaga pandangan dan juga.." Tari terhenti

" Jaga jarak, jangan terlalu nempel sama lawan jenis apalagi kalau sudah bucin jangan sampai lupa segalanya, karena bukan berarti orang yang jaga jarak itu tidak perhatian, justru itu adalah cara menjaga kita lewat doa dan menghormati kita sebagai kaum perempuan " kata Tari sambil sedikit melirik ke arah Ramdan

"Mendengar itu, Ramdan yang tadinya sedang menunduk langsung mendongak. Sorot matanya beradu dengan Tari. Ada senyum tipis sangat tipis hingga hampir tak terlihat di sudut bibirnya. Dia tahu, itu adalah 'kontrak mati' yang Tari berikan sebelum dia melangkah pergi. Sebuah janji tanpa kata bahwa sejauh apa pun raga, hati dan pandangan harus tetap pada satu titik."

" Kata-katanya menusuk banget. Eh Ri masih ada lagi gak? Atau sekarang kita mau apa nih?"kata kak Anisa

" Lagi dong Tari " teriak Bu Melly dari barisan para guru

" Kata-katanya sudah habis Bu, tapi ada satu Bu, kata dilan itu jangan rindu , karena rindu itu berat , cukup aku aja "ucap Tari sambil tersenyum manis menatap ke arah Ramdan

"Sontak seisi aula riuh dengan suara 'Cieeee!' yang panjang. Bahkan Pak Satria pun ikut tertawa kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah sekretaris OSIS-nya itu. Sementara itu, Ramdan? Jangan tanya. Dia langsung pura-pura sibuk merapikan berkas di pangkuannya, padahal telinganya sudah berubah merah padam karena salah tingkah yang luar biasa."

"Ri... kamu ini ya, baru aja aku mau nangis terharu denger pesan jaga hati, sekarang malah bikin aku salting di depan semua orang. Oke, kalau rindu itu berat, biar kita bagi dua aja bebannya. Kamu doain aku, aku menangin piala buat kamu." batin Ramdan

" Waduh Ri, kamu tahu gak di bawah sana ada yang mukanya udah kaya kepiting rebus lho" goda Kak Anisa

" Oke kak, kita lanjut fokus ke acara yang selanjutnya nih Kak, kira - kira ada apa sih kak?"tanya Tari pada partnernya

"Hmmm acara yang selanjutnya itu adalah pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan saritilawahnya,tapi kayanya Kakak lupa siapa sih yang akan bacainnya, ayo sama kamu aja di panggil " goda Kak Anisa

"Ya elah, kakak kok jadi aku sih, ya udah deh aku yang panggil tapi aku siapin mental dulu karena pasti nanti ini aula akan rame sama teriakan para cewek. Mari kita buka pintu langit bersama-sama. Kita awali sesi ini dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, yang akan mengingatkan kita bahwa sejauh apa pun raga melangkah, kita selalu punya tempat untuk kembali."

Tari mengambil napas panjang, mencoba menetralkan perasaannya sebelum memanggil nama yang sejak tadi pagi memenuhi kepalanya.

Aku mau panggil mereka pakai pantun nih Kak " ucap Tari

" Ayo gas terus " kata kak Anisa

"Jalan jalan beli koran dan majalah

 Belinya dari kota Medan ke labuan

 Kita dengerin baca Al-Qur'an dan saritilawah Yang akan di bacakan oleh Ramdan dan Raihan.

Ayo kalian berdua naik ke atas panggung

Ramdan sempat terpaku sejenak mendengar pantun Tari. Dia melirik Raihan yang sudah cengar-cengir di sampingnya. Dengan langkah tenang meski jantungnya masih berdebar gara-gara kutipan Dilan tadi Ramdan melangkah naik ke panggung. Saat berpapasan dengan Tari di dekat podium, Ramdan sempat berbisik sangat pelan, "Pinter banget ya mainin emosi saya, Ri."

"Ayo Han, kita tunjukin kalau kita nggak cuma jago ngurus Pensi, tapi juga jago ngetuk pintu langit lewat tilawah. Ri... dengerin baik-baik ya, ini suara aku khusus buat kamu dan kelancaran acara kita."

Pas Ramdan naik ke panggung dengan aura "Masya Allah"-nya itu, pasti seisi aula langsung heboh, terutama para siswi yang selama ini cuma bisa liat Ramdan dari jauh.

Begitu Ramdan melangkah naik ke atas panggung dengan langkah tegap, suasana aula yang tadinya khidmat mendadak berubah jadi penuh bisik-bisik tertahan. Aura Ramdan saat membuka masker dan merapikan sedikit kerah jas OSIS-nya benar-benar di luar nalar.

"Gila... Kak Ramdan kalau mau ngaji auranya jadi berkali lipat lebih ganteng ya?" bisik seorang siswi kelas sepuluh di barisan belakang, tapi suaranya cukup nyaring sampai ke telinga Tari.

"Iya! Mana suaranya ngebass gitu lagi. Idaman banget, paket lengkap! Pinter, jago organisasi, agamanya oke... Duh, siapa sih cewek yang beruntung dapetin dia?" sahut temannya sambil menopang dagu, matanya seolah terpaku nggak mau lepas dari sosok Ramdan.

Di barisan tengah, beberapa siswi bahkan terang-terangan mengeluarkan ponsel, mencoba mengambil foto atau video meskipun sebenarnya dilarang saat acara doa bersama. "Cepat rekam! Ini momen langka liat Waketos kita tilawah. Bakal gue jadiin wallpaper fix!"

Tari yang berdiri di balik podium berusaha keras mempertahankan senyum profesionalnya. Padahal, di bawah sana, jemarinya meremas map biru dengan kencang. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya campuran antara rasa bangga karena cowok yang dia suka dikagumi banyak orang, tapi juga rasa ingin 'menyembunyikan' Ramdan agar hanya dia yang bisa melihat sisi itu.

Ingat pesan kamu sendiri, Tari... Jaga hati, jaga pandangan, batin Tari mengingatkan dirinya sendiri.

Dia menarik napas dalam, mencoba meredam api kecil yang mulai membakar hatinya. Dia melirik Ramdan, dan saat itulah dia menyadari satu hal: meskipun ratusan pasang mata menatap Ramdan dengan penuh kekaguman, mata Ramdan hanya fokus pada satu titik sebelum mulai membaca Al-Qur'an.

Ramdan mendekatkan mikrofon ke bibirnya. Ia memejamkan mata sejenak, mengambil napas dalam yang seolah menarik seluruh ketegangan di ruangan itu. Saat kalimat Ta’awudz mulai meluncur dari bibirnya, detik itu juga seisi aula seolah dipaksa berhenti bernapas.

Suara Ramdan bukan cuma ngebass, tapi berat, jernih, dan punya cengkok tartil yang sangat rapi. Setiap huruf hijaiyah yang keluar terdengar begitu fasih, mengalun lembut namun penuh tenaga. Suasana yang tadinya penuh bisik-bisik genit dari barisan siswi, mendadak senyap total. Tidak ada lagi suara ponsel, tidak ada lagi bisikan yang ada hanya lantunan ayat suci yang seolah mengetuk pintu hati siapa pun yang mendengar.

Tari yang berdiri hanya beberapa meter dari Ramdan, merasa kakinya mendadak lemas. Dia sering mendengar Ramdan bicara tegas di rapat, tapi mendengar Ramdan mengaji... itu adalah level kehancuran pertahanan hati yang berbeda. Dadanya bergetar hebat mengikuti irama lantunan itu.

Di barisan depan, para siswi yang tadinya mau teriak histeris malah jadi mematung. Banyak yang menutup mulut dengan tangan, bukan karena mau sorak, tapi karena terpesona sampai lupa cara napas. Ada yang sampai berbisik, 'Ya Allah, ini orang apa malaikat sih? Pinter MTK iya, ganteng iya, suaranya bikin pengen langsung ke pelaminan iya...'

Begitu Ramdan menyelesaikan satu makra, Raihan menyambung dengan suara saritilawah yang tak kalah menyentuh.

Suara Raihan terdengar begitu puitis dan tenang saat membacakan terjemahannya. Setiap kata yang dibacakan Raihan seolah menjadi penjelas dari kegelisahan yang dirasakan Tari dan para siswa lainnya. Suara mereka berdua berpadu sempurna seperti harmoni antara langit dan bumi.

Di barisan guru, Pak Satria terlihat menyeka sudut matanya yang basah. Sementara para siswi yang tadi heboh, sekarang tertunduk diam, ada yang diam-diam mengusap air mata karena terhanyut dalam suasana yang begitu syahdu.

Aula itu bukan hanya tempat persiapan do'a bersama , tapi juga menjadi ruang suci di mana semua orang merasa kecil di hadapan Sang Pencipta. Dan di tengah itu semua, Tari menyadari satu hal: Ramdan Alvaro bukan sekadar pemimpin bagi sekolahnya, tapi dia adalah rumah yang tenang bagi jiwanya.

Tari yang berdiri di sisi panggung benar-benar kehilangan kata-kata. Dia yang paling dekat dengan sumber suara itu, merasa kakinya mendadak lemas. Dia sering dengar Ramdan bicara, sering dengar Ramdan kasih instruksi OSIS yang tegas, tapi melihat Ramdan yang sedang 'berdialog' dengan Rabb-nya melalui ayat suci... itu level pesonanya beda lagi.

Ramdan dan Raihan pun selesai membacakan ayat suci Al-Qur'an dan saritilawahnya, mereka berdua langsung turun dan bergabung kembali dengan para panitia.

Ramdan dan Raihan perlahan melangkah turun dari panggung setelah mengucap salam penutup. Aula SMA Kusuma Bangsa yang tadinya senyap total, perlahan mulai terisi kembali oleh suara helaan napas lega dan gumaman kagum yang tak putus-putus. Keheningan suci yang mereka ciptakan barusan meninggalkan jejak kedamaian yang mendalam di hati setiap orang.

Tari masih mematung di balik podium, matanya mengikuti langkah tegap Ramdan yang kembali ke kursinya. Ia bisa melihat bagaimana beberapa siswi di barisan depan masih menatap Ramdan dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara kagum, hormat, dan mungkin sedikit rasa iri pada siapa pun yang bisa memiliki hati cowok itu.

Tari berdehem pelan, mencoba menarik kembali jiwanya yang tadi sempat "terbang" mengikuti lantunan ayat suci Ramdan. Ia melirik Anisa yang juga tampak masih berusaha menetralisir rasa harunya.

"Masya Allah..." suara Tari akhirnya keluar lewat mikrofon, lebih rendah dan lebih tulus dari sebelumnya. "Terima kasih kepada Ramdan dan Raihan. Semoga setiap huruf yang dibacakan tadi menjadi cahaya, bukan hanya untuk acara kita, tapi juga untuk langkah kaki mereka yang akan segera menempuh perjalanan jauh."

Tari menunduk sejenak, merapikan catatan di atas podium dengan jemari yang masih terasa dingin. Ada sebuah getaran aneh di dadanya rasa tidak rela yang makin kuat karena menyadari bahwa suara indah itu sebentar lagi hanya bisa ia dengar lewat sambungan telepon atau rekaman suara.

Ia kembali mendongak, mencoba memasang senyum terbaiknya meski hatinya sedang berkecamuk.

"Namun, hadirin sekalian... agenda langit kita belum selesai sampai di sini. Jika tadi kita sudah mengetuk pintu-Mu lewat firman-Mu yang agung, sekarang biarkan kami mengekspresikan rasa rindu dan pengharapan kami lewat bait-bait kata yang tak kalah menyentuh."

Tari melirik ke arah Ramdan sekali lagi. Kali ini, ia melihat Ramdan sedang membisikkan sesuatu kepada Raihan sambil melirik ke arah sebuah tas gitar yang tergeletak di samping kursi panitia. Tari tahu, kejutan selanjutnya akan jauh lebih menguras emosi daripada sekadar kata-kata.

"Persiapkan hati kalian sekali lagi, karena setelah ini... suara hati akan berbicara lebih keras daripada suara lisan."

Tari menarik napas panjang, memberikan kode pada tim audio untuk menyiapkan instrumen pendukung.

— BERSAMBUNG —

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!