Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Aku Belum Mati
Di ruangan dokter, dokter menanyakan kebiasaan Abi dan jenis obat yang selama ini Abi konsumsi. Perihal obat-obatan Miko menjelaskan semuanya detail, dan memperlihatkan obat-obatan yang Abi pakai selama ini.
"Dari mana Anda mendapatkan obat-obatan ini?"
"Dari klinik khusus milik keluarga majikan saya."
Dokter terlihat serba salah, dia memandangi obat-obatan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada masalah dengan obat-obat ini?" tanya Miko.
"Saya sangat sulit untuk bicara, tapi diam juga tidak bisa. Bukan saya ikut campur atas kehidupan pribadi Pak Abi. Maaf jika saya lancang, apakah terjadi perebutan hak waris?" tanya dokter pada Miko.
"Jadi obat-obatan majikan saya bermasalah?" Miko balik bertanya.
"Setelah mengambil darah Pak Abi, kami mengujinya, lalu melihat hasil uji lab, saya menyimpulkan, untuk satu jenis obat memang tidak masalah, tapi semua obat yang berlawanan ini dicampur dalam satu waktu, obat yang khasiatnya dianggap obat dewa tapi dicampurkan dengan obat lain, membuat efek samping obat ini menjadi penghancur bagian-bagian vital yang meminum, perlahan daya tahan tubuh kacau, hingga terus merusak secara perlahan."
Tangan dokter beralih memegang sebuah ampul. "Saya bisa menebak, cairan ini dipakai saat pasien dalam keadaan kritis tak sadarkan diri jadi tak bisa menelan obat bentuk tablet, ampul ini dipakai saat itu bukan?"
"Sebelum dibawa ke sini, saya sendiri yang menyuntikan isi dari ampul itu." terang Miko.
"Sebenarnya pasien baik-baik saja. Tapi ada satu jenis obat yang membuatnya merasa lemah, lalu dia minum obat lain seakan keadaanya membaik, tapi kenyataannya malah memperburuk. Obat yang dianggap sebagai dewa penolong ini, adalah jenis obat yang membuat pengguna menuju kematian secara perlahan."
"Lalu bagaimana keadaan suami saya?"
"Daya tahan tubuh Pak Abi bagus, sehingga obat yang dia konsumsi baru sebatas mengacaukan daya tahan tubuhnya."
Zella merasa lega mendengar Abi baik-baik saja.
"Jadi, keadaan majikan saya yang begitu lemah hingga mengharuskannya selalu berada di ruangan dingin karena efek obat?"
"Tak hanya itu, rasa pusing, sesak napas dan lemas yang muncul di saat yang sama juga dampak obat itu, karena merasakan itu lalu timbul keyakinan obat itu penolong."
"Penolong tapi sebenarnya pembunuh!" gerutu Miko.
"Tapi itu lah kenyataannya." ucap dokter lemah.
"Apa suami saya bisa lepas dari obat-obat ini?" tanya Zella.
"Lepas langsung sangat berbahaya, karena pasien sudah terlalu lama menggunakan obat-obatan ini. Semoga resep dari saya bisa memperbaiki keadaan dan membantu pasien perlahan bisa lepas dari semua obat-obat ini."
"Butuh waktu berapa lama untuk majikan saya bisa lepas dari obat itu?"
"Mungkin satu atau 2 bulan, jika dia tak meminum obat tubuhnya tidak berontak, artinya bisa lepas total." terang dokter.
"Oh iya, saat ini pasien mulai membaik, kami melakukan tindakan untuk menghilangkan sisa obat yang masuk, dan memberi pengobatan lain."
"Bisa saya tahu dokter siapa yang memberi obat-obat pasien selama ini?" tanya dokter pada Miko.
Miko menjelaskan siapa dokter yang selama ini menangani Abi. "Varash Sidikeu."
"Anda yakin dokter Varash Sidikeu?"
"Sangat yakin." jawab Miko
Dokter itu menggeleng, tak percaya dengan jawaban Miko. "Bagaimana klinik kalian bisa seteledor itu dalam merekrut seorang dokter? Asal anda tahu, Varash sama sekali bukan dokter, malah dia tak pernah lolos masuk universitas kedokteran!"
"Anda serius?"
"Silakan Anda cari tahu Varashi Dikesuma. Itu adalah nama asli yang kamu anggap dokter itu."
Miko langsung mencari tahu,saat jendela internet memberikan informasi betapa jahat seorang Varash, Miko merasa sangat terpukul. Bagaimana bisa dia dan tim kecolongan selama ini.
"Kita tak bisa memperbaiki keadaan yang telah lalu, tapi kita bisa memperbaiki keadaan saat ini, agar kedepannya lebih baik. Sekarang fokus untuk kesembuhan Pak Rakha Abimayu."
Setelah mendapat penjelasan panjang lebar dari dokter yang menangani Abi, Zella dan Miko akhirnya keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Merasa lega karena Abi membaik, namun juga sangat marah setelah menyadari keteledoran mereka ini.
"Nyonya langsung saja temani Pak Abi. Saya izin pergi dulu. Ada hal yang ingin saya selesaikan."
"Aku harus jawab apa jika Abi bertanya tentangmu?" ucap Zella.
"Katakan saja, kalau ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Pak Abi tentu sangat memahami saya."
Zella dan Miko berpisah, Zella kembali pada keluarganya. Sedang Miko pergi meninggalkan Rumah Sakit.
"Bagaimana keadaan Abi?" tanya Indri.
"Mulai membaik ma. Maafin kami karena membuat kalian khawatir," ucap Zella.
"Kami yang harusnya minta maaf, karena tak bisa langsung membantumu saat kamu dalam kesulitan." ucap Saman.
"Keluarga Pak Rakha Abimayu." Seorang perawat keluar dari ruang tindakan membawa lembaran kertas.
"Saya." Zella langsung menghampiri perawat itu.
"Silakan ibu bawa berkas ini ke depan. Buat urus kamar perawatan pasien."
"Baik sus. Terima kasih."
Segala urusan Zella selesaikan, Abi pun di bawa ke kamar inap. Abi masih tak sadarkan diri berada di ranjang pasien, Zella dan keluarganya menatap haru pada pria itu.
Taufik masih betah memandangi lelaki yang kini menjadi adik iparnya itu. "Aku tak tahu paksaan apa yang Zella alami, sehingga dia sampai ke sisimu sebagai istrimu, tapi apa pun itu Semoga kamu diberi umur panjang, Abi. Kasihan Zella jika umurmu pendek. Jika kamu pergi pasti Zella akan menutup rapat hatinya kembali."
"Maaf," Zella memecah kesunyian. "Aku bukan mau ngusir kalian. Tapi aku yakin pasti kalian capek. Lebih baik kalian semua pulang dan istirahat. Biar aku yang menjaga suamiku di sini."
"Kami nggak tega ninggalin kamu sendirian di sini." ucap Indri.
"Mama, aku sangat ngerti perasaan mama. Tapi mama dan semuanya harus jaga kesehatan juga. Suamiku akan merasa bersalah kalau yang menjaganya ikut jatuh sakit."
"Zella benar. Sebaiknya kita pulang dan persiapkan kebutuhan buat Zella di sini," sela Saman.
Berat bagi indri, namun tetap di sini juga tidak mungkin.
"Mama akan suruh orang antar keperluan kamu ke sini."
"Itu sangat membantuku, mama istirahat ya. Jangan khawatir. Kata dokter Abi baik-baik saja."
Kini di ruangan itu tinggal Zella sendirian menjaga Abi yang masih betah memejamkan kedua matanya. Zella duduk di kursi yang ada di samping ranjang Abi. Dia meraih tangan Abi yang dipasangi selang infus.
Banyak kata yang ingin Zella utarakan, namun semua tak bisa keluar. Hanya air mata yang kembali mengucur deras. Zella menelungkupkan wajahnya di sisi ranjang Abi. Tangannya masih setia menggenggam tangan Abi.
"Apa yang kau tangisi? Aku belum mati."
Zella langsung menegakan tubuhnya, melihat abi membuka mata dan bicara padanya, sungguh kelegaan yang luar biasa. Tangis Zella makin pecah dan langsung memeluk Abi.
"Anda membuatku takut!" ringis Zella.
Abi tersenyum bahagia. Entah mengapa dia merasa sangat berarti bagi wanita itu. "Aku baru tahu kalau istriku begitu agresif. Ku kira istriku wanita yang malu-malu."
Zella melepas pelukannya dan berusaha menyapu air matanya.
"Kau lagi latihan menangis? Jadi suatu saat aku mati beneran kau sudah lancar nangisnya?"
Tangis Zella semakin pecah mendengar ucapan Abi.
Abi tersenyum, berusaha bangun perlahan, setelah mampu duduk, dia menarik Zella duduk di depannya dan memeluk wanita itu.
"Maaf, aku nggak maksud buat kamu nangis. Udahan dulu nangisnya."
"Aku nggak mau Anda bicara kematian! Harapanku Anda sehat dan berumur panjang."
"Iya-iya, aku pasti sehat karena ada kamu." Abi menyentuh dagu Zella, perlahan membuat wajah itu sedikit mendongak hingga kedua bibir itu bisa bertemu.