Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Mata
Di Rumah Sakit ...
Di dalam ruang tindakan, suasana menjadi sangat tegang. Dokter jaga segera memasang alat pemantau tanda vital dan cervical collar (penyangga leher) pada leher Vira.
"Pasien mengalami trauma tumpul akibat jatuh dari ketinggian. Ada luka robek di kulit kepala bagian oksipital," teriak salah satu perawat sembari menekan luka di kepala Vira untuk menghentikan pendarahan.
Dokter memeriksa respon pupil dan kesadaran Vira. "Pupilnya lambat bereaksi. Ada memar hebat di area frontal dan temporal kepala. Kita harus segera melakukan CT-Scan kepala dan seluruh tulang belakang!"
William berdiri di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi melihat istrinya dipasangi berbagai selang dan peralatan medis.
Setelah Vira di pindahkan ke ruang ICU, William mencari putri sulungnya. Ia melihat Chika duduk di ruang tunggu dengan tubuh yang masih bergetar karena isakan. Gadis belia itu meremas ujung kaosnya, sorot matanya jatuh pada telapak tangan di mana bercah cairan kental berwarna merah itu masih tertinggal.
"Chika, kamu baik-baik saja?" William dengan lembut mendekap tubuh kecil yang masih gemetar itu.
"Pa ... Papa ... Mama bagaimana? Kenapa Mama tidak bangun?" tanyanya dengan suara parau yang hampir hilang.
"Mama sedang diperiksa," jawab William singkat.
Melihat luka di tubuh putrinya, Ia memberi isyarat pada seorang perawat untuk membantu membersihkan sisa darah kering di tangan dan siku Chika.
Gadis itu tidak meringis sedikit pun saat kapas dingin menyentuh kulitnya, Chika seolah mati rasa oleh rasa takut. William duduk di sampingnya, menggenggam tangan putrinya erat.
"Papa harus bertanya ini ... apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana Mama bisa jatuh? Apa ... apa Miss Cyntia yang melakukannya?"
Chika menggeleng pelan. Ingatannya seolah terputus oleh rasa takut. "Sa ... saat Miss Cyntia berteriak, aku keluar kamar ... tapi Mama..." Ucapannya terhenti, air matanya kembali luruh membasahi pipi yang pucat. "Mama sudah tergeletak di sana, Pa."
William memejamkan mata, memeluk Chika lebih erat. Ia sadar putrinya mungkin mengalami shock berat yang membuat ingatannya terkunci atau ia memang tidak melihat detik-detik pendorongan itu secara langsung.
Namun, insting William mengatakan ada yang tidak beres. Tanpa menunggu lagi. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dengan gerakan cepat, dan langsung menghubungi David. William meminta temannya itu untuk mengecek CCTV di rumah dan mencari tahu kebenaran di balik peristiwa ini.
.
.
Di Rumah William...
Suasana rumah mewah itu sudah kembali tenang.
Inneke masih merasa iba melihat kondisi Cyntia, memutuskan untuk memintanya pulang. Ia tidak ingin emosi William meledak jika melihat Cyntia masih berada di rumah.
"Pulanglah dan istirahat, Cyntia," ucap Inneke lembut. Keduanya berpelukan singkat, sebuah pelukan yang bagi Inneke dukungan, namun bagi Cyntia adalah tameng untuk kelicikannya..
"Tante ... nanti kalau ada kabar tentang Vira, tolong segera hubungi aku ya?" pinta Cyntia dengan raut wajah yang dipaksakan cemas. Ia ingin memastikan apakah korbannya akan bicara atau justru tertidur selamanya.
"Jangan pikirkan itu, Cyn. Tante yakin Vira hanya luka ringan saja," balas Inneke menenangkan.
Namun, saat Cyntia hendak membuka pintu mobilnya, sebuah SUV hitam meluncur masuk ke halaman. Pria berjaket bomber gelap dengan sepatu bot yang kokoh keluar dari mobil dengan ekspresi misterius.
"David?" gumam Inneke.
"Siapa, Tante?" tanya Cyntia penasaran, matanya menatap tajam pria asing yang memancarkan aura dingin namun tampan itu.
Inneke menyadari kehadiran David berarti William sudah mulai bergerak melalukan penyelidikan. Ia tidak ingin Cyntia tertahan di sini. "Cepat, pergi!" desis Inneke setengah mengusir.
Cyntia mengerutkan dahi, namun ia patuh. Saat mobilnya mulai bergerak, ia sempat bertatapan mata dengan David lewat kaca jendela. Sorot mata David yang dingin dan menyelidik membuat Cyntia terpaku sesaat . "Tampan dan berkharisma," gumamnya lirih, mengedipkan satu matanya pada David sebelum mobilnya meluncur keluar dari pelataran.
"David, bagaimana kabarmu?" tanya Inneke mencoba mencairkan suasana sembari menyambut pria yang sudah ia anggap seperti putra sendiri itu.
"Baik, Nyonya Inneke," jawab David formal. Ia tidak datang untuk berbasa-basi.
"Ada perlu apa malam-malam ke sini? William—"
"Saya diminta Bapak William untuk memeriksa seluruh rekaman CCTV dan mencari bukti fisik di dalam rumah. Saya bisa masuk?" sela David tegas, tanpa memberikan ruang bagi Inneke untuk berdalih.
Inneke terpaksa tersenyum dan mempersilakannya masuk. David segera menuju ruang kerja William, menyalakan sistem keamanan pusat, dan mulai memutar kembali rekaman dari empat jam terakhir.
Matanya yang tajam menelisik setiap detik video. Ia melihat rekaman saat Vira masuk ke rumah, hingga saat Vira naik ke lantai dua. Namun, David mendengkus kesal saat menyadari letak kamera di koridor lantai atas menyisakan blind spot atau titik buta tepat di puncak tangga.
Ia hanya bisa melihat potongan video saat tubuh Vira tiba-tiba muncul dan berguling jatuh dari tangga dengan sangat keras.
David memutar ulang adegan itu berkali-kali dalam kecepatan lambat.
"Sial," gumam David pelan.
Rekaman itu tidak menunjukkan momen dorongan secara eksplisit.
Tanpa membuang waktu, ia segera mengirimkan salinan rekaman tersebut ke ponsel William . Setelah itu, David bergegas meninggalkan rumah mewah tersebut. Ia berniat membuntuti Cyntia untuk memastikan kecurigaannya.
Setelah kepergian David, Inneke mengembuskan napas lega. Tak ingin menyimpan beban sendirian, ia segera menghubungi Monic, anak perempuannya, untuk berkeluh kesah.
.
.
Tak butuh waktu lama, wanita berusia empat puluh tahun itu datang memenuhi panggilan sang ibu. Monic melangkah masuk dengan wajah penuh tanya.
"Tumben Mommy menyuruh Monic datang malam-malam?" tanya Monic penasaran. Tak biasanya ibunya memanggil selarut ini.
"Vira baru saja jatuh dari tangga," bisik Inneke begitu Monic duduk di sampingnya.
"Apa?!" Sontak kedua mata Monic melebar.
Kabar itu sungguh mengejutkan, apalagi ia baru tahu kondisi adik iparnya itu sekarang. Karena nomor teleponnya diblokir oleh Chika, ia memang kesulitan memantau perkembangan keluarga adiknya. "Kok bisa, Mom?!"
Inneke menarik lengan putrinya agar merapat, suaranya semakin mengecil. "Vira baru saja berdebat hebat dengan Cyntia. Ibu sambung keponakanmu itu menjambak dan memukul Cyntia habis-habisan, lalu dia terpeleset dan terjatuh sendiri," jelas Inneke.
Bukannya merasa iba, Monic justru menyeringai dingin. Masih ada sisa kebencian mendalam pada Vira karena adik iparnya itu hampir membanting tubuhnya. Hingga saat ini, Monic masih harus rutin melakukan fisioterapi untuk memulihkan cedera punggungnya.
"Pasti Vira dulu yang memulai. Tidak mungkin Cyntia tega menyakiti orang. Aku tahu benar siapa Cyntia, dia wanita berpendidikan," ujar Monic membela.
Bi Ijah yang datang membawa nampan berisi dua gelas jus mendengar percakapan itu. Hatinya bergejolak tak terima mendengar fitnah yang ditujukan pada majikannya yang baik.
"Tidak, Nyah! Bukan Nyonya Vira yang salah! Non Cyntia yang mendorong tubuh Nyonya Vira. Saya lihat sendiri dengan mata kepala saya sendiri!" tukas Bi Ijah berani.
"Apa?!" pekik Inneke dan Monic bersamaan dengan wajah yang berubah pucat.
Bersambung...
(Kira-kira dua Nini lampir ini bakal jujur pada William kah? Atau masih melindungi Cyntia wanita sinting itu?
Assalamualaikum wr wb.
Saya dengan tulus ingin mengucapkan mohon maaf lahir batin.
Semoga bulan ramadhan kali ini dilancarkan ibadah, diberi kebahagiaan, dijauhkan dari musibah, dan yang dzalim, diberikan berkah tak terhingga dari segala arah yang diridhoi oleh Allah SWT. Aamiin.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melaksanakan🙏🏻
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭